
Setelah berjam-jam menempuh perjalanan, akhirnya pria itu sampai juga di tempat tujuan. Setelah keluar dari helikopter, pria itu menggendong Naina menuju sebuah mobil. Mereka akan menuju sebuah desa terpencil tepatnya ke padang perkebunan kelapa sawit milik Winner Grup, disana lah nanti Naina akan di habisi. Jasad Naina akan sulit di temukan karena di sana masih banyak areal hutan yang sangat lebat.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil itu sudah tiba di areal perkebunan sebab helikopter tadi mendarat tidak jauh dari lokasi, karena sekarang sudah malam hari jadi jejak-jejak kedatangan mereka tidak diketahui oleh orang lain. Mobil itu masih melaju untuk mencari areal yang tepat untuk menghabisi Naina. Naina yang masih tak sadarkan diri mulai mengeryapkan matanya. Pria itu melihat Naina yang terbaring di kursi belakang sudah mulai bangun.
“Apa kamu sudah bangun ?” suara sangar itu sontak membuat Naina kaget.
“Aku ada dimana ? kamu…” Naina melihat sekelilingnya, jalanan begitu gelap, seperti di areal hutan campur perkebunan.
“Nona Naina, karena sebentar lagi anda akan mati, aku akan mengatakan sebenarnya pada anda,”
“Aku tidak akan mati, lepaskan aku ! jika suamiku menemukanmu, maka dia akan membunuhmu,” kata Naina sudah mulai cemas.
“Tidak ada yang bisa mengubah takdir nona, dan asal anda tau, kita sekarang sedang berada di Sumatra Utara bukan di Jakarta lagi, pesawat yang akan membawa nona ke Bali tadi sudah meledak diangkasa, hahaha,” tawa pria itu sangat kejam.
“Apa ? pesawatnya meledak ?” pikiran Naina sudah mulai kacau, ia juga mencemaskan keadaan Dewi.
“Sekarang ini suami anda mengira bahwa anda salah satu dari korban pesawat jatuh itu, dia tidak akan tau bahwa istri tercintanya mati tanpa kabar di tempat asing, hahaha,” lagi-lagi pria itu tertawa.
__ADS_1
“Kalian jahat, siapa yang menyuruhmu ?” teriak Naina.
“Tentu saja bos ku, orangtua tuan Micko, mereka sangat senang anda akan segera mati dengan begitu suami anda merasakan apa yang dirasakan oleh tuan Adam dan Nyonya Sandra,”
“Suamiku mengatakan Micko belum mati, di pantai Anyer waktu itu mereka tidak menemukan jasad Micko,” kata Naina. Jonas memang belum memberitahu ke Naina bahwa Micko masih hidup.
“Itu sama saja mati nona, mungkin sekarang jasad tuan Micko sudah habis di makan hiu, tuan Adam sangat berharap kalau jasad nona nanti habis di makan buaya, aku dengar di areal ini ada sungai dangkal berarus deras yang kata masyarakatnya banyak buaya di didalamnya ?”
“Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya ?” Naina mulai histeris.
“Lepaskan aku…..”
“Cobalah lari nona, anda tidak akan mampu kabur dariku !”
Naina masih menangis. Mobil akhirnya berhenti.
“Kita sudah sampai nona, bersiaplah akan mati malam ini !”
__ADS_1
Naina masih memutar otaknya untuk kabur. Pintu belakang berhasil terbuka. Dengan langkah cepat Naina langsung berlari.
“Nona…..” pria itu kaget melihat Naina langsung kabur dengan seribu langkah.
“Anda tidak akan mampu kabur dari saya nona, anda juga tidak tau seluk beluk hutan ini,” pria itu mengejar Naina. Mereka saling mengejar sampai memasuki areal hutan yang begitu dalam. Naina tidak mau menyerah, ia memang tidak tau harus berlari kemana, tapi yang ada di pikirannya sekarang adalah menghindar dari pria yang ingin membunuhnya itu.
“Mas Jonas……tolong aku…..maafkan aku mas jika ini menjadi hari terakhirku berada di dunia ini….maafkan aku jika aku tidak mampu bertahan disisimu…..” batin Naina menjerit. Naina masih berlari.
Hutan itu begitu gelap, Naina sudah tidak bisa melihat arah jalan, Naina masih berlari ke depan.
“Au…” kaki Naina tersandung akar pohon yang menjalar diatas tanah. Naina merasakan perutnya sangat nyeri, ia merasa ada yang mengalir dari area kewanitaannya. Dengan tangannya Naina mengusap sesuatu yang keluar dari daerah kewanitaannya itu yang sudah mengalir sampai ke pahanya.
“Darah ? apa ini darah ?” Naina tidak bisa melihat dengan jelas.
“Sayang kamu harus bertahan dalam perut Mami, kita pasti bisa melalui ini, Mami sama Papi sangat mengharapkan kehadiran kamu, jangan tinggalkan kami sayang !” Naina menangis keras memikirkan apa yang terjadi selanjutnya.
“Aku tidak boleh menyerah, jika aku masih tetap disini, pria itu akan cepat menemukanku, aku harus bangkit !” Naina langsung bangkit sambil meringis kesakitan. Naina mulai berlari dengan tertatih-tatih. Naina sekarang tidak tau berada di bagian hutan mana namun ia tetap berlari.
__ADS_1