
Malam kembali menjelang, setelah makan malam Naina pergi ke belakang untuk mencuci piring, selama tinggal disini Naina sudah terbiasa mengerjakan semua tugas rumah tangga seperti menyapu, mencuci piring, mencuci pakaian disungai, dan memasak. Selama tinggal bersama Jonas ia tidak pernah melakukan semua itu karena disana banyak pembantu. Awalnya Naina tidak bisa melakukan pekerjaan rumah itu namun karena ia kasihan melihat nenek Salma yang sudah tua masih melakukan itu akhirnya Naina mulai belajar agar ia bisa menggantikan tugas nenek Salma, Naina ingin nenek Salma yang sudah sangat tua banyak beristirahat saja. Naina juga kadang jengkel melihat Susi yang tidak bisa membantu ibunya namun ia bukanlah siapa-siapa sehingga ia tidak berani melawan Susi.
Saat ingin pergi tidur ke kamar, Naina kaget melihat tubuh nenek Salma sudah tergeletak di lantai.
“Nenek, nenek bangun nek, nenek kenapa ?” Naina mulai panik.
Susi yang mulai terganggu dengan teriakan Naina akhirnya masuk kekamar ibunya itu.
“Eh Siti, kamu kenapa teriak malam-malam begini ? berisik, aku mau tidur,” kata Susi.
“Bu Susi nenek pingsan,” ucap Naina yang sudah berkaca-kaca.
“Aku kira ibu tidur di lantai, bukankah dia sudah terbiasa pingsan karena asmanya ? paling sebentar lagi juga bangun,” Susi benar-benar tidak peduli dengan ibunya.
“Aku kwatir dengan keadaan nenek bu, kita harus bawa nenek ke rumah bu mantri !”
“Merepotkan saja, bawa saja sana sendiri !”
“Aku gak kuat bu mengangkat nenek sendirian,”
“Di gendong dibelakang kamu saja, begitu saja susah !” ketus Susi lagi.
Naina tidak percaya Susi begitu kejam dengan ibunya sendiri, terpaksa Naina menggendong nenek Salma dibelakangnya dengan tertatih-tatih, untung saja rumah bu mantri tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
Di rumah bu Mantri.
“Nenek Salma kenapa Siti ?”
“Dia pingsan lagi bu,”
“Ya sudah bawa dia kedalam !”
“Baik bu.”
Bu mantri membantu Naina membawa nenek Salma. Dia mulai memeriksa nenek Salma.
“Kenapa nafasnya nya sudah tidak ada ?” bu mantri tidak percaya atas apa yang terjadi.
__ADS_1
“Maksudnya ?” Naina sangat kaget.
“Kapan dia pingsan Siti ?”
“Saya gak tau bu ? setelah saya kekamar dia sudah pingsan, dia sering begini,”
“Dia sudah meninggal Siti, dia sudah tidak bernafas lagi,”
“Gak mungkin, nenek gak mungkin meninggal, tadi sore dia baik-baik saja, jangan tinggalkan aku nenek !” Naina mulai menangis.
“Sabar Siti, mungkin ini cara Tuhan agar nenek Salma tidak perlu berlama-lama lagi menderita di dunia,” bu mantri berusaha menenangkan Naina.
“Aku hanya punya nenek Salma bu, bagaimana aku hidup kedepannya, jangan tinggalkan aku nek, hiks...” Naina masih menangis keras.
“Saya akan memberitahukan pada tetangga yang lain untuk membantu pemakaman nenek Salma besok Siti, kamu yang ikhlas ya !”
Sementara itu helikopter Jonas sudah mendarat di pinggir perkampungan itu, Jonas sengaja memarkirkan helikopternya disana agar tidak menimbulkan kegaduhan di kampung. Jonas dan Dimas keluar dari helikopter itu.
“Besok siang jemput kami lagi disini !” kata Jonas.
“Baik pak.” Kata pilot itu.
“Bos, malam ini kita akan melapor dulu ke Kepala Desa sekalian kita menanyakan tentang nona Naina !” kata Dimas.
