Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Pulang ke Yogyakarta


__ADS_3

Ba’da duhur, kami berkumpul di ruang tengah.


“Marisa Sayang, Ibu dan Bapak serta nenek ingin tahu tentang perasaanmu kepada Aditya.” Pak Mustafa membuka percakapan.


“Kami ingin memastikan apakah kau benar-benar mencintai Aditya? “


“Apakah saya harus menjawab di sini, Bu, Pak? “ Aku merasa sedang dalam kungkungan masalah. Bukan masalah sepele karena ini menyangkut perasaan. Aku selalu tak pernah bisa mengungkapkan perasaanku secara blak-blakan. Namun sekarang, aku ditodong harus bisa meyakinkan mereka tentang perasaanku pada anak dan cucu keluarga ini.


“ Saya kira di sini juga tidak masalah, biar semua jelas. Aditya juga semakin mantap, iya kan Dit? “ Kulihat wajah Aditya menegang. Mungkin karena ia tidak ingin aku malu di hadapan keluarganya. Atau mungkin ia khawatir aku tak bisa memenuhi semua keinginan keluarganya.


“Kalau bisa, Dik Marisa mengungkapkan boleh, Bu. Tapi saya yakin Dik Marisa akan malu untuk bilang kalau dia mencintaiku di hadapan kalian semua, iya kan Dik ?” aku hanya mengangguk.


“Jawab saja dengan iya atau tidak.” Pinta Bu Meisya.


“Apa yang harus saya jawab, Bu?”


“Apakah kau sungguh-sungguh mau menerima anakku dengan segenap kelebihan dan kekurangannya ? Itu saja, semoga tidak terlalu membebani.” Ucap Bu Meisya sambil menatapku.


Aku hanya mengangguk.


“Insya Allah saya ikhlas, Bu.”


“Apapun termasuk kondisi keluarga Aditya yang sederhana ini, Sayang? “ Kali ini Pak Mustafa meyakinkan.” APakah kau tidak akan malu mempunyai mertua yang miskin ?”


Aku tersenyum.


“Bapak, Ibu, Nenek dan Kak Aditya. Semua manusia sama di hadapan Tuhannya, yang membedakan adalah keimanan. Manusia yang beriman dan berilmu yang punya satu derajat lebih tinggi di hadapanNya. Mengapa saya harus malu mempunyai keluarga sehangat ini ? Saya menikah bukan dengan harta dan kekayaan dunia karena saya yakin Allah sudah memberikan takdir terbaik untuk saya.”


Bu Meisya memelukku erat. Dia menciumku berkali-kali.


“Terima kasih, Nak. Kau hadir menjadi mahkota keluarga kami. Semoga Allah memberikan kebahagiaan atas kalian berdua.”


“Aamiin, yaa Rabb. Terima kasih, Ibu.”


Aditya memandangku dengan senyum yang selalu mengembang mendapatkan jawabanku.


“Alhamdulillah, semoga Allah memberikan keudahan kepada kalian untuk membina keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah” Nenek juga mendekatiku dan memelukku erat, lebih erat dari Ibu.


“Aamiin” semua mengaminkan.


“Kalau begitu, ayo sekarang kita cari cincin pernikahan kalian. Ibu tidak ingin membeli sesuatu yang mubadzir. Semua harus sesuai dengan pilihan menantuku. Bukankah begitu, Bu?


“Benar, sekarang pergilah belanja untuk mereka. “Kata Nenek. Aku merasa tak punya suara apa-apa. Aditya akhirnya berdiri mengikuti Bu Meisya dan aku mengikutinya dari belakang. Aditya memesan taksi online dan berlima kami menyusuri jalan raya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah toko perhiasan.


“Silahkan Bapak, Ibu ada yang bisa kami bantu ?” seorang pelayan mendatangi kami yang baru masuk tokonya. Aditya menarik tanganku dan menyuruhku untuk memilih perhiasan.


“Kak, saya tidak mau terlalu merepotkan. Kalaupun Kakak akan membeli perhiasan untukku, sebaiknya Kakak saja yang memilih, Marissa merasa tidak mampu untuk melakukan semuanya.”

__ADS_1


“Tapi kau nanti yang akan memakainya, Sayang” Bu Meisya membujukku.


“Saya akan memakai apapun pemberian suami dan mertuaku, Bu. Apapun akan saya terima dengan senang hati.


