
Di kecelakaan itu, hanya supir truk yang tidak terluka, sementara diantara mereka yang paling parah adalah Tiara. Kecelakaan yang menimpa mereka tempo hari begitu ramai di beritakan. Dari situlah Dirga mengetahui kondisi Tiara. Setiap hari tanpa sepengetahuan siapa pun, Dirga selalu menjenguk Tiara.
Minggu ke-2 Tiara koma, Dirga masih menjenguknya. Saat Dirga menaruh bunga yang dibawanya diatas meja, dia mendengar Tiara memanggil namanya.
“Dirga ?” panggil Tiara yang baru sadar.
“Tiara ? syukurlah kamu sudah sadar, sebentar ya, aku panggil dokter,”
Dirga bahagia Tiara sudah siuman, dokter yang memeriksapun mengatakan bahwa kondisi Tiara makin membaik.
"Aku senang kamu sudah sadar Ra," ucap Dirga penuh syukur.
"Kenapa dia jadi ngomong aku kamu sih ? biasanya juga pakai lo gue, dia lagi main drama apa pagi-pagi gini ? ngapain dia ada di ruang rawat gue ? apes banget habis siuman muka pertama yang gue liat adalah muka dia," batin Tiara.
"Mama sama Papa ku mana ? Naina sama Dewi bagaimana keadaannya?" tanya Tiara.
"Kamu jangan kwatir, Naina sama Dewi sudah siuman 2 minggu yang lalu, mereka baik-baik saja, kamu tunggu di sini ya ! aku akan mengabarkan ke mereka kalau kamu sudah siuman," kata Dirga.
Tiara hanya mengangguk.
Setelah Dirga memberitahukan kepada semua orang bahwa Tiara sudah siuman, Dirga pun langsung pulang tanpa memberitahukan Tiara. Alasannya karena Dirga tidak ingin menjadi pengganggu di temu haru dan temu kangen Tiara bersama orang-orang terkasihnya.
Setelah dua hari siuman, Tiara tiba-tiba merindukan Dirga. Selama itu pula, ia tidak lagi melihat Dirga. Padahal kata perawat yang merawat, Dirga selama 2 minggu Tiara koma tanpa absen seharipun selalu datang ke rumah sakit.
Tiara pun menjadi teringat nasehat Naina dan Dewi waktu sebelum kecelakaan beberapa minggu lalu, Tiara sejenak menimbang-nimbang apakah ia harus melakukan saran itu. Akhirnya Tiara memberanikan diri menghubungi Dirga kembali, HP Dirga berbunyi, Dirga tidak percaya mendapat telpon lagi dari Tiara setelah sekian lama Tiara tidak menghubunginya, Dirga benar-benar senang, rasa gengsinya perlahan sirna.
“Hallo Ra ?”
“Dirga, kenapa kamu gak datang ke rumah sakit lagi, lusa aku pulang,”
“Kamu menunggu aku ?”
“Iya Ga,”
“Kenapa ?”
__ADS_1
“Kamu juga setiap hari datang kesini kata perawat selama aku koma,”
“Jangan membalikkan pertanyaan deh, jawab pertanyaanku tadi !”
“Jawabannya sama dengan jawabanmu”
“Maksudnya ?”
“Kamu kan pintar dari aku Ga, masa gak ngerti ?”
“Kamu masih punya perasaan sama aku ?”
“Hmm, dari dulu aku udah coba menghilangkannya, tapi selalu gagal, cuma aku gengsi, takut kamu tolak lagi”
“Hahaha, beneran, Tiara dengerin aku, aku sayang sama kamu, aku minta maaf telah mempermainkan kamu selama ini, kamu mau maafin aku kan ?”
“Hmm, sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkan kamu, kesini ya Ga hari ini, kalau kamu gak datang, aku gak mau lagi jadi pacar kamu !” Tiara langsung memutuskan sambungan telponnya.
“Pacar ? dia masih nganggap aku pacarnya, aa… aku senang banget, aku datang Tiara, tunggu aku pacarku sayang !” Dirga begitu senang setelah mendapat telpon dari Tiara, dia langsung bergegas ke rumah sakit.
Ceklek
Tanpa mengetuk pintu lagi, Dirga langsung masuk. Ia melihat Tiara sudah duduk di kasur. Dirga langsung berlari memeluk Tiara, menghujami Tiara dengan ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
cup cup cup cup cup cup
Mata, kedua pipi, kening dan bibir Tiara tak luput dari ciumannya.
