
Aku dan Safira pun duduk berdampingan sembari menjaga toko, Safira sangat sibuk dengan drakornya, sementara aku sedang menghisap rokok yang ada di tanganku, sambil mengeluarkan asapnya menjauh dari Safira.
"Jangan arahin ke gua asapnya." ucapnya.
"Iya iya. " ucapku.
Kemudian tak lama setelah itu rokokku pun habis, lalu aku memutuskan berhenti merokok dan menaruh bungkus rokokku di saku bajuku.
"Sudah merokok nya?. " tanyanya.
"Sudah dong,gak baik merokok banyak banyak Safira." jawabku.
"Sejak kapan merokok itu baik?. " tanyanya.
"Emang merokok itu gak baik anjing." jawabku.
"Lah lo kenapa merokok?. " tanyanya.
"Sudah kecanduan Safira." jawabku.
"Emang susah ya berhenti merokok kalau udah kecanduan?." tanyanya.
"Ya susah lah, coba deh lo mulai sekarang berhenti nonton drakor." jawabku.
"Ya gak bisa lah anjir, kan drakor seru." ucapku.
"Berarti lo udah kecanduan nonton drakor Safira." ucapku.
"Oh iya gua faham." ucapnya.
"Jangan sampai lo merokok Safira." ucapku.
"Ngapain gua merokok anjir?, gua kan cewek, rokok itu kan identik dengan cowok." ucapnya.
"Tidak menutup kemungkinan Safira." ucapku.
"Iya Arsyan." ucapnya.
Kemudian Safira mematikan handphonenya.
"Kok lo matiin, udah selesai ya nontonnya?." tanyaku.
"Belum sih, gua lanjutin di rumah aja." jawabku.
"Kenapa kok di lanjutin di rumah?. " tanyaku.
"Gua mau ngobrol sama lo aja sih lebih seru." jawabnya.
"Kek pdkt aja. " ucapku dengan tersenyum.
"Buat latihan lo nanti kalau pdkt sama Sisi." ucapnya dengan tersenyum.
"Gua mah gak usah pdkt kalau sama Sisi." ucapku dengan tersenyum.
"Seriusan?. " tanyanya dengan tersenyum.
"Iya dong." jawabku.
"Emang lo tau wajah Sisi sekarang?. " tanyanya.
"Mungkin secantik lo." jawabku.
"Gak lebih." ucapnya.
"Gak secantik lo udah cukup kok. " ucapku dengan tersenyum.
"Sok tau lo." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi tunggu deh gua mau cerita." ucapku.
"Cerita apa tuh?. " tanyanya.
"Jadi waktu gua lomba, gua tabrakan sama mbak mbak Osis gitu pakai hijab." ucapku.
"Terus." ucapnya.
"Anehnya gua lihat, papan namanya itu bertuliskan Alexandra." ucapku.
"Alexandra doang?." tanyanya.
"Ada tambahannya sih tapi gua lupa tambahanya." jawabku.
"Atau mungkin itu Sisi Syan?. " tanyanya.
"Iya gua sempat mikirnya gitu, tapi panggilan dia Sandra, Safira." ucapku.
"Atau mungkin Sisi udah berganti nama jadi Sandra Syan." ucapnya.
"Bisa aja sih, tapi gua harap itu bukan Sisi." ucapku.
"Lah kenapa?. " tanyaku.
"Dia jutek banget orangnya, masa dia marahin gua di keramaian sih." ucapku.
"Malu sih, tapi kalau itu beneran Sisi lo masih suka sama Sisi." ucapnya.
"Doain aja itu bukan Sisi, Safira." ucapku.
"Cantik gak orangnya?. " tanyanya dengan tersenyum.
"Masih cantikan lo Safira." jawabku.
"Ah masa." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya gak bohong gua." ucapku dengan tersenyum.
"Gini ya, mungkin dia kan gak tau siapa lo, wajar ajalah sifatnya jutek, sama kek gua dulu waktu belum kenal sama lo kan,giliran udah kenal gua jadi akrab gini sama lo." ucapnya.
"Iya sih, lo jutek banget dulu sama gua waktu sd. " ucapku.
__ADS_1
"Maafin gua ya Syan." ucapnya dengan tersenyum.
"Santai aja kali." ucapku.
Kemudian tiba tiba ada pembeli yang masuk kedalam toko, seorang ibu ibu, berparas cantik, dengan rambut yang lurus berwarna hitam pekat, memakai daster berwarna kuning.
