
Orang tua Syamsya dan saudaranya ditemukan. Tim SAR, TNI POLRI, menemukan mereka dalam satu tempat yang sedang saling berpelukan. Semua sudah dalam kondisi membusuk. Syamsya menjerit melihat kondisi kedua orang tuanya yang nyaris tak dapat dikenali. Baju yang dikenakan ayah, ibu dan kakaknyalah yang membuat ia tahu kalau itu keluarganya.
Kupeluk dia erat. Kubisikkan istighfar demi menenangkan hatinya. Gadis manja yang sejak dulu keras kepala, tetap saja tak mau mengucapkan lafadh istighfar. Ia memilih menjerit dan meraung. Memeluk kantong jenazah tanpa memperdulikan aroma yang busuk, ia cium dan ia usap kantong jenazah itu. Berkali-kali ia lakukan pada sebuah kantong yang berisi tiga jenazah yang tidak bisa dipisahkan.
Semua yang menyaksikannya terharu. Beberapa relawan tetap memandang aktifitas Syamsa tanpa berniat menghentikannya. Aku tak habis pikIr dengan semua yang orang lakukan, melihat mereka membiarkan tindakan Syamsa, akhirnya kuputuskan untuk berdiri dan menjauh. Lina yang sejak tadi memandangku penuh emosi, langsung menarik tanganku
“Syamsya, Nak. Mumpung ibu dan ayahmu belum dimakamkan, sekarang panggil kekasihmu untuk menikahimu di hadapan jenasah orang tuamu,” Ibu setengah baya yang belakangan kuketahui sebagai buliknya Syamsya mendekat. Ia memandang Syamsa dengan penuh harap agar Syamsa segera menjawab. Kulihat Syamsa masih asik dengan kegiatannya memeluk kantong jenazah di hadapannya tanpa memperdulikan ucapan bibinya.
“Sayang . . . ! “ PAnggil bibi Syamsa sekali lagi. Kali ini ia memegang Syamsa dan mengajaknya duduk di kursi yang teronggok di sudut ruangan.
“Saat ini, menikahlah ! Mumpung orang tua dan saudaramu masih ada di hadapanmu. Biarkan mereka melihat kebahagiaanmu.” Ucap wanita paruh baya sambil menatap Syamsa lembut.
Dan inilah tradisi sebagian orang Jawa. Mungkin tidak semua Jawa tapi yang kutahu, sebagian dari mereka melaksanakan pernikahan di depan jasad orang yang dicintai. Aku sudah melihat beberapa kali, Peni menikah disaat neneknya meninggal. Ia memanggil Indra orang yang dicintainya untuk menikahinya secara sederhana. Ines juga. Ia menikah saat ayahnya meninggal karena kanker dan aku tidak hafal siapa lagi yang melaksanakan adat seperti itu, yang jelas antara sadar atau tidak, kulihat Syamsya mengarahkan pandangan ke Qomar komandanku. Aku nyaris saja pingsan kalau saja tidak kuingat, bahwa posisiku di tempat ini adalah relawan yang bertugas menolong orang lain, bukan untuk membebani orang lain.
“Tapi Bulik . . . .” Syamsya kebingungan. Antara berani dan tidak ia menatap Qomar.
“ Syamsya ! Tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk menyaksikanmu kelak. Kau tidak menyesal, Nak ? Cepatlah ! Panggil kekasihmu untuk menikahimu hari ini juga. “ desak Ibu paruh baya pada Syamsya.
“Iya, Sya, ayo, tunjukkan pada Om, siapa lelaki yang menjadi pilihan hatimu yang hari ini sanggup menyenangkan kedua orang tuamu. “
“Mas Qomar, Om. Di . . . dia orangnya !” Telunjuk Syamsya menunjuk Qomar yang sedang terpaku di tempatnya, tak percaya dengan apa yang sudah didengarnya. Paman Syamsya berjalan mendekati Qomar dan dengan suara terbata ia menghiba, “ Nak . . . kau sudah mendengar keponakan saya menjatuhkan pilihan hatinya padamu? Menikahlah hari ini. Semua demi orang tua Syamsya yang sebentar lagi akan dikebumikan. “ Qomar diam. Beberapa menit ia merenung.