"Tiara sayang maafin aku ya atas kesalahan aku dulu, aku memang pria brengsek, aku janji akan berubah demi kamu, aku sangat mencintai kamu sayang," ucap Dirga yang sudah memeluk Tiara erat setelah memberitakan ciuman bertubi-tubi tadi.
"Dirga ?"
"Apa sayang ? dengerin aku sayang, aku tersiksa selama ini selalu gengsi dan membohongi perasaan aku sendiri, sekarang aku lega sudah bisa jujur sama kamu, gak ada wanita satupun di dunia ini yang berhasil membuat aku gelisah selain kamu, aku begitu mencintai kamu," ucap Dirga lagi. Dirga kembali menghujami Tiara dengan ciumannya lagi, kini pipi Tiara sudah seperti kepiting rebus.
"Dirga aku..."
__ADS_1
"Sstt, jangan bicara dulu, aku belum selesai ngomong, cinta aku tulus Tiara, sekarang pun kalau kamu minta aku nikahin kamu, aku akan dengan senang hati membawa penghulu ke sini, kamu mau kan jadi istri aku ?" kata Dirga penuh semangat.
"Dirga kamu apaan sih dari tadi nyerocos gak jelas, aku malu..."
"Jangan malu sayang, gak ada siapa-siapa kan sayang disini, aku juga gak akan macam-macam, aku..."
"Kata siapa gak ada orang di sini ? tuh liat !" tunjuk Tiara ke arah sofa.
Dirga mengalihkan pandangannya ke arah tunjukan Tiara. "Astaga ?" Dirga sangat kaget dan melepas pelukannya. Kini Dirga benar-benar salah tingkah sama seperti Tiara yang malu luar biasa.
Ternyata di sofa ada kedua orangtua Tiara, Jonas dan Naina bersama anak mereka, serta Dimas dan Dewi. Setelah Tiara tadi menelpon Dirga, tidak lama kemudian orangtuanya datang lalu secara bersama-sama datang lagi Jonas dan Naina bersama anak mereka juga Dimas dan Dewi.
Mereka sempat mengobrol lama dengan Tiara yang masih duduk di kasur dan semua orang duduk di sofa. Namun semuanya kaget saat Dirga tiba-tiba masuk tanpa mengetuk. Mereka tambah kaget lagi saat Dirga menghujami Tiara banyak ciuman serta menyatakan perasaannya. Sungguh Tiara dan Dirga sekarang merasa mati kutu.
Dirga dan Tiara menunduk malu, semua orang tersenyum penuh arti. Ayah Tiara maju menghampiri Dirga.
"Jadi kamu mau menikahi anak saya ? Apa kamu sadar umurmu berapa ? masih muda juga mikirin nikah," kata ayah Tiara.
Dirga pun berusaha menenangkan diri untuk menghadapi ayah Tiara.
"Meskipun umur saya belum genap 20 tahun om, tapi saya seorang polisi, kedua orangtua saya juga kaya, saya jamin Tiara tidak akan kekurangan apapun jika menjadi istri saya," Dirga berusaha meyakinkan ayah Tiara.
"Kamu pikir menikah cuma perkara materi ? saya dan istri saya juga polisi, anak saya juga polisi, kami juga tidak miskin, masalahnya sekarang bukan itu, kami tidak ingin anak tunggal kami salah memilih pria, apalagi kami tadi mendengar kamu pernah menyakiti Tiara," ayah Tiara sudah melotot horor.
"Saya akan melakukan apa saja om agar om dan tante yakin dengan keseriusan saya untuk menikahi Tiara," ucap Dirga serius.
"Baiklah, karena kita sama-sama polisi mari kita lakukan sesuai profesi kita, jika kinerja kamu bagus maka saya akan izinkan kamu menjadi menantu saya, asal kamu tau saja, saya ini atasan kamu di kantor kepolisian tempat kamu dan anak saya tugas, saya pernah liat kamu di kantor, apa kamu tidak kenal saya ?"
Dirga menggeleng, memang selama ini ia tidak terlalu tau siapa saja atasannya.
"Kalau begitu tunjukan pada saya kinerja mu sebagai aparat kepolisian yang hebat, baru setelah itu kamu boleh melamar anak saya !"
"Baik om, saya jamin om gak akan salah memilih saya sebagai menantu," ucap Dirga dengan percaya diri.
Dua sahabat Tiara yang ada di sana hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum mendengar lamaran dadakan Dirga tadi.
__ADS_1