
Pukul lima belas, keluarga Seno datang. Ibu, ayah dan dua orang adik perempuan, membawa hantaran yang beraneka ragam. Sedang dua orang laki-laki yang khusus diutus untuk menjadi wakil keluarga nampak
berjalan beriringan tanpa buah tangan.
Seno yang sejak tadi berjalan diantara ibu dan ayahnya kini memisahkan diri. Berjalan di depan bersama dua orang utusan. Ia memakai setelan jas dan celana panjang warna hitam dan bersepatu hitam.
“Asalamualaikum”
“Waalaikum salam, silakan masuk Bapak ibu.” Keluarga Sisy yang diwakili oleh beberapa perwira tingi di Batalyon nampak menyambut kehadiran mereka.
“Terima kasih, Kapten Syaiful.” Ucap Wardoyo, seorang perwira tinggi di KoDam Siliwangi.
“Senang akhirnya bisa berbesan, Kapten.” Ucap Syaiful sambil memeluk Wardoyo erat.
“Iya, aku juga senang. Akhirnya anak-anak kita bisa hidup bersama. Dulu kala kita melakukan pendidikan, kita selalu menginginkan anakanak kita berjodoh. Ternyata mereka memang berjodoh.”
“Iya, Alhamdulillah. Semoga setelah bersatunya keluarga kita, persahabatan ini tidak akan pernah tergoyahkan.”
“Aamiin”
Meli dan Sisy yang sejak tadi sedang bersiap segera muncul di hadapan para tamu dengan gamis yang didesain khusus oleh butik ternama di kota kecil Purworejo. Mereka sudah menyiapkan gamis tersebut sebelum Sisy meninggalkan rumah.
Kini mereka duduk diantara para tamu perempuan, wardah, istri Wardoyo , ibu dari Seno serta Arini dan arnira. Dua adik Seno yang kata orang seperti anak kembar karena kelahiran mereka hanya selisih dua puluh bulan.
“Selamat datang di rumah dinas ini, Nyonya Wardoyo. Kami senang menerima Anda hari ini.”
“Senang juga bertemu denganmu, Nyonya Syaiful dan Sisy.” Wardah dan meli saling peluk. Lalu
beralih memeluk Sisy dan juga anak-anak Wardoyo. Seno yang sejak tadi diam hanya menyaksikan ibu dan adiknya berpelukan dengan Sisy. Tidak ada kebahagiaan di wajahnya. Meski bibir tersenyum, hati dan angannya tetap mengharap bahwa wanita yang dipeluk ibunya adalah Marissa.
“Silakan dicicipi dulu makanannya, Bapak Ibu.” Meli menyilakan semua tamu untuk menikmati makanan yang sudah sejak tadi terhidang di hadapan mereka. dalam diam mereka menikmati semua hidangan. Termasuk Seno yang semula menolak menikmati minuman dan makanan karena traumanya, kini ikut makan bersama.
“Bagaimana kabar teman-teman kita di Siliwangi Kapten Wardoyo?’
“Mereka semua sehat. Insya Allah tidak ada yang dalam tugas. Semua sudah kembali ke batalyon dan pangkalan masing-masing.”
“Alhamdulillah. Senang mendengarnya.”
__ADS_1
“Tentu saja semua ditarik kembali, karena beberapa wilayah konflik sudah aman.”
“Kita akan selalu berharap semua aman, Kapten.”
“Iya. Semoga seperti harapan kita.”
Semua diam. hanya Syaiful dan Wardoyo, dua sahabat yang saling melepas rindu karena lama tidak bertemu. Sedang yang lain hanya diam tak bersuara sampai akhirnya dua perwakilan kedua keluarga bicara mewakili keluarga masing-masing. Satu wakil keluarga Seno mengungkapkan maksud kedatangan mereka untuk melamar Sisy sebagai istri Suseno Wardoyo. Pihak keluarga Sisy menyambut lamaran dengan bahagia.
setelahnya mereka saling berembug untuk menentukan hari pernikahan.
“Semua persyaratan pengajuan ijin menikah sudah kami layangkan ke Kodam dan insya Allah dalam satu minggu ini akan keluar, makanya kami meminta pernikahan dilaksanakan dua pekan yang akan datang.”
Syaiful dan Meli saling pandang. Mereka tidak menyangka akan secepat itu. Pihak keluarga
Seno serti enggan untuk memberi kesempatan bagi keluarga Syaiful untuk menyiapkan pernikahan dengan sebaik mungkin.
