Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Dia Sudah Melakukannya


__ADS_3

Di rumah Aditya, Marissa sedang tiduran di pangkuan suaminya sambil berbagi cerita, mengenai Sigit dan teman-temannya saat di pengungsian. Tidak lupa, sekali-kali Aditya mengelus dan mengecup kening Marissa dengan lembut. Meski ada rasa cemburu saat melihat foto-foto istrinya bersama beberapa tentara, namun itu tidak menyurutkan keinginan Adit untuk tetap bersikap lembut pada sang istri.


“Kalau melihat foto-foto ini, Mas yakin kalau saat itu istriku pasti menjadi idola di sana. Secara kau adalah relawan paling agresif saat itu.”


“Agresif? Oh my God. Agresif bagaimana sih? Mas bisa melihat sendiri bagaimana diriku ini terlalu sibuk mengurus Nina, Kan? Dia yang selalu menghiburku ketika memang hatiku sedang terlukan karena Mas Qomar.”


“Memangnya kenapa dengan Qomar? Komandanmu itu?’


“Aku jatuh cinta padanya, Mas.” Aditya terkekeh mendengar pengakuan Marissa.


“Aku tidak menyangka kalau istriku jatuh cinta dulu pada sang komandan itu. Heh, kasihan.”


“What? Kasihan? Please deh, jangan meledekku, Mas. Tidak usah kasihan juga karena kami memang tidak bisa saling terbuka.”


“Apakah masih ada cinta dihatimu untuknya?”


“Tidak.”


Adit memandang Marissa yang sedang menyembunyikan wajahnya di perutnya.


“Coba lihat bagaimana wajah istriku yang cantik ini?”


“Tidak ah, malu tahu? Aku kan sudah jujur pada Mas, tapi mengapa harus diolok begitu sih? Jahat banget ah.”


“Ha ha ha, Sayang, Mas tahu bagaimana rasanya bertepuk sebelah tangan karena Mas pernah merasakannya. Please Mas ingin melihat wajahmu.”


“Tidak mau.”


“Sayang, Mas tidak menggodamu kok. Mas hanya ingin mennghibur kok. Mas akan mencium wajahmu yang merona merah menahan malu itu.”


“Tidak mau Mas. Aku malu. lagian Mas kenapa sih selalu suka mengodaku? Aku kan bukan anak kecil lagi. Sudah tahu siapa yang bertepuk sebelah tangan dan yang cintanya berbalas tapi tidak berjodoh.”


“Ha ha ha, Mas tidak percaya deh kalau kau ditolak. Betapa bodohnya dia, laki-laki biasa yang menolak cinta istriku.”


“Itu karena Syamsa, Mas. Dia lebih memerlukan dukungan Mas Qomar, sedang aku kan anak yang kuat kan? Aku bisa menghadapi hidupku sendiri hingga datang seorang laki-laki sholih melamar dan menikahiku. Tidak ada yang harus kusesali karena Allah memberikan ganti yang lebih baik.”


“Ha ha ha, jadi kamu menerimaku karena sedang frustasi karena ditolak Qomar, Sayang?”


“Tidaklah. Masa jahat banget sih tuduhannya, Mas. AKu tuh sudah jatuh cinta pada dosenku yang menolongku ketika jatuh dari sepeda dulu kok.”


“Benarkah?”


“Iya, dia manis sekali ketika panik. Ha ha ha, aku senang sekali karena telah membuatnya takut dan panik. Makanya aku suka sekali ketika dia menemuiku di Gebangharjo.”


“Ingat Gebangharjo jadi ingin ke sana ya Sayang?’ Marissa mengangguk.


“Heeh. Kapan ke sana lagi ya Mas? Aku ingin ke sungai dan mandi.”


“Ih, kok mandi sih, Sayang. bagaimana kalau ada yang mengintipmu? Mas tidak ikhlas.”

__ADS_1


“YA jangan lepas pakaian. Tetap seperti ini, pakai baju panjang dan berkerudung.”


“Mas juga harus begini?”


“Iya dong, kan takut ada gadis yang mengintip. Aku tidak mau ya kalau tubuh indah suamiku dinikmati mata para gadis desa.” Aditya mencubit hidung Marissa pelan.


“Ih, mulai deh posessifnya.”


“Kan halal-halal saja kalau aku posesif kan?”


“Iya, boleh kok. Posesif pada suami sendiri halal dan bahkan sangat dianjurkan.”


“Alhamdulillah. Tidak dilarang posessif.” Aditya mengelus perut istrinya dan segera membawanya dalam pelukannya setelah dia membaringkan tubuhnya di sebelah Marissa.


“BAgaimana kabar anak Abi disini?”


“Alhamdulillah baik, Abi.” Sahut Marissa pelan, berbisik di telinga Aditya membuat Aditya merinding.


“Sayang, kau sedang tidak mengoda, Mas kan?”


