Sisi

Sisi
BAIKKAN


__ADS_3

Tiga minggu kemudian, ini adalah hari terakhirku ujian akhir kelas dua belas, sebelum aku lulus dari sma ini. Seperti biasa, aku bersaliman dan mencium tangan tante Ifa yang masih ada di rumahku, dan ibu.


"Tante minggu depan udah balik ya?." tanyaku.


"Iya sayang. " jawabnya.


"Yah, aku pasti akan rindu banget sama tante." ucapku.


"Iya sayang,tante juga." ucapnya dengan tersenyum.


"Hati hati loh sayang." ucap ibuku.


"Iya ibu." ucapnya.


Kemudian perlahan aku berjalan menuju ke motorku, kemudian langsung menaiki motorku. Karena Prisila hari ini masih libur, aku pun berangkat sendiri tidak seperti biasanya. Aku langsung menjalankan motorku menuju ke rumah Safira, hingga akhirnya aku sampai di depan rumah Safira.


"Ayo naik Fir!. " ajakku.


Kemudian Safira pun naik ke motorku dan duduk di belakangku.


"Ini ujian terakhir kan Syan?. " tanyanya.


"Iya Safira." jawabku.


"Kita bentar lagi benar benar berpisah Arsyan." ucapnya.


"Iya Safira. " ucapku.


"Minggu depan ujian praktek kan ya." tanyanya.


"Iya Safira." ucapku.


"Kita acara kelulusan juga masih lama kan?. " tanyanya.


"Iya,masih bulan depan gak sih, setelah lebaran. " ucapku.


"Iya masih setelah lebaran." ucapnya.


"Tapi kita lulus semua gak sih." ucapku.


"Ya lulus semua lah Arsyan." ucapnya.


"Ah masa." ucapku.


"Iya Arsyan." ucapnya.


Kemudian kami pun sampai di sekolahan, terlihat keadaan masih sangat begitu sepi.


"Kita terlalu awal gak sih Syan." ucapnya.


"Iya Fir." ucapku.


"Iya kek nya Safira." ucapku dengan tersenyum.


Lalu kami berdua pun turun dari motor.


"Enak gak sih di ruangan lo?. " tanyaku.


"Gak anying, gua aja duduk di samping cewek setan,mana dia sering ganggu gua lagi." jawabnya.


"Siapa sih namanya cewek setan itu?." tanyaku.


"Avelia kalau gak salah,tapi bodoh amat sih, gua juga gak pengen tau namanya." jawabnya.


"Jadi ingat lo berantem sama dia. " ucapku dengan tersenyum.


"Anying malah di ingetin lagi." ucapnya dengan tersenyum.


"Gua pengen ketawa aja sih ketika ingat ingat waktu lo berantem itu." ucapku dengan tersenyum.


"Gua waktu ujian hari pertama sih kalau gak salah, gua juga mau berantem lagi sama dia, tapi untung gua di pisah sama Nia yang satu ruangan sama gua." jelasnya.


"Tapi hari hari berikutnya?. " tanyaku.


"Udah gak, gua juga males berantem Arsyan, gua mencoba menahan emosi ketika dia meledekku." ucapnya.


"Bagus dong, bisa kontrol emosi." ucapku.


"Di hati gua udah greget banget aslinya Syan,pengen nonjok mukanya." ucapnya.


"Temen dia banyak gak di kelas lo." ucapku.


"Banyak banget Syan, sampai gua sebel tau gak, untung aja ada Nia yang temenin gua." ucapnya.


Setelah itu aku pun tiba di depan kelas ruang ujianku.


"Yaudah gua masuk dulu." ucapku.

__ADS_1


"Iya Syan." ucapnya.


Kemudian aku pun masuk ke dalam ruanganku ujian, sementara Safira ruangnya ujian. Setelah di dalam ternyata sudah ada Risa yang sedang duduk, dengan membaca buku. Risa adalah murid terpintar dalam kelasku, selalu menjadi ranking satu tidak ada yang bisa menandinginya di kelasku. Lalu aku pun duduk di sampingnya.


"Risa." panggilku dengan tersenyum.


"Eh Arsyan." balasnya dengan tersenyum.


"Udah dari tadi Ris?. " tanyaku.


"Baru aja kok Syan." jawabnya.


"Oh, btw nanti gua kasih contekan ya." ucapku dengan tersenyum.


"Tenang aja Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah beberapa saat,akhirnya,aku pun telah menyelesaikan ujian tulis terakhirku, sebenarnya masih ada beberapa ujian lagi setelah ini, entah itu ujian lisan, ataupun ujian praktek, yang jelas ujian tulis telah selesai pada hari ini.


Aku duduk di depan kelas, sembari menunggu Safira yang belum juga keluar dari ruang ujianya, sembari aku melihat story instagram dari Sandra, yang menunjukkan jika dia tengah melakukan ujian. Sebenarnya dia tak tau jika itu adalah akun instagram aku, karena aku tidak pernah memposting fotoku di instagram,foto profilku juga anime, bahkan namanya juga, tidak aku beri nama seperti nama asliku, melainkan nama samaran. Kemungkinan jika dia tau kalau itu akun instagram aku, mungkin dia gak mau menerima permintaan mengikuti, dariku.


Tak lama setelah itu Safira pun datang dari ruang ujianya, dan menghampiri ku yang sedang duduk.


"Arsyan gua udah selesai." ucapnya dengan tersenyum.


Kemudian akupun berdiri.


"Yaudah ayo balik!. " ajakku.


Kami pun berniat untuk langsung pulang, tapi sebelum kami berdua pulang, tiba tiba ada yang menghentikan kami dari belakang. Kemudian kami berdua yang penasaran pun langsung menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Avelia cewek yang pernah berantem sama Safira pada waktu itu.


