
“Apakah kita
tidak menunggu Ayah dan Ibu serta Nenek
untuk makan siang bersama ?” Aditya menggeleng.
“Tidak usah.
Mereka mungkin sudah makan.”
“Ayah, Ibu sama
Nenek sedang makan di luar Mas. Tadi beliau mendapat pesan dari Nenek Sinta
untuk menghadiri acara selamatan tujuh bulanannya cucu Nenek Sinta.” Ucap Ijah
sambil menyuguhkan makanan yang baru saja matang.
“Mengapa tidak
menunggu kita Bi? Atau kita tidak diundang ?”
“Bibi tidak
tahu, Mas. Yang jelas, Ibu bilang supaya Mas dan Mbak Rissa istirahat saja di
rumah, biar Mbak Rissa tidak kelelahan.”
“O, baiklah
kalau begitu.”
Aditya
memandang Rissa dan mengambil piring yang di hadapan Marissa.
“Kau dengar,
Sayang. Ibu ingin kau istirahat agar kita bisa bekerja keras untuk mewujudkan
keinginan mereka.”
“Maksudnya?”
Aditya
tersenyum.
“Masa istri Mas
tidak mengerti” Ucap Adit sambil mengacak rambutnya. Ia senyum-senyum sendiri
memandang ekspresi Rissa yang bengong sambil memandangnya. Wajah imutnya
membuat Adit semakin ingin menggodanya.
“Sudahlah,
jangan dipikirkan lagi. Kita selesaikan makan siang ini lalu Mas ingin kita
tidur siang. Mas lelah sekali.”
“Baiklah, kita
makan lalu tidur siang.”
“Kamu yakin ?”
Marissa
mengangguk.
Mereka
segera menyelesaikan makan siang, lalu melangkah bersama menuju kamar mereka di
lantai dua. Di kamar, Adit segera merebahkan tubuhnya sementara Rissa masih
menata beberapa barang yang dia ambil di kos. Ia buka satu persatu barangnya
dan melihat beberapa buku yang lama sekali tak disentuh.
Buku
hariannya kala menjadi relawan di Kemanukan. Buku harian berwarna biru, yang
menjadi saksi perjalanan hidupnya selama dia tinggal di Purworejo, kini nampak
lusuh. Ia teliti satu persatu halaman demi halaman. Wajahnya kadang terlihat
berseri, kadang teringat muram.
Adit
yang sedari tadi melihat kelakuan Rissa, perlahan menggeser tubuhnya, mencoba
mencuri tahu beberapa informasi yang ada di dalam buku tebal warna biru.
“Ternyata
kau sedang mengenang kebersamaanmu dengan tentara-tentara itu ya, Sayang?” goda
Aditya sambil memasang wajah cemberut. Rissa terkejut menyaksikan suaminya
sudah duduk di atas dipan, di sebelahnya. Dia mencoba menunjukkan buku
catatannya agar suaminya tidak menuduhnya sedang bernostalgia dengan tentara.
“Mas
boleh membacanya kok biar Mas tahu siapa yang kutulis dalam buku harianku.”
Adit
mengambil alih buku biru milik istrinya dan mencoba meneliti satu demi satu
kalimat yang digoreskan Marissa di sana.
“Jadi
cinta pertamamu adalah Qomar, Sayang?”
“Sebenarnya
bukan cinta, Mas. Hanya kagum karena perhatian yang diberikan padaku memang
benar-benar perhatian yang tulus, namun entah mengapa uncapannya yang setiap
hari melambungkan anganku, tiba-tiba membuatku membencinya.”
__ADS_1
“Apakah
karena kedatangan Syamsa?”
“Awalnya
tidak. Aku sama sekali tidak memiliki prasangka apapun atas perhatian Qomar
pada Mbak Syamsa, sang kembang kampus. Tapi melihat ketika bibinya SYamsa
menyuruh Syamsa memanggil kekasihnya untuk menikahinya, dan Qomar
menyetujuinya, aku jadi merasa sakit karena dikhianati.” Rissa menunduk
sejenak. Bayangan peristiwa menikahnya SYamsa kembali hadir dalam ingatannya.