“Ya sudah kalau begitu. Biar Kakak yang menentukan.” Akhirnya Aditya yang memilih semuanya, kalung, cincin, gelang dan anting yang semuanya sangat berkelas. Setelah memilih, terjadi lagi perselisihan antara ibu dan anak. Si ibu bersikeras untuk membayar semua barang yang sudah dibeli.


“Adit yang akan menikah, Bu. Maka Adit yang harus memberikan mahar ini untuk istriku.” Aditya mengeluarkan kartu dan memberikannya pada pelayan. Usai membeli perhiasan, kami menuju butik untuk memilih baju pengantin. Aku hanya diam melihat keluarga Aditya menentukan pilihan untukku. Mereka hanya sekali-kali menanyaku, apakah senang ? Saat kumengangguk mereka langsung menyuruhku mencoba lalu mmbayarnya. Hari sudah sore. Adzan ashar sudah berkumandang di masjid sekeliling kami. Keluarga Aditya akhirnya memesan go car yang mengantarnya ke rumah Aditya sedang aku lebih memilih untuk memesan gojek motor. Sebelum kami berpisah, Ibu Meisya mencium dan memelukku erat.


“Kita akan bertemu ahad depan di rumahmu sayang. Bersiaplah !”


“Insya Allah, Bu. Marisa akan menyiapkan semuanya. “


“Baiklah sayang. Hari ini sampai di sini. Kau tidak mau diantar Aditya?”


“Terima kasih, Bu. Kami bukan muhrim sehingga tidak boleh pergi berdua.” Aditya hanya tersenyum mendengar jawabanku. Sore ini, aku sudah bertemu dengan keluarga calon suamiku. Dan bagiku ini awal perkenalan kami yang luar biasa.


Sampai di kos, aku langsung mandi lalu mendirikan shalat ashar. Kemudian ke dapur dan bergabung dengan teman-teman yang sedang masak untuk makan malam kami.


Pukul Sembilan malam, pesan dari Aditya masuk.


“honey”


“My love”


Aku hanya bisa tersenyum menerima pesan romantis dari dosen fakultas teknik itu. Aku tak ingin membalasnya. Hanya kubaca dan kunanti reaksinya. Kulihat dia sedang mengetik. Namun lama-lama hilang dan akhirnya kata online hilang dari layarku. Mungkin ada yang harus dia lakukan sehingga dia mengurungkan untuk mengetik sesuatu untukku. Kuletakkan ponsel di mejaku. Aku ingin tidur, karena esok aku harus pulang ke Jogjakarta menemui ibu dan ayahku.


Pagi ini, setelah subuhku, aku segera menata baju-bajuku. Aku akan pulang ke Yogyakarta. Kutata baju-baju dalam koper kecil yang biasa menemaniku kemanapun aku pergi. Sisy mengantarku menuju halte bis terdekat. Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya ada bis datang dan membawaku.


Hari masih sangat pagi, ini mungkin yang membuat bis yang kutumpangi sangat longgar dan sepi penumpang. Atau ada alasan lain, aku tak tahu. Seorang lelaki mendatangiku dan menarik ongkos. Kubayar sesuai dengan permintaannya. Setelah itu, aku duduk mendengarkan murottal alquran dari ponselku sambil sesekali mengikuti ayat-ayat yang dilantunkan dengan nada ummi.


Dua jam kemudian aku sampai di terminal giwangan Yogyakarta. Aku turun di tempat turun penumpang lalu berjalan keluar untuk memesan ojek online yang akan membawaku cepat kembali ke rumahku di Sumberharjo Prambanan. Pukul Sembilan aku sampai rumah disambut oleh Mbak Marni yang sedang membersihkan kamarku. Ayah pati sudah sampai di kantor sejak setengah tujuh lalu sedang ibu, pasti sedang berada di kelas mengajar siswa-siswinya di SMA N 1 di kecamatanku. Aku sengaja tak memberitahu kepulanganku hari ini karena tak ingin mengganggu aktifitas orang tuaku. Aku menyiapkan acara lamaranku sendiri.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikum salam, Mbak Risa ? Kenapa pulang tidak bilang-bilang ? Ibu tidak memberitahu Mbak Marni kalau Mbak Risa akan pulang hari ini makanya ibu tidak berpesan apapun untuk menyambut.” Mbak MArni membantuku mengangkat koper kecilku.


“Acara lamarannya kan masih dua hari lagi ya Mbak? Apakah Mas Reza mas Willy tidak pulang ?”