"Tunggu jangan pergi dulu." ucapnya.


Kemudian dia pun menghampiri kami berdua.


"Apa lo, ngejak ribut lagi?. " tanya Safira dengan nada tinggi.


"Jangan su'udzon gitu kali." jawabnya dengan tersenyum.


"Terus mau lo apa?. " tanya Safira.


"Gua mau minta maaf sama lo." jawabnya.


"Gak salah dengar gua." ucap Safira.


"Gak." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Gak, gua beneran." ucapnya.


"Yaudah gua maafin." ucap Safira dengan tersenyum.


"Makasih ya." ucapnya.


Kemudian seketika dia memeluk Safira.


"Gua juga minta maaf sama lo." ucap Safira.


"Gak usah minta maaf, lo gak salah kok, justru gua yang banyak salah sama lo." ucapnya.


Kemudian dia melepaskan pelukanya.


"Kita sekarang udah baikan kan." ucapnya dengan tersenyum.


"Udah dong." ucap Safira dengan tersenyum.


"Nama lo siapa ya?. " tanyanya.


"Masa sih gak tau nama gua. " ucap Safira.


"Gak." ucapnya dengan menggeleng kan kepala.


"Nama gua Safira aprilia putri, kalau lo Avelia kan. " ucap Safira.


"Iya, Avelia Aisah." ucapnya.


"Oh." ucap Safira dengan mengangguk.


"Yaudah gua pergi dulu ya Safira, sama cowok lo namanya siapa?. " tanyanya.


"Arsyan." jawab Safira dengan tersenyum.


"Iya Arsyan, gua pergi dulu ya." ucapnya.


"Iya Avelia." ucapku.


Kemudian Avelia pun pergi meninggalkan kami berdua. Sementara kami berdua langsung pergi menuju ke parkiran sekolah untuk mengambil motor dan pulang ke rumah.


"Cie udah baikan nih." ucapku dengan tersenyum.

__ADS_1


"Iya dong." ucapnya dengan tersenyum.


"Senang gak?. " tanyaku.


"Senang banget sih, dari musuh kini sudah menjadi teman." ucap Safira dengan tersenyum.


Akhirnya kami pun sampai di parkiran. Aku langsung menaiki motorku, dan di ikuti oleh Safira yang duduk di belakangku.Setelah itu aku langsung menjalankan motorku untuk menuju ke rumah.


"Syan, nanti pulangnya lewat taman aja ya." ucapnya.


"Mau apa?. " tanyaku.


"Mau beli bakso yang waktu itu, gua kangen sama baksonya." ucapnya dengan tersenyum.


"Oh, yaudah gass." ucapku.


"Tenang aja nanti gua beliin Syan." ucapnya.


"Iya deh makasih,btw lo ujian gini masih kerja Safira?. " tanyaku.


"Masih lah Syan, gua kalau belajar itu di toko, sekalian di bantu teman yang jaga toko." jawabnya.


"Teman lo jaga itu udah lulus sma ya?." tanyaku.


"Udah punya suami Arsyan." jawabnya.


"Berarti sudah ibu ibu?. " tanyaku.


"Tapi belum jadi ibu sih, umurnya aja masih dua puluh tiga tahun." jawabnya.


"Oh." ucapku.


"Btw, gua sempat lihat motor seperti motornya Andi loh di depan rumahnya mbak Nadin. " ucapnya.


"Kapan?. " tanyaku.


"Udah lama sih Syan." jawabku.


"Masa Andi calon suaminya mbak Nadin sih." ucapku dengan bingung.


"Belum tentu sih Syan, mungkin motornya aja yang mirip." ucapku.


"Iya juga sih." ucapku.


"Tapi gak mungkin juga sih, kan seleranya Andi cewek seperti aku, masih perawan dan juga cantik." ucapnya dengan tersenyum.


"Sok cantik lo." ucapku.


"Faktanya gua emang cantikkan, buktinya banyak yang suka sama gua." ucapnya.


"Iya deh, tapi masa sih Andi suka sama janda anak satu." ucapku dengan bingung.


"Tapi gua ingat kata mbak Nadin, suaminya lebih muda darinya." ucapnya.


"Jangan jangan." ucapku.


"Kalau emang bener, kita tinggal nunggu undangan aja gak sih." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya sih, barengan gua nanti kalau dia undang kita." ucapku dengan tersenyum.


"Biasanya juga sama siapa kalau gak sama gua." ucapnya dengan tersenyum.


"Tapi kita coba deh pikir lagi, masa sih Andi mau sama janda anak satu?." tanyaku.


"Tapi gak apa apa kan, mana mbak Nadin juga masih muda dan cantik lagi." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya sih." ucapku dengan tersenyum.


"Tapi aneh juga sih,kalau Andi mau sama janda anak satu." ucapnya.


"Maka dari itu, Safira gua juga mikir." ucapku.


"Mungkin motornya aja sih yang mirip."ucapnya.


"Tapi kalau mbak Nadin nikah, lo dapat undangan gak?. " tanyaku.


"Ya gak tau sih, tapi kalau emang dapat lo temenin gua ya." jawabnya.


"Siap deh pokoknya sayang." ucapku.


"Kok lo manggil gua sayang lagi sih sekarang." ucapnya dengan tersenyum.


"Tapi gak apa apa kan sayang." ucapku dengan tersenyum.


"Kita aja gak pacaran, tapi gak apa apa deh sayang." ucapnya dengan tersenyum.


........................ BERSAMBUNG....................

__ADS_1


__ADS_2