
Dizzo Alfred Thomas, siapa yang tidak kenal pria tampan berusia 38 tahun ini. Di Eropa dia terkenal sebagai raja bisnis. Selain memiliki bisnis property berupa banyak gedung apartemen, hotel, dan aset-aset lain, dia juga memiliki usaha judi terkenal tetapi tidak ilegal di hampir seluruh negara maju Eropa.
Dizzo asli berdarah Amerika. Kingdom Group yang berada di bawah naungannya adalah perusahaan nomor satu di dunia. Hidup mewah bergelimang harta, di kelilingi wanita-wanita cantik, tak membuat Dizzo berpuas diri. Dia tidak pernah kalah dalam menginginkan sesuatu. Hanya sekali saja dia kalah, tanah yang dia incar di pelelangan pengadilan Spanyol, di menangkan oleh Winner Grup. Harga diri Dizzo terinjak-injak karena kalah untuk pertama kalinya.
Dizzo yang juga ketua mafia kejam di Amerika menyuruh anak buahnya menyelidiki pemilik dari Winner Grup. Semua informasi berhasil di dapatkan, itu sebabnya Jonas dan Naina berhasil di culik.
"Kenapa orang Indonesia itu belum memberikan kabar?" tanya Dizzo dalam bahasa Inggris Amerika. Suara Dizzo terdengar dingin dan menyeramkan, padahal dia hanya bertanya pada Leon, tangan kanannya sekaligus orang yang dia percayai di perusahaan maupun di geng.
"Mungkin mereka mengira kita hanya menggertak, apa perlu kita beri peringatan, Bos?" Leon berdiri di depan meja kerja Dizzo.
"Atur saja!" jawab Dizzo.
__ADS_1
"Baiklah, saya jamin anda akan mendapat kabar segera." Leon mengeluarkan handphone nya, ingin menelepon seseorang. "Lakukan peringatan tingkat satu!" titah Leon pada orang itu.
Dalam geng mafia mereka, ada tiga tingkatan peringatan yang selalu mereka gunakan untuk mengancam. Tingkat pertama adalah menyiksa, kedua adalah membunuh keluarga yang di siksa, ketiga adalah membunuh tawanan.
"Pastikan paling lambat aku dapat jawaban besok, aku tidak sabar ingin mencicipi tubuh gadis cantik itu. Untuk malam ini aku akan bersabar," kata Dizzo.
"Bos ingin tidur dengan siapa malam ini?" Biasanya kalau Dizzo merasa kesepian dia akan meminta Leon mendatangkan salah satu simpanannya.
"Apa Bos ingin saya melenyapkan simpanan-simpanan Bos itu?"
"Tidak perlu, ganti saja mereka, cari barang bagus," titah Dizzo. Setiap tahun, Dizzo selalu mengganti-ganti simpanannya jika dia bosan. Tidak tanggung-tanggung, sekali ganti, Leon menyuguhkan 25 wanita cantik. Tahun ini sudah ada 24 wanita, hanya satu yang kurang.
__ADS_1
"Baiklah, Bos." Leon segera keluar dari ruang kerja Dizzo.
Dizzo beranjak dari ruang kerjanya, dia masuk ke kamar pribadinya. Kamar pribadi itu tidak pernah masuk satu orang wanita pun, jika Dizzo ingin bermain, dia memilih kamar lain.
Dizzo merebahkan dirinya. Dia menutup matanya dan mengingat kembali mimpi yang sudah lima tahun ini menghantuinya. "Wajahnya benar-benar mirip wanita di dalam mimpiku. Sungguh aneh." Dizzo memejamkan matanya. Dia mengingat kembali mimpinya. Dalam mimpi, Dizzo masuk sebuah rumah sakit jiwa yang besar di kota New York, dia gila karena kecanduan obat-obatan terlarang. Di sana dia bertemu seorang wanita depresi yang selalu di hantui oleh kejahatannya. Mereka bisa di katakan berteman, hingga tua dan Dizzo meninggal terlebih dahulu di rumah sakit jiwa itu.
Setelah bermimpi demikian, Dizzo tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan terlarang, seperti narkoba, sabu-sabu, dan minuman-minuman keras. Jika pun minum, dia hanya minum anggur tetapi tidak sampai mabuk. Namun, hobinya bersenang-senang dengan wanita cantik tidak bisa dia lepas.
"Aku harus memilikimu, Keisha Inadra Alvino," tekat Dizzo.
Bukan hanya Dizzo yang bermimpi demikian. Kaisar, Ariella, Azka, Olivia, Naysila dan Dika juga bermimpi sama, tetapi tidak mereka hiraukan karena mereka anggap bunga tidur. Mereka tidak tahu, itu adalah masa depan yang sudah terjadi tetapi Keisha mencoba untuk mengubahnya.
__ADS_1