
Jonas menginjakan kakinya ke rumah reot itu. Jonas tidak percaya istrinya selama sebulan ini berada disana. Apalagi mengingat istrinya bahkan menjajakan sayuran keliling kampung sampai bertanam segala. Jonas saja tidak pernah menyuruh istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga dulu. Jonas sangat kesal mengetahui keadaan Naina tinggal di desa ini selama sebulan.
Saat masuk ke dalam, pak Kades memperkenalkan Jonas kepada semua pelayat, mereka memberi hormat kepada Jonas, namun Jonas meminta pak Kades tadi untuk merahasiakan kedatangannya untuk menjemput Naina karena ia tau kondisi istrinya sekarang. Susi yang dari tadi duduk di dekat jenazah ibunya langsung mendekat ke Jonas, ia gembira pemilik perkebunan kelapa sawit itu datang meskipun ia tidak tau tujuannya apa.
Jonas mengedarkan pandangannya kesemua tempat, ia tidak menemukan Naina. Jonas membisikkan sesuatu ke telinga Dimas.
“Baik bos, saya keluar dulu mencari sinyal,” kata Dimas.
Jonas meminta Dimas untuk mencari tau semua tentang kehidupan Naina di desa ini.
Setelah 10 menit Jonas disana tidak melihat keberadaan Naina, akhirnya Jonas beranjak.
“Saya ingin ke WC, apa disini ada WC ?” tanya Jonas
“Ada dibelakang pak, kebetulan dibelakang ada Siti,” jawab Susi.
“Siti ?”
“Iya pak, dia wanita yang mendiang ibu saya tolong, dia sedang mengurus makanan para pelayat,” mendengar kata-kata Susi membuat Jonas kesal.
“Saya kebelakang dulu,” Jonas lalu pergi ke belakang. Jantungnya benar-benar berdebar. Ia akan melihat sosok wanita yang sudah ia rindukan selama ini. Sosok wanita yang membuatnya bagai mati selama sebulan ini. Ia sangat ingin memeluk Naina untuk melepas rindu.
Jonas melangkahkan kakinya kedapur, ia mendengar suara tangisan dari luar pintu dapur. Alangkah kagetnya Jonas melihat Naina menangis tersedu-sedu sambil mencuci tumpukan piring disana.
“Sayang ?” Jonas tiba-tiba memeluk Naina dari Belakang.
Deg
__ADS_1
Deg
Tangisan Naina tiba-tiba berhenti, jantungnya berdebar. Dia seperti mendapatkan energi. Pelukan Jonas berhasil menghangatkan hatinya yang sempat terluka akibat kepergian nenek Salma. Jiwanya yang hilang bagai kembali. Naina pun menghentikan aktivitas mencuci piringnya, dia menoleh melihat siapa yang tengah memeluknya dari belakang dengan penuh kehangatan itu. Tatapan mereka bertemu.
Jonas menitikkan air matanya karena dapat melihat kembali dengan dekat wajah wanita yang dicintainya itu. Dia melihat wajah Naina yang biasanya begitu ceria berubah menjadi kusut, penampilannya tidak seperti dulu, hati Jonas sakit melihat penderitaan Naina selama sebulan ini.
Sesaat Naina terpukau akan wajah Jonas, tapi Naina langsung menepis perasaannya karena tidak mengingat Jonas.
“Kamu siapa, kenapa tiba-tiba memelukku ?” tanya Naina lalu menjauhkan tubuhnya dari Jonas.
“Apa kamu gak ingat aku sayang ?” tanya Jonas, ia tidak percaya Naina tidak mengingatnya.
“Aku gak kenal kamu, aku…” Naina memegang kepalanya, ia merasakan pusing yang teramat sangat, dibayangan kepalanya dia sedang menusuk seorang pria sampai mati, Naina akhirnya tidak sadarkan diri.
“Sayang, Naina sayang bangunlah !” Jonas panik, dia langsung menggendong Naina membawanya masuk ke dalam. Semua orang kaget melihat Naina pingsan.
