
Di rumahnya, Dimas masih memikirkan bagaimana bos nya itu mendapatkan video itu. Ia juga tidak menyangka kalau bos nya yang dikira nya jahat ternyata juga punya hati. Dimas sangat bersyukur di tolong oleh Jonas di saat-saat menyedihkan baginya saat itu. Kata-kata bosnya dulu teringat oleh Dimas “jangan menilai seseorang dari sampulnya” kata-kata itu terbukti benar, buktinya adalah Jessica, yang terkenal baik olehnya ternyata menikamnya dari belakang.
Dimas mengumpulkan keberaniannya untuk datang ke kantor menemui Jonas. Ia ingin mengucapkan terima kasih dan minta maaf kepada Jonas. Meskipun nanti Jonas menendangnya keluar setidaknya ia sudah menyampaikan niat baiknya.
Saat Dimas sampai di depan ruangan Jonas, Dimas terkejut melihat meja dan kursi sekretaris CEO nya kosong, apakah Jonas belum menemukan penggantinya ? Dimas memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Jonas.
Tok tok tok
“Masuk !” ucap Jonas dari dalam.
Dimas membuka pintu itu, ia melangkahkan kakinya ke dalam mendekati meja Jonas. Jonas masih fokus dengan pekerjaan di laptopnya. Sejenak Jonas melihat kearah Dimas.
“Ada apa kamu ke sini ? bukankah kamu sudah mengundurkan diri ?” ucap Jonas sinis.
“Saya mau mengucapkan terima kasih kepada bapak atas pertolongan bapak waktu itu, saya juga ingin minta maaf kepada bapak,”
“Kesalahan apa yang kamu buat sehingga kamu minta maaf ?”
“Saya sudah menilai seseorang dari sampulnya,”
“Lalu ?”
“Saya mau minta maaf,”
“Apa keuntungan ku jika memaafkan mu ?”
__ADS_1
“Tidak ada pak,”
“Lalu apa imbalan yang kamu berikan kepada ku sebagai tanda terima kasihmu ?”
“Apa yang bisa saya lakukan untuk bapak ?”
“Pertama jangan panggil aku bapak, aku merasa tua dipanggil bapak !”
“Lalu saya harus memanggil anda apa ?”
“Terserah asal jangan bapak !”
“Kalau saya panggil bos, apa tidak masalah ?”
“Terserah !”
“Anda serius ?”
“Malam itu aku berada di Club Malam itu, aku melihatmu mengikuti dua orang yang sedang memfitnahmu, aku merekam kejadian itu, aku tidak berniat membantumu karena sikapmu padaku tempo hari, tapi karena aku masih punya hati, akhirnya aku membantu kamu, sekarang aku tanya, apa jadinya jika waktu itu aku tidak datang bersama pengacaraku di persidangan itu ?”
“Saya pasti akan dipenjara selama 10 tahun bos,”
“Itu kamu tau, di penjara selama 10 tahun atau bekerja kepadaku yang lebih baik ?”
“Dua-duanya terdengar buruk bos,”
__ADS_1
“Kamu mengatakan apa ?”
“Tidak ada bos.”
Jonas menatap Dimas dengan mata tajamnya.
“Aku benci wanita, itu sebabnya aku hanya menganggapnya mainan, kekuranganku hanya satu, aku tidak menyukai wanita. Kamu hanya perlu bersabar terhadapku yang selalu tidak berselera dengan wanita, selebihnya bekerja denganku sangat mudah,” ucap Jonas.
“Apa penyebab bos benci wanita ? ibu bos sendiri wanita ?” tanya Dimas.
“Ketiga, jika aku berkata sesuatu, jangan banyak bertanya, paham ?”
“Baik bos,”
“Sekarang , apa kamu menerima tawaranku, ini terakhir kalinya aku menawarkannya ?”
Dimas sejenak berfikir menimbang-nimbang, pendapat bos nya agak benar sedikit, wanita adalah racun dunia, mereka selalu memperdaya pria, tidak apalah Dimas dijadikan oleh bosnya sebagai perantara pencari mainan untuk bosnya di kala lelah.
“Baik bos, saya bersedia,” ucap Dimas dengan yakin.
“Bagus, pilihan yang tepat, mulailah bekerja hari ini, 2 hari lagi carikan aku wanita lagi !”
“Apa ?”
Dimas kaget mendengar kata itu keluar lagi dari mulut bosnya. Tapi ia sudah terlanjur mengiyakan permintaan sang bos. Awalnya Dimas berniat bekerja disana selama magang saja, tapi lama-lama ia nyaman bekerja dengan Jonas karena semakin ia mengenal Jonas, Jonas ternyata tidak seburuk yang orang lain katakan, satu saja kekurangannya, selalu tidak berselera disentuh wanita, Dimas juga tidak tau apa alasannya. Dimas pun sudah terbiasa dengan sifat sang bos. Bentakan, komplen dan amarah bosnya sudah menjadi makanan sehari-harinya namun Dimas berhasil menanggapinya dengan santai. Jonas hanya sebentar jika marah, besoknya dia sudah melupakannya. Itu adalah alasan mengapa Dimas sangat nyaman bekerja pada Jonas sampai sekarang. Dia bahkan berencana bekerja pada Jonas sampai mereka kelak menua. Dimana lagi dia menemukan sang bos dengan karakter menarik pikirnya tentunya Dimas selalu di gaji dengan bayaran tinggi. Sungguh bagus pikir Dimas.
__ADS_1
Flashback Off