Aditya
menarik nafas dalam. Ditariknya tangan Rissa dan mengajaknya mendekat. Marissa
yang mendapat perlakuan Adit hanya bisa menurut pasrah.
“Sekarang
tutup bukunya dan masukkan dalam tempat yang tidak dapat kau jangkau. Aku tidak
ingin lagi melihat istriku membuka kenangan lama yang akhirnya akan melukai
perasaannya sendiri dan perasaanku.” Marissa mengangguk. ia segera memasukkan
bukunya dalam kardus dan mengikuti tarikan tangan suaminya. merebahkan diri di
kasur empuk dan tenggelam dalam pelukan Aditya yang sudah menguncinya dengan
kedua kaki panjangnya.
“Sekarang
adalah saatnya kita melupakan masa lalu masing-masing. Hadapi masa kinimu dan
masa depanmu bersamaku, OK?” sekali lagi Marissa mengangguk. hatinya lega
karena suaminya sangat dewasa, tidak marah membabi buta ketika tahu bahwa orang
lain pernah mengisi relung hati terdalamnya.
Setelah
beberapa menit mereka bergelut dengan perasaan masing-masing, Aditya mencoba
memejamkan matanya. Niat awalnya ingin bercengkerama dengan istrinya sirna.
Saat
adzan asar berkumandang, Marissa menggeliat. Menyaksikan Aditya sudah tidak ada
di sisinya. Dia merasakan ada sesuatu yang tak nyaman. Tenggorokannya sakit dan
tubuhnya terasa dingin.
“Mas
Adit dimana sih. Aku kok tidak dibangunkan. Apa sudah pergi ke masjid?”
gumamnya. Marissa ingin sekali duduk, namun kepalanya terasa berat. Dingin yang
menususk tulang diwaktu matahari masih bersinar membuatnya khawatir akan
terlemah untuk tubuhnya.
Ia
juga tahu bagaimana harus bertindak. Saat dulu dia merasakan hal yang sama,
yang pertama dilakukan adalah meminta air the hangat dan meminum paracetamol,
lalu tidur beberapa saat. Kali ini dia kebingungan. Mau menyuruh suaminya
membuatkan teh hangat, Aditya sudah tidak ada di sekelilingnya, mau bangun
sendiri, dia lemah dan tak mampu berdiri.
Pilihan
yang dia pilih adalah tetap pada posisinya, tidur telentang sambil menutup
tubuhnya dengan selimut.
Aditya
yang sejak tadi duduk di ruang kerjanya segera bangkit mendengar azan asar. Ia
melangkah menuju kamarnya, berniat untuk membangunkan istrinya, namun ketika ia
melihat Marissa masih rebahan dengan selimut tebal, ia mengurungkan niatnya. Akhirnya
ia melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya lalu mengambil wudhu
dan meninggalkan kamarnya menuju masjid.
“Sayang,
kamu dimana sih. Masa iya tidak membangunkan aku dan mengajakku salat asar,’
gumam Marissa ketika dia terjaga. Marissa menciba bangun dan melangkah menuju
kamar mandinya. Membersihkan tubuhnya dengan air hangat dan mengambil wudhu,
namun saat dia hendak keluar kamar mandi, dia merasakan bumi yang dipijaknya
berputar. Marissa sudah mencoba untuk bertahan, namun akhirnya dia harus
menyerah pada keadaan. Dia ambruk di depan pintu kamar mandi tanpa ada siapapun
yang menolong.
Setengah
jam kemudian, Aditya sampai di rumah. setelah melewati ruang tamu yang sepi, ia
bertemu dengan kedua orang tuanya beserta neneknya di ruang tengah. Mereka
masih membongkar beberapa bungkusan yang dibawa dari rumah nenek Sinta. Melihat
kesibukan orang tuanya, ia duduk memandang aktifitas di hadapannya.
“Mana
Rissa?” Nenek Santi memandang Aditya yang ikut duduk tanpa Rissa merasa aneh. Dia
__ADS_1
benar-benar merasa geregetan ketika melihat cucunya begitu santai tanpa
kehadiran istrinya.