“Ayo kita kesana !” ucap Jonas.
Dimas menuntun Jonas untuk ke rumah Kepala Desa di sana, sebelumnya Dimas sudah mencari tau seluk beluk desa itu. Kedatangan Jonas di desa itu disambut baik oleh Kepala Desa, apalagi Dimas memperkenalkan Jonas sebagai pemilik perkebunan kelapa sawit di daerah itu. Tentu saja kepala desa merasa terhormat atas kedatangan Jonas. Dimas menjelaskan maksud kedatangannya bahwa mereka mencari Naina.
“Satu bulan yang lalu salah satu warga kami menemukan seorang gadis yang tersangkut dibebatuan sungai desa ini, dia mengalami hilang ingatan dan tinggal bersama orang yang menolongnya,” jelas Jepala Desa.
Jonas merasa menemukan titik terang pencarian istrinya itu.
“Benarkah pak ?” tanya Jonas memastikan.
“Iya pak Jonas, meskipun ia hilang ingatan sekarang, hanya dia orang asing satu-satunya di desa ini,” kata Kepala Desa lagi.
“Dia hilang ingatan pak ? apa lukanya parah waktu itu ?” tanya Jonas lagi.
__ADS_1
“Sepertinya parah pak,” jawab Kepala Desa.
“Apakah wanita ini adalah benar orangnya pak ?” Dimas mengeluarkan HP nya menunjukan foto Naina.
“Benar sekali pak, dia Siti,” ucap Kepala Desa.
“Siti ?” Jonas tidak percaya istrinya di panggil Siti di desa ini.
“Karena kami tidak tau namanya, nenek Salma menamai dia Siti, dia juga sering berkebun sayur setiap hari dan menjajakan sayuran disekitar kampung ini.” Ucap Kepala Desa lagi.
“Apa ? menjaja sayur, berkebun sayur ?” Jonas kaget sekali mengetahui rutinitas istrinya di kampung itu. begitu juga Dimas.
“Antar saya sekarang ke rumah bu Salma !” perintah Jonas yang matanya sudah memperlihatkan tatapan horor.
“Baik pak, mari ikut saya !” Kepala Desa itu takut atas tatapan Jonas.
Mereka akhirnya sampai di rumah nenek Salma. Terlihat rumah nenek Salma sudah ramai oleh tetangga.
“Ada apa ini ?” tanya Kepala Desa kepada salah satu warganya.
“Nenek Salma baru saja meninggal pak Kades, bu mantri dan neng Siti baru saja sampai membawa jenazahnya nenek Salma,” jelas salah satu warga itu.
“Pak Jonas, apa pak Jonas ingin masuk ?” tanya Kepala Desa itu.
“Bos, suasananya tidak tepat untuk kita membawa nona Naina pulang, apalagi dia mengalami hilang ingatan, dia pasti tidak mengenali kita !” kata Dimas.
“Jadi maksud mu aku harus meninggalkan dia disini ?” Jonas mulai kesal.
“Bukan begitu bos, kita beri waktu ke nona Naina untuk mengurus jenazah nenek Salma orang yang sudah menolongnya waktu itu, besok setelah pemakaman kita akan membawa dia !” jelas Dimas.
“Aku ingin menemani istriku malam ini,” ucap Jonas.
“Tentu saja boleh bos, tapi nona Naina tidak akan mengenali bos, kita juga belum tau kondisi nona Naina sekarang sebenarnya, saya takut jika kita memaksakan ingatannya, dia akan syok, ”
“Baiklah, aku akan datang sebagai tamu malam ini, besok setelah pemakaman aku akan membawa Naina secara paksa, setelah aku memeriksa keadaannya ke dokter baru akan ku pikirkan langkah selanjutnya apa,” kata Jonas menemukan solusi terbaik.
“Begitu juga bagus bos,” ucap Dimas.
__ADS_1
“Pak Kades, saya ingin masuk ke dalam,” ucap Jonas.
“Silahkan pak !” Mereka bertiga pun masuk kerumah nenek Salma.