
__Juli 2018__
Namaku Sunny Clarinda Elmurat artinya Matahari yang terang sedangkan, El murat adalah nama keluarga ayahku . Terdengar cheesy bukan? Ya, Aku pun benci nama itu. Aku siswi kelas XI SMA.
Seperti remaja pada umumnya yang banyak menghabiskan waktunya untuk pribadi dan teman teman yang menyenangkan, ataupun menghabiskan waktu dengan apapun yang mereka suka. Sial! Aku cemburu dengan mereka.
Ya, akupun menghabiskan waktu sama seperti mereka. Bedanya, waktuku habis dengan Rumah sakit, konsultasi dokter, dan sesekali datang ke kelas sosial berkumpul bersama anak anak yang sama sepertiku. Berbagi cerita dan mendengarkan motivasi 'basi' dari Ibu Ketua pemilik yayasan kelas sosial yang tidak tahu apa apa tentang perasaan anak anak seperti kami.
Namun, hal yang paling menyebalkan adalah aku melakukan kegiatan lainnya dirumah. Bermain dirumah, Sekolah dirumah, Berkarya di rumah dan hal lainnya. Bertemu orang orang itu saja setiap hari. Menyebalkan bukan?
Kamu bisa menebak apa yang terjadi padaku. Benar! Aku gadis 15 tahun pengidap Gagal jantung sistolik dari lahir. Operasi pertamaku saat umurku 8 tahun. Dokter memasang ring dijantungku untuk mengatasi penyempitan pembuluh darah. Aku anak pertama dari orang tuaku. Saat ini Mama sedang hamil anak kedua. Aku senang dengan hal itu dengan hadirnya calon adiku aku berharap mama tidak terlalu sedih saat hari kepergianku tiba.
Dokter berkata aku cukup diberkati karena masih bernafas hingga saat ini. Berdasarkan pengalamannya, anak yang memiliki kasus yang sama sepertiku biasanya hanya bertahan sampai masa awal pubertas sekitar 9-12 tahun.
Namun, dengan menyesal ia berkata jangka hidupku tidak akan bertahan lama. Meskipun belum pasti kapan hari terakhirku akan tiba. Aku dan orangtuaku harus bersiap kalau hari itu datang secara tiba tiba. Awalnya aku kesal setiap kali mengingat itu namun, lama kelamaan mulai terbiasa. Aku tidak pernah marah ketika orang mengata ngataiku penyakitan karena, memang seperti itu kenyataannya. Yang ku benci adalah ketika mereka menganggapku payah dan tak berguna. Yang bisanya hanya menyusahkan orang saja. Dan memanfaatkanku untuk kepentingan mereka. Oh come on, Hanya jantungku yang tak berfungsi dengan baik organ lainnya masih normal.
Aku suka melukis dan mendengarkan musik lintas genre. Salah satu lukisanku dipajang di Lobi Rumah sakit tempatku Control,Check up dan Teraphy.
Karena jangka hidupku tak akan lama. Bukankah aku harus melakukan hal terbaik di sisa hidupku bukan? Aku membujuk Mama untuk masuk sekolah umum saat naik kelas XI. Tentu saja, tawaran pertama ditolaknya mentah mentah. Namun, aku tidak menyerah.
Kubujuk Mama kembali agar dia mau mengijinkan. Akhirnya dia setuju juga. Dengan syarat tidak ada olahraga, tidak ada ekstrakulikuler. Ya, segitupun masih untung.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah aku langsung naik kelas XI sesuai dengan Home schoolingku. Tidak mudah untuk melakukannya namun guru Home schoolingku berupaya sebisanya. Ditambah ia pun teman dekat kepala sekolah di sekolahku yang sekarang.
Mama memutar kunci mematikan mesin mobilnya. Aku menghela nafas sedikit gugup seraya mencabut seatbelt.
"Sweatheart,remember?" Tanya mama. Tanganku terhenti saat hendak membuka pintu mobil.
"Apalagi Ma?" Keluhku. Yang sedari pagi mendengarkan ocehan mama.
"Ga ada Olahraga, Ga ada Eks..."
"Trakulikuler, jangan jajan sembarangan, Minum obat tepat waktu, nelpon mama kalo terjadi sesuatu." Tambahku seraya memutar bola mata.
"Clever! Enjor your school, kaka." Ucap mama dengan senyum dan eyesmile-nya
"Aku pergi dulu ya ma, Dah Aegi." Akupamit pada mama dan adiku.
