
Sudah beberapa kali Dimas mencari wanita untuk bosnya, selalu saja salah sehingga membuat Dimas semakin putus asa.
“Kamu itu pria bukan sih? seharusnya pria seumuran kamu yang masih muda dapat mengetahui dengan mudah wanita seperti apa yang membuat bergairah,” bentak Jonas.
“Pekerjaan kamu saja yang bagus, tapi kamu tidak bisa memenuhi keinginan atasan kamu,” Jonas semakin meninggikan suaranya.
“Kamu tau, aku ini lelah, aku perlu hiburan, mencarikan hiburan untuk bos kamu saja tidak becus,” geram Jonas yang semakin menjadi.
“Apa kamu mau aku tendang dari perusahaan ini ?” bentak Jonas kembali.
Dimas sudah menahan emosinya dari tadi, ia sudah mulai mengepal tangannya. Ia benar-benar tidak tahan lagi.
“Tendang saja saya dari perusahaan bapak, saya sudah tidak tahan bekerja untuk bapak, saya sudah tidak sudi bekerja seperti germo saja untuk mengumpulkan wanita-wanita malam pemuas nafsu bapak !” entah dapat keberanian dari mana Dimas mengeluarkan isi hatinya membalas kata-kata Jonas.
__ADS_1
“Kamu berani sama saya ?” geram Jonas.
“Saya tidak perlu takut dengan pria brengsek seperti bapak, saya tidak melakukan kesalahan apapun, jika bapak ingin menemukan wanita yang bisa memuaskan bapak, pilih saja sendiri jangan menyuruh orang lain, dasar penjahat wanita,” ucap Dimas tanpa takut.
“Penjahat wanita ? kamu itu masih kecil, setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, jangan menilai seseorang dari luarnya saja, aku memang pria brengsek penggila wanita tapi aku bukan penjahat wanita, justru wanita lah yang menjadi penjahatnya,” ucap Jonas.
“Saya tidak mengerti apa yang bapak katakan, saya sudah tidak peduli lagi, saya keluar dari perusahaan ini,” Dimas lalu pergi meninggalkan Jonas begitu saja tanpa menoleh. Baru kali ini ada seorang bawahan yang mampu membalas kata-katanya. Bahkan membuat Jonas geram.
Malam itu Dimas begitu frustasi karena baru saja berhenti dari tempat magang impiannya, ia benar-benar menyesal pernah bertemu orang sebrengsek Jonas. Untuk mengusir rasa gundah gulana hatinya, akhirnya ia memutuskan datang ke pesta ulang tahun salah satu teman kampusnya. Awalnya Dimas tidak ingin datang karena pesta di adakan di club malam, tapi karena hatinya sedang gusar jadi ia datang saja. Ia juga berharap disana bertemu dengan Jessica, gadis pujaan hatinya yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali masuk kuliah.
Sayang sekali Jessica menolak cintanya dan lebih memilih Ronald Renaldi menjadi kekasihnya. Ronald yang jauh segala-galanya dari dia, Ronald anak semata wayang pemilik PT. Sinar Indah, salah satu perusahaan besar di Indonesia yang bergerak di bidang tekstil. Pesta yang ia datangi sekarang adalah pesta ulang tahun Ronald.
Dimas sudah sampai di club malam ternama ibukota, dia di persilahkan masuk menuju meja yang sudah dipesankan Ronald untuk tamu pestanya. Dimas merasa risih melihat sekelilingnya yang menurutnya tidak layak untuk di lihat oleh pemuda seperti dia. Orang-orang di pesta Ronald benar-benar kuat dalam minum alkohol, tapi Dimas tidak menyentuh minuman beralkohol itu sama sekali.
__ADS_1
Di lihat oleh Dimas, Jessica sedang di rangkul mesra oleh Ronald, sesekali Ronald mencium bibir Jessica sambil meneguk minumannya, sungguh hati Dimas panas melihatnya. Setelah beberapa lama Dimas melihat Ronald membawa Jessica naik keatas menggunakan lift.
“Mau kemana mereka ? jangan sampai mereka berbuat yang tidak-tidak !” kata Dimas cemas yang masih belum rela melihat kemesraan Jessica dan Ronald.
Dimas lalu mengikuti kemana Ronald membawa Jessica. Dimas kehilangan jejak mereka, Dimas mencari mereka kesana kemari. Dimas mendengar teriakan Jessica dari arah balkon atas yang berada di belakang, Dimas mengikuti arah teriakan itu.
“Jangan Ron, tolong jangan lakukan itu, ku mohon !” teriak Jessica. Namun Ronald masih saja berusaha menangkapnya. Jessica lari terbirit-birit mencari cara agar menghindar dari Ronald yang ingin memperkosanya. Awalnya Jessica di bawa Ronald keatas hanya untuk melihat pemandangan langit malam diatas balkon ternyata Ronald punya maksud terselubung.
Jessica melihat tangga di pojok balkon, tangga itu menuju belakang club. Jessica tanpa pikir panjang melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dengan langkah cepat.
Sial. Ada tembok besar ternyata di sana. Jessica tidak bisa lagi kabur. Ronald menampakan senyum kemenangannya yang terlihat licik.
“Ron, jangan Ron, ku mohon, hiks, hiks” Jessica lalu menangis keras, ia sudah berteriak meminta tolong namun tidak ada satupun yang menolongnya. Apakah ia akan berakhir di perkosa Ronald malam ini ?
__ADS_1