
Sisy diam. ia sama sekali tidak mengira kalau sekali lagi Rosa menyalahkan tindakannya. Ia memejamkan matanya, menyesali dirinya yang sudah terlalu ceroboh membocorkan semua rahasianya pada dua sahabatnya yang sekarang sudah mulai memejaman matanya.
“Apakah kalian tidur?’ sisy mengoyang tubuh Sulis dan Rosa bergantian. Ia gagal membuat kedua temannya membuka mata. Mereka terlalu lelah melewati harinya, mengikuti bimbingan skripsi dan membantu persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan esok.
“Ok baiklah kalau begitu. Aku juga akan ikut tidur. Anakku juga sudah kelelahan menyiapkan pernikahanku sendiri tanpa bantuan ayahnya.”
Sisy membaringkan tubuh lelahnya di sebelah Sulis. Sesaat angannya kembali berkelana membayangkan bagaimana kesalahan yang dilakukannya pada Seno, calon suaminya.
“Maafkan aku, Mas. Aku memang terlalu egois. Aku tidak akan menyalahkanmu ketika kau sama sekali tidak mau menjawab pesanku karena aku yakin kau pasti sangat terluka saat ini.”
Sisy mendesah. setetes air matanya lolos dari pelupuk matanya.
“Apa kabarmu sekarang? Mengapa kau sama sekali tidak mempedulikan aku yang merindumu setiap waktu?”
“Itu karena dia benar-benar terpukul, Sisy. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi Seno kan? Coba kau bayangkan. Kau kan tahu, Sutriono mencintaimu. Ketika hatimu tidak menerima Sutriono, lalu dia datang membawa minuman, apa yang kau lakukan? Apakah kau akan menerima dan meminumnya dengan
senang hati?”
Sisy menggeleng.
“Tentu saja tidak. Aku pasti akan pergi meninggalkannya dan bergabung dengan siapapun yang ada dis ekelilingku.”
“Pintar.“
“Apa maksudmu, Ros?”
“Kamu sudah tahu mengapa Mas Seno mengabaikanmu bahkan sampai saat ini kan? Jawabanmu atas perumpamaan yang kuberikan tadi adalah posisi Seno saat ini. dia tidak akan mungkin menerima kamu begitu saja meski sudah ada janin di rahimmu.”
“Tidak, Rosa. Dia bertanggung jawab sepenuhnya.’
“Apakah dia mengatakan seperti itu?’
“Iya.”
“Kalau aku berfikir kok tidak seperti itu yang sesungguhnya, Sy.”
“Apa?
“Aku akan bertanya padamu sekali lagi.”
“Hem”
“Kala Sutriono mencintaimu, kamu menolak kan?”
__ADS_1
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mencintainya. dia tidak masuk kriteriaku.”
“Hanya itu?”
“Mmm, mungkin karena aku sudah mencintai laki-laki lain, seperti Mas Seno.”
“Seandainya kau belum mencintai Mas Seno, apakah kau yakin akan menerima Sutriono?” Sisy
memandang Rosa lalu menggeleng.
“Mungkin tidak, Ros. Sulit rasanya memaksakan perasaan. yang tidak suka menjadi suka dalam waktu singkat itu mustahil, Rosa. Karena rasa memang tidak bisa dipaksakan untuk menerima sesuatu yang tidak kita sukai.”
“Bagus kalau kau tahu.”
“Tapi aku masih belum terima ketika dia sudah tahu ada janinnya di rahimku, dia mengabaikanku, Ros. Jahat sekali Mas Seno kan? Padahal orang hamil kan membutuhkan dukungan dan kasih sayang. anaknya juga membutuhkan pendidikan kan, Rosa?”
“Satu perumpamaan lagi, Sisy. Sutriono mencintaimu. Dia tahu kamu menolaknya, lalu dia membawamu jalan-jalan, terpaksa kau mau karena kau tidak memiliki teman saat itu. Di tengah jalan, dia memesan minuman, ternyata minumannya dia beri obat perangsang, kau meminum dan terpaksa kau melayaninya, satu bulan kemudian, kau dinyatakan hamil. Pertanyaannya bagaimana perasaanmu ketika tahu ada
janinnya di rahimmu? Apakah kau ikhlas menerima?” Sisy menggeleng.
“Bahkan aku ingin menggugurkannya secepat mungkin.”
“Aku akan membawa pergi bayiku hingga dia tidak akan lagi bisa memandang kami, meski dari jarak yang sangat jauh.”
