Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Aku Tidak Mengijinkan


__ADS_3

Mesiya memandang foto USG dengan mata berbinar bahagia. ia  memang sudah pernah merasakan kebahagiaan melihat foto seperti yang sekarang ia pegang, saat ia mengandung Aditya, tapi kali ini, ada rasa yang berbeda di hatinya saat melihat calon cucu yang masih berupa titik putih dan sebesar biji kacang itu.


“Sayang, kau harus menjaga calon cucu Mamah ya. Makan yang banyak dan bergizi seimbang karena Mamah ingin cucu Mamah hadir dalam kondisi sehat.”


Marissa mengangguk.


“Insya Allah, Mah”


“Kau bebrbahagialah di perut Mamahmu ya Sayang. Eyang sabar menunggumu, sampai waktunya kau siap lahir ke dunia ini, Eyang akan ikut menjagamu.” Meisya mengelus perut Marissa yang masih rata.


“Insya Allah Eyang.” Jawab Marissa menirukan suara anak kecil membuat MEisya mengelus kepala menantunya penuh sayang.


“Mah, kami akan melatihkan anak-anak kami dengan panggilan Ummi dan Abi, ia kan Sayang?” Aditya memberitahu MEisya dan Mustafa lalu memeluk tubuh Marissa dan mengecup keningnya lembut.


“Iya, Mas.”


“Iya, maaf. Mamah minta maaf kalau salah”


“Tidak salah kok Mah, Mas Adit hanya memberitahu.”


“Iya, Sayang. MAmah akan melatihkan panggilan itu juga untuk anak kalian. O iya, apakah Nancy sudah tahu berita ini?”


Aditya mengangguk.


“DIa pasti sedih sekali ya, mendapatkan kenyataan bahwa kalian lebih dulu dipercaya sama Allah daripada dia.”


“Semoga dia cepat menyusul Mah. Dia kan dokter, suaminya juga, mereka lebih tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membuat keluarga mereka memiliki apa yang mereka inginkan.”


“Iya. Mereka bisa meminta teman-teman dokternya untuk memeriksa dan melakukan pengecekan lebih lanjut kan?”


“Iya.”


“Sudahlah, kita hanya bisa bedoa, semoga keluarga Nancy baik-baik saja. Kita pulang yuk! Aku sudah tidka betah di sini.” Marissa dan Meisya mengangguk.


Mereka segera berdiri. Meisya menuntun Marissa sedangkan Aditya dan Mustafa mengangkat koper dan peralatan lainnya.


Lima menit kemudian, mereka sudah berada di parkiran.


“Marissa  mau pulang hari ini?”  Nancy yang melihat keluarga Mustafa segera berlari menghampiri mereka.


“Iya, Mbak. Sudah tidak betah menginap di sini. Enakan tidur di rumah saja.” Nancy terkekeh.


“Bagaimana kamu akan betah, kalau rumahmu saja seperti istana.”

__ADS_1


“MEskipun rumah seperti gubug bamboo, Mbak. Saya pastikan lebih enak di rumah sendiri daripada di rumah sakit.”


“Iya, iya, semua orang mengakui itu. Mbak akan datang nanti sore ke rumahmu bersama Mas Amran, Insya Allah. Semoga dia tidak sibuk.”


“Kami tunggu ya, Nancy. Kami ingin sekali bisa mengobrol dengan suamimu. Ingin komunikasi terkait kehamilan istriku karena suamimu kan dokter spesialis kandungan yang hebat kan?” Nancy mengangguk.


“Baiklah. Insya Allah. Semoga dia tidak sibuk ya, DIt.”


“Semoga saja begitu. O iya, apakah kau masih lama berada di sini?”


“Iya, masih sampai jam dua siang. Aku jaga pagi makanya jam segini masih di sini.”


“Ya sudah ya, Nancy kami pulang dulu. kasihan Marissa dan bayinya yang ingin istirahat di rumah.” Meisya menggandeng Marissa meninggalkan Nancy setelah Nancy mengiyakan. Aditya membukakan pintu mobil untuk keluarganya. Mustafa duduk di depan, sedang Marissa dan Meisya di belakang.


Setelah menutup pintu, dia melangkah menuju pintu kemudinya. Menyalakan mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah utama. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah, disambut pelayan dan nenek Santi yang sejak tadi nampak menunggu di teras.


“Selamat datang, Sayang.” Nenek Santi memeluk Marissa yang sedang dituntun oleh Meisya.


“Terima kasih, Nenek. Nenek bagaimana kabar hari ini?”


“Sayang, hari ini kebahagiaan Nenek sungguh kebahagiaan yang tidak pernah nenek rasakan selama ini. Nenek mendengar kalau akan memiliki cicit, tentu saja membuat Nenek merasa seperti mendapatkan anugerah dari Allah Swt. Anugerah terindah yang tidak bisa digantikan dengan apapun, Sayang.” Nenek


Santi mengelus perut Marissa, ia berjongkok hendak mencium calon cicitnya namun Marissa menolak.


