Sisi

Sisi
MENEMBAKKU


__ADS_3

Dua hari setelah itu, tepatnya di hari Senin. Aku pun hendak berangkat ke sekolah tapi aku terlebih dahulu menunggu Safira menjemputku.Aku duduk di teras rumah bersama ibu dan kedua tanteku.


"Tante jadi pulang hari ini?. " tanyaku.


"Jadi sayang, nanti jam delapan." jawab tante Santi.


"Kalau tante Ifa, masih lama kan?. " tanyaku lagi.


"Tenang aja sayang, tante masih lama kok di sini." jawab tante Ifa.


"Nanti kamu bakal kangen tante Ifa sayang, kalau tante sudah kembali ke Lamongan nanti." ucap ibu dengan tersenyum.


"Iya ibu." ucapku.


"Kapan kapan, main aja ke Lamongan." ucap tante Ifa dengan tersenyum.


"Iya tante." ucapku.


"Kalau sama tante Santi gak kangen?." tanya tante Santi dengan tersenyum.


"Kangen sih tante, tapi ya gak terlalu aja, kan soalnya setiap hari raya ketemu sama tante." ucapku dengan tersenyum.


"Iya juga sih." ucap tante Santi dengan tersenyum.


Kemudian tante Rani dan Prisila menghampiri kami berempat yang sedang duduk.


"Arsyan, anterin Prisila ya. " ucap tante Rani.


"Siap tante." ucapku.


"Tapi kamu kok belum berangkat?. " tanya tante Rani.


"Nungguin Safira tante." jawabku.


"Oh sama Safira." ucap tante Rani.


Tak lama setelah itu Safira pun datang dan langsung mengarahkan motornya ke halaman rumahku, aku pun langsung bersaliman sama ibu dan tante tanteku.


"Arsyan berangkat dulu." pamitku.


"Hati hati loh Syan." ucap ibu.


"Jangan nakal nakal loh Prisila." ucap tante Rani.


"Iya mama sayang." ucap Prisila dengan tersenyum.


"Ih lucu banget Prisila." ucap tante Ifa dengan tersenyum.


Kemudian aku menggandeng tangan Prisila dan menghampiri Safira yang ada di halaman rumah.


"Fir loh yang nyetir ya." ucapku.


"Kok gua sih." ucapnya.


"Please Fir." ucapku.


"Iya deh, yaudah ayo naik." ucapnya.


Kemudian Prisila naik di depan Safira, sementara aku duduk di belakang Safira.


"Kok Safira yang nyetir sih sayang." ucap ibuku.


"Gak apa apa ibu sekali kali." ucapku.


"Kebalik Arsyan." ucap tante Ifa dengan tersenyum.


Kemudian kami pun berangkat menuju ke sekolahan meninggalkan rumahku. Tapi sebelum ke sekolah seperti biasa, kami terlebih dahulu berhenti di sd, tempat sekolah Prisila.


Prisila pun turun.


"Makasih kak Safira." ucapnya.


"Iya, belajar yang pintar loh Prisila." ucap Safira.


"Siap kak." ucapnya.


Kemudian Prisila bersaliman dan mencium tangan kami berdua,setelah itu Prisila pun masuk ke sekolahanya.


Lalu kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju ke sekolah.


"Gimana kencan lo sama Andi?. " tanyaku.


"Gua di php anying." jawabnya.


"Kasihan." ucapku.

__ADS_1


"Mungkin dia udah punya pacar kali." ucapnya.


"Bisa jadi." ucapku.


"Tapi ngomong ngomong sekarang pemilihan Osis kan?. " tanyanya.


"Iya sekarang pemilihan Osis." jawabku.


"Berarti pulang lebih awal dong." ucapnya.


"Ya mungkin sih." ucapku.


"Lo pilih nomer berapa?. " tanyanya.


"Nomer dua. " jawabku.


"Oh karena ada Vina itu kan, yaudah gua ikut lo aja deh." ucapnya.


"Sejak kapan lo pernah gak ikut gua." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian aku memeluk Safira yang sedang mengendarai motornya.


"Jangan peluk gini, nanti gua jatuh loh." ucapnya.


"Biasanya juga lo meluk gua Safira." ucapku.


"Tapi kan ini gua yang nyetir Arsyan, bukan lo, beda kali." ucapnya dengan tersenyum.


"Mana lo gak jatuh gini." ucapku.


Kemudian Safira memberhentikan motornya.


"Lo aja yang nyetir kalau gitu." ucapnya.


"Iya deh gua akan peluk lo lagi, cepat lanjutin." ucapku.


Aku melepaskan pelukanku, kemudian Safira melanjutkan nyetir motornya, hingga akhirnya kami berdua pun sampai di sekolah, Safira pun langsung mengarahkan motornya ke parkiran untuk memarkirkan motornya.


"Yaudah ayo turun udah sampai!." ajaknya.


Kemudian kami berdua pun turun dari motor dan berjalan menuju ke kelas dengan bergandengan tangan, tapi di tengah perjalanan kami bertemu dengan Vina.


"Cie calon ketua Osis nih." ucapku.


"Wakil Arsyan." ucapnya.


"Tenang Vina, gua sama Arsyan bakal milih lo kok." ucap Safira.


"Makasih Safira." ucapnya dengan tersenyum.


"Tenang aja." ucapku.


"Oh iya Arsyan, ada yang mau gua omongin ke lo." ucapnya.


