
Ba’da Subuh, tubuhku menggigil. Aku kedinginan namun badanku panas luar biasa. Sisy memandangku cemas. Dia pegang dahiku dan ia nampak sangat panik.
“ Kamu sakit, Ris. Badanmu panas sekali.”Ucapnya sambil berjalan meninggalkanku. Tak lama kemudian dia datang dengan membawa sebuah baskom kecil berisi handuk dan air. Dia kompres kepalaku dengan sabar.
“Kelihatannya kau kelelahan, Ris. Seharusnya kau jangan terlalu memforsir tenagamu. Aku tahu kau ingin segera meninggalkan kota ini, tapi jangan terlalu capek kali.” Sisy mengompresku sambil tetap mengomel.
Kupandang wajahnya dengan iba. Ada sesal yang tiba-tiba datang. Aku tahu selama ini aku keliru menilainya. Dia gadis yang baik dan penuh perhatian. Ingin sekali kupegang tangannya dan mengatakan aku menyesal telah mengabaikanmu. Namun semua kuurungkan. Kuikuti saja gerakan tangannya dan membiarkan tangan lentiknya meletakkan handuk di dahiku, lalu perlahan memijit kakiku.
“Kamu tidak usah ke kampus dulu ya. Biar kuantar kamu ke dokter.” Ucapnya sambil menghentikan aktifitas memijit, lalu mengambil baskom dan keluar kamar. Aku bangun. Kuturuni dipanku dan berjalan menuju rak buku di belakang pintu. Kubuka buku Metode Pengobatan Nabi yang kubeli dari gramedia mini satu tahun yang lalu tentang bagaimana petunjuk Nabi saw melakukan terapi demam. Diriwayatkan dengan shahih Al Bukhari dan Muslim dari Nafi, dari ibnu Umar bahwa Nabi Saw bersabda : Innamal humma ausiddatul humma min faihi jahnnama Fa abruduuhaa bil maai
“ Sesungguhnya demam itu atau demam yang berat itu berasal dari uap api Jahannam. Maka dinginkanlah dengan air.”
Dalam keterangan hadist ini kubaca bahwa segala bentuk kondisi demam saat panas tubuh meningkat tajam, dapat diterapi dengan menggunakan air, melalui dua cara: Pertama dari arah luar yaitu dengan mengompresnya menggunakan air dingin atau es dengan tujuan menurunkan derajat panas. Kedua meneguk air melalui mulut sebanyak mungkin ketika sedang demam. Itu dapat membantu seluruh organ tubuh terutama dua ginjal untuk kembali normal melakukan segala aktifitas tubuh.
Abu Nu’aim dan ulama lain menceritakan sebuah hadist dari Anas :
Idza humma ahadukum. Fal yuroosa ‘alaihil maa ul bari du tsalaatsa la yaa lin minassahari
“ Kalau salah seorang diantara kalian demam, hendaklah ia mengguyurnya dengan air dingin selama tiga malam di waktu fajar.”
Hal ini memang sangat bertentangan dengan dokter kala aku mengunjungi mereka saat demam. Mereka akan melarangku mandi atau kalaupun mereka mengijinkanku mandi, tentu mereka akan menyarankan aku mandi dengan air hangat.. Tapi aku bangkit, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Mengguyur badanku dengan air dingin meski aku tahu kondisiku sangat tidak memungkinkan. Air di bak mandi kurasakan seperti air di lemari pendingin.
Kuguyurkan beberapa kali ke kepala dan badanku sebelum akhirnya kusudahi setelah merasa tubuhku bisa menyesuaikan dengan temperatur air. Kupakai baju yang kubawa dari kamar setelah tubuh kukeringkan. Handuk kupakai untuk membungkus rambut panjangku dan aku bergegas menuju kamar.
“ Kamu darimana Risa ? “ Sisy memandangku dengan panik. ”Ya ampun, kamu mandi ? Katanya kamu sakit. “ ia mendekatiku saat ia tahu aku baru saja masuk ke kamarku dengan rambut terbungkus handuk.
“ Insya allah nanti sembuh.”
“ Badanmu panas sekali tadi kan ? mengapa mandi ? kamu bisa tambah sakit Ris.” Kata Sisy cemas. Dia coba mengambil selulernya dan kulihat dia mulai menelpon seseorang. Aku tak tahu siapa, yang jelas kudengar dia menyebut namaku dan akhirnya menutup pembicaraannya dengan tenang.
