Simpanan Om-om

Simpanan Om-om
Episode 86


__ADS_3

"Tanggung jawab sayang, gara-gara kamu mas jadi terangsang !” ucap Jonas.


“Iya mas, aku akan bertanggung jawab, tapi ada yang mau aku minta dari mas sebagai bayaran aku,” Naina tersenyum menggoda.


“Semua milik mas adalah milikmu sayang untuk apa kamu meminta ?” kata Jonas.


“Benarkah ? berarti mas izinin dong besok aku ikut studi tour kampus ke Bali ?” rayu Naina.


“Apa ? gak akan, gak boleh, Naina, kamu sedang hamil, studi tour itu sangat melelahkan, bagaimana kalau kesehatan kamu terganggu, mas juga banyak pekerjaan di Jakarta jadi mas gak bisa menemani kamu,” tegas Jonas.


“Aku kan sudah bilang dari awal sama mas, aku ingin menjalani kehidupan kampus seperti mahasiswa pada umumnya, aku pengen ikut studi tour, lagian disana juga banyak yang jagain aku,”


“Sekali mas bilang gak boleh tetap gak boleh,” ucapan Jonas membuat Naina cemberut.


“Kalau aku memaksa gimana ? selama ini kan aku gak pernah minta apa-apa dari mas, aku cuma mau minta ini !”


“Nai, mengertilah, aku kwatir sama kesehatan kamu dan bayi kita,” Jonas mengelus-ngelus kepala Naina, ia tau istrinya sekarang sedang kesal.


“Pokoknya aku mau ikut, aku mau ikut,” Naina kekeh.


“Gak bisa,”


“Aku mau ikut,”


“Gak boleh,”


“Aku mau ikut,”


“Nai, kalau kamu bantah mas, mas bakal jauh-jauh dari kamu, apa kamu mau kalau mulai malam ini mas tidur di kamar kamu yang dulu ?” gertak Jonas.


Mata Naina mulai berkaca-kaca, ia menggigit bibir bawahnya.


“Oke, kalau mas gak izinin aku, aku juga gak mau dekat-dekat lagi sama mas, biar aku aja yang kembali ke kamar lamaku !” Naina langsung beranjak dari bathub, di lilitnya handuk ke tubuhnya, lalu ia keluar dari kamar mandi. Jonas kaget melihat sikap Naina.


“Nai, kamu mau kemana ?” Jonas beranjak juga dari bathub dan langsung melilitkan handuknya.

__ADS_1


“Mau kembali kekamar lamaku,” ucap Naina setengah berteriak. Naina yang masih terlilit handuk tidak menoleh sedikitpun ke Jonas.


“Astaga Nai, coba lah mengerti kecemasan mas !” sebelum Naina keluar dari pintu kamar Jonas, Jonas dengan seribu langkah langsung mengunci pintu mendahului Naina yang ingin membuka pintu.


“Minggir mas, besok aku tetap berangkat, biarin aja mas gak bolehin aku dekat-dekat mas lagi,” Naina sebenarnya tidak tahan jauh dari Jonas, tapi ia harus bertahan demi mendapat izin.


“Tetap gak boleh Nai, mas akan kurung kamu besok, mas gak akan bolehin kamu keluar rumah,” tegas Jonas.


“Sekalian kurung aja aku di kamar mandi, katanya cinta, tapi ngabulin permintaan kecil aku aja gak bisa, kayanya cuma cintaku yang sangat besar selama ini,”


“Kamu salah Nai, cintaku begitu besar ke kamu, aku sangat mengkwatirkan kamu, itu sebabnya mas gak mau kamu ikut,” ucap Jonas lembut.


“Aku janji sama mas kalau aku gak akan capek, lagian disana juga ada Dewi,” Naina masih memohon.


“Gak bisa Nai, mas gak mau kamu ikut !”


“Kamu jahat Jonas Tirta Alvino,” Naina langsung naik ke kasur dan menyelimuti tubuhnya sampai ke kepala.


“Naina sayang,” Jonas menghampiri istrinya diatas ranjang.


“Sayang bukan seperti itu maksudku, jangan ngambek dong sayang !” Jonas memeluk erat tubuh istrinya yang masih meringkuk di selimut.


“Naina sayang ? Nai ?” Jonas mencoba bicara namun Naina tidak mau menjawabnya.


“Ya ampun, gimana nih, aku kan gak pernah ngerayu perempuan buat bikin dia gak ngambek lagi, selama ini aku yang selalu di rayu perempuan, gimana caranya biar Naina gak marah lagi tapi tetap gak menyuruh dia ikut studi tour ?” batin Jonas.


“Nai, kalau kamu kekeh mau ikut, sekarang juga mas akan telpon pihak kampus agar membatalkan studi tour besok !” ancam Jonas namun hanya bersifat gertakan.


“Bodo amat, mau di batalkan ataupun gak, tetap aja aku gak boleh ikut,” akhirnya Naina menyahut juga.


“Naina sayang, jangan kesal dong sama mas, mas gak bisa liat kamu kesal, mas juga gak tau caranya meredakan kekesalan perempuan,” ucap Jonas.


Hiks...hiks…terdengar suara tangisan Naina.


“Kamu menangis sayang ?” Jonas membuka selimut yang menutup kepala Naina, Naina menangis tersedu-sedu, air matanya begitu deras mengalir.

__ADS_1


“Naina sayang jangan menangis dong, mas gak bisa liat air mata kamu !” Jonas memeluk dan mengelus kepala istrinya.


“Aku mau ikut studi tour mas, mas kan udah janji akan membiarkan aku mengikuti masa kuliah seperti perempuan kebanyakan, dulu aja waktu aku sekolah mas gak pernah ngelarang aku untuk melakukan apapun, aku juga sering studi tour ke luar kota dulu bahkan sampai ke Papua,” ucap Naina sambil menangis.


“Itu beda sayang, dulu kamu gak hamil, mas takut terjadi apa-apa sama janin kamu,” Jonas berusaha merayu istrinya agar Naina tidak jadi ikut.


“Aku janji sama mas setelah studi tour ini aku gak akan lagi ikut studi lain selama aku kuliah, ini yang terakhir mas,”


“Kamu serius ?”


“Aku janji mas, ini yang terakhir,”


“Baiklah, karena ini yang terakhir mas akan izinkan,”


“Beneran mas ?” tanya Naina memastikan.


“Iya sayang, tapi jujur saja perasaan mas kali ini tidak enak ?”


“Itu karena mas kwatir berlebihan, jangan terlalu cepat kwatir mas, nanti mas terkena tekanan darah tinggi,”


“Masih bisa becanda ya istri mas ini, lain kali jangan ngambek lagi ya sayang ? mas gak mau tidur pisah kamar sama kamu,”


“Bohong, mas setiap malam gertak aku kaya gitu buat maksa aku makan,”


“Itu demi kebaikan kamu sayang, kamu mau anak kita terkena gizi buruk karena Mami nya gak nafsu makan terus,”


“Iya juga sih mas, makasih ya mas sudah mengizinkan aku,”


“Sama-sama sayang, nanti kalau pekerjaan mas selesai, mas akan susul kamu ya ke Bali ?”


“Iya suamiku sayang,” kata Naina.


Cup…


Ciuman berdurasi lama di daratkan Naina ke bibir Jonas.

__ADS_1


__ADS_2