Sisi

Sisi
DAISY : Lem dan Prangko


__ADS_3

-


-


-


"Sunny,Sini!" Demian memerintahnya. Gadis itu rerlihat kikuk dan dengan bodohnya dia menurut saja.


Demian mengambil 2 buah kursi sepertinya dia akan bercerita panjang kali ini. Baiklah, aku memilih duduk di kursi kecil untuk bermain Grandpiano.


"Kenalin Namanya Daisy flor Soedarno. She is my twin."


Ya dia saudara kembarku. Batinku menggerutu.


Aku melihat mulutnya yang terbuka saat Demian memperkenalkan aku yang sebenarnya.


"Maaf ya kalau selama ini perangainya sama lo itu buruk banget, gua aja sebagai kakanya sering dibuat kesusahan."


"Apa?!!" Tanyaku tak terima.


Selama ini dia lupa siapa yang menyusahkan siapa. Cih!


"Geer moeder nee!"(tidak bu tidak). Ucapnya seraya merapatkan kedua tangannya mohon ampun.


"Dia itu cuman keluar lebih awal. Pamernya aja yang selangit." Aku mendengus kesal. Kembaranku itu Hobby sekali membuat orang jengkel.


Aku menatap sunny. Gadis itu menatap kami dengan canggung dan penuh tanda tanya.


"Sorry ya, selama ini gua kelihatannya jahat, mengerikan, terus cuek. Padahal, sebenernya Gua gak kayak gitu." Aku membuka obrolan dengan permintaan maaf agar suasana tidak canggung.


"Khusus dia cuek itu beneran kayak gitu. Dia gak pernah peduli sama lingkungan sekitar yang gak ada hubungannya sama dia." Demian menginterupsi.


Ucapannya memang benar. Aku tidak pernah peduli terhadap orang lain karena aku tidak ingin mencapuri urusan mereka. Lagi pula untuk apa?


Sunny masih menatapku dalam diam dan canggung.


"Udah biasa orang melabeli dia dengan sebutan monster berhati dingin. Ya karena kelakuannya yang gak pernah mau bantu orang lain." Demian menghela nafas sejenak.


"Ditambah lagi raut mukanya keliatan dingin dan sadis." Lanjutnya.


Aku mengangkat bahu tak peduli. Aku memang ak pernah peduli pandangan orang tentangku.


"Sebenernya gak pernah seperti itu. Mata Daisy rusak sejak lama. Dia rabun dekat. Jadi, dia gak bisa lihat jelas apa yang ada di dekatnya. Semuanya kelihatan buram. Makannya selama ini tatapannya kayak yang kosong." Demian menjelaskan.


Sunny terkejut mendengar kata itu.


"Maaf ya, gua pernah nganggap lo monster juga." Sunny berkata menyesal. Manik mata hitamnya terlihat jelas saat aku memakai kacamata. Jadi ini yang di kagumi Demian selama ini.


"It's ok." Ucapku santai.


"Lagian gua gak pernah peduli sama apa pendapat orang tentang gua. Mereka itu cuman sebata Hobby mengkritik dan melabeli orang. Selebihnya mereka gak peduli sama sekali keadaan sebenarnya dari orang yang mereka kritik dan mereka labeli seenak jidat."


Sunny terlihat semakin merasa bersalah saat mendengar ucapanku.


"Anu daisy." Ucapnya canggung.


"Uh?" Aku menatap mata hitamnya yang tertunduk seketika saat kutatap.


"Gausah canggung sama gua. Gua gak baperan kayak dia." Ucapku menyindir kembaranku. Demian mengerucutkan bibirnya tak terima atas pendapatku.


"Daisy kalau boleh tahu. Emang seburam apa?" Akhirnya gadis itu berani bertanya padaku.


"Awalnya gak terlalu blur. Tapi akhir akhir ini, gua kayak lihat didalam air. Mungkin kurang is..." Demian memotong ucapanku.


"Dia itu kurang istirahat. Keras kepala kalau dikasih tahu. Apalagi kalau udah pedang piano atau biolanya. Dia bakal lupa dunia saat itu juga." Demian menginterupsi.


"Piano? Biola?" Sunny bertanya. Ia terlihat antusias.


"Iya dia anggota orchestra." Ucap Demian. Mata hitam Sunny berbinar seperti mutiara hitam saat mendengar kata orchestra.


"Woooahh gua suka orchestra, apalagi musik klasik." Ucapnya antusias. Aku tersenyum merasa tersanjung mendengarnya.