“Rissa
masih tidur di kamar, Nek. Aditya kasihan membangunkannya. Kelihatannya dia
lelah hari ini.” Nenek Santi memandang Adit dengan sorot mata tajam. Dia benci
mendengar alasan yang diucapkan cucunya atas cucu menantunya yang kini masih
tidur.
“Kamu
itu Imam rumah tangga. Ketika istrimu tidur sementara kamu salat tanpa kamu
mengingatkannya, apakah kau sudah siap untuk mempertanggungjawabkan
kepemimpinanmu? DIa akan meminta pertanggungjawaban atas semua keteledoranmu
karena kau tidak berinisiatif membangunkannya salat dengan alasan kau kasihan.
Nenek tidak akan mentolerir tindakanmu hari ini. Kau seolah berperan sebagai
suami yang sangat menyayangi istrimu, namun sebenarnya kau adalah suami yang
acuh tak acuh. PAnggil dia dan ajak kemanapun kau ada. Ketika kau makan di
sini, dia tidak bergabung denganmu bisa jadi karena dia malu. dia menahan lapar
atau bahkan menahan perasaan tidak enaknya karena saat kita berada di sini dia
masih di kamar.”
“Baik
Nek. Aditya minta maaf”
“Pergilah!”
Aditya
melangkah meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya dengan cepat. Ia benar-benar
menyesal karena telah mendiamkan istrinya, dengan membiarkannya tetap tidur padahal
waktu salat sudah berlalu. Aditya merasa bersalah. Semua yang diucapkan
neneknya mutlak kebenarannya karena penguasaan ilmu agama sang nenek memang
tidak ia ragukan sama sekali.
Aditya
membuka pintu dan memandang ranjangnya sudah tidak berpenghuni. Ia melihat ke sekeliling, mencari sosok Marissa
yang barangkali sedang melaksanakan salat di kamar, namun nihil.
“Sayang,
kamu dimana?” Aditya melangkah menuju kamar mandi. melihat pintunya masih
ditutup, ia berfikir bahwa istrinya memang sedang melaksanakan hajatnya di
sana.
Ia menunggu
sejenak, duduk di dipan sambil mengambil ponselnya. Saking asiknya berselancar
dengan dunia maya, Aditya sampai lupa tujuan awalnya. Ia sibuk membalas email
dan chat di whatsapp grup.
“Apa
yang sedang kau lakukan di sini Aditya? Sejak tadi nenek menyuruh kamu memanggil
istrimu, masa kamu malah asik dengan duniamu sendiri.”
Aditya
tersentak. Ia memandang kamar mandi yang masih tertutup. Ia segera mencoba
membuka. Pintu sebenarnya tidak terkunci, namun ada sesuatu yang mencegahnya. Aditya
mencoba memastikan bahwa istrinya memang berada di dalam.
“Sayang”
Ia
terkejut ketika menemukan Rissa sedang tergolek tak berdaya di dalam kamar mandi
dekat dengan pintu entah untuk berapa lama. Tangan Aditya bergetar. Ia benar-benar
mengutuk dirinya atas kesalahan yang ia buat pada istrinya.
“Nenek!”
Santi
menatap Aditya yang panik, menyaksikan cucunya sedang mencoba menolong Marissa
yang masih belum sadarkan diri.
“Apa
yang terjadi dengannya? Kalau ada apa-apa atas cucu mantuku, kau akan kutuntut
atas keteledoranmu saat ini.”
“Nenek,
Adit minta maaf. Adit benar-benar lupa kalau tujuan awal Adit adalah
mengajaknya salat. Adit kira ia sedang menunaikan hajatnya dan . . . .”
“Sudahlah!
Jangan terlalu banyak alasan untuk membela dirimu atas kesalahan fatal yang
sudah kau lakukan. Panggil Nancy sekarang.”
Setelah
mengangkat dan membaringkan tubuh Marissa, Aditya segera menelpon Nancy dan
__ADS_1
memintanya untuk hadir di rumahnya.