“Mas Qomar, maukah Mas Qomar menikahiku sekarang ? “ pinta Syamsya. Aku tak ingin melihat bagaimana reaksi Qomar. Kutundukkan wajahku. Kutata perasaanku yang berangsur merasakan perih. Hatiku tersayat, berdarah. Harga diriku terusik namun entah mengapa aku tak mampu untuk membendung gejolak yang berkecamuk semakin kuat. Air mata yang kutahan sejak Syamsya memandang Qomar, kuseka dengan kasar dan aku tak tahu bagaimana harus berbuat.
Syamsya tak menghiraukan sekitarnya. Ia seolah tak menganggap kami ada. Beberapa kalimat tak jelas keluar dari mulutnya. Berkali-kali Buliknya gagal menenangkannya, sebelum akhirnya Qomar datang dan memeluknya dengan erat. Aku ingin berlari meninggalkan ruangan ini. Namun kuurungkan meski aku tahu hatiku sedang berdarah. Aku ingin melihat perkembangan tentang Syamsa dan Qomar. Aku ingin tahubagaimana Qomar menerima tantangan yang jauh di luar dugaannya. Aku juga ingin tahu bagaimana perasaan Qomar. Akankah dia mempertimbangkan cintanya padaku seperti yang dia katakan kemarin atau dia akan menutup rasa itu demi untuk menolong Syamsa.
“Insya Allah saya siap menikah hari ini. Akan saya undang orang tuaku untuk datang.” Ucapnya pelan. Kurasakan petir menyambar kepalaku. Pusing kurasakan namun aku tetap tak ingin beranjak dari dudukku. Ingin kutunggu prosesi itu dan kunikmati rasa ngilu di hatiku.
“Astaghfirullah,”gumamku saat kulihat Syamsya membenamkan kepalanya di dada Qomar. Tangisnya pecah di sana. Ternyata sekali lagi aku tak bisa berbuat banyak. Air mata mengalir di pipiku bukan hanya sedih menyaksikan jasad Bu Yuli dan Pak Darmawan, dan kakaknya Syamsa, namun karena ternyata ada luka yang kembali menganga menyaksikan pemandangan yang tersaji di hadapanku.
“ Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. “Suara lembut laki-laki yang sudah duduk di sebelahku yang aku sendiri tak tahu sudah berapa lama dia ada di dekatku, menemaniku memandang Syamsya dan Qomar. Aku malu karena dia memandangku dan tersenyum.
“ Ma . . .maaf, Kakak.” ucapku lirih. Sekali lagi rasa malu yang sangat muncul. Aku malu karena ada manusia yang tahu kalau hatiku sedang cemburu. Aku juga malu karena ternyata rasa cinta telah mengalahkan akal sehatku. Aku seharusnya memaklumi tindakan Syamsya yang saat ini memang lebih membutuhkan dukungan moral dari Qomar. Aku mungkin juga harus bisa sedikit berbesar hati terhadap tindakan yang sudah dilakukan oleh Qomar. Bukan mengedepankan cemburu.
“ Adik sedang cemburu, sehingga aku perlu untuk bicara itu padamu. Maaf.“ ucapnya sambil mengulurkan tisu padaku.
Aku hanya diam. Kalau saja aku bisa memilih, aku akan berlari meninggalkan ruangan ini dan bersembunyi dari orang-orang. Aku ingin pergi sejauh-jauhnya membawa sakit hatiku ke hadapan ibuku dan kuadukan semuanya agar aku merasa tenang. Namun semua kuurungkan.
__ADS_1
“Mengapa diam ?” laki-laki di sebelahku memandangku penuh selidik.
“Ti . . .tidak apa-apa” air mata di pipiku kuusap dengan telapak tanganku. Tisyu yang disodorkan laki laki di hadapanku masih teronggok di sebelahku. Memandangku, lelaki di sebelahku tersenyum.
“Inikan yang kau butuhkan ?” Dia mengulurkan tisu utuh padaku untuk kedua kalinya. Aku menggeleng. Tak kuambil satu lembarpun.
“Semoga bisa meringankan bebanmu. Pakailah ! Tak baik menggunakan telapak tangan untuk mengusap air matamu karena mungkin ada bakteri yang akan masuk ke mata.” Dengan malu kusentuh tisu dan kuusap air mataku pelan. Sejenak kupandang wajahnya. Dia memang tampan sekali. Sesuatu yang sangat membuat aku kagum adalah, meski tampan dia tidak mengumbar keistimewaan yang diberikan Tuhan untuk memikat hati perempuan seperti yang dilakukan Qomar. Dia tetap tenang dalam membawa diri dan tetap cool, tak banyak bicara dan semuanya memang sempurna. Aku segera menunduk. Lalu menegakkan kepala dan kulempar pandangan ke dua remaja yang masih berpelukan.