"Safira beli mie instan tiga, minyak goreng, sama telur ya Safira." ucap ibu ibu itu.
"Iya mbak. " ucap Safira.
Kemudian Safira mengambilkan pesanan ibu ibu itu, sementara ibu ibu daster kuning itu menatapku hingga kami saling tatap tatapan. Aku hanya tersenyum kepadanya agar terlihat ramah, kemudian dia membalas dengan senyuman manis yang keluar dari wajahnya yang cantik.
"Mas karyawan baru ya?." tanya ibu daster kuning itu.
"Bukan bu saya hanya nemenin Safira." ucapku.
"Oh." ucapnya.
Kemudian Safira datang dengan membawa pesanan yang di pesanan ibu daster kuning itu.
"Ini mbak. " ucap Safira.
"Ini Safira uangnya. " ucap ibu daster kuning dengan memberikan uang pada Safira.
"Makasih mbak." ucap Safira.
"Sama sama Safira." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian ibu daster kuning itupun keluar dari toko ini, sementara Safira kembali duduk di kursi yang ada di sampingku.
"Soal Sandra gimana?. " tanyanya.
"Lupain aja kali, gak penting juga buat kita." jawabku.
"Kalau itu beneran Sisi gimana?. " tanyanya lagi.
"Gak mungkin sifat Sisi se jutek itu Safira." jawabku.
"Terserah lo aja sih tapi." ucapnya.
"Ngomong ngomong itu tadi orang sini ya?. " tanyaku.
"Ciee kepo ya. " ucapnya dengan tersenyum.
"Tanya doang, Safira cantik." ucapku.
"Itu namanya mbak Nadin,rumah nya deket sini kok." Ucapnya.
"Oh, cantik ya." ucapku dengan tersenyum.
"Dia janda loh, tapi umurnya baru dua puluh lima tahun punya anak satu lagi,padahal baru saja menikah saat umur dua puluh tiga,suaminya udah meninggal." ucapnya.
"Kasihan ya, baru nikah udah di tinggal suaminya." ucapku.
"Iya Syan, gua gak ingin seperti mbak Nadin, lebih baik gua yang meninggal duluan dari pada suami gua nanti." ucapnya.
"Tak tau." ucapnya.
"Kalau takdir lo sama gua gimana?. " tanyaku.
"Ya gua mau lah Arsyan, tapi itu mustahil deh." jawabnya.
"Pokoknya lo nanti harus bisa nemuin Cowok yang benar benar cocok." ucapku.
"Iya Syan, lo juga semoga bisa cepet cepet ketemu Sisi ya. " ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Safira." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian tiba tiba ada penjual makanan yang mengantar makanan ke toko.
"Pesanan." ucap penjual itu.
Kemudian Safira langsung menghampiri penjual itu dan mengambil pesanannya.
"Makasih mas. " ucapnya.
"Sama sama mbak." ucap penjual itu.
Kemudian penjual itu pergi, dan Safira kembali ke tempat duduknya dengan membawa dua nasi bungkus yang ada di dalam kresek.
"Kok beli dua Safira, satunya buat Siapa?." tanyaku.
"Buat siapa lagi kalau gak buat lo." jawabnya.
"Kok lo repot repot sih, udah beliin gua rokok sekarang beliin gua nasi juga. " ucapku.
"Kek baru kenal gua aja sih lo." ucapnya.
"Kan gua gak enak sama lo Safira." ucapku.
"Santai aja kali Syan, yaudah lo makan aja nasinya, ayam bakar loh itu." ucapnya dengan tersenyum.
"Makasih ya Safira." ucapku.
"Iya Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian kami berdua makan nasi itu dengan lauk ayam bakar, dengan begitu bahagia.
"Enak gak." ucap Safira.
"Enak dong, apalagi yang beliin lo malah tambah enak." ucapku dengan tersenyum.
"Bisa aja deh lo." ucapnya dengan tersenyum.
Beberapa saat makanan kami berdua pun telah habis, dan aku membuang sampah makanan kami berdua di tempat sampah yang ada di toko, kemudian aku duduk kembali di samping Safira.
"Fir, lo jaga toko kok gak pakai daster aja?. " tanyaku.
"Bisa bisa di pecat gua nanti." jawabnya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Masa sih di pecat." ucapku.
