Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Pingsan


__ADS_3

“Apakah kita


tidak menunggu Ayah dan Ibu serta  Nenek


untuk makan siang bersama ?” Aditya menggeleng.


“Tidak usah.


Mereka mungkin sudah makan.”


“Ayah, Ibu sama


Nenek sedang makan di luar Mas. Tadi beliau mendapat pesan dari Nenek Sinta


untuk menghadiri acara selamatan tujuh bulanannya cucu Nenek Sinta.” Ucap Ijah


sambil menyuguhkan makanan yang baru saja matang.


“Mengapa tidak


menunggu kita Bi? Atau kita tidak diundang ?”


“Bibi tidak


tahu, Mas. Yang jelas, Ibu bilang supaya Mas dan Mbak Rissa istirahat saja di


rumah, biar Mbak Rissa tidak kelelahan.”


“O, baiklah


kalau begitu.”


Aditya


memandang Rissa dan mengambil piring yang di hadapan Marissa.


“Kau dengar,


Sayang. Ibu ingin kau istirahat agar kita bisa bekerja keras untuk mewujudkan


keinginan mereka.”


“Maksudnya?”


Aditya


tersenyum.


“Masa istri Mas


tidak mengerti” Ucap Adit sambil mengacak rambutnya. Ia senyum-senyum sendiri


memandang ekspresi Rissa yang bengong sambil memandangnya. Wajah imutnya


membuat Adit semakin ingin menggodanya.


“Sudahlah,


jangan dipikirkan lagi. Kita selesaikan makan siang ini lalu Mas ingin kita


tidur siang. Mas lelah sekali.”


“Baiklah, kita


makan lalu tidur siang.”


“Kamu yakin ?”


Marissa


mengangguk.


Mereka


segera menyelesaikan makan siang, lalu melangkah bersama menuju kamar mereka di


lantai dua. Di kamar, Adit segera merebahkan tubuhnya sementara Rissa masih


menata beberapa barang yang dia ambil di kos. Ia buka satu persatu barangnya


dan melihat beberapa buku yang lama sekali tak disentuh.


Buku


hariannya kala menjadi relawan di Kemanukan. Buku harian berwarna biru, yang


menjadi saksi perjalanan hidupnya selama dia tinggal di Purworejo, kini nampak


lusuh. Ia teliti satu persatu halaman demi halaman. Wajahnya kadang terlihat


berseri, kadang teringat muram.


Adit


yang sedari tadi melihat kelakuan Rissa, perlahan menggeser tubuhnya, mencoba


mencuri tahu beberapa informasi yang ada di dalam buku tebal warna biru.


“Ternyata


kau sedang mengenang kebersamaanmu dengan tentara-tentara itu ya, Sayang?” goda


Aditya sambil memasang wajah cemberut. Rissa terkejut menyaksikan suaminya


sudah duduk di atas dipan, di sebelahnya. Dia mencoba menunjukkan buku


catatannya agar suaminya tidak menuduhnya sedang bernostalgia dengan tentara.


“Mas


boleh membacanya kok biar Mas tahu siapa yang kutulis dalam buku harianku.”


Adit


mengambil alih buku biru milik istrinya dan mencoba meneliti satu demi satu


kalimat yang digoreskan Marissa di sana.


“Jadi


cinta pertamamu adalah Qomar, Sayang?”


“Sebenarnya


bukan cinta, Mas. Hanya kagum karena perhatian yang diberikan padaku memang


benar-benar perhatian yang tulus, namun entah mengapa uncapannya yang setiap


hari melambungkan anganku, tiba-tiba membuatku membencinya.”

__ADS_1


“Apakah


karena kedatangan Syamsa?”


“Awalnya


tidak. Aku sama sekali tidak memiliki prasangka apapun atas perhatian Qomar


pada Mbak Syamsa, sang kembang kampus. Tapi melihat ketika bibinya SYamsa


menyuruh Syamsa memanggil kekasihnya untuk menikahinya, dan Qomar


menyetujuinya, aku jadi merasa sakit karena dikhianati.” Rissa menunduk


sejenak. Bayangan peristiwa menikahnya SYamsa kembali hadir dalam ingatannya.


