
“Bangun, Sayang, Kau belum salat asar kan? Nanti mas yang dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakukan. Mas tahu Mas salah
karena telah meninggalkanmu sendiri, tapi tolong, marahnya jangan diam
saja seperti ini dong Sayang. Bicaralah dan cacilah Mas. Mas tidak akan
menjawab sepatah katapun. Mas akan
mendengarkan semua keluh kesahmu. Please, Sayang.”
Beberapa menit Aditya gagal membuat istrinya siuman. Mustafa dan
Meisya hanya bisa saling lihat. Mereka merasakan betapa anaknya sangat terpukul
dengan apa yang dialami Marissa.
“Berdoalah agar istrimu segera bangun, Sayang. Salatlah, magrib
sebentar lagi pergi dank au belum juga beranjak.” Perintah Mustafa. Aditya
mengangguk lalu meninggalkan Marissa yang masih terkulai lemah di ranjangnya.
Sebelum pergi ia mencium Marissa.
“Mas akan salat magrib dulu ya, Sayang. Mas harap, setelah Mas
datang, Kau sudah siuman ya! Berjanjilah pada Mas.”
Aditya meninggalkan ruang perawatan menuju masjid yang letaknya
agak jauh dari ruangan istrinya. Setelah berwudhu, ia melaksanakan magrib
dengan kusyu’ dengan berjamaah dengan beberapa penunggu dan pengunjung pasien
yang lain.
Sementara di ruang perawatan, Marissa masih belum membuka matanya.
Dia masih senang dengan tidurnya yang lelap ditemani Meisya, Mustafa dan Santi.
Meisya dan Nenek Santi masih memijat kaki Marissa dengan air mata yang
mengalir. Aditya masuk dan memandang tubuh Rissa yang masih memejamkan matanya.
“Apakah kau sama sekali tidak ingin membuka matamu, Sayang? Maafkan
Mas yang sudah bersalah padamu. Mas benar-benar menyesal dan berjanji tidak
akan mengulangi semua perbuatan tadi. Bangunlah! Hiks!’ Aditya mulai menangis.
Tubuhnya bergetar membayangkan betapa sepinya hidupnya tanpa Marissa. Meski
baru beberapa jam yang lalu ia tidak berkomunikasi, dengan Mariisa, hatinya
sudah merasa sangat hampa.
Air matanya yang mengalir, perlahan menetes membasahi wajah
istrinya. Marissa yang masih pingsan perlahan membuka matanya, menyaksikan
Aditya yang menangis sambil mengelus-elus rambutnya.
“Mas”
Aditya memandang wajah Marissa dan perlahan mengusap air matanya
pelan.
“Sayang. Kau sudah siuman.” Aditya mencium wajah Marissa dan
berkali-kali mengucapkan syukur atas pertolongan yang Allah berikan.
“Terima kasih, Yaa Allah, telah Kau bangunkan istriku dengan caraMu.”
“Aku dimana, Mas? Seperti bukan di rumah kita?”
Aditya mengangguk.
“Istriku terlalu lama tidur, sehingga Mas tidak tega menyaksikan
dia tergeletak lemah akhirnya Mas harus membawanya ke rumah sakit.”
“Jadi aku di rumah sakit, Mas? Sakit tapa?”Aditya menggeleng.
“Mas tidak tahu, Sayang. Hasil laborat belum keluar, makanya kita
harus menunggunya. Semoga malam ini bisa turun.”
Marissa menatap Aditya. Dia sama sekali tidak mengira kalau ada
mengidap penyakit yang membuat suaminya cemas. Selama ini dia merasa
sehat-sehat saja. Kalaupun sakit paling hanya sakit kepala, flu dan batuk. Itupun
saat dia minum paracetamol semuanya sembuh.
“Mas.”
“Iya, Sayang”
__ADS_1
“Maafkan aku ya. Aku sama sekali tidak tahu kalau mengidap penyakit
parah.”
“Apa kau merasa penyakitmu parah?’ Marissa menggeleng.
“Terus kenapa kau bilang kalau memiliki penyakit parah?”
“Karena sampai harus menginap di rumah sakit segala seperti ini.”
Aditya mengelus kepala Marissa.
“Mas tidak yakin kamu sakit parah, Sayang. Jangan mengambil
kesimpulan dengan asumsimu sendiri ya.”
“Hiks, tapi aku sudah merepotkan Mas, Papah, Mamah dan Nenek.’
Santi mengelus lengan Marissa lalu menggeleng.
“Nenek sama sekali tidak merasa kau bebani, Sayang. Tenangkanlah
pikiranmu dan Nenenk yakin, kau hanya pingsan saja. Tidak ada penyakit parah,
Insya Allah.”
“Mamah juga tidak merasa terbebani, Sayang. Mamah bahagia memiliki
menantu seperti Marissa. Adanya dirimu di rumah kita, rumah kita jadi lebih
berwarna. Aditya menjadi sangat menurut pada kami karena ia telah memiliki
istri yang solihah. Dulu ia selalu tinggal di rumahnya dan tidak mau hidup di
rumah utama karena tidak bebas katanya. Sekarang ia membatasi kebebasannya demi
menjaga kita, Sayang. Tetaplah semangat untuk sembuh ya! Mamah sangat rindu
saat-saat kita masak bersama di dapur.”