“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”


Aditya langsung memeluk Marissa yang sudah mulai berani melakukan aksinya.


“Mas,“


“Hem?”


“Memang dilarang ya kalau azan berkumandang kita beraksi?”


“Tidak juga sih. Tapi masa iya Ada panggilan mesra dari Allah untuk kita, kok diabaikan.”


“Ha ha ha, istriku pintar sekali mengelak setelah dia membangunkan singaku yang tidur. Awas saja kalau nanti singa laparku menerkammu sayang.”


“Siapa takut?”


“Bener nih tidak takut?”


“Tidak. Aku sudah biasa bertemu singa itu kok.”


“Kamu naka sekali ya.” tanpa kata, Aditya dan Marissa melakukan kegiatannya. Mereka bahkan sampai lupa kalau adzan sebentar lagi berkumandang dan mereka harus ke masjid karena masing-masing sudah menikmati alunan music yang bertalu-talu di dada mereka.


Setengah jam berlalu dari asar, namun belum ada tanda-tanda dua orang suami istri di kamar utama menyelesaikan kegiatannya.


Masing-masing saling menyerang dan mengerang. Tanpa peduli bahwa di luar sedang lewat Nenek Santi


ruang tengah. Meski lemah, namun pendengaran nenek Santi yang masih peka dapat mendengarnya dengan baik.


“Hhh, anak zaman sekarang. Selalu membuat sensasi tanpa berfikir bahwa ada orang yang mampu mendengarnya seperti aku.” gumam nenek Santi seorang diri. Ia segera mempercepat langkahnya menuju ruang belakang, bergabung bersama saudaranya, Sinta yang sedang berbincang dengan Meisya.

__ADS_1


“Assalamualaikum”


“Waalaikum salam. Kau datang dengan siapa, San?” tanya nenek Sinta pada saudaranya. Santi segera mengambil temat di sebelah Meisya yang menikmati minuman segar yang dibuat Marissa tadi pagi.


“Aku sendiri. Eh Kakak, cucumu di rumah sekarang?”


“Tentu saja, mereka ada di kamar ada apa?”


“Tidak ada apa-apa. Apakah sudah berhasil?”


“Berhasil apanya?’


“Berhasilnya orang yang sudah menikah berhasil apa coba?”


“O maksudmu apakah Marissa sudah hamil begitu?”


“Ya iyalah, Mbak. Masa bagaimana sih.”


“Alhamdulillah sudah hampir tiga bulan. Marissa sering mengalami mual dan muntah sat pagi. Semoga


dia segera bisa menikmati masa-masa terbaik, bayinya perlu asupan makanan yang sehat agar bisa tumbuh dengan baik.’


“Tapi kelihatannya mereka sangat bahagia ya. siang-siang di kamar saja, memangnya apa yang dilakukannya?”


“Yaa Allah, kamu kenapa sih, Santi? Apakah kau iri dengan kemesraan cucu kita di kamar?”


Santi terkekeh. Ia teringat suara aneh yang dia dengar ketika masuk ke dapur.


“Aku kasihan melihat nasib cucuku Nancy. Dia kan sudah menikah lama, namun belum ada tanda-tanda hamil. Sampai tadi pagi aku melihat mereka bertengkar lagi.”


“Harus bagaimana lagi? Apakah bisa disalahkan seorang wanita ketika menikah belum juga berhasil mengandung buah hatinya?”


“Hanya butuh sabar dalam menunggu anugerah yang diberikan oleh Allah. Bilag pada Nancy untuk tetap memohon pertolongan Allah.”


“Hah, kelihatannya mereka tidak akan bertahan lama.kudengar tadi suaminya mengatakan akan mengajukan perceraian. Aku kasihan pada Nancy. Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada suaminya. meski dulu mereka menikah karena perjodohan orang tuanya, tapi aku yakin sekarang dia sudah sangat mencintai suaminya.”


“Apakah sudah sampai talak diucapkan?” Santi mengangguk. Meisya dan Sinta beristighfar mendengar kalimat Santi.


“Bisa-bisanya dia melakukan hal itu. Apakah dia pikir, bisa semudah itu melepaskan diri dari pernikahan?”


“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang, Mbak. Melihat Nancy yang selalu menangis aku menjadi tidak tega.”


“Tapi apakah kita akan ikut campur dam urusan rumah tangga Nancy? Ayah dan ibunya lebih berhak menyelesaikannya daripada dirimu.”


“Tapi BAdar nampak santai mendengar anaknya dibentak-bentak suaminya.”


“Bagaimana dengan Rini? Apakah dia juga diam?”


“Tidak, RIni lebih berani menasihati Anton. Hingga membuat Anton meninggalkan rumah tadi.’

__ADS_1


“Yaa Rabb, tolonglah Nancy. Berikan keputusan yang terbaik untuknya, sehingga apapun masalahnya dia bisa mengatasinya dengan baik.”


__ADS_2