
Dimas dan Dewi sudah sampai di pasar malam. Setelah memarkirkan mobilnya, Dimas menggandeng tangan Dewi untuk berjalan di sana di tengah keramaian para pengunjung. Dewi sama sekali tidak menolak perlakukan Dimas.
“Kamu mau beli apa disini ?” tanya Dimas.
“Aku gak mau beli apa-apa, aku mau naik itu !” tunjuk Dewi ke arah permainan bianglala.
“Kamu serius ?”
Dewi mengangguk.
“Ya udah ayo aku temenin !” Dimas kembali menggandeng tangan Dewi, jantung Dewi semakin berdebar, baru pertama kalinya dia bergandengan tangan dengan seorang pria, terlebih lagi pria itu adalah calon suaminya.
Dimas sudah membeli dua karcis untuk mereka. Para pengunjung yang ingin menaiki bianglala berbaris menunggu giliran, sampai lah giliran mereka. Dimas dan Dewi masuk ke dalam tempat yang mirip sarang burung tersebut, dimana nantinya akan dibawa berputar seperti kincir angin selama 30 menit.
Bianglala mulai berputar namun sepertinya Dimas dan Dewi tidak menikmati permainan itu, mereka sibuk menikmati gejolak hati masing-masing yang sedang gugup serta salah tingkah.
“Kak Dimas ?” tanya Dewi memecah suasana yang canggung.
“Ada apa Dew ?”
“Kak Dimas udah berapa lama kerja jadi sekretaris om Jonas ?”
__ADS_1
“8 tahun, sejak usia aku 20 tahun, waktu itu aku mahasiswa magang disana,”
“Udah lama juga ya, enak gak sih kak, kerja sama om Jonas ?”
“Awalnya aku gak kuat, tau sendiri kan tingkah si bos ?”
“Terus apa yang bikin kak Dimas betah kerja sama om Jonas sampai sudah 8 tahun lamanya ?”
“Karena kami memiliki sejarah yang romantis,”
“Romantis ?”
“Aku bukan penyuka sesama jenis Dew, bos juga bukan orang kaya gitu, buktinya dia nikah sama Naina,”
“Terus maksud kak Dimas dengan kata romantis itu apa ?”
“Kamu penasaran ya ?” ucap Dimas sambil tertawa.
“Kalau kak Dimas gak keberatan, aku pengen tau, aku penasaran gimana kak Dimas tahan sama sifat arogannya om Jonas,”
“Bos emang arogan tapi gak jahat,” kata Dimas.
__ADS_1
“Di dunia ini cuma Naina dan kak Dimas kayanya yang punya pikiran sama,”
“Kalau kamu dengar cerita aku pasti kamu ngerti !”
“Ya udah ceritain kak !”
“Dengerin baik-baik ya !”
Flashback On
8 tahun yang lalu
Meskipun Dimas punya ayah seorang polisi, dia sama sekali tidak berminat menjadi polisi. Ia lebih memilih kuliah di jurusan bisnis manajemen. Impiannya adalah bekerja di perusahaan besar sekelas Winner Grup. Ia sangat tertarik bekerja disana karena di gaji tinggi dan orang-orang yang bekerja disana adalah orang-orang yang beruntung.
Saat waktu magang telah tiba, Dimas secara ajaib terpilih magang disana. Dimas berhasil masuk ke perusahaan itu dengan skala 1 : 200. Alias dari 200 orang yang di rekomendasikan berbagai kampus untuk magang disana, hanya Dimas yang di terima. Sudah pasti karena Dimas cerdas dan memiliki banyak prestasi.
Dengan semangat yang menyala-nyala Dimas memulai hari pertamanya dengan baik. Dia di tempatkan di bagian keuangan. Sambil bekerja Dimas juga mulai mengakrabkan diri dengan para karyawan. Bahkan mereka sering bertukar informasi. Di dapatkan informasi oleh Dimas bahwa CEO Winner Grup benar-benar orang yang menyebalkan dan harus di hindari. CEO nya yang bernama Jonas Tirta Alvino gosipnya adalah pria terbrengsek yang pernah ada. Dia sering menendang sekretarisnya seenaknya jika tidak puas dengan hasil kerja sekretarisnya.
Kabarnya lagi, tidak ada yang betah menjadi sekretarisnya. Jika sekretarisnya mampu bekerja selama sebulan saja sudah untung, banyak yang langsung ia pecat padahal baru bekerja seminggu. Rumornya juga mengatakan bahwa dia pria jahat yang suka bergonta ganti wanita untuk menjadi teman tidurnya. Hanya 2 hal yang bagus dari CEO Winner Grup tersebut yaitu ketampanannya dan kekayaannya. Dengan kekuasaan yang tinggi, sang CEO mampu membuat lawannya tunduk.
Mengetahui berbagai gosip dan rumor miring tentang si bos, Dimas berharap tidak pernah terlibat dengan CEO nya selama bekerja di sana. Dia bahkan berdoa agar tidak pernah bertemu Jonas.
__ADS_1