Kurasakan dadaku mendesir. Lukaku menganga lebar, dan semangatku melemah.
“Adik tak ingin berbagi rasa denganku ?” tanya laki-laki yang sejak tadi menemaniku sambil memandangku. Aku hanya menggeleng. Tak tahu harus bicara apa.
“Risa, kau masih di sini rupanya ?” sapa Lina seraya menghampiriku. Tangannya ia ulurkan untuk membimbingku keluar ruangan, namun ia segera mengurungkan niatnya. Ia pandang wajahku lalu beralih pada laki-laki gagah di sebelahku.
“Kamu kenapa ?” tanyanya penasaran.
“Tidak apa-apa, Lin. Insya Allah setelah ini baik-baik saja. Aku hanya butuh untuk duduk sebentar.” Laki-laki di sebelahku menyuruh Lina untuk duduk menggantikan posisinya.
“Duduklah, Mbak. Temani dia.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkan ruang aula.
“Eh, ceritakan padaku apa yang terjadi padamu!” desak Lina. “JAngan bilang kalau kamu ikut terharu dengan keadaan Syamsa. Dia sudah menyakiti hatimu.”
“Syamsa . . .” hanya itu yang bisa kukatakan.
“Apa ? Syamsa kenapa ? “tanya penuh selidik.
“Akan nikah.” Jawabku singkat. Kutahan lara dan kulihat Lina melotot.
“Siapa yang akan menikahinya?”
“Qomar.” Sahutku singkat. Lina terduduk lemas. Dia segera merengkuh tubuhku dan membenamkan kepalaku di dadanya. Aku ingin menangis namun kuurungkan. Tidak ada gunanya juga kalau aku menangis karena semua keputusan sudah dibuat. Tinggal melaksanakan dan pelaksanaannya hari ini.
***
Jenasah sudah selesai dishalatkan. Semua diam, menunggu datangnya orang tua Qomar dan penghulu. Beberapa ibu paruh baya menuntun Syamsya dan Qomar menuju sebuah ruangan. Aku tahu, ada Bulik Syamsya di sana. Ia yang meminta Syamsya menikah di hadapan jasad keluarganya. Ia juga yang membuat Syamsya memutuskan untuk meminta Qomar agar menikah dengannya.
Pukul tiga orang tua Qomar datang. Penghulu sudah menunggu setengah jam lalu dan prosesi pernikahan akhirnya dilaksanakan. Inilah saatnya. Saat dimana aku merasa semua harapanku hancur sehancur-hancurnya. Sebuah penghalang atau bahkan sebuah jurang telah menganga lebar dihadapanku. Jurang pemisah yang melarang hatiku untuk melanjutkan pengembaraannya ke hati Qomar komandanku dan ini sangat menyakitkan. Ibarat memaksa sebuah duri yang sudah menancap dalam di daging, dibiarkan tetap didalam akan tersiksa sedang bila kita mencabutnya kitapun akan terluka.
__ADS_1
Aku hanya bisa pasrah. Kuniatkan untuk mencabut duri dalam dagingku karena resikonya sama. Hatiku terluka dan berdarah. Tapi aku tetap akan berharap semoga darah yang mengalir akan bisa menyembuhkan.
Syamsa dan Qomar yang sudah dimake up, duduk di meja yang sudah sejak tadi ditata oleh pengungsi tetangga Syamsa. Bibinya Syamsa dan suami serta saksi dan penghulu sudah bersiap melaksanakan ijab Qabul.
Setelah ijab kabul dilaksanakan, prosesi pemakaman disiapkan. Aku berdiri mengikuti prosesi pra pemberangkatan jenasah. Pak Syamsul, kepala desa memberi sambutan mewakili pihak keluarga dan akhirnya acara pemberangkatan dilaksanakan.
Kakiku hendak melangkah mengikuti para peziarah mengantar orang tua Syamsya diikuti oleh Lina dan laki-laki cool di sebelahku namun kuurungkan. HP di sakuku berbunyi saat pembawa jenasah menjauh. Nomor baru menghiasi selulerku. Aku ragu untuk mengangkat telepon. Kulihat Lina memandangku seolah bertanya, Siapa ? Aku mengangkat bahuku. Laki-laki gagah yang dua hari ini setia menemaniku memandangku.
“Mengapa Adik tak mengangkat teleponnya ?” tanyanya penasaran.
