
“Saya terima nikah dan kawinnya, Sisilia Indraswari binti Syaiful Damanik dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat Dua puluh lima gram dibayar tunai’
“Sah?’
“Sah.”
“Alhamdulillah. Barakallu lakuma wabaraka ‘alaikuma wajamanga baina kuma fii khair”
Semua mata memandang sepasang suami istri yang baru saja mengucapkan janji pernikahan. Sisy tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya, menerima dirinya dengan seperagkat alat shalat, alat yang dia harap akan menjadi sarana kedekatan dirinya dan suami yang sangat dicintainya.
Setelah sah, penghulu menyuruh Seno untuk mengucapkan taklik pernikahan. Mengucapkan janji
yang akan menjadi rambu-rambu dirinya dalam membina keluarganya. Syaiful dan Meli tersenyum melihat putri semata wayangnya memandangnya. Pandangan yang menyatakan bahwa dirinya adalah pemenang hati Suseno Wardoyo. Suami yang ia dapatkan dengan cara licik.
“Tidak aka nada yang bisa menghalangi keinginanku tanpa terkecuali ibu dan ayahku, Mas” batin Sisy lirih. Ia ulurkan tangannya untuk menyalami tangan Seno dan mencium punggung tangannya dengan bahagia.
“Terima kasih karena sudah mau menerimaku, Mas.’ Bisik Sisy pada suaminya. Seno hanya emandang Sisy dengan tatapan datar. tidak ada yang membuat dirinya mampu tersenyum di saat seperti itu. Ia tahu hatinya sangat terluka dan ia juga tahu, luka itu Sisy yang menorehkannya.
“aku tahu kau sangat bahagia.” Sisy tersenyum.
“Tentu saja, Mas. Terima kasih.”
“Apa imbalannya untukku?”
“Aku akan melayani Mas dengan tulus.”
“Aku tidak mau.”
“Lalu?’
“Perjanjian kita tetap berlaku.”
“Mengapa seperti itu? Kita sudah sah menjadi suami istri sekarang. Janji kita adalah janji pernikahan yang tulus. Mas sudah melakukannya.”
“Tidak ada pernikahan saat hamil.”
__ADS_1
“Tapi Mas harus bertanggung jawab atas kehamilanku ini. ini anakmu dan tidak ada yang boleh mengasuh selain dirimu dan aku.”
“Hanya aku, bukan kamu.’
“Terserahlah. Aku lelah, Mas.”
Sisy menunduk. lelah sekali dia saat ini. bukan karena dia kelelahan menyiapkan acara, lelahnya dia murni karena penantiannya yang tak kunjung datang.
Ia tahu, hatinya ingin mendapatkan Seno secara utuh, namun kenyataan harus ia telan dengan ikhlas. Perjanjian yang sudah ia buat kemarin, perjanjian yang sangat merugikan dirinya, kini harus ia tepati. Tanpa ampun. Tanpa alibi.
Beberapa menit setelah salam-salaman usai ijab Kabul, resepsi pernikahan Seno dan Sisy dilaksanakan. Gedung wanita atau gedung Ganesha ramai dengan tamu dari semua kerabat dan teman-teman kedua keluarga. Sisy menggunakan gaun pengantin warna putih. Wajahnya yang bermake up natural terlihat sangat cantik dan elegan. Seno memakai pakaian Dinas Harian, membuat dia nampak sangat gagah.
Mereka duduk di pelaminan dengan didampingi dua orang ibu dan bapaknya. Tersenyum bahagia dalam pandangan para tamu. Sang mempelai wanita nampak sekali-kali memandang mempelai laki-laki yang masih sibuk menerima ucapan selamat dari rekan-rekannya.
“Rupanya kalian memang berjodoh ya? Yang laki-laki ganteng dan yang perempuan sangat cantik. Pas. Allah sangat tahu bagaimana pasangan bersatu.” Ucap Kapten Willy. Kepala Urusan operasional di batayon yang sama dengan Seno. Seno mengangguk. tersenyum meski nampak sangat getir.
“Terima kasih, Kapten. Kedatanganmu meramaikan resepsi kami. Doakan kami mampu melewati
hari-hari berat yang akan datang menyapa kami.” Willy memeluk Seno dengan erat. Ia tahu saat pernikahan terjadi, saat itulah adegan kehidupan sedang dimulai. Siapapun yang tidak kuat akan bisa tumbang seiring dengan terkuaknya semua tabiat masing-masing pasangan.
“Insya Allah kuat, Komandan. Anda orang yang kuat dan tabah, pantang menyerah dan sabar. Dengan Bismillah.”
“Selamat ya Mbak Sisy. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.”
“Aamiin, Kapten. Terima kasih.” Ucap Sisy sambil menjabat tangan Willy membuat Seno melirik padanya. Tidak suka dengan tindakan yang baru saja dilakukan oleh Sisy. Sejak pertama mereka dipajang di pelaminan, Sisy selalu menerima ucapan selamat dari laki-laki dengan berjabat tangan bahkan tanpa malu-malu mereka saling lempar senyum.