"Gua ke kelas dulu ya, gua gak mau ganggu." ucap Safira.


"Iya Safira." ucapku.


Kemudian Safira pun pergi meninggalkan kami berdua, sementara Vina menggandeng ku dan mengajakku, entah kemana. Aku pun hanya bisa mengikuti adik kelas ku itu. Hingga akhirnya tibalah kami berdua di tempat yang begitu sepi di samping gudang sekolah.


"Lo tunggu sini dulu ya Syan." ucapnya.


"Iya Vin. " ucapku.


Kemudian Vina pergi meninggalkan ku, sementara aku duduk di kursi yang ada di sana, sembari melihat instra story Sandra, yang menampilkan dia jika sedang ada di luar negri.


"Buset anak orang kaya ternyata dia." ucapku.


Tak lama setelah itu Vina pun datang menghampiriku, dengan membawa bungkusan di tangannya. Seketika aku pun langsung berdiri.


"Dari mana sih Vin?." tanyaku.


"Dari kelas ngambil ini." jawabnya dengan tersenyum.


"Oh,iya lo tadi mau ngomong apa ?. " tanyaku dengan penasaran.


Wajahnya mulai menunjukkan keraguan.


"Syan." panggilnya.


"Iya Vin. " balas ku.


Kemudian dia memegang tanganku.


"Gua suka sama lo Syan, saat pertama kali gua melihat lo Syan,mau gak lo jadi pacar gua." ucapnya dengan ragu ragu.

__ADS_1


Aku pun kaget dengan Vina yang tiba tiba menembakku,padahal aku sedikit pun aku gak punya perasaan sama Vina.


"Syan jawab Syan. " ucapku.


Aku sebenarnya tidak ingin melihat adik kelasku satu satunya yang akrab denganku bersedih, tapi di sisi lain aku juga tidak punya perasaan dengannya, karena aku suka dengan Sisi. Ini saat yang sangat berat bagiku, aku tidak bisa membayangkan adik kelasku yang sangat akrab denganku ini sedih, tapi walaupun begitu mau tak mau aku harus mengatakan yang sebenarnya padanya.


Aku menghembuskan nafasku dan mengeluarkanya, lalu perlahan aku mulai mengatakanya pada Vina.


"Vin, maafin gua ya, gua gak bisa menerima perasaan lo ke gua." ucapku dengan raut wajah sedih.


"Kenapa kamu lebih memilih Safira kan? . " tanyanya.


"Gak,Vin. " jawabku.


"Tapi gak apa apa Arsyan itu sudah hak lo kok mau nolak juga." ucapnya.


"Maafin gua ya Vin. " ucapku.


"Iya, makasih ya udah mau beri jawaban yang pasti." ucapnya dengan tersenyum.


Lalu dia memberikan bungkusan itu kepadaku.


"Lo Terima ini aja ya." ucapnya dengan memberi bungkusan itu.


"Iya, makasih ya." ucapku dengan tersenyum.


"Yaudah gua pergi dulu, takut nanti di tungguin sama teman teman." pamitnya.


"Iya Vin, semoga terpilih ya." ucapku dengan  tersenyum.


"Amin." ucapnya dengan tersenyum.


Kemudian dia pergi meninggalkanku sendirian, dan aku membuka bungkusan itu,ternyata ada dua coklat di dalamnya serta ada sepucuk surat. Dan aku membuka surat itu yang berisi:


Aku suka sama kamu Syan, jika kau menerima cinta dariku aku berjanji, aku akan menganggapmu sebagai Pangeran bagiku.


Tapi jika kau menolak cintaku, aku akan menganggapmu seperti kakak aku sendiri.


Jujur Arsyan, hanya kamu Syan cowok di sekolahan ini yang bisa bikin aku bahagia.


Aku tidak bisa menemukan cowok yang baik lagi selain dirimu Arsyan.


Jujur aku saat itu sangat bahagia sekali bisa lomba bersama denganmu.


Aku merasa saat itu kita seperti seorang pasangan Arsyan, kita cukup romantis Arsyan.


Aku sangat mencintaimu Arsyan, semoga kau menerima cintaku.


                                          ALVINA FITRI


Aku tidak menyangka jika Vina juga mencintaiku saat itu, dan aku yakin pasti dia sangat kecewa denganku, dia mencoba untuk menyembunyikan kekecewaan yang dengan senyuman.


Kemudian tiba tiba secara mengejut kan Safira datang menghampiriku.


"Lo dari tadi ngintip gua ya." ucapku.


"Emang." ucapnya.


"Gitu katanya mau ke kelas." ucapku.


"Gua kepo sama lo anying." ucapnya.


Kemudian Safira memegang tangan ku.


"Lo jangan ngerasa bersalah ya Syan soalnya itu juga bukan salah lo." ucapnya.


"Iya Safira." ucapku.


Kemudian Safira pun menggandeng tanganku.


"Ayo ke kelas!." ajaknya.


"Iya ayo." ucapku setuju.


Kami pun perlahan berjalan menuju ke kelas kami dengan bergandengan tangan.


"Perasaan dia juga sama dengan perasaan gua Syan." ucapnya.


"Iya Safira." ucapku.


"Lo udah bener kok Syan, lo masih setia sama Sisi Syan." ucapnya dengan tersenyum.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Safira.


"Sisi pasti beruntung banget jika punya kekasih sepertimu Syan." ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


..................BERSAMBUNG.................


__ADS_2