“Dia pingsan, kamar rumah ini dimana ?” tanya Jonas dengan Naina yang masih ia gendong.
Jonas kemudian membawa Naina ke kamar yang di tunjuk Susi, di baringkannya Naina disana.
“Maafkan aku sayang, aku gak bermaksud memaksakan ingatanmu, aku bisa gila malam ini, aku harus memeriksa Naina malam ini juga ke dokter, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” Jonas terlihat frustasi.
Tidak lama kemudian Dimas datang, dia masuk ke kamar dimana Jonas dan Naina berada.
“Saya sudah melaksanakan apa yang bos perintahkan tadi,” ucap Dimas.
“Bagus, sekarang telpon helikopter, aku ingin memeriksakan Naina sekarang, tidak ada waktu lagi !” desak Jonas.
__ADS_1
“Tapi nenek Salma bos ?”
“Kamu suruh orang-orang kita saja untuk mengurus segala sesuatu nya disini !”
“Baiklah bos,” Dimas kembali keluar menuruti keinginan Jonas untuk mencari sinyal.
“Aku gak sanggup sayang melihat kamu begini, maafkan aku gak bisa menjagamu, kamu pasti sangat menderita,” Jonas langsung mencium kening istrinya.
Sementara itu Susi merasa bingung atas sikap Jonas tadi yang begitu mencemaskan Naina.
“Pak Kades, kenapa pak Jonas kesini ? tidak mungkin kan dia hanya ingin melayat, kenal ibuku saja dia tidak ?” tanya bu Susi.
“Siti yang ibumu tolong itu adalah istri pak Jonas, dia kesini menjemput istrinya yang sudah hilang selama sebulan,” jawab pak Kades.
“Apa ? pak Kades yakin ?” Susi tidak menyangka kalau perempuan yang ia perlakukan seenaknya selama ini adalah seorang nyonya besar. Tentu saja Susi tidak curiga sedikitpun mengingat Naina masih muda. Susi hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang.
Tidak lama setelah itu suara helikopter terdengar. Semua warga melihat kedatangan helikopter itu. helikopter itu mendarat tidak jauh dari halaman rumah nenek Salma, kebetulan tempat itu lahannya cukup lebar. Terlihat Jonas kembali keluar dengan menggendong Naina.
“Pak Kades, semuanya, saya berterima kasih karena sudah menyelamatkan istri saya, saya harus pergi sekarang untuk memeriksa keadaan istri saya, maaf disaat yang tidak tepat begini saya membuat keributan, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk menyampaikan rasa terima kasih saya pada desa ini terutama pada keluarga mendiang nenek Salma, saya pergi dulu pak,” Jonas lalu membawa Naina keluar.
Di sana sudah ada Dimas menunggu di dekat helikopter, Susi beranjak melihat kepergian Naina.
“Ternyata dia benar-benar kaya, pulang pergi bukan pakai mobil lagi, tapi pakai pesawat kecil itu, bagaimana ini ? bagaimana jika dia menceritakan pada suaminya tentang bagaimana aku memperlakukannya selama ini ? gawat ?” Susi benar-benar egois, dia bahkan melupakan jasad ibunya.
Helikopter itu perlahan lepas landas. Jonas, Dimas dan Naina yang berada di dalam helikopter itu meninggalkan desa itu.
“Saya sudah menghubungi rumah sakit ibukota bos untuk memeriksa keadaan nona Naina, saya juga sudah memerintahkan orang-orang kita mengurus masalah disini,” jelas Dimas.
__ADS_1
“Kerja bagus Dimas.”
Dari tadi Jonas memeluk erat tubuh istrinya seakan enggan melepaskannya. Ia bahagia akhirnya menemukan Naina meskipun Naina tidak mengingatnya. Bagi Jonas yang terpenting Naina sudah ketemu, masalah ingatan Naina akan ia pikirkan nanti.