“Kami hanya menurut pada semua permintaan keluarga kapten Wardoyo. Kami pihak perempuan akan melakukan apa yang diinginkan oleh pihak mempelai laki-laki” jawab Kapten Irwan sambil menoleh pada Syaiful. Syaiful hanya mengangguk. perasaannya campur aduk tidak karuan. Berbaur menjadi satu antara senang, benci dan khawatir. Entah mana yang mendominasi. Yang jelas saat ini Syaiful tidak bisa bicara apapun.
“Alhamdulillah. Semoga acara berjalan Kapten Syaiful. Kita orang tua hanya menurut apa yang inginkan
“Iya, Kapten. Aku setuju dengan semua yang Kapten katakan.”
“Bagus kalau begitu. Semoga acara lancar dan keluarga yang dibangun menjadi keluarga yang samawa.”
“Aamiin”
Seno mendengus mendengar kata Samawa. Dia berfikri bahwa apa yang diucapkan kedua orang tua di hadapannya hanya akan menjadi isapan jempol belaka.
“Kenapa tidak mengaminkan, Seno?” tanya Wardoyo sambil memandang anaknya. Seno hanya menunduk. di hadapan semua bawahannya ia bisa berbuat sekehendak hatinya, namun di hadapan ayahnya, ia sangat patuh dan tunduk, membuat Sisy tersenyum tipis. Sangat tipis bahkan tidak ada satu orang yang melihat senyum Sisy.
“Saat aku mengaminkan apakah semua orang harus mendengar, Ayah.”
“Bagus kalau begitu. Aku harap kau segera memberi cucuk untuk ayahmu ini. Aku sudah hampir pension dan ingin saat pension nanti Ayahmu ini menimang cucu setiap hari.”
“Ah, Ayah, kalau hanya cucu ayah akan segera mendapatkan dariku. Iya, Kan, Sayang?” tanya Seno pada Sisy. Pertanyaan Seno yang sekenanya membuat wajah Sisy memerah. Wardah tersenyum lalu mengelus lengan Sisy lembut. Mendapat perlakuan lembut calon mertuanya, Sisy merasa berada di atas angin.
“Kau harus bekerja keras untuk itu, Sayang. Mamah yakin kalian akan segera berhasil.’
__ADS_1
“Insya Allah, Tante.” Wardah menggeleng.
“Kok Tante, sih Sayang. Seno memanggilku dengan Mamah. Ayo pangil aku Mamah.’ Sisy tersenyum.
“Iya, Mah.”
“Nah begitu kan bagus, Sayang. Kau akan menjadi Nyonya Seno segera, Kan?”
“I-iya, Mah. Insya Allah.”
“Kau akan menjadi ibu di Batalyon suamimu. Bersiaplah untuk bis memajukan ibu-ibu persit dengan program-program yang bagus, Sayang. jangan hanya mengikuti program ketua lama.”
“Apakah boleh?”
“Tentu saja, Sayang. Kau justru harus memiliki program baru agar jangan dikira menjiplak.”
“Insya Allah Mamah. Aku akan bersiap.’ Seno memandang Sisy dengan pandangan penuh merendahkan.
“Apakah kau mampu?” Sisy terperanjat memandang Seno yang memandangnya menunggu jawaban.
“Saya akan berusaha, Mas.”
“Bagus. Mulai hari ini kau bisa mempelajari semuanya dengan baik. Kau juga harus menyelesaikan kuliahmu dulu setelah menikah. Jangan menggantung harapanmu jauh di atas langit, tapi kau sama sekali tidak mau bergerak untuk meraihnya.”
“Iya, Mas. Aku janji akan menjadi ketua yang lebih baik. Akan menyelesaikan kuliahku dan akan mengurus keluargaku dengan baik.”
“Tidak usah berjanji. Aku tidak suka orang yang berjanji tapi tidak bisa menepati. Janji itu mudah diucapkan dan sulit untuk dilaksanakan.”
“Seno, kamu ngomong apa, Sih? Kasihan Sisy. Diakan belum punya pengalaman sama sekali, kamu yang harus membimbingnya.”
“Tentu saja dia harus belajar sendiri, Mah. Aku mana ada waktu untuk mengajarinya. dia anak kuliahan masa apa-apa diajari. Tidak punya inisiatif sendiri.”
“Aku janji akan belajar sendiri, Mas. Jangan khawatir.”
“Kau dengar itu kan, Sayang? Istrimu akan membuat semua program di batalyonmu berjalan maksimal.”
“Aku harap juga begitu”
__ADS_1