"Apanya yang keren? Concert keliling dunia sama orang ora g yang udah kolot." Cibir Demian.


"Oyy! Seenggaknya mereka bayar gua ribuan Dollar buat sekali concert. Emang apa yang udah lo dapet dari Band ecek ecek lo?" Ucapku membalas cibiran Demian.


"Daisy!!" Ia memekik tak terima. Aku tidak peduli.


Lagi lagi Sunny tertawa renyah melibat tingkah kami.


"Anyway, apa murid murid disini tau kalau kalian berdua saudara kembar?" Sunny bertanya.


"Nope. Cuman temen deket doang. Guru guru juga gak semuanya tau." Ucapku santai.


"Why?" Ia bertanya. Wajahnya penasaran.


"Ya gitudeh." Ucapku acuh. Lagipula kenapa orang orang harus tahu?


"Sunny, lo ada apa kesini?" Devon bertanya mengalihkan pembicaraan. Good job bro!.


"Ah iya, gua mau balikin ini." Ucap Sunny seraya mengeluarkan seragam yang sangat familiar denganku.


Seragam? What the...?


"Sama ini." Tangannya menyerahkan pin nametag yang jelas jelas punya saudara kembarku.


Aku menatap tajam mereka secara bergantian.


"Apa apaan ini? Kalian habis ngapain? Please Demian, berhenti buat inar! Gak cape apa, buat orang lain kesusahan!" Ucapku jengah atas tingkah saudaraku yang hobby sekali mencari perkara.

__ADS_1


"My Twi~in." Rengek Devon seperti anak kecil.


"Don't call me your twin, Motherfvcker!! Dan BERHENTI MERENGEK KAYAK ANAK KECIL!!!" Ucapku seraya melayangkan tangan akan memukulnya.


"Daisy, Daisy! Jangan salah paham dulu." Sunny mencoba menahanku.


Aku menghela nafas kasar seraya menurunkan tanganku. Aku menatap mereka yang terlihat seperti tertangkap basah.


-


Hening diantara kami


-


-


"Sunny." Ucapku lirih.


"Gua peduli sama lo. Gua minta jangan deket deket sama Demian. Dia itu gak bener." Aku memperingatkan gadis malang itu.


"Sister! Lo tuh sodara gua bukan sih?! Ini tuh yang gak kayak yang lo maksud." Demian menggerutu.


"Gua gak peduli apa yang kalian lakuin. Gua cuman mau memperingatkan."


Sunny dan Demian saling tatap. Demian meraih seragam dan nametagnya dari pangkuan Sunny dengan ragu.


Tiba tiba, nada panggilan masuk. Namun, bukan dari Hp ku.


"Hallo ma?" Sunny mengangkat panggilan dari Hpnya


"..."


"Iya sekarang kesana." Ucapnya lantas menutup panggilan itu.


"Guys! Gua duluan ya. Mama gua udah didepan." Ucapnya pamit seraya beranjak  dari duduknya.


Mama?


Aku mengangguk. Demian mengantarkan Sunny sampai gerbang.


Aku menghela nafas seraya melihat punggung mereka yang perlahan menjauh.


Aku harap saudaraku tidak main main sekarang.


...*   *   * ...


Hari berlanjut seperti biasa.  Saat ini jam istirahat. Saat ini aku sedang di Ruang Musik memainkan biolaku.


Saat ini aku sedang memainkan Rondo Capriccioso op. 28__Camille Saint-Saëns.


Musik mengalun ditelingaku. Matakut tertuju pada partitur memastikan kalau kalau ada nada yang salah. Namun, pikiranku tidak fokus dengan apa yang aku mainkan. Sehungga nada yang keluar dari gesekan biolaku terasa hambar dan tidak berasa.


TOENG!!!


"Ah menyenangkan sekali." Gumamku pada saat punggung hangatku menyentuh lantai Ruang musik yang dingin.


Aku menatap langit langit mengingat apa saja yang sudah kulakukan. Hariku berjalan seperti biasa. Sekolah, latihan dan seminggu sekali latihan bersama anggota orcgestra yang lain. Ngomong ngomong, 2 minggu lagi aku akan komser bersama Group Orchestra ku di Ibukota. Untuk itu aku izin kepada pihak sekolah untuk fokus berlatih dan setelah konser aku akan mengejar pelajaran yang tertinggal.