Aditya


menarik nafas dalam. Ditariknya tangan Rissa dan mengajaknya mendekat. Marissa


yang mendapat perlakuan Adit hanya bisa menurut pasrah.


“Sekarang


tutup bukunya dan masukkan dalam tempat yang tidak dapat kau jangkau. Aku tidak


ingin lagi melihat istriku membuka kenangan lama yang akhirnya akan melukai


perasaannya sendiri dan perasaanku.” Marissa mengangguk. ia segera memasukkan


bukunya dalam kardus dan mengikuti tarikan tangan suaminya. merebahkan diri di


kasur empuk dan tenggelam dalam pelukan Aditya yang sudah menguncinya dengan


kedua kaki panjangnya.


“Sekarang


adalah saatnya kita melupakan masa lalu masing-masing. Hadapi masa kinimu dan


masa depanmu bersamaku, OK?” sekali lagi Marissa mengangguk. hatinya lega


karena suaminya sangat dewasa, tidak marah membabi buta ketika tahu bahwa orang


lain pernah mengisi relung hati terdalamnya.


Setelah


beberapa menit mereka bergelut dengan perasaan masing-masing, Aditya mencoba


memejamkan matanya. Niat awalnya ingin bercengkerama dengan istrinya sirna.


Saat


adzan asar berkumandang, Marissa menggeliat. Menyaksikan Aditya sudah tidak ada


di sisinya. Dia merasakan ada sesuatu yang tak nyaman. Tenggorokannya sakit dan


tubuhnya terasa dingin.


“Mas


Adit dimana sih. Aku kok tidak dibangunkan. Apa sudah pergi ke masjid?”


gumamnya. Marissa ingin sekali duduk, namun kepalanya terasa berat. Dingin yang


menususk tulang diwaktu matahari masih bersinar membuatnya khawatir akan


terlemah untuk tubuhnya.


Ia


juga tahu bagaimana harus bertindak. Saat dulu dia merasakan hal yang sama,


yang pertama dilakukan adalah meminta air the hangat dan meminum paracetamol,


lalu tidur beberapa saat. Kali ini dia kebingungan. Mau menyuruh suaminya


membuatkan teh hangat, Aditya sudah tidak ada di sekelilingnya, mau bangun


sendiri, dia lemah dan tak mampu berdiri.


Pilihan


yang dia pilih adalah tetap pada posisinya, tidur telentang sambil menutup


tubuhnya dengan selimut.


Aditya


yang sejak tadi duduk di ruang kerjanya segera bangkit mendengar azan asar. Ia


melangkah menuju kamarnya, berniat untuk membangunkan istrinya, namun ketika ia


melihat Marissa masih rebahan dengan selimut tebal, ia mengurungkan niatnya. Akhirnya


ia melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya lalu mengambil wudhu


dan meninggalkan kamarnya menuju masjid.


“Sayang,


kamu dimana sih. Masa iya tidak membangunkan aku dan mengajakku salat asar,’


gumam Marissa ketika dia terjaga. Marissa menciba bangun dan melangkah menuju


kamar mandinya. Membersihkan tubuhnya dengan air hangat dan mengambil wudhu,


namun saat dia hendak keluar kamar mandi, dia merasakan bumi yang dipijaknya


berputar. Marissa sudah mencoba untuk bertahan, namun akhirnya dia harus


menyerah pada keadaan. Dia ambruk di depan pintu kamar mandi tanpa ada siapapun


yang menolong.


Setengah


jam kemudian, Aditya sampai di rumah. setelah melewati ruang tamu yang sepi, ia


bertemu dengan kedua orang tuanya beserta neneknya di ruang tengah. Mereka


masih membongkar beberapa bungkusan yang dibawa dari rumah nenek Sinta. Melihat


kesibukan orang tuanya, ia duduk memandang aktifitas di hadapannya.


“Mana


Rissa?” Nenek Santi memandang Aditya yang ikut duduk tanpa Rissa merasa aneh. Dia

__ADS_1


benar-benar merasa geregetan ketika melihat cucunya begitu santai tanpa


kehadiran istrinya.


