
Setelah keluar dari kamar Naina, Jonas masuk ke kamarnya untuk mengambil HP nya yang sedang di isi dengan daya baterai, dilihatnya baterainya sudah terisi penuh. Jonas lalu menghidupkan HP nya, deretan panggilan tak terjawab langsung berjejer di layar HP Jonas. Hanya satu nomor yang ia telpon balik, yaitu nomor Papinya.
Drt….Drt…..
“Anak tengil, akhirnya nomor mu aktif juga, kamu darimana saja hah ?” ucap sang Papi dari seberang telpon sana dengan nada cemas bercampur kesal.
“Maaf Pi, HP ku baterainya baru terisi, dari tadi sore aku lelah karena baru pulang dari London,” ucap Jonas dengan santainya.
“Oleh-oleh yang kamu bawa dari London kali ini benar-benar hebat ya sampai bikin kepala Mami dan Papi mau pecah ?”
“Maaf Pi karena gosip itu bikin Mami dan Papi darah tinggi, tapi semua yang di berita itu tidak benar, aku sekarang sedang berusaha meredam berita itu juga mencari siapa dalang di balik itu semua.”
“Tidak benar apanya, foto-foto yang tersebar di internet itu mukamu semua, kapan sih kamu berhenti dari kebiasaan gilamu itu, Papi disini juga kelimpungan membantu meredam gosip itu, mana gadis itu daun muda lagi, setidaknya cari yang dewasa kenapa ?”
“Gadis itu tidak seperti yang semuanya pikirkan, tau ah, susah ngomong di telpon, ini aku sekarang mau ke rumah nemuin Mami dan Papi,”
“Ya sudah, kami tunggu secepatnya !”
Setelah mematikan sambungan telpon, Jonas lalu bergegas pergi ke rumah orang tuanya.
Di Ruang Tamu rumah Orangtua Jonas.
“Apa ?” ucap Mami dan Papi Jonas bersamaan karena kaget.
__ADS_1
“Tidak usah kaget gitu kali Mi Pi !” ucap Jonas.
“Bagaimana tidak kaget, kamu masih waras kan ? dia itu masih kecil, bagaimana mungkin kami percaya bahwa gadis itu pacarmu ?” kata Papi.
“Aku serius kali ini Mi Pi, aku sungguh mencintainya, bahkan aku ingin menikahinya setelah semua berita ini teratasi,” kata Jonas lagi.
“Aduh Jonas, dia itu masih muda, bagaimana kalau dia jadi janda muda ? Papi tidak percaya kalau kamu bisa cinta sama dia ? ” Papi tau bagaimana Jonas, dia tidak pernah jatuh cinta sampai sekarang.
“Terserah Papi dan Mami, aku mencintainya karena suatu alasan, Mami dan Papi tidak usah menentang aku, bukannya Mami dan Papi mau cucu, aku akan kasih kalian cucu, aku janji !” ucap Jonas serius.
Sontak saja perkataan Jonas berhasil membuat Bagas dan Ivana langsung berubah ekpresinya. Mereka yang sudah sangat tua memang begitu mendambakan cucu. Tawaran Jonas kali ini sangat menggiurkan. Perkataan Jonas itu bahkan belum pernah mereka dengar saat Jonas akan menikah dengan Imelda dan Kirana dulu.
“Apa benar kamu ingin memberikan kami cucu ? tapi Mami dan Papi tidak mau dengar berita perceraianmu lagi untuk ketiga kalinya !” kata Mami.
“Ya sudah, Mami dan Papi kali ini percaya, ini yang terakhir kalinya Jonas ?” Mami berusaha percaya pada kata-kata Jonas.
“Iya aku janji dengan kalian.”
Setelah mendapatkan kepercayaan dari orangtuanya, Jonas pamit pulang. Bukan pulang ke apartemen, tapi pulang ke hotel karena disana Dimas sudah menunggu bersama dengan anak buahnya yang lain.
Di kamar Hotel
“Bagaimana ?” tanya Jonas
__ADS_1
“Bos bisa cek di internet dan media lainnya, semua berita itu sudah hilang, tapi...” ucap Dimas ragu.
“Tapi apa ?” tanya Jonas lagi.
“Meskipun berita itu sudah hilang, tapi masih ada bersarang di otak para pembacanya, saya kwatir kalau nona Naina keluar rumah, orang-orang langsung mengenalinya,”
“Itu bisa aku urus, aku bisa mengajaknya pergi jauh dari Indonesia untuk sementara waktu, lalu bagaimana dengan Imelda dan Micko ?”
“Kami sampai sekarang belum bisa melacak keberadaan mereka berdua. Tapi kami sudah mendapatkan informasi mengenai Micko, memang benar dia berada di London bertepatan dengan bos dan nona Naina di sana, sekarang Micko juga ada di Jakarta”
“Micko berani main-main denganku, cari mereka berdua sampai ketemu !”
“Baik bos.”
Sementara itu Micko dan Imelda yang sedang berada di apartemen milik Micko merasa kesal karena berita itu sudah lenyap seketika di internet.
“Bagaimana ini Ko ? apa yang harus kita lakukan sekarang ?”
“Apalagi ? kalau mereka tidak mempan dengan bom pertama, bom kedua harus kita lempar, kita tunggu suasana tenang dulu, aku akan lempar bomnya di waktu yang tepat !”
“Jonas pasti sudah tau kalau ini perbuatan kita, artinya kita harus sembunyi untuk sementara kan ? bagaimana kalau Jonas menggunakan keluarga kita untuk memancing kita keluar dari persembunyian ?” tanya Imelda cemas.
“Semenjak aku mulai berperang dengan Jonas, aku sudah membuang perasaan cemasku, meskipun orang-orang di sekitarku dibunuhnya, aku tidak akan bergeming sedikitpun, dan kamu, harus mengikuti pemikiranku, mengerti ?” ucap Micko dengan wajah yang tidak mengenal takut.
__ADS_1
“Baiklah, aku percaya padamu.” Imelda sekarang sudah tidak bisa mundur lagi, ia akan tetap maju meskipun akan berdampak hebat pada hidupnya nanti.