Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Aku Akan Menikah


__ADS_3

Seno melempar pakaiannya di bed king size di rumah dinasnya. Tubuh dan pikirannya lelah menerima kenyataan bahwa dirinya sudah terjebak dalam  permainan yang dibuat oleh Syaiful dan Sisy. Ia meremas rambutnya yang sudah mulai tumbuh lima senti lebih panjang dari aturan yang seharusnya ia taati di


dunia kerjanya.  Belum ada waktu untuk memotong atau dirinya memang belum ingin memotong dia tidak tahu alasan pastinya.


“Hah, ternyata kau selalu membuat diriku dalam masalah, Sisy. Dulu kau menjadi penghalang kebersamaanku dengan Marissa, dan sekarang kau datang padaku dengan membawa masalah baru.”


Seno merebahkan tubuhnya di ranjang. ia tatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia bayangkan beberapa kisah hidupnya bersama seorang gadis yang sempat hadir dalam hatinya bahkan sampai hari ini ketika si gadis sudah menjadi milik orang pun, ia tetap berada di sana.


“Apa yang sedang kau lakukan dengan suamimu, sayang? Apakah kau bahagia dengannya atau sebaliknya?” Seno mengulurkan tangannya, mencari ponsel di ranjang, di sela-sela tubuh dan pakaiannya, lalu mencoba membuka gallery.  Mencari sosok Marissa, yang maish ia simpan di sana. Ia buka kunci pengaman dengan memasukkan nomor rahasia.


Ia pandang wajah ayu nan sederhana yang sedang tersenyum diantara beberapa pengunjung pengungsian. Foto yang sengaja ia ambil ketika Marissa sedang tidak melihat keberadaannya.


“Sederhanamu yang membuat aku tergila-gila, Sayang. Tapi mengapa  kau lebih memilih suamimu yang sekarang ? Apakah karena dia dosenmu sehingga kau ketakutan jika menolaknya atau karena dia menurutmu lebih tampan dari diriku yang gagah ini hem?”


Seno mencium ponselnya, seolah ia sedang mencium wajah Marissa. Ia tersenyum melihat senyum Marissa yang begitu menawan.


“Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja meski kau sudah menjadi milik orang.” Gumamnya. “ Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Tetaplah menjadi gadis manis yang membanggakan, Sayang.”


Seno meletakkan ponselnya setelah dia mencium foto Marissa beberapa kali. Matanya mulai terpejam, mencoba menghilangkan penat yang sudah lama ia pendam seorang diri. Angannya nyaris melambung membayangkan bagaimana sikap Marissa padanya kala itu, naun segera ia putus ketika sebuah panggilan masuk.


Seno melihat ponsel dan menggeser tanda hijau ketika tahu si penelpon.


“Halo, Mah.”


“”Halo Seno. Aku dengar kabar kau akan segera melamar Sisy? Apakah benar ?”


Seno terperanjat mendengar pertanyaan ibunya. dia belum menceritakan apapun pada sang ibu, namun mengapa Ibunya bisa tahu semua rencananya.


“Mah, siapa yang memberikan kabar itu pada Mamah?” Murni menggeleng. ia tahu kalau mengatakan orang yang sedah menceritakan rencana pernikahan anaknya, Seno pasti akan mengamuk. Ia tidak akan melakukannya karena ia tahu, keinginannya untuk menimang cucu sudah sangat kuat muncul di hatinya.


“Hanya mereka-reka saja, Sayang. Mamah akan senang jika apa yang Mamah katakana benar-benar menjadi kenyataan, Seno.”


“Apakah Mamah tidak menginginkan gadis yang lebih solihah daripada Sisy? Wanita yang mendampingiku haruslah wanita yang mampu membuatku bertekuk lutut di hadapannya. bukan wanita sembarangan yang dengan mudah melakukan tipu daya pada laki-laki yang dicintainya.’

__ADS_1


“Apa maksudmu, Nak?’


“Kalau dia kunikahi, itu murni karena Mamah menginginkannya. Bukan karena hatiku memilihnya.”


“Lakukan saja apa maumu. Mamah capek bicara sama kamu. Kamu memang anak pintar dan cerdas. Bahkan kecerdasanmu membuat kami kelimpungan tak karuan.”


Tuuut


Sambungan terputus. Seno memandang layar ponselnya dan melemparnya ke bed. Ia segera melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Beberapa bulan ini ia lengah. Kehilangan kesempatan untuk menyembah ilahi demi bersembunyi dari perasaan yang campur aduk. Menghindari rasa bersalah atas apa


yang ia lakukan pada Sisy.


