
Pagi harinya tidur Jonas mulai terganggu sehingga membuatnya terbangun, ia mendengar suara Naina muntah-muntah di kamar mandi. Jonas pun langsung bergegas menemui istrinya.
“Sayang, kamu gak papa kan ? yang mana yang sakit sayang, kita ke rumah sakit yuk ?” Jonas sangat cemas, ini pertama kalinya Jonas mengurus orang hamil.
“Aku gak papa mas, muntah dipagi seperti ini memang wajar mas,”
“Ini gak wajar sayang, gimana kalau terjadi apa-apa sama kamu ?” Jonas sangat kwatir.
“Baru sehari aku muntah mas udah so sweet banget, aku baik-baik saja suamiku sayang, paling aku begini cuma 3 bulan !” Naina pun memeluk suaminya.
“3 bulan ? astaga mas gak mau selama itu melihat kamu seperti ini,”
“Itu wajar sayang, mas taukan kalau aku calon dokter, hal seperti ini aku sudah tau,” ucap Naina manja.
“Bagaimana kalau kamu gak usah kuliah hari ini sayang?”
“Tapi aku pengennya kuliah mas,” Naina cemberut.
“Bagaimana kalau kamu pingsan ?”
“Ada Dewi di kampus mas, dia bakal jagain aku,”
“Tapi kalian kan beda fakultas ?”
“Tapi kami satu kampus mas, itu kan kampus mas, jadi orang-orang disana pasti akan jaga aku,”
“Kamu tu ya gak mau kalah,”
“Biarin, mas ?”
“Apa sayang ?”
__ADS_1
“Main yuk di ranjang ?”
“Pagi-pagi gini ? yang benar aja deh sayang, kalau mas mah selalu mau tapi kondisi kamu ? mas takut gak bisa nahan diri kalau lagi bercinta sama kamu,”
“Tapi aku lagi pengen, mungkin efek kangen ?” Naina memohon dengan wajah memelas.
“Ya ampun sayang, perasaan dulu kamu menggoda mas gak gini-gini amat, kenapa sekarang mukanya mirip orang yang gak dikasih uang jajan sih ?”
“Gak tau, aku tiba-tiba pengen,” tiba-tiba Naina ingin menangis.
“Tu kan, astaga sayang, kok pagi ini beda banget, ya udah ayo !” Jonas yang agak heran melihat raut wajah istrinya seperti itu langsung memenuhi keinginan istrinya. Baru kali ini Naina menangis memohon untuk ditiduri, dulu-dulu saja tidak pernah saat Naina sering menggoda Jonas.
Olahraga dipagi hari pun dimulai. Jonas berusaha menahan segala nafsunya kali ini, ia tidak ingin karena birahinya yang meletup-letup setiap menyentuh Naina sampai menyakiti bayi dalam kandungan Naina apalagi menyakiti Naina.
Naina sangat menikmati permainan suaminya. Setelah setengah jam berlangsung keduanya akhirnya mencapai puncak kenikmatan itu.
“Jangan lepas dulu mas, aku pengen lagi !” ucap Naina memelas.
“Aku masih pengen, lagian gak papa cuma telat masuk sedikit,” lagi-lagi Naina ingin menangis.
“Udah jangan nangis sayang, apapun yang kamu inginkan akan mas penuhi,” perkataan Jonas membuat wajah Naina kembali berbinar.
Olahraga itu kembali dilakukan Jonas lagi dengan sangat pelan mengingat kondisi Naina yang sedang hamil.
“Mas lebih cepat, kok pelan banget ?” protes Naina.
“Sayang kamu lagi hamil, kamu juga tadi habis muntah-muntah,” ucap Jonas lagi yang masih menjamah tubuh Naina.
Lagi-lagi Naina ingin menangis.
“Iya iya sayang, mas lakuin apa yang kamu inginkan, jangan menyesal ya !” ucapan Jonas barusan malah membuat Naina senang.
__ADS_1
Dari tadi Jonas menahan birahinya karena itu ia melakukannya seperti enggan saja. Namun rengekan Naina membuat Jonas tidak bisa menahan nafsu lagi. Kali ini Jonas akan melakukannya seperti dahulu.
Naina senang setelah mendapat kenikmatan yang di inginkannya.
Naina mengerang lagi, dia sudah klimaks namun karena Jonas keburu bernafsu Jonas tidak ingin berhenti sampai dirinya puas. Naina malah semakin senang akan hal itu.
Karena olahraga itu, mereka lupa akan waktu dan aktivitas pagi mereka yang sudah menanti.
Urusan kampus, urusan kantor apalagi joging, mereka seakan lupa karena urusan sekarang jauh lebih menyenangkan bagi mereka.
Setelah lama waktu berselang, akhirnya Jonas puas juga.
“Mas, makasih ya ?” ucap Naina.
“Kok kamu yang berterima kasih, kan disini aku yang terpuaskan ?” kata Jonas heran.
“Gak tau, rasanya senang aja,”
“Kamu gak capek ?” tanya Jonas.
“Gak mas, aku sangat bahagia,” Naina tersenyum.
“Mas senang kamu bahagia,”
“Sudah jam 8 mas !”
“Tu kan mas bilang juga apa, kalau mas pasti akan lupa waktu, kamu sih goda mas,” Jonas langsung bangun dari tubuh Naina. Dia buru-buru ke kamar mandi mengingat ia banyak pekerjaan dikantor hari ini. Tumben sekali Naina hari ini tidak mengikuti Jonas ke kamar mandi pikirnya.
Keluar dari kamar mandi Jonas melihat Naina tertidur pulas.
“Jadi dia ketiduran, pantas dia gak masuk kamar mandi tadi, ya udah sayang kamu mending tiduran aja, karena aku pasti cemas jika kamu kekampus seperti itu, setidaknya disini banyak pembantu yang menjaga kamu,” Jonas mengecup kening istrinya itu.
__ADS_1
Semenjak Naina hamil entah apa yang merasukinya, dia selalu meminta duluan setiap pagi untuk di cumbu oleh Jonas, Jonas selalu terlihat enggan menyentuhnya karena setiap pagi itu ia melihat Naina muntah-muntah. Rengekan dan tangisan Naina membuat ia selalu kalah dan menuruti keinginan Naina meskipun pada akhirnya dialah yang diselimuti nafsu sampai lupa waktu dipagi hari.