
Setelah melakukan perjalanan selama sepuluh menit akhirnya Sulis, Rosa dan Sari sampai di rumah dinas Syaiful. Rosa melangkah lebih dulu di depan Sulis dan Sari untuk memastikan bahwa kondisi rumah dalam keadaan aman.
“Assalamualaikum”
“Kau boleh saja mengunci kamarmu kalau kau mau aku pergi!” suara dari dalam membuat Rosa merinding. Ia tidak tahu kalau sedang ada tragedy di dalam rumah. namun ia terlanjur membuka salam dan mungkin
ia sudah terjebak. Tidak ada pilihan lain selain menunggu si empunya rumah membuka pintu dan menghentikan pertengkaran.
Semua saling pandang. Sesaat kemudian mengedikkan bahu.
“Mungkin ini yang membuat Sisy mengundang kita untuk datang.” kata Sari enteng seolah tanpa beban. Ia nampak sangat paham dengan situasi Sisy saat ini. Sulis mengambil ponselnya dan mencoba untuk
menelpon Sisy. Ia tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya di dalam. Yang jelas saat ini ia ingin membuat Sisy lepas dari situasi sulitnya.
Beberapa menit kemudian, nampak Sisy keluar rumah, menjemput mereka yang datang dan mengajaknya berjalan menuju taman di belakang rumah.
“Maafkan aku yang selalu merepotkan kalian.”
Sulis dan Rosa menggeleng sedang Sari hanya memandang Sisy trenyuh. Selama ini Sari memang tidak pernah dekat dengan Sisy, namun melihat kondisi temannya, ia benar-benar iba.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sy. Yang penting sekarang kau sudah sehat.” Ucap Rosa sambil menatap wajah pucat Sisy.
“Alhamdulillah aku sehat. Aku hanya merasa sedikit lemas. Beberapa hari ini selera makanku juga berkurang.”
“Itu karena kau belum pulih benar, semoga ke depan kau bisa lebih baik.”
“Aamiin. O iya, kalian mau minum apa biar aku suruh Mbak Marni mengambilkan.”
“Tidak usah. Kami baru saja makan kok.” Kata Sari sambil mencari posisi ternyaman. Ia duduk di kursi bulat yang dibuat melingkar. Pandangannya ia edarkan ke seluruh penjuru taman dimana ada beberapa orang sedang memotong pagar hidup, merapikan beberapa sisi dan menyusun pot-pot bunga yang baru saja siap ditanami bunga-bunga yang dipindahkan dari polybag.
“Sari dari kampus juga?” tanya Sisy sambil menatap Sari yang masih asik memandang sekeliling.
“Iya. Tadi bersama Sulis di perpustakaan. Ketika Rosa datang, aku akhirnya ikut juga sama mereka. maafkan aku yang selama ini tidak pernah peduli denganmu. Sebenarnya bukan karena tidak peduli, Sy. Aku merasa tidak pernah cocok denganmu.”
“Kenapa?”
“Kamu kan orang kaya. Anak pejabat lagi, sedang aku siapa?”
__ADS_1
Sisy memandang Sari sambil menggelengkan kepalanya.
“Jadi selama ini seperti itu yang kau rasakan padaku? Oh my God, ternyata aku tidak pernah sadar, Ri. Aku menjauh darimu karena aku minder padamu. Aku bodoh dan kau sangat cerdas. Kecerdasanmu sekelas dengan Marissa.”
“Tapi Marissa kan teman kosmu makanya kau sangat dekat dengannya.”
“Sebenarnya tidak terlalu dekat.” Rosa dan Sulis yang mendengar ucapan Sisy mendelik. Ia tidak percaya kalau selama ini Sisy tidak menganggap Marissa sebagai teman dekat.
“Maaksudnya kau tidak dekat bagaimana?” tanya Rosa seraya menatap Sisy. Sisy tersenyum.
“Dengan dia saja aku merasa canggung. Meski kita tidak sejurusan, tapi aku tahu dia sangat popular di angkatan kita.”
“Katakan bagaimana sebenarnya perasaanmu pada Marissa!”
“Ih, Rosa apaan, Sih. Tanya ya tanya tapi ya jangan seperti itu kali. Aku takut tahu?” Sisy mencoba merayu Rosa yang sudah memasang mode sangarnya.