“Apakah kau yakin?”
“Iya.”
“Tapi mengapa kau masih menuntut Mas Seno melakukan hal yang tidak dia sukai? Mengapa kau masih mengharap Mas Seno datang memanjakanmu ketika kau sendiri tidak ingin memiliki anak dari hubunganmu dengan Sutriono?”
“Rosa, ini beda masalah. Please mengertilah.”
“Bedanya dimana?”
“Kau dan dia sama-sama korban, tidak mungkin kalian akan mengambil jalan yang berbeda. Kau mempertahankan anakmu saat ini karena dia adalah bibi dari laki-laki yang kau cintai. Kalau bibit dalam rahimmu ini adalah bibit Sutriono, apakah kau juga akan mempertahankannya dengan senang dan mengharapkan Sutriono datang memanjakanmu?
“Tidak, Rosa, Hiks. Tidak. Aku tidak akan melakukannya pada Sutriono.”
“Rasa itulah yang sekarang sedang Mas Seno alami, Sisy. Andai dia bisa menggugurkan janinmu, dia pasti sudah melakukannya atau andai dia bisa membawa kabur bayimu, dia pasti sudah membawanya tanpamu. Dia tidak akan melibatkanmu dalam hal mengasuhan anaknya, tidak akan berbagi dalam mengasuh anaknya denganmu. Please mengertilah kondisinya. KAu tidak bisa menuntut terlalu banyak atas dosa yang kau lakukan sendiri.”
__ADS_1
“Hiks, kamu jahat Rosa. Kamu jahat. Selama ini aku salah menilaimu. Aku selalu bangga padamu karena kau bijaksana menyikapi perdebatanku denagn Marissa, tapi seakrang aku tahu ternyata kau lebih egois dari Marissa. Kamu jahat’
“Maafkan aku, karena dengan alasan apapun aku tidak bisa menerima apa yang sudah kau perbuat dan apa yang kau harapkan.” Rosa bangun dari tidurannya, menata tasnya lalu melangkah meninggalkan kamar Sisy, meninggalkan Sisy yang masih menangis seorang diri sedang Sulis masih terlelap.
“Wah, Mbak Rosa mau kemana? Ini sudah sore, Mbak. Kita akan makan bersama setelah ini.” ucap Meli memandang Rosa yang menggendong tasnya.
“Maaf ibu, saya harus segera pulang. Biar Sulis yang menemani Sisy di dalam.”
“Pulang? Katanya mau menginap. Nanti kamu di kos sendiri lho apa kamu berani?”
“Di kos sudah ada anak baru, Bu. Satu minggu ini mereka menyewa kamar bekas kamar Sisy dan Marissa.”
“O iya? Ya sudah kalau begitu. Ibu hanya bisa berharap kau menginap. Kalau tidak bisa menginap, aku tidak akan mencegahmu dan menyuruhmu. Tapi apa iya ku tidak ingin menunggu makan dulu?”
“Terima kasih, Bu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Rosa melangkah meningalkan rumah dinas Syaiful, menuju jalan raya karena ia tidak membawa motornya ke sana. Ia segera melangkah dengan cepat karena hari semakin gelap. Ketika dia sedang berjalan, nampak di belakangnya sebuah sepeda motor mengikuti langkahnya.
“Apakah ini Mbak Rosa?”
Rosa menghentikan langkah, lalu menengok ke sumber suara. Seorang laki-laki gagah sedang tersenyum memandangnya.
“Siapa ya?”
“Sigit.”
“Sigit yang mana ya? Rasanya aku tidak kenal Anda.”
“Kita pernah bertemu di Kemanukan. Saat itu kau sedang berada di dapur umum bersama Marissa.”
“o iya, Maaf Mas, Aku tidak ingat kalau pernah bertemu di sana. Mas Sigit mau kemana?”
“JAlan-jalan. Kebetulan semua kebutuhan harian sudah habis. Tadi aku lihat Mbak Rosa keluar dari rumah Kapten Syaiful.”
“Iya. Saya baru saja membantu persiapan pernikahan teman saya, Sisy.”
“Satu kos dengan Mbak Sisy?”
Rosa mengangguk.
“Wah berarti besok bisa ketemu di gedung Ganesha.”
__ADS_1
“Semoga saja begitu, Mas. O iya, silakan Mas duluan. Saya akan mampir di masjid Agung untuk salat Magrib.”
“Aku juga akan ke sana dulu. bagaimana kalau kita bersama?”