
Pagi yang cerah kembali menjelang, semalaman Jonas tidak tidur, pikirannya masih kalut, Naina masih belum ditemukan padahal sudah hampir semua korban ditemukan. Untung saja korban banyak yang selamat hanya beberapa yang meninggal. Semalaman Jonas gelisah, hatinya begitu gusar, ia merasakan sesuatu yang teramat sakit didadanya. Bayangan Naina selalu mampir di ingatannya.
“Aku gak bisa hidup tanpa kamu sayang, aku mohon bertahanlah demi aku, dimanapun kamu berada cintaku akan selalu bersamamu,” Jonas duduk di pinggir kapal dengan air mata yang tanpa sadar mengalir. Dimas melihat itu dari kejauhan.
“Seumur hidupnya dia tidak pernah menangis, aku sangat yakin dia sangat kacau sekarang, dia sangat mencintai nona Naina, melihatnya tersiksa begitu membuatku sakit hati, dia adalah orang yang sangat baik, aku tidak tega melihatnya,” batin Dimas.
Tubuh Naina tersangkut di antara bebatuan besar. Di sana terlihat seorang nenek tengah berjalan menuju sungai, dia sepertinya ingin mencuci.
“Astaga !” Nenek itu kaget melihat Naina sehingga cuciannya tidak sengaja terjatuh.
Nenek itu dengan tergesa-gesa menghampiri Naina.
“Ya Allah, ada orang, apa dia masih hidup ? atau sudah mati ?” Nenek itu dengan tenaganya yang tidak terlalu kuat berusaha menarik Naina kedaratan, untung tubuh Naina kurus jadi nenek itu tidak terlalu kesulitan membawa Naina ke pinggir sungai.
“Dia masih bernafas, siapa dia ? darimana asalnya ? kenapa bisa sampai kepedalaman seperti ini ? apa itu ?” Nenek itu melihat bekas darah di paha Naina.
“Seperti darah orang hamil ? aku harus mencari bantuan,” tidak lama kemudian kebetulan sekali ada bapak-bapak yang datang ingin pergi mandi. Nenek itu meminta bantuan ke bapak-bapak tadi.
Desa itu adalah salah satu desa terpencil di pedalaman Sumatra Utara, masyarakatnya masih tradisional bahkan mandipun mereka masih disungai. Sinyal juga susah sekali ada di tempat itu. Rata-rata warga desa bekerja sebagai pekebun dan petani juga sebagai buruh sawit di perkebunan sawit yang beberapa kilometer jauh dari desa mereka. Nama Desa itu adalah desa Blambangan.
Di desa itu hanya ada sebuah puskesmas kecil dimana dokter pun tidak ada, yang ada hanya seorang mantri dan seorang perawat yang usianya sudah 50 an tahun. Naina di bawa nenek dan bapa-bapak itu ke puskesmas.
“Saya menemukan dia di sungai bu mantri, dia sepertinya masih hidup,” kata nenek Salma. Nenek itu bernama Salma.
__ADS_1
“Kami akan memeriksanya nek, nenek Salma tunggu saja diluar !” Di desa itu semua masyarakat satu kampung saling mengenal dan tau nama para penduduknya. Nenek Salma akhirnya keluar bersama bapak Didit, bapak yang menggendong Naina tadi.
“Siapa dia nenek Salma ?” tanya pak Didit.
“Saya tidak tau pak Didit, tadi saya mau mencuci, saya melihatnya tersangkut di bebatuan, dia sangat beruntung tidak di makan buaya, bapak Didit tau sendiri kan sungai kita itu banyak buayanya, kita saja selalu berhati-hati saat mencuci dan mandi,” jelas nenek Salma.
“Semoga dia baik-baik saja ya nek !”
“Iya pak Didit.”
Setelah 15 menit bu mantri memeriksa Naina, akhirnya bu Mantri keluar menjelaskan keadaan Naina ke bu Salma dan pak Didit.
“Wanita itu hamil nek, tapi sayang janinnya tidak selamat, dia keguguran, luka di kepalanya juga sangat parah, saya takut kalau dia akan geger otak,” ucap bu Mantri.
1 bulan Kemudian
Semua korban telah ditemukan, kecuali Naina. Hal itu membuat Jonas kembali mengamuk di bandara. Penyebab pesawat meledak juga sudah ditemukan, sekarang polisi sedang menyelidiki siapa yang menaruh bom di mesin pesawat secara diam-diam sehingga membuat pihak bandara tidak sadar.
“Jadi kalian mau mengatakan kalau istriku mati dimakan hiu, itu sebabnya tubuh istriku tidak ditemukan ?” Jonas merasa geram ketika pihak bandara mengeluarkan dugaan bahwa Naina sudah meninggal hanya saja jasadnya tidak di temukan.
“Bukan begitu maksud kami pak, kami…..”
“Sudah sebulan kalian melakukan pencarian, tapi kenapa hanya tubuh istriku yang tidak ditemukan?” Jonas semakin marah.
__ADS_1
Tiba-tiba Dimas menerima telpon. Orangtua Dewi yang menelpon. Dimas pun mengangkatnya.
“Apa ? apa kamu yakin Dew ?” Dimas kaget ternyata yang bicara adalah Dewi, setelah koma selama 1 bulan akhirnya Dewi siuman juga. Dewi pun menjelaskan semuanya pada Dimas.
Awalnya Dimas senang setelah 1 bulan koma akhirnya Dewi siuman tapi ia kembali kaget kala Dewi mengatakan bahwa Naina tidak ada di dalam pesawat saat pesawat itu lepas landas.
“Iya Dew, kami akan segera kesana !” Dimas menutup telponnya, ia lalu menghampiri Jonas yang masih marah-marah kepada orang-orang bandara itu. ia membisikkan sesuatu ketelinga Jonas.
Sontak saja Jonas kaget.
“Kamu yakin Dim ?” tanya Jonas serius.
“Jika bos tidak percaya, ayo kita kerumah sakit sekarang menemui Dewi, dia sudah siuman dari tadi pagi !”
“Baiklah, ayo cepat kita kesana !” Mereka pun pergi ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit mereka langsung menuju ruang rawat Dewi, disana mereka melihat orangtua Dewi masih berada di dalam. Dewi menangis menjelaskan peristiwa itu pada Jonas. Tentang pesan yang ia terima dan tentang detik-detik meledaknya pesawat.
“Maafkan aku om ? seharusnya sebelum lepas landas aku menelpon kalian untuk memastikan apakah benar Naina tidak jadi ikut dan sudah pulang ke apartemen,” kata Dewi sambil menangis.
“Dimas, kamu kerahkan semua anak buah kita, cari keberadaan Naina mulai dari bandara, cari jejaknya !” perintah Jonas.
“Akan saya laksanakan bos,” ucap Dimas.
__ADS_1
“Siapa kali ini yang ingin melukai Nainaku, kurang ajar, pasti dia juga pelaku yang meledakkan pesawat itu,” geram Jonas.