“ Kamu boleh pegang lagi kepalaku Sy. Masih panas tidak ?” dia mendekat lalu menempelkan punggung telapak tangannya di dahiku.
“ Tidak terlalu. Kok bisa ya ?’tanyanya penasaran.
“ Inilah kuasaNya.” Jawabku sambil mengeringkan rambutku dengan handuk. Dingin kurasakan menusuk tulang, Beberapa menit kubiarkan rambutku tergerai sekedar menghilangkan basah.
__ADS_1
“ Kau bilang ingin keluar menikmati udara segar pagi ini, Sy ! Kau boleh keluar dengan Rosa dan yang lainnya. Aku hanya ingin di kamar saja pagi ini. “ Sisy memandangku tak percaya.
“Kamu yakin di rumah sendiri ?” tanyanya.
“Iya, kau pergilah. “
“Tidak Ris, aku tak mau meninggalkanmu sendiri.” Sisy memandang keluar kamar, melihat ruangan kosong, karena Rosa dan yang lainnya sudah menunggu di halaman.
“Tidak apa-apa, Kau pergilah untuk melupakan sejenak masalah.” Tegasku.
Dia masih terpaku kebingungan. Sedetik kemudian ia merapikan pakaian dan meninggalkanku sendiri di kamar.
***
Sepeninggal Sisy, Rosa, dan keempat temanku yang lain, kubuka ponselku dan kusibukkan untuk membuka google. Kucari sinopsis dari film yang sangat kusukai namun gagal. Paket internet 2 GB yang kubeli seminggu lalu, sudah tak mampu memenuhi permintaanku. Akhirnya aku menyerah. Kubuka galeri dan kulihat satu persatu foto yang ada. Kubayangkan semua peristiwa ketika foto-foto itu diambil. Satu persatu tanpa terlewat sama sekali. Entah berapa lama aku menggeluti kegiatanku, antara percaya dan tidak, telingaku menangkap sebuah ketukan kecil di pintu rumah. Kutunggu sesaat, barangkali ada temanku bersamaku di rumah kos saat ini, namun aku keliru. Bunyi ketukan di pintu singgah lagi ke telingaku. Dengan cepat kupakai kerudungku, dan langkah kuayunkan cepat menuju pintu.
“Assalamualaikum”
Wajah tampan muncul dari balik pintu, tersenyum menggodaku. Aku masih terpaku tak percaya dengan pandanganku. Kukucek beberapa kali dan pemuda di hadapanku memang nyata adanya.
“Silahkan” Pemuda yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku masuk dan tanpa kusuruh dia duduk. Aku segera berjalan ke kursi dan duduk dengan diam.
“Sepi, dimana teman-teman ?” tanyanya sambil memandang sekeliling rumah.
“Alun-alun.” Jawabku singkat.
“Adik tak ikut ?” tanyanya penuh selidik. “O iya, aku tahu mengapa Adik tak ikut. Feeling mengatakan aku akan datang, benar kan ?”
“Up to you. Saya tak ingin terlalu ambil pusing memikirkan bagaimana pendapat orang tentangku. “Sahutku sewot. Kualihkan pandangan ke sekeliling, barangkali ada yang bisa membuatku lepas dari situasiku saat ini. Entah mengapa aku merasa benci padanya. Aku tak tahu sejak kapan rasa benci itu muncul. Yang jelas saat ini rasa itu telah membuatku enggan untuk mengeluarkan suara menanggapinya.
“Adik, hari ini aku akan mengatakan sesuatu yang penting padamu. Selama enam bulan, Kakak akan melaksanakan tugas di Timika. Namun sebelumnya, ijinkan aku mengungkapkan sesuatu yang penting hari ini.” Dia berhenti sejenak. Menata hati dan memandangku lalu menunduk. Aku tak tahu apa yang hendak ia katakan.
“Aku mencintaimu, Dik” Ucapnya lirih.
Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Sejenak anganku melayang, membayangkan pesannya yang mengatakan “love you” tadi malam, dan dipertegasnya pagi ini. Aku juga tak tahu bagaimana perasaanku, yang jelas, sejenak ketika dia sudah mengungkapkan perasaannya ia pamit. Tak sedikitpun ia memberi kesempatan padaku untuk mengungkapkan pendapat dan rasaku.
__ADS_1
Aku masih duduk di ruang tamu saat keenam temanku sampai di rumah pagi ini. Satu persatu mereka duduk dan memandangku dengan heran.