Aku menatap gerbang sekolah yang bertuliskan 'SMA NEGERI PILAR BANGSA'. Aku melangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah. Aku bersemangat hingga rasanya dadaku mau meledak. Aku menarik nafas dan melanjutkan langkahku memasuki sekolah.
Mataku berkeliaran menatap sekitar. Rasanya aneh sekali melihat banyak orang ditempat yang sama dan menggunakan pakaian yang seragam. Aku lihat sebagian dari mereka terlihat santai sekali dan sebagian lagi terlihat Gugup sama sepertiku.
"Sunny Clarinda el murat." Seseorang menyebut namaku. Aku menoleh ke sumber suara.
"Kamu Sunny kan?" Tanya seorang lelaki.
Aku menatap pin nametag-nya tertulis 'Demian Ivon S'. Ia tersenyum kearahku. Aku tahu ekspresi itu. Aku membencinya.
"Ya." Jawabku singkat.
"Gua Demian Ivon Soedarno, kita sekelas mau gua anterin?" Ucapnya seraya mengulurkan tangannya. Demi Tuhan! Aku membenci orang yang menatap Iba kepadaku.
"Makasih. Tapi, gak usah. Gua bisa sendiri." Ucapku. Ia terlihat menarik kembali tangannya.
Aku melangkah menunggalkan laki laki itu. Aku mengingat ngingat. Kelas XI-IIS-II. Oke ayo masuk kelas! Seruku dalam hati.
Setelah beberapa saat aku mencari kelasku. Akhirnya, aku berdiri didepan sebuah tangga menuju kelasku aku menatap keatas. Kelasku berada di lantai ketiga. Sungguh sangat tidak bersahabat untuk pengidap Gagal Jantung sepertiku.
Rasanya ingin pulang saja. Namun aku mengurungkan niatku. Tidak lagi! Kali ini aku bisa!.
Kakiku melangkah menepati setiap anak tangga. Awalnya biasa saja namun ketika sampai di lantai dua, dadaku rasanya mau pecah. Jam ditanganku terus berkedip. Baik! Aku istirahat sebentar. Aku duduk dipojok tangga menuju lantai 3 seraya mengatur nafas agar tidak panik. Keringat dingin turun dari pelipisku. Sekolah memang melelahkan. Aku paham mengapa banyak siswa cepat sekali mengeluh.
Aku melihat seorang siswi. Wajahnya datar sekali namun tatapannya dingin dan kosong. Entah mengapa, hawa dingin menjalar ditubuhku saat dia melintasiku.
"Maaf, Tolong! Tolongin saya buat ke kelas." Langkahnya tiba tiba terhenti ia mundur lantas sejajar denganku.
Ia menatap lenganku yang terulur meminta pertolongannya. Mata Hazelnya mentapku kosong. Mengerikan! Itulah kesan pertamaku saat mata kami bertemu.
"Lo bisa sendiri." Ucapnya dengan suara berat.
Aku terpaku mendengar jawabannya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya. Aku terdiam sesaat hingga akhirnya aku memutuskan untuk memaksakan diri menuju kelas.
__ADS_1
_Ruang Kelas_
Aku menghela nafas lega saat melihat pintu kelasku. Dadaku mulai terasa sakit kelelahan.
Aku menatap sekeliling cukup riuh. Ada yang sedang mengobrol, bermain game online, membaca buku, dan sarapan?.
Nafasku tercekat sesaat seketika mataku tertuju pada gadis di barisan bangku paling belakang. 2 orang sedang duduk berhadapan seraya mengobrol mereka perempuan dan laki laki.
Ya, aku mengenali wajah mereka. Perempuan dingin yang menolak menolongku dan lelaki menyebalkan yang kutolak tawarannya. Wahh! Kebetulan yang tak terduga.
Laki laki itu menatap kearahku. Ia tersenyum hangat dan beranjak dari duduknya lantas menghampiriku.
"Sunny ya? Gua Demian Ivon panggil aja Devon. Lo boleh duduk disebelah Gua." Ucapnya seraya menunjukan tempat duduknya yabg terletak dibangku paling depan.
"Thanks,but no!" Ucapku.
Mataku tertuju pada gadis dingin itu. Bibirnya berkedut menahan tawa seraya menatap kami. Lelaki yang bernama Demian itu merasa canggung.
