
Di tengok oleh Naina kebelakang, ada kapal lain yang datang. Orang-orang yang berada di kapal yang baru datang itu menembak bertubi-tubi kapal yang dari tadi menembak mereka. Tanpa ampun serangan dilakukan hingga tak berjeda.
Boommmm
Kapal yang ditembak akhirnya meledak, Naina yakin orang yang berada di dalamnya, mati tenggelam dengan mengenaskan. Setelah kapal itu meledak, kapal yang baru datang tadi berlayar menuju Naina dan Jonas. Perlahan kapal itu mendekat, di paling depan sudah berdiri Dimas yang masih memegang senapan, di kiri Dimas ada Tiara di kanannya ada Dewi. Naina juga melihat Tiara dan Dewi memegang sebuah pistol.
Di belakang mereka berjejer banyak pria berjaket hitam yang juga memegang senapan. Pantas saja kapal penyerang itu meledak, ternyata ada banyak orang yang melakukan tembakan bertubi-tubi tadi. Mereka benar-benar datang tepat waktu sehingga akhirnya Naina dan Jonas selamat.
“Naina...” Teriak Tiara saat kapal mereka hampir sampai mendekati Naina.
Naina bisa melihat kalau dua sahabatnya itu masih sangat mencemaskan keadaannya.
Kapal itupun berhasil sampai, beberapa orang berusaha membawa Jonas dan Naina naik keatas kapal.
Di atas kapal.
“Mas Jonas kena tembakan beberapa kali, tolong segera bawa dia kerumah sakit !” ucap Naina kepada Dimas.
“Nona tenang saja, kami akan menangani bos dengan baik, di sekitar sini ada rumah sakit yang bagus,” kata Dimas.
“Kalian berdua, urus Naina untuk sementara !” lanjut Dimas kepada Tiara dan Dewi.
“Baik.” Kata Dewi dan Tiara bersamaan.
Kapal mereka berhasil menepi ke pinggir pantai. Di sana sudah berjejer beberapa mobil yang akan mereka gunakan untuk pergi ke rumah sakit. Jonas segera di larikan kerumah sakit terdekat. Sesampai di rumah sakit, Jonas langsung ditangani oleh beberapa dokter. Naina, Dewi dan Tiara serta Dimas dan beberapa orang anak buah Jonas menunggu di depan pintu ruang tindakan.
“Kami akan menjaga bos di sini, kalian semua cari sampai dapat Micko dan Imelda, hidup ataupun mati, susuri semua bagian laut tadi, jangan berhenti jika mereka belum di temukan !” perintah Dimas kepada anak buahnya.
“Baik pak Dimas.” Ucap anak buahnya serentak. Mereka akhirnya bubar dan kembali ke laut untuk mencari Micko dan Imelda.
“Nai, om Jonas pasti selamat kok, tenang aja ?” tiara berusaha menenangkan Naina.
“Dia pasti kuat Nai, dia kan sebentar lagi bakal nikah sama lo, gak mungkin dia mau ninggalin lo,” kata Dewi berusaha menenangkan Naina juga.
“Dia begitu karena ngelindungin gue, gue gak tenang, gue takut terjadi hal buruk ke dia, gue gak bisa hidup tanpa dia,” Naina menangis dengan keras.
Tiara dan Dewi tidak bisa berkata-kata lagi karena dua temannya itu tau bagaimana perasaan Naina sekarang. Mereka hanya bisa memeluk Naina agar dia tenang. Kekompakan ketiga sahabat itu membuat Dimas tersentuh.
“Apa anak ABG semua begini ya ? benar-benar perasaan yang tulus,” ucap Dimas dalam hati.
__ADS_1
Setelah kurang lebih 2 jam akhirnya dokter yang menangani Jonas keluar.
“Bagaimana keadaan calon suami saya dok ?” tanya Naina
“Meskipun dia tadi sempat kritis karena kebanyakan mengeluarkan darah, tapi kami berhasil mengeluarkan peluru-peluru itu dari tubuhnya, dan dia sekarang sudah melewati masa kritisnya, dia akan kami pindahkan ke ruang rawat.” Jelas dokter.
“Terima kasih dok !”
Hati Naina merasa lega karena Jonas berhasil melewati masa kritisnya, sekarang ia hanya berdoa agar Jonas cepat siuman.