“Kau memang bodoh. harusnya aku tidak merasa bersalah seperti ini karena semua adalah ulahmu.” Gumamnya.


Seno masuk ruang berukuran dua kali satu dan menyelesaikan mandi sorenya. Menghilangkan lengket di tubuh akibat kegiatan yang seharian dia lakukan.


Setelah selesai mandi dan wudhu, ia bergegas keluar, menuju motor yang ia parkir di depan rumah dinasnya. ia duduk dengan tenang, menyandang sajadah dan menghidupkan motornya melaju menuju masjid agung. Ia berharap ada keajaiban yang nyata. Ya, ia ingin bertemu Marissa.


Sepuluh menit kemudian, ia memarkirkan motornya didepan masjid yang berdiri megah di sebelah barat alun-alun kota. Suasana petang itu sangat ramai. Jamaah yang datang dari berbagai wilayah memenuhi halaman masjid membuat pandangan Seno terhalang oleh lalu lalang jamaah. Ia mendesah karena gagal


“Ternyata sulit mencarimu diantara lautan manusia yang ingin salat di sini, Sayang.” gumam Seno sambil mengucap wajahnya frustasi.


“Assalamualaikum” Seno yang sedang mencoba mencari-cari sosok yang dirindukannya tiba-tiba dikejutkan oleh suara seorang pemuda yang langsung duduk di sebelahnya. Ia mengulurkan tangan mengajak salaman. Tidak ada pilihan lain selain menerima uluran tangan laki-laki yang baru datang. Seno memandang wajah pemuda di sebelahnya dengan takjub. Ia seperti pernah melihat pemuda di dekatnya, namun ia tidak ingat dimana.


“Maaf, akhi, apakah antum mengenalku?” tanya pemuda di sebelah Seno heran saat melihat Seno memperhatikan dirinya.


“Kelihatannya pernah bertemu, tapi entah dimana.’


“Saya Aditya.”


“A . . Aditya?” Seno mencoba menganalisa orang-orang bernama Aditya yang ia kenal. Satu persatu, namun ia gagal menemukan Aditya yang kini ada di sampingnya.


“Ada apa yaa Akhi? Apakah mengenalku?”

__ADS_1


“Entahlah. Tapi kelihatannya tidak asing.”


“Siapa nama Antum?”


“Saya Seno.” Aditya terperanjat. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh Seno. Lelaki di sebelahnya yang sejak tadi mencoba mencari seseorang adalah lelaki yang pernah mencintai Marissa, istrinya tercinta.


Aditya mencoba mengikuti pandangan Seno.


“Siapa yang sedang Antum cari, Akhi? Apakah ada akhwat yang menarik perhatian antum?” Seno menggeleng. ia sedikit panik menyadari bahwa Aditya mulai mencurigai tatapan matanya ke jamaah putri di sebelah kirinya.


“Aku sedang mencari sahabat lamaku. Barangkali dia datang ke masjid ini.’ sahut Seno datar.


“Apakah kau tahu kalau sahabat lamamu sudah menikah dan dia sudah tidak boleh diganggu lagi?” Seno tersenyum.


“Ya. aku hanya ingin bilang kalau dua bulan lagi aku akan menikah.”


“Benarkah? Alhamdulillah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Akhirnya kau bisa move on.” Seno tersenyum kecut mendengar kata move on dari bibir Aditya. Ia benar-benar tidak percaya kalau Aditya memiliki kecurigaan padanya.


“Tentu saja aku harus move on, Aku bukan orang bodoh yang selalu menangisi sakit hatiku karena orang yang kucintai lebih memilih pria lain.”


“Alhamdulillah. Senang mendengarnya Akhi. Aku berharap semoga wanita yang menjadi istrimu adalah wanita terbaik pilihan Allah, yang akan menjadi mutiara dalam keluarga Akhi kelak.”


“Insya Allah. O iya, bagaimana kabar Dik Marissa ?”


“Alhamdulillah dia baik.”


“Apakah sudah berhasil?” Aditya tidak langsung menjawab. Kata berhasil yang dimaksud Seno mungkin berbeda penafsiran dengan berhasil Versi Aditya.


“Berhasil maksudnya?”


“Apakah sudah ada Aditya junior?”


“Oh itu. Ya, Alhamdulillah sudah berjalan bulan keempat.”

__ADS_1


“Selamat atas amanah yang dipercayakan pada kalian. Aku senantiasa berdoa untuk hal yang terbaik pada keluargamu.”


“Aamiin. Begitu juga dengan kami. Kami juga senantiasa berdoa yang terbaik untuk antum.”


__ADS_2