"Eumm oke, Lo mau duduk di sebelah Daisy, dibelakang sana?" Tunjuknya pada gadis itu.
Daisy? Namanya Daisy? Tidak cocok dengan dia. Daisy mengangkat bahunya acuh ia merogoh sakunya dan mengeluarkan headset. Ia mendengarkan lagu seraya menutup matanya.
Aku melihat sekitar. Setiap bangku sudah ada yang menempati. Hanya tersisa 2 disebelah Demian atau Daisy. Kenapa harus 2 orang ini?
Aku menatap lelaki dihadapanku yang sedang tersenyum bodoh dengan wajah penuh pengharapan. Kurasa akan sangat menyebalkan kalau aku duduk disebelahnya. Lagipula, aku sudah menolaknya.
Aku melangkahkan kakiku mendekati Daisy. Aku meletakan tasku tepat disebelahnya.
Aku menghela nafas panjang. Hari pertama yang aneh!
Tak lama setelah aku duduk seorang guru dengan sepatu nyaring memasuki kelas kami. Suara sepatunya yang nyaring memenuhi seisi kelas. Seketika kami semua hening.
Dia terlihat masih muda dan cantik. Kulitnya kuning langsat khas Asia Tenggara, Hidungnya kecil dan agak tinggi namun raut wajahnya misterius. Ia tidak terlihat Dingin tidak juga terlihat Hangat.
Bukan itu saja, yang menarik darinya. Namun, setelan yang ia kenakan menambah kesan misterius dari guru ini. Dengan Kemeja hitam yang di balut blazer hitam, dan rok span selutut yang ia kenakan pun berwarna hitam. Tak lupa sepatu nyaring yang ia kenakan adalah heels hitam mengkilat. Cukup aneh untuk hari pertama sekolah bukan? Ia mengenakan setelan serba hitam seperti sedang berkabung.
Ia menatap tajam seisi kelas dibalik kacamata Photocromic-nya. Terlihat ditangannya ia membawa beberapa lembar kertas.
"Waalaikumsallam, Selamat Pagi." Jawab seisi kelas.
"Saya Herawati Horison, kalian bisa memanggil saya Bu Hera. Saya Kesiswaan dan Kepala BK yang baru di sekolah ini." Jelasnya. Terdengar suara nafas tercekat dari beberapa siswa.
Ia menyunggingkan bibirnya yang penuh.
"Santai saja saya bukan wali kelas kalian. Saya disini hanya menggantikan beliau yang tidak bisa hadir hari ini." Ia tersenyum menampakan giginya yang berjejer rapih. Tapi tetap saja misterius.
Aku menatap Daisy di sebelahku yang tidak bereaksi sedikitpun. Ia terlihat tidak peduli sama sekali. Headsetpun masih terpasang di telinganya. Tidak sopan sekali!
"Saya disini akan..." ucapannya terhenti.
"Hey kamu!!!" Ia agak membentak. Seraya mengacungkan jarinya ke arahku.
Aku terkejut. Tiba tiba dadaku terasa sakit. Rasanya sesak sekali. Jam ditanganku berkedip nyaring. Siswa yang lain menatap kearahku. Bingung.
"Maaf tapi bukan kamu, tapi kamu yang disebelahnya. Kamu yang pakai Headset. Lepas sekarang juga!" Ucapnya dengan nada tegas.
Aku mencoba mencoba mengatur nafas agar tenang. Namun tidak berhasil. Dadaku rasanya seperti ditusuk ini selalu terjadi saat aku terkejut ataupun kelelahan. Benar benar menyakitkan.
"Kamu kenapa?" Bu Hera menghampiriku.
Teman sekelasku yang tadi kebingungan kini mendekat penasaran akan apa yang terjadi kepadaku. Hal itu jelas saja membuat dadaku semakin sakit.
"Heyy!! Kasih jarak! Kasih jarak!" Demian berseru seraya memberikan space untuku.
"Hey Sun,Tenang tenang,oke." Demian berlutut dihadapanku, seraya mencoba untuk menenangkanku.
Tubuhku ini berkata sebaliknya.
Demian merangkulku dan membawaku keluar dari kelas. Kami berjalan kearah tangga. Kami duduk di salah satu anak tangga.
"Hey Sunny,lihat gue disini." Ia menarik wajahku
__ADS_1
"Look at to my eyes!." aku menatap mata Hazelnya yang mengkilap.