“Nenek jangan jongkok. Biar Marissa saja yang jongko ya nek?’


“Insya Allah, Nenek Buyut.” Sahut Aditya.


“Kau harus menjaga cucu dan cicitku Aditya. Kalau sampai ada air mata tumpah di pipinya, kau harus bertanggung jawab pada Nenek.”


“Iya, Nenekku sayang. Aditya tidak akan membuat cucu nenek dan cicit yang ada di sini sedih, Iya kan Sayang?” Marissa mengangguk.


“Sudah, jangan kau pegang terus cicitku, kau bawa Marissa masuk kamar agar dia istirahat.”


“Baiklah, nenek cantik” goda Aditya yang langsung mengundah tawa semua keluarganya. Aditya menggendong Marissa dan membawanya ke kamarnya di antai dua. Sedang Marissa yang diperlakukan manis oleh suaminya merona. Malu pada ketiga mertuanya yang memandangnya dengan senyuman mengembang di bibirnya.


“Mas turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri kok.”


“sudah jangan membantah. Mas tidak mau mendengar penolakan dari siapapun.”


“Tapi aku malu, Mas.”


“Malu? Istriku malu pada siapa?”

__ADS_1


“Mereka memandang kita lho.”


Aditya tidak menghiraukan ucapan Marissa. Ia tetap menggendong istrinya dan membaringkan tubuh istrinya pelan di kasur. Aditya menutup pintu kamar, lalu menguncinya dari dslaam. Setelah itu, ia mendekati Marissa yang sedang memandangnya dengan malu-malu.


“Mas sedih sekali ketika pulang dari masjid melihat kau pingsan, Sayang.”


“Benarkah?’ Aditya mengangguk.


“Jangan ulangi lagi ya! Kalau mau pingsan bilang dulu sama Mas, biar Mas siapkan kasur dan pelukan terhangat untukmu ya?”


Marissa menggeleng.


“Mana ada orang pingsan memberitahu. Kemarin juga sebenarnya aku tidak tahu kalau akan pingsan, Mas. Aku kan hanya pusing sedikit, masa sampai dibawa ke rumah sakit. Memangnya Mas tidak memanggil Mbak Nancy untuk datang ke sini?”


“Mas undang dia, tapi kau tidak-sadar-sadar makanya langsung saja kubopong tubuhmu dan kubawa ke rumah sakit.”


“Terima kasih ya Mas. Mas baik sekali.”


“MAksudnya?” Aditya heran mendengar ucapan terima kasih dari Marissa. Baginya sesuatu yang sudah seharusnya ia lakukan pada keluarganya  tidak perlu mendapat ucaan terima kasih.


“Mas kan sudah menolongku, makanya aku mengucapkan terima kasih.”


“Sayang, itu sudah kewajiban Mas melindungimu. Kau istriku, belahan jiwaku, Sayang. Sakit yang kau rasakan adalah sakitku. Senyummu juga senyumku, penderitaanmu adalah milikku. Kita ini satu, Sayang. meski kita lahir dari ibu yang berbeda, tapi pada hakikatnya kita ini adalah pasangan. Saat satu tidak ada, maka tidak sempurna hidup kita.”


“Terima kasih, Mas. Sudah membuatku bahagia.”


“KAlau ada yang mengatakan istri adalah orang lain yang kebetulan dirawat suami, aku sangat tidak setuju. Tidak etis rasanya jika ada seorang suami mengatakan seperti itu. Pengorbanan istri luar biasa pada seorang suami. Seperti halnya pengorbananmu. Dengan melayaniku di ranjang, kau sedang menyelamatkan


aku dari siksa api neraka, karena kau sudah melindungiku dari perzinaan. Ketika kau melayaniku di meja makan, kau sudah memberikan kemudahan dan keuntungan karena aku tidak harus membayar pelayan.  Dan sekarang kau sedang mengandung anakku, itu artinya kau sedang membantuku menjadi seorang ayah. Posisi yang sangat dirindukan bagi setiap laki-laki.”


“Iya, Mas. Aku sangat bahagia mendapat suami seperti Mas. Sangat pengertian dan penuh kasih sayang.”


“Terus apa hadiahnya untukku hem?”


“Hadiah?”


“Iya. Hadiah atas kebaikanku pada istriku.”


“Mas maunya apa?’


“Em, apa ya  enaknya?’


Aditya baru saja menyentuh wajah Marissa ketika dari luar tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.

__ADS_1


“Nenek tidak mengijinkanmu meminta hadiah apapun dari cucu menantuku, Aditya.”


Marissa dan Aditya saling pandang. Mereka tidak habis pikir pada ucapan Nenek Santi yang seolah-olah tahu isi pembicaraan mereka.


__ADS_2