“Nomor baru” jawabku sekenanya. Sebenarnya bukan karena nomor baru, namun saat ini perasaanku masih enggan kuajak untuk berbicara dengan orang apalagi pertelepon.
“Apakah kalau nomor baru selalu kau tolak ? Barangkali ada informasi penting yang perlu disampaikan. Coba ditelepon balik,” sabar sekali sang lelaki menemaniku. Kuturuti perintahnya untuk menelepon si empunya nomor baru. Namun belum sempat kupencet tombol panggil, selulerku mendering lagi.
“Assalamualaikum” Kubuka percakapan dan kudengar suara diseberang menjawab salam. Kulihat semua masyarakat telah menjauh, menghormati pemakaman orang tua Syamsya sedang aku hanya bisa duduk menerima telepon dari pihak rektorat yang mengharapkan kehadiranku sore ini karena harus menghadiri lomba penulisan essai di Jakarta. Kulihat sekelilingku mencari Lina. Ternyata dia sudah berlalu entah kemana. Mungkin dia sudah bersama Sulis dan yang lainnya menuju pemakaman.
Niat untuk melangkah ke pemakaman kuurungkan. Aku segera berjalan menuju ruang yang difungsikan untuk menginap di untuk berbenah. Hari sudah menjelang petang. Gerimis masih menyertai kami saat ini. Sesaat setelah aku selesai dengan persiapanku, aku berdiri. Kupandang setiap sudut ruangan untuk memastikan bahwa tak ada sesuatu yang kubutuhkan tertinggal. Aku keluar kamar tepat di saat semua orang berada di pemakaman.
“Adik mau kemana ? “tanya laki-laki misterius yang kutemui di belakang taman sekolah dengan cemas. Aku hanya tersenyum. “Adik tidak ingin menghadiri pemakaman ? Mengapa ? Gadis yang ditinggal orang tuanya itu sangat membutuhkan dukungan mu, Dik.“
“Mohon maaf, Kakak, hari ini saya harus pergi. “ belum lagi kalimatku selesai dia sudah memotong.
“Apakah peristiwa tadi membuat Adik sakit hati dan ingin meninggalkan lokasi ini ? Mohon dipikirkan ulang, masyarakat masih memerlukan tenaga kita semua. Jangan karena masalah pribadi kita tercerai berai sehingga pekerjaan yang seharusnya selesai jadi terbengkelai.”
“Anda salah paham. Saya pergi bukan tanpa alasan. Rektorat menginstruksikan agar saya segera pulang untuk menghadiri lomba essai di Jakarta. Telepon dari nomor baru tadi adalah telepon dari dosen pembimbingku yang menggunakan nomor istrinya. Beliau memintaku agar segera pulang karena essai yang kukirim ke lomba tingkat nasional satu bulan yang lalu masuk nominasi untuk dipresentasikan. Esok saya harus mempresentasikan di hadapan yuri untuk menentukan tiga besar. Mohon doa restunya karena dua hari lagi saya harus berangkat, saya harus mengurus administrasi untuk keberangkatan kami.” Kataku. Surprise. wajah cool abiz di hadapanku berseri. Tangannya terjulur hendak mengucapkan selamat padaku namun kutolak. Aku tak ingin dia memegang tanganku bukan tanpa alasan. Aku tak mau dia tahu betapa dinginnya telapak tanganku karena aku bahagia.
“ O, maaf, Kakak kira Adik menuruti hawa nafsu dan berkeinginan meninggalkan pengungsian tanpa alasan. Selamat berjuang, semoga Allah memudahkan Adik untuk menang. Membawa nama baik daerah. Aku baru tahu kalau gadis yang kukenal bukan gadis sembarangan.” Ucapnya perlahan.
“Amin, terima kasih Kakak. Mari, Assalamualaikum”
“Waalaikum salam.” Jawabnya. Baru saja kakiku meninggalkannya, dia memanggilku.
“ Adik ! “ aku menghentikan langkah dan menoleh memenuhi panggilannya. “Bagaimana Adik pulang ? Kalau berkenan, biar Kakak mengantar.” Tawarnya.
“Terima kasih. Mobil kampus sudah menunggu di bawah. Mari kakak, Assalamualaikum “ Kutinggalkan lokasi setelah berpamitan pada semua warga di pengungsian. Sepasang mata mengantarku dan ini akan kujadikan modal dan penyemangatku untuk bisa memenangkan pertandingan.
***
__ADS_1