Namun, itu bukanlah suatu hal yang luar biasa bagiku. Semuanya terasa membosankan. Bosanku teralihkan berkat kehadiran 2 sejoli yang akhir akhir ini menarik perhatianku. Siapa lagi kalau bukan 2 orang yang baru kasmaran.


Tidak seperti remaja lainnya mereka sama sama pemula.


Benar, mereka pemula dalam urusan percintaan. Yang satu baru pertama kali mengenal dunia luar dan yang satu baru pertama kali melakukan suatu hal yang menurutku 'normal'.


Aku ikut senang melihat mereka. Walaupun mereka belum meresmikan hubungan mereka tapi, kedekatan yang mereka jalin cukup membuatku bahagia. Mereka tersenyum bersama. Perpaduan senyum yang indah menurutku. Senyum dari wajah Bahagia dari wajah pucat Sunny dan Senyum tulus yang belum pernah aku lihat dari wajah saudara kembarku.


Walaupun awalnya Demian mendekati gadis itu karena kemauan Papih yang haus akan pujian. Namun, lama kelamaan sepertinya Devon benar benar tertarik pada gadis itu.


Mereka sudah seperti Lem dan Pranko. Kemana mana bersama lebih tepatnya Demian yang selalu membuntuti Sunny kemanapun ia pergi.


Tak sampai disitu kurasa saudaraku itu sudah menemukan apa yang ia cari. Sunny seolah olah menjadi atmosfer Demian saat ini. Bahkan sampai rumah pun, si Londo itu masih saja membicarakan gadis pujaannya. 'Sunny inilah','Sunny itulah', 'Sunny bla bla bla' dan masih banyak hal lagi. Aku senang saudaraku mulai memakai akal warasnya.


'Do,Re,Mi,Fa,Sol,Do,Si,La~'. Aku menoleh saat ada seseorang yang mereka tuts piano dengan salah.


"Raf, Rom?" Ucapku saat melihat 2 lelaki yang salin berebut untuk duduk di kursi piano.


Mereka menoleh padaku lantas menyeringai.


"Ehh, Nunna." Rafa melangkah mendekatiku. Ia merebahkan kepalanya diatas pahaku.


"Dasar Bocil!" Cibir Romi.


Rafa, Devon, dan Romi adalah anggota Band disekolah kami. Devon memegang Drum, Romi gitar melody, Rafa Vokalis, dan masih ada Zayn dan Ben yang memegang bass dan piano. Kami semua satu angkatan namun, dengan bodohnya  Mereka mau saja jadi antek antek setia Devon yang otomatis tahu bahwa aku kembaran Boss mereka.


Rafa sangat mengagumi semua hal Imut dan KeKorea-an. Seungri exBigbang dan Jungkook BTS adalah panutannya. Untuk itu dia senang sekali diperlakukan seperti anak kecil dan menganggap kami semua kakanya. Awalnya tanganku selalu terangkat saat dia bertingkah seperti Anak kecil yang Hobby merengek namun lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan tingkahnya itu.


"Kok disini? Gak makan bareng sama Devon?" Tanyaku pada mereka berdua.


"Nunna sendiri ngapain disini? Gak pergi bareng sama Hyung?"


"Aduhh!" Rafa tiba tiba meringis seraya mengusap keningnya yang disentil Romi.


"Nunna Hyung, Nunna Hyung!! Berhenti Kokore-an, Empet telinga gue dengernye." Gerutu Romi.


"Hak dong!! Nunna juga gak keberatan gua kokoreaan, lo aja yang Riweh!!". Rafa membalas Romi seraya mengerucutkan bibirnya, meledek. Aku hanya terkekeh melihat tingkah mereka yang selalu saka seperti Tom and Jerry.


"Dais, akhir akhir ini lu jarang jalan bedua amè Si Londo. Biasanyè pan kalian kemanè manè beduè kayè Lem amè Prangko."


"Romi romi, lo temen sebangku Devon hyung tapi Kudet banget sih! Devon hyung kan sudah punya pacar namanya Matahari, ehh surya, ehh Sunny." Ucapnya seraya menepuk nepuk mulutnya aku tertawa geli melihat tingkah konyolnya.

__ADS_1


"Jadi, Devonhyung lebih banyak menghabiskan waktunya bersama gadis pujaannya ketimbang sama kembarannya." Rafa menjelaskan. Aku mengangguk.


"Kalo itu mah Guè juga tau." Romi membela diri.


"Maksud Guè, lu ga ikut Devon? Dia tadi pulang duluan loh, bawa motornya lagi." