Sisi

Sisi
KE RUMAH MBAK SYIFA


__ADS_3

Keesokan harinya aku terbangun sekitar jam empat pagi, aku pun langsung berdiri lalu perlahan aku berjalan menuju ke kamar mandi, untuk mandi. Setelah beberapa saat, akhirnya aku pun telah selesai mandi.Aku hanya memakai handuk yang menutupi bawah perutku.


Aku langsung masuk ke kamar untuk memakai baju dan sholat subuh.Beberapa menit kemudian, setelah melaksanakan sholat subuh, aku langsung berbaring di kasur kamarku,dengan bermain handphone. Setelah itu tiba tiba aku mempunyai ide untuk main ke rumah mbak Syifa, ataupun mbak Tya.


Aku pun menelpon mbak Tya terlebih dahulu dan untungnya mbak Tya mengangkat telpon dariku.


"Ada apa Syan, pagi pagi gini nelpon?." tanya mbak Tya.


"Aku main ke rumah mbak, boleh gak?." tanyaku.


"Boleh aja sih Syan aslinya, tapi mbak nanti jam tujuh mau pergi, lain kali aja ya ke rumah mbak." jawab mbak Tya.


"Iya mbak, ngomong ngomong mbak udah sembuh?." tanyaku.


"Alhamdulillah sudah Syan." jawab mbak Tya.


"Syukurlah kalau begitu mbak." ucapku.


"Yaudah, mbak matiin dulu ya telponnya." ucap mbak Tya.


"Iya mbak." ucapku.


Kemudian mbak Tya mematikan telponnya. Setelah itu aku pun langsung menelpon mbak Syifa, namun mbak Syifa gak aktif. Sehingga aku pun tidak bisa menelpon mbak Syifa. Aku pun memutuskan untuk bermain game bola, seperti yang aku mainkan tadi malam ketika di rumah makan.


Aku pun memencet gamenya, lalu aku miringkan handphoneku, setelah itu aku pun langsung memulai gameku dan mulai mencari lawan, hingga akhirnya aku pun menemukan lawan, lawanku level ratingnya jauh di bawahku. Sehingga aku pun begitu santai bermainnya.


Baru saja di mulai tiba tiba aku pun langsung mencetak goal, lewat goal jarak jauh dari Ronaldo. Namun bencana terjadi, ketika tiba tiba ada panggilan masuk dari mbak Syifa yang aku telpon tadi, mau tak mau aku pun harus mengangkat telpon dari mbak Syifa dan meninggalkan gameku.


"Ada apa Syan kok telpon mbak?." tanya mbak Syifa.


"Anu mbak, Arsyan main ke rumah mbak boleh gak?." tanyaku..


"Kan mbak udah bilang kemarin, boleh Arsyan." jawab mbak Syifa.


"Tapi mbak gak mau kemana mana kan?." tanyaku.


"Gak, mbak di rumah aja." jawab mbak Syifa.


"Yaudah nanti aku kesana, sekitar jam 8 ya mbak?." tanyaku.


"Iya Arsyan." jawab mbak Syifa.


"Ngomong ngomong, mbak Syifa lagi ngapain sekarang?." tanyaku.


"Masak dong Syan,kan ibu rumah tangga." jawab mbak Syifa.


"Yaudah mbak kalau begitu, Arsyan matiin dulu ya telponnya." ucapku.


"Iya Syan, nanti mbak kirim lokasi rumah mbak." ucap mbak Syifa.


"Iya mbak." ucapku.


Setelah itu aku pun langsung mematikan telponnya. Dan ternyata aku telah kalah karena aku keluar dari permainan, hingga akhirnya rating ku pun turun agak jauh karena kalah. Karena sudah bosan, aku pun menaruh handphoneku di meja yang ada di samping kasur kamarku.


Aku pun membayangkan wajah Sisi saat ini, yang mungkin sudah begitu cantik. Harapanku kembali ada, setelah Sisi memberikan surat itu kepadaku semalam. Tiba tiba tak lama setelah itu ada panggilan masuk dari Sandra. Setelah itu aku pun langsung mengangkat telpon dari Sandra.


"Arsyan jalan yuk!." ajak Sandra.


"Kemana?." tanyaku dengan penasaran.


"Gak tau." jawab Sandra.