“Aku tahu selama ini Marissa selalu berusaha berbuat baik pada siapapun meski tidak sekelas. Dengan kita dia sudah terlalu banyak mengalah, Sy. Dia menerima Pak Adit mungkin juga karena dia tidak mau menyakitimu sama sekali. Dia mungkin sebenarnya sakit hati padamu. Dia mungkin mencintai Pak Seno, tapi karena tahu
dirimu mencintainya, dia menjauh dari Seno meski hatinya terasa sangat sakit. Apakah tidak sedikitpun ada rasa empati dalam dirimu padanya?’
Sisy menunduk. ia menyesal karena telah membangunkan emosi Rosa, teman yang selama ini selalu berdiri di belakangnya, membela kepentingannya. Sisy mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
“Bukan padaku seharusnya kamu minta maaf. Kamu sebaiknya menemui Marissa dan mengajaknya berbaikan. Sebelum terlambat.”
“Terlambat? kenapa terlambat?”
“Yah, siapa tahu saja dia akan pergi meninggalkan Purworejo, siapa tahu. atau apapun yang jelas kalau bisa secepat mungkin kita meminta maaf pada orang yang kita sakiti.” Sisy mengangguk. ia memandang Sulis yang sedari tadi memandangnya.
“Aku berharap kita bisa menjadi sahabat sampai surga. Tidak ada rasa yang mengganjal yang menyebabkan kita selalu menyimpan dendam.”
“Iya, Ros. Aku akan berusaha menghubungi Rissa dan meminta maaf padanya. O iya, dia sekarang dimana ya?”
“Mungkin di istananya Pak Aditya. Aku sendiri tidak terlalu banyak bertanya ketika mereka datang ke kos.”
“Marissa pernah datang ke kos setelah menikah?” Rosa mengangguk.
“Saat kamu di Jakarta.”
__ADS_1
“Oh, aku kira saat aku di rumah sakit.”
“Dia tidak tahu kalau kamu sakit. Kalau tahu aku yakin dia sudah datang. selama ini aku jarang mengirim pesan padanya. Takut mengganggu.”
“Apakah kita perlu mengunjunginya besok?” Rosa menggeleng. ia tidak tahu mengapa sangat berat untuk menghubungi Rissa. Sahabatnya yang terbaik.
“Aku ingin sekali mengunjunginya tapi takut.” Ujar Sulis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kenapa?”
“Takut mengganggu dia. Kalau pas kita datang terus pak Adit memanggilnya bagaimana?”
“Aku yakin Pak Adit pasti paham sama kita. Beliau tidak akan marah kok. Pasti itu.”
“Ha ha ha dari mana kamu tahu, Ros? Kau seperti peramal saja.”
“Bukan
peramal, tapi melihat Pak Adit yang tampan bisa saja kan kalau dia memang
sangat baik.”
“Iya, tapi tetap saja kan walaupun baik, Pak Adit tetap saja manusia. Tetap punya rasa marah dan tak nyaman kan?’
“Sudahlah. Kita bahas diri kita saja. Kamu bilang kamu juga akan menikah sama Mas Seno kan? Tolong ceritakan padaku kenapa bisa secepat itu?”
Sisy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak bisa menceritakan detail kejadian yang sudah ia alami, namun ia yakin sahabatnya akan mengerti kelak.
“Ayah yang menginginkannya. Kelihatannya Mas Seno juga sudah menyetujui permintaan Ayah.”
“Darimana kau tahu? Apakah kau sudah mendengar sendiri kesediaan Mas Seno?” Sisy menggeleng.
“Lalu bagaimana kau yakin kalau Mas Seno mau?”
“Aku yakin sekali, Lis. Karena . . . “ Sisy diam, tidak melanjutkan kalimatnya lalu menunduk. ketiga temannya hanya bisa memandang Sisy dengan rasa penasaran dan prasangka masing-masing.
“Kau tidak menjebaknya kan?” Sisy terperanjat mendengar pertanyaan Rosa yang seolah menghakimi dirinya. Beruntung Sulis memukul pundak Rosa, sehingga Sisy bisa merasa sedikit terbebas dari prasangka buruk Rosa.
__ADS_1
“Jangan sembarang bicara, Ros. Kita kan tidak tahu apa yang terjadi antara Mas Seno dan Bapaknya Sisy. Mungkin mereka sudah sepakat untuk menjodohkan Sisy kan?” Rosa tersenyum datar. meski kepalanya mengangguk, dalam hati Rosa merasa ada sesuatu yang disembunyikan Sisy.