Simpanan Om-om

Simpanan Om-om
Episode 74


__ADS_3

Di Ruang CEO


“Utusan-utusan perusahaan yang datang sudah menunggu anda di ruang meeting bos, mereka sudah tidak sabar mempresentasikan proposal mereka,” kata Dimas.


“Biarkan mereka menunggu 10 menit lagi, kita adalah rajanya Dim, mereka harus siap menunggu kita lebih lama, jadi tidak usah terburu-buru,” ucap Jonas santai. Jonas masih berkutat di dokumen-dokumen yang ditanda tanganinya. Ia seakan tidak memperdulikan presentasi penting itu.


“Baik bos, kira-kira untuk menangani proyek kita yang sekarang, perusahaan mana yang akan bos pilih ?” tanya Dimas.


Dimas sangat memahami Jonas, bos nya itu tidak peduli dengan proposal siapa yang terbaik, bos nya hanya fokus tentang perusahaan mana yang membuatnya senang, entah dari segi manapun. Terbukti dengan penanganan proyek-proyek terdahulu. Jika perusahaan yang menangani proyek Winner Grup bermasalah, Winner Grup akan langsung mengambil alih. Itu dulu.


“Proposal yang terbaik, dia yang akan menang,” ucap Jonas.


“Apa bos yakin ?” tanya Dimas tidak percaya.


“Memang seharusnya begitu kan peraturannya ?”


“Benar sih bos,” Dimas senyum-senyum sendiri.


“Kenapa kamu ? ada yang aneh denganku ?” tanya Jonas heran


“Bos, saya akan mengatakan sesuatu pada bos, tapi bos jangan marah ?”


“Mengatakan apa ?”


“Setelah saya mendapatkan daftar puluhan perusahaan yang akan memperebutkan proyek ini, saya seperti biasanya menyelidiki mereka bos,”


“Lalu hasil penyelidikanmu apa ?”

__ADS_1


“Mereka masih menggunakan taktik lama bos, ini daftar perusahaan yang akan menemui bos setelah presentasi nanti,” Dimas memperlihatkan file nama perusahaan itu kepada Jonas dengan tablet kerjanya.


“Jadi mereka masih berpikir akan menyogokku dengan berbagai wanita ?”


“Benar bos, meskipun mereka tau bos sudah menikah, tapi mereka masih belum tau kalau bos bukan seperti dulu lagi,”


“Kalau begitu, biarkan saja mereka menemuiku, perusahaan manapun yang menemuiku langsung kamu hapus saja dari daftar kolega kita !” tegas Jonas.


“Baik bos”


“Berani-beraninya mereka membandingkan pernikahanku sekarang dengan pernikahan ku yang terdahulu,” geram Jonas.


Ya, meskipun dulu Jonas telah resmi menikah dengan Imelda dan Kirana, namun taktik lama itu selalu mempan saat di suguhkan padanya. Hal itu Jonas lakukan karena tidak mendapatkan kepuasan dari istri pertama dan keduanya itu.


Tak tanggung-tanggung, pimpinan perusahanaan kolega Jonas bahkan banyak menyediakan berbagai wanita untuk di suguhkan pada Jonas mulai dari perawan polos dan perawan penggoda sampai wanita malam yang benar-benar ahli dalam urusan ranjang. Jonas yang berharap akan mendapatkan kepuasan dari wanita-wanita yang ditawarkan padanya langsung kecewa dan memasangkan wajah muaknya karena wanita-wanita itu bahkan lebih buruk dari dugaannya.


Dia sekarang sudah sangat puas dengan pernikahannya, jadi tidak ada alasan lagi baginya untuk melakukan kebiasaan gilanya itu. Naina jauh segala-galanya dari yang lain, dia juga sangat mencintai Naina.