"Ikutin gua ya. Tarik nafas tenang. Tarik nafas tenang." Aku mengikuti arahannya dan perlahan dadaku membaik. Jam menekan tombol di jamku agar tidak berisik lagi. Lantas mengeluarkan obat yang selalu kubawa untuk antisipasi.
"Are you ok? Mau ke rumah sakit gak?" Aku menggeleng
"Itu apa?." Demian bertanya.
"Ini? Atau ini?" Aku bertanya balik seraya menunjukan jam dam obat.
"Dua duanya."pintanya.
"Ini Smartwatch. Jam yang dibuat khusus untuk anak kayak Gua. Dia bakal berisik kalau ada terjadi sesuatu sama jantung Gua." Jelasku seraya menunjukan jam di tanganku.
"Sedangkan ini Nitrogliceryn. Ini obat yang selalu Gua bawa buat antisipasi." Demian mengangguk mengerti.
Aku menelan obat yang selalu ku bawa di saku baju untuk antisipasi. Lantas mengatur nafasku tetap tenang.
"Lo tuh Harus banyak rileks." Ucapnya seraya menarik perlahan bahuku kebelakang lantas mengusap ngusap punggungku
Hal tersebut sukses membuatku merasa lebih baik. Rasa sakit didadaku perlahan memudar.
"Sejak kapan?" Ia bertanya
"Eung?" Aku tak paham. "Penyakit lo." Jelasnya
Aku menghela nafas. "Sejak lahir."
"Papa gua Turki dan mama Indonesia. Reshus mereka beda. Makannya Resiko anaknya terlahir cacat itu besar." Jelasku, Demian mengangguk paham.
"Yahhh, Gak asik dong. Gak bisa Olahraga, gak bisa dikasih kejutan, gak bisa cape capean deh." Keluhnya.
"Yeahh Thanks, Hidup gua memang gak asik." Keluhku. Wajahnya merasa tak enak dan canggung.
"Euumm, Bukan itu maksud gua. Hidup lu kan kurang menyenangkan nih selama ini, harus bisa lawan dong. Penyakitkan harus dilawan." Ucapnya antusias.
Aku menatap wajahnya yang selalu bersemangat entah mengapa membuatku muak. Karena aku tahu semua itu palsu.
"Caranya?" Tanyaku.
"Nanti gua tunjukin sama lo. Udah baikan kan? Ayo masuk kelas!." Ajaknya seraya meraih tanganku.
"Demian."
"Eumm?"
"Thank you."
Kami pun kembali ke kelas. Demian berjalan santai disebelahku saat memasuki ruangan kelas.
Seluruh pasang mata tertuju pada kami saat kami memasuki kelas.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Bu Hera memecah keheningan.
"Masih agak sakit, tapi selebihnya saya merasa baikan."ucapku.
"Kamu sunny ya? Anak baru? Kamu belum perkenalanan sama teman teman kamu?" Tanyanya. Aku mengangguk.
Aku mengambil posisi. Berdiri di depan Blackboard. Demian berdiri di sebelahku. Mengawasi.
"Hi! Nama saya Sunny Clarinda El-murat.16 tahun pengidap penyakit Gagal jantung sistolik sejak lahir. Mohon maaf atas kekacauan yang saya sebabkan tadi. Untuk selebihnya saya akan berusaha lebih baik lagi. Mohon bantuannya." Aku memperkenalkan diriku lantas membungkuk sopan.
Demian mengantarku hingga duduk di bangku. Aku berterimakasih pada Demian sekali lagi ia mengangguk lantas kembali duduk di bangkunya.
Aku menatap teman di sebelahku. Tatapannya masih saja dingin dan kosong. Ia tak bergeminng sedikit pun.
Diam diam ku perhatikan wajahnya itu cantik. Dengan alis yang terukir dengan rapih dan tegas tanpa pensil alis. Matanya yang sendu tidak terlalu kecil, tidak juga terlalu besar. Hidungnya cukup tinggi dengan bibir yang penuh. Perawakannya juga tinggi. Tingginya hampir sama dengan Demian sekitar 172-174 dan aku rasa Demian sekitar 178-180.
Bu Hera menjelaskan peraturan sekolah. Ia pun memberitahu kami siapa yang menjadi walikelas kami. Namanya Bu Lilian. Ia juga membantu siswa dikelasku untuk menyusun organigram.
_
__ADS_1
To be continue...