“Mereka insya Allah akan pulang saat pernikahan Mbak.” Kutata baju dan koperku di lemariku dan berjalan mengikuti Mbak Marni ke ruang makan. Kulihat Mbak MArni membuatkanku teh dan aku segera mengambil piring untuk sarapan,


“Mbak Marni kita sarapan yuk! Aku sudah lapar sekali.” Kusendokkan nasi dan mengambil sayur dan lauk yang dimasak ibu. Aku kangen sekali masakan ibu. Dan hari ini sebagian kerinduanku sudah terpenuhi. Aku makan dengan lahap, setelah itu berjalan ke dapur untuk mencuci piring bekas makanku.


“Letakkan saja, Mbak. Biar Mbak MArni yang mencuci” tak kuhiraukan semua perkataan Mbak MArni. Kucuci piringku lalu berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil ponselku. Kulihat chat grup resimen yang sedang ramai membicarakan acara kampus paling heboh, band kampus matahari memenangkan festival. Perayaan kemenangan akan dilaksanakan di auditorium kampus mala mini. Aku baru saja mendengar rencana ini meski mereka sudah mengatakan bahwa pengumuman sudah dipasang sejak kemarin. Kubua chat grup karya ilmiah nasional, di sana membahas tentang rencana kegiatan untuk para pemenang yang akan dilaksanakan dua pekan lagi. Aku harus bersiap diri menunggu panggilan untuk mendapatkan kesempatan belajar di kampus terkenal di Belanda. Semoga Allah berkehendak aku bisa ke sana. Kalaupun tidak bisa, itu pasti yangterbaik yang harus kuterima.


Tiba-tiba ponselku bergetar. Telpon dari Kakakku Reza.


“Assalamualaikum, Dik”

__ADS_1


“Waalaikum salam warahmatullah, Kak.” Kubetulkan posisi dudukku. Di seberang kakak bertanya kapan pernikahan akan dilaksanakan.


“Marissa tidak tahu, Kak. Kan mereka belum datang melamar.”


“KApan mereka datang ?”


“Insya Allah ahad Kak. Makanya sekarang Marissa sedang di jogja untuk menyiapkan semuanya.”


“Ibu bilang kau belum pulang. Mengapa sekarang kau bilang sedang di jogja, anak nakal.”


“Risa sengaja tidak bilang kalau pulang hari ini.” Aku hanya tersenyum mendengar kakakku mengatakan aku anak nakal. Ini bukan yang pertama kali dia mengatakan itu padaku.


“Awas ya, kalau KAkak sampai di rumah kujitak kepalamu.”


“Boleh Kak. Kau cium juga boleh.” Godaku. Kak Reza tertawa.


“Cium ? Tidak lah ya. Kakak tidak akan mencium anak nakal sepertimu. Jangan mimpi !” Telepon mati tanpa konfirmasi. Aku tersenyum mendapat perlakuan kakakku. Baru saja ponsel kuletakkan kulihat ada telpon masuk lagi. Tanpa kulihat siapa yang memanggilku, aku segera membuka percakapan.


“Katanya tidak mau mencium anak nakal sepertiku, kenapa menelpon lagi ?”


“Adik, assalamualaikum”


Wa . . . waalaikum salam. Mohon maaf anda siapa ?” wajahku mungkin sudah pucat. Ternyata aku salah bicara.


“Aku Seno. Bagaimana kabar Adik ?”


Aku nyaris tak bisa bicara sampai akhirnya kudengar Seno memanggilku entah untuk yang keberapa kalinya.


“Adik!”


“ I . . . iya “


“Kau masih bersamaku ?”


“I . . . iya Kak.”


“ Kalau kau mengijinkan setelah Kakak pulang dari tugas, Kakak akan melamarmu.”


“Tidak boleh Kak. Tidak boleh. “ Aku terkejut dan spontan mulutku selalu mengatakan tidak boleh dan tidak boleh. Kuhentikan setelah kudengar tangis Seno. Aku tak sampai hati mendengarnya.


“Apakah kesalahan Kakak tidak bisa Adik maafkan sehingga Adik menolak lamaranku?”


“ Bu . . . bukan itu, Kak. Bukan itu. “ Air mataku pun sudah mulai mengalir. Aku tak ingin goyah dengan pendirianku


“Lalu mengapa Adik menolakku ?”


“Aku akan segera menikah, Kak. Lupakan aku.” Segera kututup telponku dan kumatikan ponselku lalu kuletakkan di meja. Air mataku segera mengalir deras dan entah untuk berapa lama, sampai akhirnya aku bisa mengendalikan emosiku.

__ADS_1


Mbak MArni yang melihat tingkahku hanya bisa melihatku sambil bersih-bersih ruangan.


__ADS_2