"Iya,itu gak sopan namanya." ucapnya.
"Oh." ucapku.
"Lagian kenapa sih lo bahas daster mulu, lo suka ya kalau gua pakai daster?. " tanyanya dengan tersenyum.
"Biasa aja kali." jawabku.
"Beneran biasa aja." ucapnya.
"Iya." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah." ucapnya.
Kemudian Safira membuka handphonenya kembali dan melanjutkan menonton drakor.
"Gua ikutan nonton boleh gak?. " tanyaku.
"Boleh dong sini aja." jawabnya.
Kemudian aku mendekat ke arah Safira yang sedang menonton drakor di handphonenya.
"Lihat deh kaki lo ngambang Safira." Ucapku dengan menunjuk kaki Safira.
Kemudian Safira menengok ke bawah, ke arah kakinya.
"Perasaan biasa aja deh." ucapnya.
Kemudian aku menatap wajah Safira.
"Wajah lo pucat Safira." ucapku.
Kemudian Safira bercermin di kamera depan handphonenya.
"Wajah cantik gini di bilang pucat." ucapnya.
"Lo bukan Safira kan, lo hantu kan." ucapku.
"Gua Safira aprilia putri, bukan hantu." ucapnya.
"Bohong lo." ucapku.
Kemudian Safira mencubit pipiku dengan begitu keras, hingga aku pun kesakitan.
"Aww sakit tau gak." ucapku dengan kesakitan
"Gak peduli, lo udah ngatain gua hantu. " ucapnya dengan terus mencubit pipiku.
"Gua bercanda Safira." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Safira melepaskan cubitanya.
"Merah ini loh." ucapku dengan memegang pipiku.
"Lagian lo sih, ngatain gua hantu." ucapnya.
"Gua minta maaf ya Safira cantik." ucapku.
"Kalau gua gak mau maafin gimana?." tanyanya.
"Ya harus maafin lah." jawabku.
"Iya gua maafin tapi jangan ulangi lagi ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Siap Safira cantik." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Safira melanjutkan menonton drakor di handphonenya.
"Safira bisa di hentikan sebentar gak drakornya." ucapku.
"Emang kenapa? . " tanyanya.
"Gua mau ngomong sama lo. " jawabku.
"Ngomong apa?. " tanyanya dengan penasaran.
"Lo sedih gak kalau kita udah berpisah nanti." ucapku.
"Sedih Arsyan, kita sudah tiga tahun ini selalu bersama, berangkat sekolah bersama, duduk berdampingan di kelas, jalan jalan. Mungkin berpisah denganmu akan menjadi hal yang paling berat Syan." ucapnya dengan raut wajah sedih.
"Makasih ya Safira, lo selalu buat gua selalu tersenyum, gua sangat nyaman ketika di sampingmu Safira walaupun kita gak pacaran." ucapku dengan tersenyum.
"Gua juga Arsyan, gua harus banyak sekali berterima kasih sama lo, lo selalu ada buat gua Syan." ucapnya.
Kemudian Safira bersandar di bahuku.
"Mudah mudahan nanti kita berdua bisa sukses mencapai impian kita masing masing ya Syan." ucapnya.
"Iya Safira." ucapku.
Setelah beberapa saat akhirnya waktu telah menunjukkan jam sepuluh malam, waktunya toko untuk tutup. Safira menutup pintu Toko itu lalu dia menguncinya.
"Anterin gua ke rumah yang punya toko ini ya." ajaknya.
"Iya Safira." ucapku.
Kemudian aku naik ke motorku, sementara Safira naik ke motornya sendiri. Kami berdua pun menjalankan motor kita masing masing, Safira berada di depanku karena kami berdua terlebih dahulu akan pergi ke pemilik toko.
Setelah beberapa saat akhirnya kami sampai di rumah pemilik toko itu. Safira turun dari motornya dan berjalan menuju ke rumah pemilik toko itu. Setelah itu pemilik toko pun keluar, lalu Safira langsung memberikan kunci tokonya itu kepada pemilik toko itu. Setelah itu Safira pun kembali menaiki motornya.
"Lo jalan duluan ya Fir, nanti gua ikutin di belakang lo." Ucapku.
"Iya Syan." ucapnya.
Kemudian kami berdua pun langsung melakukan perjalanan untuk pulang ke rumah masing masing, karena hari sudah terlalu malam.
.........................BERSAMBUNG.......................
__ADS_1