Simpanan Om-om

Simpanan Om-om
Episode 65


__ADS_3

Di rumahnya, Dewi sedang bosan karena setelah ujian nasional dirinya tidak ada kegiatan, sementara masuk kuliah masih lama. Ia ingin keluar bersenang-senang tapi tidak ada yang menemaninya. Mengajak Naina tidak mungkin karena kalau malam begini pasti waktu Naina di khususkan untuk di berikan pada Jonas. Mengajak Tiara juga tidak bisa karena tadi Tiara mengatakan bahwa dia sedang bertengkar dengan kedua orangtuanya. Tapi Dewi sangat ingin jalan-jalan.


Dewi tau bahwa malam ini ada pasar malam tidak jauh dari rumahnya. Dewi pun memutuskan pergi kesana sendirian. Ia bersiap-siap pergi. Dengan menggunakan dres selutut berwarna ungu, penampilan Dewi lumayan cantik. Setelah izin dengan kedua orangtuanya, Dewi lalu mengeluarkan mobilnya dari garasi lalu mengendarainya menuju pasar malam.


Namun di jalan tiba-tiba mobilnya mogok. Dewi keluar dari mobilnya, dia tidak mengerti mengenai mesin-mesin mobil, di sana juga tidak ada bengkel. Saat ia ingin menelpon ayahnya untuk menjemputnya, tiba-tiba……


Tit tit tit…..


Ada sebuah mobil berhenti di dekat mobilnya setelah membunyikan klakson berkali-kali. Pengendara mobil itu keluar dari mobilnya.


“Dewi ?”


“Kak Dimas ?”


“Mobilmu kenapa ?”


“Mogok kak , mana aku gak ngerti mesin mobil lagi,”


“Ya udah, aku telponin bengkel langganan aku aja ya, biar dia ngeliat apa yang terjadi sama mobil kamu,”


“Gak usah kak, aku gak mau ngerepotin kakak !”

__ADS_1


“Gak ngerepotin aku kok, kakak telpon dulu ya biar mereka langsung memeriksa mesinnya di sini aja ?”


Dimas lalu menelpon orang bengkel langganannya untuk datang memeriksa mobil Dewi.


“10 menit lagi mereka kesini ? tunggu aja sebentar !”


“Iya kak, makasih ya kak !”


“Sama-sama, kamu mau kemana ?”


“Jalan-jalan kak ke pasar malam, tadi aku udah izin sama Mama dan Papa,”


Dimas memperhatikan penampilan Dewi dari ujung rambut sampai kaki sehingga membuat Dewi gugup. Dimas hanya tersenyum.


“Gak ada yang aneh kok”


Setelah mengatakan itu suasana menjadi hening beberapa saat, akhirnya kedatangan orang bengkel membuat keheningan sirna. Orang bengkel itu memeriksa mesin mobil Dewi dengan seksama.


“Mesinnya kayanya sudah tua ya mbak ? perlu di ganti nih mbak !” kata tukang bengkel.


“Iya mas, mobilnya emang udah lama, mesinnya udah tua pula, emang harus ya mesinnya di ganti ?” tanya Dewi ke orang bengkel tersebut dengan muka agak kecewa.

__ADS_1


Dimas mengerti apa yang sedang di pikirkan Dewi sekarang. Apalagi kalau bukan biaya mengganti mesinnya yang mahal. Ia tau keluarga Dewi tidak kaya.


“Mas bawa aja mobilnya ke bengkel, ganti aja apa yang perlu di ganti, nanti saya yang membayar tagihannya !” ucap Dimas.


“Jangan kak, gak usah, aku gak enak sama kakak !” kata Dewi.


“Gak usah bilang gitu, kamu kan calon istri aku, sebagai calon menantu yang baik sudah kewajiban aku untuk cari muka sedikit sama calon mertua.” Ucap Dimas dengan santainya.


Deg


Jantung Dewi langsung berdetak kencang, pipinya merona. Kata-kata Dimas berhasil membuatnya seperti kesetrum listrik.


“Nanti kamu bilang aja ke Papa mu kalau calon menantunya yang bayar tagihan perbaikan mobil ini, biar Papamu makin suka sama aku,” ucap Dimas lagi.


“Tapi kak ?”


“Udah, jangan sungkan sama aku, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk calon istri aku, meskipun kita gak saling mencintai, setidaknya kita bisa saling membantu, dengan begitu kita bisa hidup dengan baik kedepannya,”


Dewi hanya diam.


“Kamu ikut aku, biar aku yang ngantar kamu ke pasar malam, aku juga perlu hiburan karena seharian kerja, ayo !” Dimas menarik tangan Dewi menuju mobil.

__ADS_1


Mereka sekarang sudah berada dalam satu mobil. Jantung Dewi masih saja berdebar, ia merasa apakah dia sudah mulai jatuh cinta pada calon suaminya ? pikirnya, tapi ia langsung menyangkal perasaannya karena tau Dimas sama sekali tidak memiliki perasaan kepadanya.


Dimas melajukan mobilnya ke pasar malam, ia ingin menemani Dewi malam ini, anggap saja hiburan melepas lelah sekaligus pendekatan kepada calon istri pikir Dimas.


__ADS_2