“Kau baik-baik saja kan ?” tanya Susi sambil memandangku heran. Tak sesaatpun ia lepaskan pandangannya dariku.
“Iya Risa, apakah kau sudah merasa lebih baik ? Mengapa kau duduk di sini ?” sambung Sisy.
Kusunggingkan senyum termanisku untuk sahabat-sahabatku. “Aku baik-baik saja.” Kataku seraya berdiri dan berjalan menuju kamar tanpa menghiraukan kebingungannya.
“Risa, ayo jawab. Jangan membuat kami penasaran, apa yang membuat kamu duduk di sini ? desak Sisy. Aku tak mengatakan apapun. kulangkahkan kakiku menuju kamarku. Kubaringkan tubuhku pelan. Ada bahagia yang menyusup lembut ke relung hatiku, namun kembali anganku mengingat peristiwa tadi malam, saat dua orang utusan Irawan Adityawarman yang melamarku. Kepalaku bertambah pusing memecahkan dua masalah yang menghampiri hidupku di saat yang hampir bersamaan.
Satu sisi hatiku mengatakan lebih baik aku fokus pada Seno tapi sisi yang lain menyarankanku untuk menuruti saran dua rekan Irawan untuk melakukan istiharah. Tak ada alasan bagiku untuk melakukan istiharah karena sangat jelas bahwa Irawan bukanlah orang yang sudah kukenal. Dia sosok misterius yang aku sama sekali tak pernah melihat. Sedangkan Seno, beberapa kali aku berbincang dengannya dan sedikit banyak aku sudah tahu bagaimana sifatnya.
Dua sisi hatiku masih bertarung, antara melaksanakan istiharah dan langsung memilih Seno pahlawan penyelamatku saat di Kemanukan.
***
Sisy duduk di dipanku dan memandangku penasaran. Tangannya mulai memijit kakiku dan pandangannya masih lekat menatap wajahku seolah ingin mengatakan sesuatu.
“Ada apa Sy ? “ aku mencoba membuka percakapan. Sisy memalingkan wajahnya dan pelan dia menatapku kembali.
“ Aku baru mendengar dari Santi kalau ternyata ada seorang relawan di Kemanukan yang jatuh cinta padamu. “ ucapnya pelan.
“Siapa Sy ? “
“Dia Suseno kan ? “ tanya Sisy sambil menghentikan pijitannya. Aku tak tahu mengapa dia nampak begitu kesal.
“ Tidak, Sisy. Kamu . . . . “ aku tak bisa melanjutkan kalimatku karena kulihat air mata Sisy mulai mengalir di pipinya. Rasa penasaran mulai muncul menyaksikan Sisy menjauh dariku.
“ Jangan bohong padaku Risa, aku tahu dari teman ayahku bahwa Seno mencintaimu. Dia memenangkan perebutan yang terjadi antara dia dan bawahannya. “ bentaknya.
“ Apa maksudmu ? “ suaraku sedikit meninggi menerima bentakan Sisy yang tak biasanya terjadi.
“ Dengar Marissa, diantara para tentara yang menjadi relawan di Kemanukan kemarin, ada anak buah dan komandan yang jatuh cinta padamu. Bawahan berjumlah tiga dan atasan satu orang bernama Seno. Mereka memperebutkanmu di markas, nyaris terjadi bentrok saat itu, namun semua segera berakhir ketika Seno mengatakan tidak ingin ada orang lain yang mencintai Marissa kecuali dirinya. Tidak ada yang berani maju untuk mencintaimu kecuali Seno karena mereka segan pada atasan. Kamu puas ? “
Aku tak percaya dengan pendengaranku hari ini. Kalau memang itu benar mengapa Sisy marah ? adakah satu diantara mereka yang dicintainya ? Tidak, “batinku mulai bertarung. Kulihat Sisy mulai mengemas pakaiannya dan aku tak tahu dia mau kemana. Sebelum aku bertanya, dia bilang kalau ingin pindah kamar bersama Rosa, mengisi tempat Nur yang sebulan lalu pindah ke luar kota. Aku tak bisa menolak, menerima kenyataan tinggal di kamar sendiri. Kubiarkan saja dia melakukan apapun yang ia inginkan. Saat ini aku ingin waspada. Aku tak tahu teman yang mana yang bisa kuajak untuk membicarakan hal rahasia, yang kutahu, semua mendukung Sisy dan aku terpojok.
__ADS_1