Jonas sudah berada di ruang rawat. Naina dengan setia selalu berada di samping Jonas. Dimas, Dewi dan Tiara juga berada di sana.
“Gue iri banget sama Naina, dia pasti bahagia sekali mendapatkan seorang pria yang begitu mencintainya sampai rela mengorbankan nyawanya sendiri, apa gue bakal dapat cowok kaya gitu juga ya nanti ?” ucap Tiara dalam hati. Ia benar-benar tersentuh melihat pasangan didepannya.
“Apa tidak sebaiknya kita keluar dari ruangan ini ?” bisik Dimas ke Tiara dan Dewi.
“Kenapa ?” tanya Dewi.
“Biarkan mereka berdua di sini, kita jangan mengganggu, ayo keluar !” ajak Dimas.
“Ya udah,” kata Dewi.
“Terima kasih ya untuk kalian ?” kata Naina.
“Gak masalah Nai, kita senang bisa bantu lo.” Ujar Tiara.
Setelah pamit akhirnya mereka keluar.
Di depan pintu ruang rawat VVIP Jonas.
“Kalian mau aku antarkan pulang ? orangtua kalian pasti sekarang sedang panik mencari kalian ?” tawar Dimas ke mereka.
“Dari sini ke Jakarta kan jauh om, om emang gak keberatan mengantar kami ? Lagian sekarang udah jam 3 subuh loh, gak capek apa gak tidur semalaman ?” tanya Dewi.
“Om ? ” tanya Dimas tidak terima di panggil begitu.
“Aku salah panggil ya ?” tanya Dewi
“Panggil aku Dimas, aku belum tua, umurku masih 28 tahun, teman kalian aja yang jelas-jelas 20 tahun lebih muda dari bosku manggil bos aku dengan sebutan “mas” masa aku yang masih muda dipanggil om ?” kata Dimas mengeluh.
__ADS_1
“Ya udah, kalau begitu kami panggil kakak aja deh !” usul Tiara.
“Itu juga boleh.” Ucap Dimas.
Dimas, Tiara dan Dewi menuju parkiran rumah sakit. sekarang Dimas akan mengantar mereka pulang ke Jakarta.
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Dimas mulai mengobrol banyak dengan mereka.
Di mobil.
“Nanti akan aku jelaskan ke orangtua kalian tentang kepergian kalian malam ini ?” ucap Dimas.
“Terima kasih kak !” ucap Dewi.
“Gak usah berterima kasih, harusnya aku yang berterima kasih, kalau kalian gak bantu kami melacak mereka tadi pasti kami kesulitan menemukan Naina,” ucap Dimas.
“Apa mantan istri yang gak bisa move on begitu sangat mengerikan ya kak ? bisa-bisanya Imelda melakukan hal mengerikan seperti tadi ?” tanya Tiara.
“Mungkin, tadi dia gak sendiri, dia gak akan mampu melakukan hal berbahaya tadi kalau gak di bantu seseorang,” jawab Dimas.
“Kenapa orang yang bernama Micko itu mau membantu Imelda ?” tanya Tiara lagi.
“Kalian gak perlu tau urusan orang dewasa !” kata Dimas.
“Pelit banget sih ngasih tau,” protes Dewi.
“Ya iya lah, inikan rahasia pribadi bosku, aku gak berhak ember ke orang, dan kalian, kalian itu kan masih ABG, kok kalian berani menembak pakai pistol ? mana tadi kalian main rebut aja pistol dari orang-orangku,” protes Dimas lagi.
“Kalau aku tadi sedikit gemetar kak, tapi sumpah, ternyata seru banget, mirip film action, aku berasa lagi perang, dan…. wooww, waktu kita menang, aku senang banget kak, hahaha,” ucap Tiara dengan tawa senangnya.
“Aku juga gemetar, tapi aku gak mau gak ambil bagian, aku gak bisa duduk diam aja tadi, itu bukan jiwa aku,” kata Dewi juga.
“Lain kali kalian jangan so berani, nanti bahaya !” ucap Dimas.
“Itu terakhir kalinya kak, aku juga gak minat main tembak-tembakan lagi,” ujar Dewi.
“Aku juga sama,” kata Tiara juga.
“Baguslah.” Ucap Dimas.
__ADS_1