"Btw, gua habis ini mau ke rumah mbak Syifa tapi San." ucapku. ,


"Gua ikut pokoknya." ucap Sandra dengan tersenyum.


"Yaudah nanti gua jemput ya." ucapku.


"Gak usah, gua aja yang jemput ." ucap Sandra dengan tersenyum.


"Tapi kan gua yang perlu Sandra." ucapku.


"Gak apa apa Syan." ucap Sandra.


"Tapi San, kan jadi ngerepotin lo aja gua Sandra." ucapku.


"Gak Syan, gak apa apa." Sandra.


"Yaudah kalau begitu, gua tungguin di teras rumah aja." ucapku.


"Jam tujuh gua ke rumahmu Syan." ucap Sandra.


"Iya Sandra. " ucapku.


Kemudian Sandra mematikan telponnya, sementara aku langsung menuju ke teras rumah, untuk menunggunya yang akan ke rumahku. Pas ketika jam tujuh tepat, Sandra pun datang dengan motor warna hitam miliknya. Setelah itu Sandra turun dari motornya, lalu berjalan menghampiri aku yang sedang duduk di teras, kemudian dia duduk di sebelahku.


"Btw, mbak Syifa itu siapa Syan?." tanyanya.


"Teman kerja gua sih." jawabku.

__ADS_1


"Oh, gitu." ucapnya dengan mengangguk.


Kemudian Sandra berdiri lalu menuju ke motornya kembali. Setelah itu Sandra mengambil sebungkus nasi dari motornya, kemudian dia kembali lagi duduk di sampingku.


"Ini Syan ada nasi buat lo, lo belum makan kan." ucapnya dengan memberi sebungkus nasi itu padaku.


Aku pun menerima nasi itu dan perlahan aku buka nasi itu.


"Makasih Sandra, jadi ngerepotin lo aja Sandra." ucapku dengan tersenyum.


"Gak apa apa Syan, btw itu masakan gua loh." ucapnya dengan tersenyum.


"Masa sih." ucapku dengan tersenyum.


"Iya Arsyan, btw enak gak Syan?." tanyanya.


"Enak dong Sandra." ucapku dengan tersenyum.


Aku terus memakan nasi yang di berikan Sandra dengan begitu bahagia.


"Sandra, lo masak di ajarin siapa?." tanyaku.


"Mama gua sih." ucapnya dengan tersenyum.


"Lo gak punya pembantu?." tanyaku dengan tersenyum.


"Gak punya Arsyan, gua sendiri sama mama yang bersih bersih rumah. " jawabnya dengan tersenyum.


"Kenapa gak pakai pembantu aja?." tanyaku.


"Selagi gua bisa, ya kenapa harus pakai pembantu?." tanyanya.


"Iya juga sih." jawabku.


Setelah itu aku pun sudah selesai menghabiskan nasi yang di berikan oleh Sandra dan membuang bungkusnya di tempat sampah yang ada di teras rumahku. Lalu aku juga mengunci pintu rumahku dan berniat untuk langsung berangkat ke rumah mbak Syifa.


"Ayo Sandra!." ajakku.


Kemudian Sandra pun berdiri.


"Yuk Syan." ucapnya setuju.


Setelah itu kami berdua berjalan menuju ke motor milik Sandra yang ada di halaman rumah.Aku langsung naik ke motor milik Sandra, lalu di ikuti Sandra setelahnya.


Aku langsung menyalakan mesin motor milik Sandra, lalu langsung menjalankannya menuju ke rumah mbak Syifa,Aku mengendarai motor itu dengan begitu santai.


"Iya Arsyan, ada apa?." tanyanya.


"Lo gak butuh pembantu kan?." tanyaku.


"Emang kenapa sih Arsyan?." tanyanya dengan bingung.


"Jadi sebentar lagi, rumah makan tempat gua kerja akan di tutup San." jawabku.


"Masa sih." ucapnya.


"Iya Sandra, karena sepi mulu." ucapku.


"Terus apa hubungannya sama pembantu?." tanyanya.


"Jadi gua kasihan sama mbak Syifa, Sandra, mungkin aja dia bisa kerja di rumah lo." jawabku.


"Oh gitu." ucapnya.


"Kebutuhannya banyak San,malahan dia kemarin sempat nangis ketika mendengar kabar penutupan itu." ucapku.


