
Malam ini, kutemukan teman-teman yang demam pemain band menggodaku. Sekali lagi mereka mengajakku untuk menyaksikan konser di kampus.
Ih, nggak banget deh!!!
Masa sih cewek berjilbab seperti aku ikut-ikutan demam band. Malu dong !
Yang lebih keren tuh trend remaja masjid, rohis de el el, yang penting bukan band.
Aku tak mau ikut-ikutan mereka, para artis dan cewek-cewek muda yang ingin menggaet artis. Kenapa ? Bagiku, paling tidak, ada beberapa alasan yang tepat yang harus bisa diterima akal.
It’s okeylah demam band.
Tapi orientasinya harus diluruskan. Jangan hanya karena personelnya ganteng dan beruang.
Demam band tuh kalau mau bener ya karena hobi. Seneng sama permainannya, atau kalaupun seneng sama pemain itu murni karena pola permainan yang ia lakukan di panggung. Bagaimana dia memainkan musik dan santun pada penonton. Nggak asal tenar tapi dengan sikut kanan kirinya.
Bukan karena uang dan tampangnya yang kata Sisy cool abez.
Kini aku kecewa. Perempuan Indonesia jadi agresif. Tiba-tiba ikut-ikutan demam artis dan demam bola. Yang tadinya nggak suka musik mendadak bisa komentar. Cuma karena ada festival band kampus yang mendatangkan grup band tertentu yang kata Sisy, ganteng plus plus.
Mereka bahkan rela berdesak-desakan hanya karena ingin minta tanda tangan, foto bareng, salaman atau bahkan yang paling parah memeluk dan menciumnya.
Hii, ngeri deh kalau rasa malu sudah tergantikan dengan nekad.
Ujung-ujungnya ?
Ya seperti yang sering kita lihat. Banyak gadis merana, pingsan di saat mereka berebut mendapatkan perhatian sang idola.
Banyak cewek yang pingsan bahkan pada mati rasa, hanya karena ingin dekat dengan mereka.
Tabu ?
Tidak juga. Tapi yang kurang wajar nih, mengapa banyak dari mereka yang ikut-ikutan panas dingin, geregetan, berebut souvenir tapi justru menurunkan kualitas dan rutinitas ibadah harian. Ba’da maghrib, biasanya mereka mengaji, mengkaji dan tadarus, tapi kini, apa yang terjadi ?
Mereka ramai-ramai nongkrong di kampus, dan mengantri membeli tiket untuk menonton konser dan aksi sang bintang yang gemilang. Nilai UTS hancur. Dan seringnya topik pembicaraan berubah menjadi seputar artis, artis dan artis. Terus seperti itu tanpa putus.
Di kost, di kampus, di mall semuanya seputar artis hingga membuat aku merasa bodoh, kosong melompong seperti kambing ompong.
Nggak nyambung man !
Aku jadi ragu pada pendengaranku sore itu. Sisy mengatakan :
“ Nggak apa-apa deh nilai UTS ku anjlok, yang penting kampus kita juara. “
Kaget nggak ???
Jelas !
Hampir empat tahun saya bergaul dengan mereka, tak sekalipun kudengar kalimat seperti tadi. Yang ada mereka akan nangis sepanjang malam kalau sampai nilai UTS hancur atau bahkan sama dengan kemarin.
Dulu mereka akan selalu bilang kualitas nilai harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Tapi, gara-gara nonton band, mereka justru rela kebobolan nilai.
__ADS_1
“ Eh, tapi kalau Marissa beda lho. “ Dia pasti rela kampus kita jadi pecundang daripada nilainya hancur, iya kan Ris ?” Goda Sisy dan Rosa.
“ Nggak separah itu lagi. Dengar ya ! Aku anak Matagari Tulen. Jelas tidak rela kalau kampus Matahari jadi pecundang, tapi dengar untuk urusan nilai UTS, aku tidak mau anjlok. Harus lebih bagus.”
“ Buktinya mana ? Kamu saja nggak pernah nonton konser bareng kita kan ?” kata Susi sambil menyilangkan tangannya seolah menantangku untuk menang taruhan.
“ Iya tapi bukan berarti aku tak mendukung. Dalam setiap shalatku, aku selalu berdoa untuk kemenangan mereka. Nggak hanya istrinya Cristian Gonzales yang berdiam diri di kamar untuk mendoakan suami saat sang suami terjun di lapangan, aku juga berdoa, masih kurang ?”
“ Berdoa sih boleh, malah harus, tapi, wujudnya juga harus jelas, nonton. Bareng kita. Iya nggak pren?“ Sisy ngotot.
“ Kalau untuk nonton band sih aku nggak pernah, tapi aku tahu perkembangan festival yang sekarang digelar di kampus. “
“ Masa iya si kutu buku tahu jadwal festival, mimpi kali .”goda Rosa.
“ Nggak percaya?”
“ Coba kapan Wijaya Kusuma dan Matahari bermain ?”
“ Besok sore kan ? Ba’da dhuhur ?”
“ Iya. Siapa saja personelnya ?.”
“ Personel band kampus ?” tanyaku.
“ Kalau bisa ayo sebutkan ! Maulida mencibir. Aku diam, pura-pura berfikir sesuatu yang sangat sulit.
“ Kalau bisa menyebutkan mau dikasih apa ?”
“ Kutraktir lima mangkok bakso, bagaimana ?” kali ini Susi yang menantangku. Aku bahagia karena suasana hangat di kosku sudah kembali.
“ Tapi kalau salah, kamu traktir kita lima-lima jadi dua puluh mangkuk. Bagaimana ?” Maulida tidak kalah semangat. Semua bertepuk tangan. “Empat lawan satu, dan aku yakin akulah pemenangnya.” Godaku.
“Kau berani menraktir kami kalau kau kalah ?”sambung Maulida.
“ Boleh.”
“ Coba siapa ?”
“ Susanto ?”
“ Terus ?”
“ Kak Beno idolamu, Sy. Benarkan ? “
“terus . . . ?”
“Evan Dimas Idolamu Da.”
“Kok Evan Dimas. Dimas kali.”
“Ya sama lah. Dimas. Ramadhani temanku di SMA.”
__ADS_1
“What ? Yang benar.”
“Iya, aku punya teman namanya Ramadhani di SMA. Tapi bukan Ramdhani yang pemain bola.”
“Ih nggak banget deh. Terus siapa lagi ? Baru empat lho.”
Kriiiing ! Kriiiing !
Bel pintu depan berbunyi. Dan itu membuat konsentrasi kami terpecah sama sekali. Ini memang malam minggu. Jadi mungkin ada yang memberanikan diri untuk datang karena esok tidak ada kegiatan di kampus.
“Ris, kamu saja yang buka ya. Kita-kita tidak siap nih kalau ada yang apel. Belum pakai kerudung dan belum berdandan lagi. “
“Memangnya kamu yakin dia tamu laki-laki yang datang untuk apel malam minggu ini?”godaku. entah mengapa kali ini aku suka sekali menggoda teman-teman kosku. Sifat usilku mulai muncul.
“Ya . . . mungkin. Siapa tahu kan ?”
“O baiklah kalau begitu tuan putri.”
Kubuka handle pintu dan kutemukan Ica, anak tetangga yang sudah siap dengan dandanan ala rockernya. Semua tertawa mendapati tamu malam minggu yang berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya.
“Kamu mau kemana, Ca ? “ sapaku setelah mempersilakan Ica masuk. Yang kutanya hanya berlalu menuju kamar Rosa.
“Mbak Rosa, kita berangkat sekarang ?” tanyanya tanpa mempedulikanku. “Mbak Risa kalau tidak mau ikut tidak usah tanya aku. Aku tidak mau punya teman kuper kayak Mbak.” Sambungnya. Aku hanya tersenyum simpul. Aku tahu otaknya sudah dicuci teman-temanku untuk menjauhiku.
“Okey, aku diam. Daripada kau mengajakku nonton bareng nanti malah repot aku,” Ica hanya memandangku sambil garuk-garuk kepalanya. Aku tahu dia gemas memandangku. Mungkin kalau aku teman sebayanya dia sudah mengacak rambutku.
“Ya sudah yuk semua kita berangkat !” Ajak Ica yang semakin membuatku merasa ingin tertawa, namun kuurungkan. Berlima mereka berangkat ke kampus, meninggalkanku seorang diri di rumah kos yang akhirnya menjadi sepi.
Teman-temanku menutup pintu dan menguncinya dari luar. Kulangkahkan kaki menuju kamar. Kubuka ponselku dan berselancar di social media. Membaca status facebook teman-temanku. Tak sedikit yang mengunggah acara mala mini di kampus Matahari. Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan namun teman-temanku belum pulang. Tiba-tiba ponselku berbunyi siulan. Sebuah pesan masuk.
“What are you doing ?”
Aku tak ingin membalas pesan Pak Aditya dosenku. Bukan tak senang, namun aku benar-benar tak ingin larut dalam percakapan antar laki-laki dan perempuan yang belum menikah.
“Risa”
Sekali lagi Aditya mengirim pesan. Kali ini hanya memanggil namaku. Aku tersenyum. Dia mungkin sangat penasaran padaku. Aku tak ingin membalas, kali ini sengaja kugoda dia agar mengirimkan pesan lebih banyak. Aku merasa kesepian dan bagiku pesannya adalah hiburanku.
“Sayang”
Kali ini dia benar-benar gemas mungkin. Terbukti setelahnya, dia melakukan panggilan video. Segera ku reject. Aku bangkit dan segera memakai kerudungku. Lengkap dengan masker, barangkali dia melakukan video call lagi.
“Sudah mulai berani menggodaku rupanya caon istriku ini”
Pesan ini benar-benar membuatku terkejut. Aku segera mengirimkan balasan.
“Mohon maaf”
Hanya itu yang kukatakan. Dia melakukan video call untuk yang kedua kalinya. Kali ini kubuka panggilannya dan dia menatapku kaget, memandang penampilanku.
“Mengapa memakai masker ? Apakah ada yang mengganggu indra penciumanmu?” aku hanya menggeleng. Dalam hati aku hanya ingin tertawa, namun hanya bisa kulakukan dalam hati. Beberapa menit kumatikan teleponnya. Kuletakkan ponselku dan aku ingin segera memejamkan mataku namun entah mengapa mala mini aku merasakan sedikit rasa takut.
__ADS_1
Kuputuskan untuk mereject semua panggilan Aditya sang dosen, lalu mematikan ponsel dan meletakkannya di meja belajarku.
Pukul setengah sebelas, kudengar teman-temanku pulang.