Semua utusan perusahaan tunduk memberikan hormat kepada Jonas saat Jonas masuk melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya di ruang meeting. Jonas hari ini hanya diam memperhatikan, sementara yang memberikan arahan sudah dia serahkan kepada Dimas. Dimas mempersilahkan utusan-utusan untuk maju satu-persatu mempresentasikan proposal terbaik mereka. Dimas meminta agar presentasi yang di lakukan langsung keintinya dan tidak boleh bertele-tele agar mempersingkat waktu.


Setelah kurang lebih dua jam, akhirnya meeting selesai. Jonas langsung meninggalkan ruang meeting, sementara Dimas, tidak usah ditanya lagi, beberapa dari para utusan perusahaan itu mendekatinya agar memberikan waktu kepada mereka menemui Jonas. Mereka kaget karena Dimas langsung mempersilahkan mereka masuk secara bersamaan menemui Jonas, padahal mereka hanya ingin masuk sendiri-sendiri karena apa yang mereka bicarakan adalah hal yang bersifat sogokan. Namun mereka tidak bisa mundur lagi, karena jika mundur, mereka takut tidak mendapatkan kesempatan lain lagi.


Kini mereka sudah di persilahkan masuk ke ruangan CEO. Dengan senyum devilnya, Jonas berpura-pura ramah dan menanyakan keperluan mereka.


“Bukankah presentasi sudah selesai, ada apa kalian ingin bertemu denganku ?” tanya Jonas kepada para utusan itu, semua terlihat sangat terintimidasi oleh senyum penuh arti yang di perlihatkan Jonas.


“Perusahaan kami ingin bernegosiasi secara pribadi dengan bapak,” salah satu utusan memberanikan diri menyampaikan maksud dan tujuannya sehingga mendapatkan tatatapan tajam dari Jonas.

__ADS_1


“Perusahaan kami juga ingin bernegosiasi, pimpinan kami bersedia memberikan tawaran yang bapak sukai,” ucap utusan yang satunya lagi.


“Jika perusahaan kami bisa ikut sedikit saja dalam proyek ini, maka pimpinan kami….”


Belum selesai utusan satunya lagi mengeluarkan apa yang ingin dikatakannya, Jonas sudah menyela pembicaraannya.


“Apa kalian ingin menawarkan kehangatan ranjang untukku seperti yang biasa pimpinan kalian lakukan ?” ucap Jonas dengan nada bicara sinis dan tatapan tajam.


“Itu bisa di atur pak, jenis wanita apapun yang bapak inginkan, kami akan…” ucapan utusan itu di sela lagi oleh Jonas.


“Jadi kalian ingin mengatakan bahwa istriku tidak mampu membuatku puas diranjang ?” kata Jonas mengintimidasi lagi.


“Bukan begitu, kami…”


“Apa kalian tidak tau kalau pesta pernikahanku tahun ini sangat meriah ? kalian juga sudah melihat seperti apa wajah istriku, tidak ada di dalam dirinya yang membuatku tidak puas,” ucapan Jonas semakin sinis saja.


“Kami hanya…”


“Beraninya kalian menghina istriku, apa kalian tau, apa yang kalian bicarakan sekarang secara tidak langsung telah menghina istriku yang sangat kucintai, kalian sudah bosan hidup ya ternyata,” kata-kata Jonas ini membuat bulu kuduk mereka merinding.


“Pak kami…”


“Dimas...” Jonas memanggil Dimas yang sudah stand by di luar pintu. Dimas pun langsung masuk.


“Ada apa bos ?” tanya Dimas yang sebenarnya tau apa yang akan di perintahkan bosnya.


“Catat nama perusahaan mana yang mengutus mereka, putuskan semua jenis kerja sama dengan perusahaan mereka ini, beraninya mereka menghina istriku,” kata Jonas dengan tegas.

__ADS_1


“Baik bos.”


Dimas lalu memaksa para utusan itu keluar serta melaksanakan apa yang diperintakan Jonas padanya. Para utusan itu sangat ketakutan dengan apa yang dikatakan Jonas tadi.


__ADS_2