Pukul sepuluh, beberapa tamu dari kampus Sisy hadir. Mereka mengucapkan selamat pada Sisy dengan mencium pipi kanan dan kirinya. Satu persatu meminta berfoto bersama dengan sang pengantin. Rosa yang juga ikut dalam pager ayu, ikut serta bergabung dengan temannya yang lain.
“Marissa mana, Ros?” tanya Sisy sambil memandang sekeliling.
“Apakah kau mengundangnya?” Sisy terpana. Ia lupa bahwa dia tak mengirimkan undangan satupun untuk teman sekamarnya. Kemarin ia merasa bahwa ia tidak perlu mengirimkan undangan untuknya karena ia berani bertaruh bahwa kehadiran Marissa akan merusak suasana. Namun di hari H kebahagiaannya, ia merasa sangat menyesal.
Tidak mengundang Marissa adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Namun bukan Sisy namanya kalau mau mengakui kesalahannya begitu saja. Ia selalu bisa memunculkan ucapan yang berbeda dengan apa yang sedang berkecamuk di dadanya.
“Seharusnya walaupun ia tidak kundang masa iya tidak mendengar kalau aku menikah, Ros. Teman macam apa seperti itu?” kata Sisy tanpa memandang Seno yang sedang menatapnya tak percaya.
__ADS_1
“Kau yang tidak tahu diri. Bukan dia yang tidak datang yang tidak tahu aturan. Seharusnya kau lebih bisa mengaca mengapa teman sebaik Marissa tidak hadir dalam pernikahan kita.”
Sisy diam. dalam hati ia geram mendengar Seno lebih membela Marissa dari pada dirinya yang sudah resmi menjadi istri dan calon ibu dari anaknya.”
“Bukan aku yang salah. Aku kan hanya sekedar menerima mateng apa yang akan kulaksanakan hari ini. kalau panitia tidak mengundang mungkin mereka tidak tahu bahwa aku dan Marissa adlaha teman satu kamar di kos.”
“Itulah kamu. orang egois yang kebetulan harus mengisi hidup dan hari-hariku. Aku berharap bisa melewatinya dengan aman setidaknya sampai anakku lahir.”
“Tapi aku tidak akan membiarkan suamiku untuk kembali pada mantan kekasihnya.”
“Kembali kepada mantan kekasih? Kau berkacalah, saat aku masih sendiri dia sendiri saja, dia lebih memilih untuk mundur demi memberi kesempatan kepadamu, apalagi saat ini dia sudah menjadi istri orang. Dia bahkan sudah tidak menyimpan memori atas diriku karena dia sudah memili yang lebih baik dariku. Tapi kau . . .” Seno menghentikan kalimatnya, mencoba menahan air hangat yang nyaris terkumpul sempurna dan siap menjebol pertahanannya.
Sisy diam. ia tak berkutik, membenarkan kalimat suaminya. ia segera sibuk dengan ponsel dan membalas setiap chat yang mengucapkan ucapan selamat padanya. Sesekali dia melemparkan candaan di grup kampusnya.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam, Mas Adit? Dengan siapa datang?” Mata Seno mencari sekeliling ruangan, mencoba mencari sosok yang sangat ia rindukan. Beberapa kali ke masjid agung namun ia selalu gagal menemui Marissa karena ia lebih memilih menunggu suaminya di ruang jamaah putri.
“Saya bersama Dik Rissa, Mas. Tapi dia sedang ke toilet.” Aditya menatap pintu menuju toilet dan melambaikan tangannya ketika melihat Marissa keluar dan memandangnya di pelaminan.
Seno tersenyum bahagia melihat wanita yang dicintainya tersenyum ke arahnya. Ditambah lagi dengan langkah sang idaman mendekatinya. Ia hampir saja mengulurkan tangannya menyambut tangan Marissa kalau saja tidak melihat, Aditya lebih dulu menerima tangan milik istrinya. Seno mengacak rambutnya. Frustasi pada keadaan yang ia alami saat ini. sementara di sebelahnya, Sisy nampak sangat kesal
melihat senyum yang mengembang di bibir Seno. Ia mengepalkan tangannya dan mencoba untuk memukulkannya, namun ia urungkan. Seno memandangnya dan mengenalkannya pada Aditya.
“Oh iya, ini istriku, Mas Adit” Aditya tersenyum lalu mengangguk.
“Ya, saya pernah bertemu dengan istri Mas Seno sebelum bertemu dengan istriku.”
“Oh iya? Dimana?”
“Aku kan dosen di kampus putih. Tidak heran kan kalau aku melihat dan mengenalnya.” Seno menepuk jidatnya.
“Iya, aku lupa.”
“Selamat ya Mas Seno, Sisy. Barakallahu lakuma wabaroka ‘alaikuma wajamanga bainakuma fiikhair.” Ucap Marissa sambil memeluk tubuh Sisy erat. Sisy tak bergeming. Ia tidak tahu apa yang harus ia buat untuk membalaskan sakit hatinya atas perlakuan Seno pada Marissa. Perlakuan lembut yang selalu membuatnya terbakar.
__ADS_1
Bersambung
Alhamdulillah akhirnya bisa up, author tetap berharap semoga novel ini bisa menghibur dan bisa menjadi sarana belajar. setelah membaca silakan tinggalkan vote, like dan comment ya. terima kasih . . .