“Iya, Mah. Marissa berjanji untuk sembuh segera.”
“Terima kasih, Sayang. Sekarang kau tayammum dan laksanakan asar
serta maghribmu ya. Mamah tunggu di sini.’
“Mamah sama Nenek serta Papah pulang saja, biar Adit yang menjaga
Dik Marissa Mah.”
“Ya, Mamah akan pulang nanti, Dit. Biarkan kami di sini dulu
Tak ada pilihan lain bagi Aditya selain mengangguk,menyetujui
keinginan kedua orang tuanya.
“Assamalualaikum”
Empat orang berpakaian putih masuk. Seorang dokter dan tiga perawat
yang akan memeriksa kondisi Mariisa dengan embawa buku catatan.
“Atas Nama Mbak Marissa ya.”
“Iya Dok.” Sahut Aditya sambil memandang keempat tenaga kesehatan
di hadapannya.
“Mbak Marissa, Usia dua puluh tiga tahun, kali ini yang dirasakan apa?”
“Tidak merasakan apapun, Dokter. Saya juga heran mengapa sampai
masuk sini. Padahal kemarin-kemarin kondisi saya baik-baik saja.”
Dokter tersenyum.
“Sudah menikah ya?”
“Sudah. Saya suaminya, Dokter.” Dokter mamandang Aditya dan
keluarganya bergantian sedangkan perawat sedang mengecek tensi darah dan suhu
tubuhnya. Setelah melaporkan pada dokter jaga, dokter mengangguk
“Terakhir menstruasi kapan ?” Marissa memandang Aditya yang kini
terkejut mendapat pertanyaan dokter jaga.
“Terakhir tanggal lima, Dok.”
“Tanggal lima hari pertamanya atau hari terakhirnya?”
“Hari terakhirnya.”
“Berdasarkan hasil cek laborat, kami menyimpulkan bahwa Mbak
Marissa sedang hamil memasuki minggu ke empat, Mbak.”
“Benarkah istri saya hamil, Dokter”
“Insya Allah seperti itu, Mas. Untuk lebih jelasnya, kita akan
__ADS_1
melakukan USG besok pagi. Kalau berdasarkan cek laborat seperti itu. Semoga
memang benar, Mbak Marissa bukan sakit tapi sedang berbadan dua.”
“Alhamdulillah. Sayang, kita akan menjadi ibu dan Bapak. Mas bahagia
sekali, Dik.” Aditya memeluk Marissa begitu juga Meisya dan Nenek Santi. Mereka
saling berpelukan.
“Alhamdulillah, Bu. Kita akan memiliki cucu pertama kita. Semoga kandungan
Marissa baik-baik saja.’
“Iya, Mesiya. Kita harus menjaganya bersama. Jangan sampai menantu
kita kelelahan.”
“Insya Allah, Bu.”
“Kehamilan istri adalah tanggung jawab keluarga, Mas. Efek
kehamilan muda memang banyak sekali ujiannya, Mas dan keluarga yang harus
mendukungnya. Jangan buat istri Mas stress.”
“Insya Allah, Dok.”
“Kalau begitu kami segera keluar untuk melanjutkan pemeriksaan di
ruang pasien yang lain. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam. Terima kasih, Dok”
Aditya masih memeluk Marissa yang kini sudah duduk di ranjang
pasien sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Sayang, terima kasih ya sudah memberikan kebahagiaan ini untuk
kami.”Meisya memeluk Marissa dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa bersyukur
karena kebahagiaan hidupnya sungguh sangat sempurna.
Marissa mengangguk. dia benar-benar bahagia
“Mulai besok pagi, Kau tidak boleh mencuci dan memasak lagi,
Sayang. Mas akan sangat marah ketika melihatmu di dapur atau di sumur. Tugasmu
hanya mengurus Mas dan calon anak kita ya!”
Marissa cemberut. Dia sama sekali tidak senang dengan apa yang baru
saja diucapkan Aditya. Membayangkan saja mengerikan apalagi benar-benar
merasakan. Hidup dalam rumah besar tanpa kegiatan. Pasti dia akan sangat
kesepian dan merana, sementara Aditya tidak mengijinkannya keluar untuk
bekerja.
“Iya, Nak. Kau sudah tidak boleh melakukan apapun di rumah. jagalah
anak yang masih dalam kandunganmu ya! Turuti semua keinginan suamimu. Semua demi
kebaikanmu.”
“Tentu aku akan merasa sangat bosan, Mah. Apalagi Mas Adit
bekerjanya sampai sore.”
“Adit akan sering pulang untuk menengokmu, Sayang. Kalau dia tidak
mau, Nenek yang akan menjewer telinganya dengan tangan nenek sendiri.’
“Iya, Nek. Aditya akan sering pulang untuk menengok anak Adit.”
“Hah, kau ini, tidak boleh terlalu sering menengok, apalagi usia
kandungan Marissa masih sangat muda. Masih rawan.”
“Lho, bukannya tadi Nenek bilang Adit suruh pulang untuk menengok .. . .”
“Kau ini, pintar sekali bersilat lidah.” Potong Nenek Santi sambil
memukul lengan Aditya. Mustafa hanya menggeleng-gelengan kepala menyaksikan
anak dan ibunya saling adu mulut, sedang Marissa hanya bengong tidak mengerti.
Readers!
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya! Terima kasih.
__ADS_1