Simpanan Om-om

Simpanan Om-om
Episode 80


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama Naina tidak tidur dengan Jonas semenjak mereka menikah, ada sesuatu yang hampa di dalam hatinya. Tadi Naina memang selesai Video Call dengan suaminya, tapi tetap saja ketidakhadiran Jonas malam ini membuatnya susah tidur, dia sudah terbiasa setiap malam dipeluk oleh Jonas.


Begitu pula dengan Jonas, pada malam harinya, dia juga susah tidur di sana, dia sudah terbiasa sebelum tidur selalu bercengkrama dulu dengan istrinya. Situasi ini membuatnya gelisah. Dia bahkan berencana setelah ini setiap ada pekerjaan yang mengharuskannya ke luar negeri atau keluar kota, ia akan selalu membawa Naina. Benar kata Dilan, rindu itu berat.


Di Kampus, Naina dan Dewi mengikuti kegiatan kampusnya dengan baik. Orang-orang memperlakukan mereka sama seperti yang lain, meskipun jarang ada yang mau mendekati mereka.


Sepulang dari kampus di sore harinya, Naina merasa pusing, ia bahkan ingin muntah. Buru-buru ia pergi ke kamar mandi.


Hoeekk...


Hoeekk...


Naina bukan orang yang bodoh, ia tau ciri-ciri apa itu, ditambah lagi ia sudah telat datang bulan. Naina pun buru-buru keluar rumah lagi untuk pergi ke apotik. Di belinya tespek. Setelah sampai di rumah, Naina langsung memakai tespek itu, dia gugup dengan hasilnya, dia sangat berharap bahwa dia hamil. Di bukanya matanya pelan-pelan dan alangkah senangnya saat mendapati ada dua garis di tespek itu.


“Aku hamil, aku hamil anak mas Jonas,” ujarnya langsung memegang perutnya saking bahagianya. Ia pun buru-buru mengambil HP nya untuk mengabari Jonas.


“Tunggu dulu, besok kan mas Jonas akan pulang dari Las Vegas, ah bener, aku bikin jadi kejutan aja kali ya, biar besok waktu mas Jonas pulang, aku langsung bisa melihat ekpresi wajahnya didepan aku, gak jadi deh aku kasih tau mas Jonas, kasih tau Mami Papi aja,” Naina yang awalnya ingin menelpon Jonas mengurungkan niatnya, ia lalu menelpon kedua mertuanya.


Saluran telpon tersambung di HP Ivana.


“Hallo ?” ucap Ivana dari seberang telpon.


“Mami ada dimana sekarang ?” tanya Naina.

__ADS_1


“Dirumah dong sayang, Mami sama Papi lagi duduk di kursi belakang rumah nih,”


“Aku punya berita gembira untuk Mami dan Papi,”


“Apa sayang ?” Ivana penasaran.


“Aku hamil Mi,” ucap Naina dengan senyum cerah secerah mentari hari ini.


“Benarkah ? ya ampun menantu ku sayang, kamu benar-benar top, Mami bangga sama kamu, akhirnya kami akan punya cucu,” Ivana melompat-lompat kecil saking senangnya. Impiannya selama ini tercapai.


“Apa Mami dan Papi senang ?” tanya Naina lagi.


“Tentu saja dong sayang, terima kasih ya sayang, kamu memberikan kami sebuah hadiah yang sangat besar,”


“Kamu tenang aja sayang, rahasia aman, kalau begitu, besok Mami dan Papi datang ke apartemen kalian, Mami juga mau liat muka senang Jonas secara langsung,”


“Iya Mi, aku tutup telponnya dulu ya Mi ?”


“Kamu dan janin dalam kandungan kamu, jaga kesehatan ya sayang ?”


“Mami dan Papi juga jaga kesehatan ?”


“Pastinya dong sayang.”

__ADS_1


Setelah telpon dimatikan, Ivana memberi tau Bagas berita gembira ini.


“Mami benar-benar senang Pi, di usia Mami yang sudah 60 tahun, Mami akan segera punya cucu, keinginan Mami akhirnya tercapai juga,”


“Apalagi Papi Mi, umur Papi aja udah 63 tahun, tua dari Mami, seharusnya kita udah punya cucu banyak, gara-gara anak kita kawin cerai mulu kita telat punya cucu,”


“Gak papa Pi, yang penting menantu kita akan segera memberi kita cucu,”


“Iya Mi, Papi bahagia sekali, pewaris kita akan segera lahir,”


“Besok kita ke apartemen mereka ya Pi, Jonas juga akan pulang besok !”


“Tentu Mi, Mami sediain hadiah yang banyak besok buat menantu kita !”


“Siap Papi,” jawab Ivana antuasias.


Sementara itu Micko yang sudah muak di tahan oleh Jonas benar-benar memutar otaknya agar segera bebas. Kedua orangtua Micko sudah merasa sangat bingung selama ini, anak mereka hilang bagai di telan bumi.


“Bagaimana ini Pah ? dimana Micko ? apakah terjadi sesuatu hal yang bahaya padanya ?” kata Mamah Micko.


“Papah sudah mengerahkan anak buah Papah mencarinya tapi belum ketemu, Mamah tenang saja, dia anak kita satu-satunya, Papah akan membawanya kembali dengan selamat, Papah juga masih bingung apa yang sudah terjadi padanya selama ini,” kata Papah Micko.


Mereka berdua sudah hampir putus asa mencari keberadaan Micko.

__ADS_1


__ADS_2