“Rissa


masih tidur di kamar, Nek. Aditya kasihan membangunkannya. Kelihatannya dia


lelah hari ini.” Nenek Santi memandang Adit dengan sorot mata tajam. Dia benci


mendengar alasan yang diucapkan cucunya atas cucu menantunya yang kini masih


tidur.


“Kamu


itu Imam rumah tangga. Ketika istrimu tidur sementara kamu salat tanpa kamu


mengingatkannya, apakah kau sudah siap untuk mempertanggungjawabkan


kepemimpinanmu? DIa akan meminta pertanggungjawaban atas semua keteledoranmu


karena kau tidak berinisiatif membangunkannya salat dengan alasan kau kasihan.


Nenek tidak akan mentolerir tindakanmu hari ini. Kau seolah berperan sebagai


suami yang sangat menyayangi istrimu, namun sebenarnya kau adalah suami yang


acuh tak acuh. PAnggil dia dan ajak kemanapun kau ada. Ketika kau makan di


sini, dia tidak bergabung denganmu bisa jadi karena dia malu. dia menahan lapar


atau bahkan menahan perasaan tidak enaknya karena saat kita berada di sini dia


masih di kamar.”


“Baik


Nek. Aditya minta maaf”


“Pergilah!”


Aditya


melangkah meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya dengan cepat. Ia benar-benar


menyesal karena telah mendiamkan istrinya, dengan membiarkannya tetap tidur padahal


waktu salat sudah berlalu. Aditya merasa bersalah. Semua yang diucapkan


neneknya mutlak kebenarannya karena penguasaan ilmu agama sang nenek memang


tidak ia ragukan sama sekali.


Aditya


membuka pintu dan memandang ranjangnya sudah tidak berpenghuni.  Ia melihat ke sekeliling, mencari sosok Marissa


yang barangkali sedang melaksanakan salat di kamar, namun nihil.


“Sayang,


kamu dimana?” Aditya melangkah menuju kamar mandi. melihat pintunya masih


ditutup, ia berfikir bahwa istrinya memang sedang melaksanakan hajatnya di


sana.


Ia menunggu


sejenak, duduk di dipan sambil mengambil ponselnya. Saking asiknya berselancar


dengan dunia maya, Aditya sampai lupa tujuan awalnya. Ia sibuk membalas email


dan chat di whatsapp grup.


“Apa


yang sedang kau lakukan di sini Aditya? Sejak tadi nenek menyuruh kamu memanggil


istrimu, masa kamu malah asik dengan duniamu sendiri.”


Aditya


tersentak. Ia memandang kamar mandi yang masih tertutup. Ia segera mencoba


membuka. Pintu sebenarnya tidak terkunci, namun ada sesuatu yang mencegahnya. Aditya


mencoba memastikan bahwa istrinya memang berada di dalam.


“Sayang”


Ia


terkejut ketika menemukan Rissa sedang tergolek tak berdaya di dalam kamar mandi


dekat dengan pintu entah untuk berapa lama. Tangan Aditya bergetar. Ia benar-benar


mengutuk dirinya atas kesalahan yang ia buat pada istrinya.


“Nenek!”


Santi


menatap Aditya yang panik, menyaksikan cucunya sedang mencoba menolong Marissa


yang masih belum sadarkan diri.


“Apa


yang terjadi dengannya? Kalau ada apa-apa atas cucu mantuku, kau akan kutuntut


atas keteledoranmu saat ini.”


“Nenek,


Adit minta maaf. Adit benar-benar lupa kalau tujuan awal Adit adalah


mengajaknya salat. Adit kira ia sedang menunaikan hajatnya dan  . . . .”


“Sudahlah!


Jangan terlalu banyak alasan untuk membela dirimu atas kesalahan fatal yang


sudah kau lakukan. Panggil Nancy sekarang.”


Setelah


mengangkat dan membaringkan tubuh Marissa, Aditya segera menelpon Nancy dan

__ADS_1


memintanya untuk hadir di rumahnya.


__ADS_2