"Nanti gua bicarain sama orangnya langsung ya Syan." ucapnya.


"Makasih ya Sandra, tenang aja mbak Syifa orangnya baik kok." ucapku dengan tersenyum.


Beberapa saat kemudian, akhirnya aku dan Sandra pun sampai di rumah mbak Syifa. Terdapat mbak Syifa yang sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya dengan memakai daster warna hijau.


"Bunda Syifa." panggilku.


"Eh Arsyan udah datang aja pagi pagi." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


Kemudian aku memarkirkan motorku di halaman rumah mbak Syifa, lalu kami berdua pun turun dari motor.


"Ini pacar kamu Syan?." tanya mbak Syifa dengan penasaran.


"Kepo ya mbak." jawabku dengan tersenyum.


"Mbak nanya doang kok." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Teman mbak." ucapku.


Sandra dan mbak Syifa pun berjabat tangan.


"Kenalin saya Sandra mbak, temannya Arsyan." ucap Sandra dengan tersenyum ke arah mbak Syifa.

__ADS_1


"Kenalin juga aku Syifa." balas mbak Syifa.


"Ngomong ngomong, keluarga mbak ke mana semua?." tanyaku.


"Suami mbak kerja, kalau anak sama adik mbak pada sekolah." jawab mbak Syifa.


"Oh." ucapku dengan mengangguk.


"Yaudah ayo masuk dulu!." ajak mbak Syifa.


Setelah itu kami pun masuk ke rumah mbak Syifa, lalu duduk di lantai rumah mbak Syifa.


"Mbak buatin teh dulu ya." ucap mbak Syifa.


"Jadi ngerepotin mbak aja." ucapku dengan tersenyum.


"Gak apa apa kok Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


Kemudian mbak Syifa masuk ke dalam dapur rumahnya. namun tiba tiba Sandra menatap sebuah foto yang ada di dinding rumah mbak Syifa.


"Lo ngelihatnya kek serius banget?." tanyaku.


"Oh gak, itu cuma gua lihat foto adik kelas gua smp dulu" jawabnya.


Tak lama setelah itu mbak Syifa pun datang dengan membawa dua gelas teh di tangannya. Setelah dia menaruh teh itu di hadapan kami berdua dan mbak Syifa pun duduk di hadapan kami.


"Jadi ngerepotin mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Gak apa apa Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Mbak, kakaknya Silvi ya?. " tanya Sandra.


"Loh, kamu kenal Silvi?. " tanya balik mbak Syifa.


"Iya, adik kelas saya smp dulu mbak." jawab Sandra.


"Oh pantesan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


Kemudian Sandra hendak memulai berbicara dengan mbak Syifa.


"Jadi Arsyan cerita ke saya mbak, soal berita penutupan rumah makan tempat kerja mabak." ucap Sandra.


"Iya terus." ucap mbak Syifa.


"Mau gak mbak Syifa kerja di rumahku jadi pembantu,saat tempat kerja mbak sudah di tutup?." tanya Sandra.


"Beneran?." tanya mbak Syifa dengan terkejut.


"Iya mbak." jawab Sandra dengan mengangguk.


"Makasih ya Sandra, mbak mau kok." ucap mbak Syifa dengan raut wajah bahagia.


"Arsyan yang mengusulkan semuanya mbak." ucap Sandra.


"Makasih ya Arsyan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Santai aja kali mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Mbak janji, nanti akan kerja sebaik mungkin." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Tapi nunggu rumah makannya di tutup dulu ya mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Iya, ngomong ngomong kalian makan dulu ya." ucap mbak Syifa.


"Gak usah mbak, tadi udah makan soalnya." ucapku dengan tersenyum.


"Makan lagi dong." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Gak usah mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Pokoknya mbak ambilin." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


Kemudian mbak Syifa berdiri.


"Tapi mbak Syifa, aku kan udah kenyang." ucapku.


"Gak ada tapi tapian." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


Lalu mbak Syifa berjalan ke dapur rumahnya.


"Lo masih kuat kan Syan makan lagi." tanya Sandra.


"Di usahain aja sih,kalau lo." ucapku dengan tersenyum.


"Ya sama Syan." ucap Sandra dengan tersenyum.


........................... BERSAMBUNG..........................


...****************...

__ADS_1


__ADS_2