
Pagi hari Dimas baru sampai di Jakarta. Karena rumah Tiara lebih dekat, Dimas akhirnya mengantar Tiara dulu. Pintu pagar rumah Tiara di buka oleh satpam dan mobil Dimas masuk. Dimas memberhentikan mobilnya di halaman rumah Tiara. Mereka baru turun.
“Mana orangtuamu ? aku akan menjelaskan semuanya kepada mereka,” tanya Dimas.
“Mereka gak ada di rumah kak, mereka sedang tugas,” jawab Tiara.
“Tugas kemana ?” tanya Dimas lagi.
“Mama sama Papa kan polisi, paling lagi mengintai penjahat,” kata Tiara
“Ya udah Ra, kami pulang dulu ya, istirahat aja dulu, nanti kalau Naina dan om Jonas sudah ada di Jakarta baru kita menemui mereka,” kata Dewi.
“Kamu juga hati-hati di jalan ya Dew ! ” ucap Tiara.
“Oke Ra.” Jawab Dewi.
Dimas dan Dewi kembali masuk ke dalam mobil, sementara Tiara masuk ke dalam rumahnya. Kini Dimas mengantar Dewi pulang ke rumahnya.
Mereka sudah sampai dirumah Dewi. Sebuah rumah yang sangat sederhana. Dimas memarkirkan mobilnya di depan rumah Dewi.
“Makasih ya kak udah ngantar aku pulang, ini rumah aku, memang gak besar sih, masih besar rumah Tiara, maklum orangtua aku cuma pegawai bank biasa,” kata Dewi.
__ADS_1
“Yang penting kan punya rumah, ayo aku temani ke dalam !” kata Dimas.
Mereka berdua keluar dari mobil. Ketika mereka masuk ke rumah, Dewi langsung di sambut oleh kedua orangtuanya yang sedang cemas.
“Dewi ?” orang tuanya Dewi merasa lega anaknya datang.
“Maafin Dewi ya Ma Pa, Dewi udah bikin kalian kwatir ?” ucap Dewi.
“Gak papa sayang, kalian duduk dulu baru menjelaskannya !” kata mama Dewi.
Kini mereka sudah duduk di sofa.
“Naina sahabat Dewi sejak SMP itu?" Tanya mama Dewi.
"Iya Ma, teman aku yang sering ke rumah kita itu," jawab Dewi.
"Lalu apakah Naina berhasil di selamatkan ?” tanya papa Dewi lagi.
“Berhasil om, berkat bantuan Dewi,” jawab Dimas.
“Alhamdulillah kalau begitu, asalkan mereka pulang dengan selamat, itu sudah cukup bagi kami,” ucap papa Dewi.
__ADS_1
“Terima kasih sudah mengantar Dewi pulang ?” ucap mama Dewi.
“Itu sudah seharusnya om, karena kami yang membawa Dewi pergi, kami juga yang harus mengantarnya pulang,” ucap Dimas.
Papa Dewi baru menyadari sesuatu.
“Apakah kamu nak Dimas putranya pak Bambang yang seorang polisi itu ?” tanya papa Dewi.
“Om kenal aku dan Papa ?” tanya Dimas.
“Tentu saja, om juga kenal Mama mu, om adalah teman papamu, bukannya kalian harusnya sudah tau kalau kalian ini dijodohkan ? ” tanya papa Dewi.
“Apa ?” ucap Dimas dan Dewi bersamaan.
Dimas baru menyadari sesuatu, pantas saja wajah Dewi tidak asing baginya. Ia lalu teringat foto wanita yang di beri papa nya, foto yang katanya akan menikah dengannya 4 tahun lagi. Dewi pun baru menyadari juga ternyata Dimas yang akan di jodohkan dengannya. Sungguh takdir yang lucu.
Setelah menemukan sebuah fakta menarik, akhirnya Dimas pamit pulang. Setidaknya dia sudah mengenal calon istrinya. Meskipun nantinya ia menikah dengan wanita yang tidak dicintainya, setidaknya ia merasa lega kalau wanita itu adalah wanita baik. Ya, Dimas sangat yakin Dewi adalah wanita baik-baik. Itupun sudah lebih dari cukup baginya.
Dimas memutuskan pulang ke apartemennya yang bisa dikatakan mewah juga. Jonas menggajih Dimas tinggi karena itu Dimas memiliki banyak uang. Sebagai orang kepercayaan Jonas, Jonas tidak pernah ragu memberikan apapun untuk Dimas tapi tentu saja tidak gratis. Itu Dimas dapatkan dengan menjalankan semua perintah Jonas. Mulai dari mencari wanita malam untuk memuaskan nafsu bosnya dulu waktu bosnya masih menjadi pria hidung belang, memantau semua kegiatan kolega dan karyawan Jonas agar jika ada yang berbuat curang Jonas langsung mengetahuinya, sampai mengurus hal kecil seperti pernikahan Jonas. Semua itu Dimas harus siap melakukannya.
Tiba di apartemennya, Dimas lalu mandi, keluar dari kamar mandi, ia lalu memakai pakaiannya. Setelah itu ia berbaring dikasurnya dan beristirahat sebentar karena dari semalam ia belum tidur. Sambil menunggu kabar tentang Micko dan Imelda, Dimas tertidur saking lelahnya.
__ADS_1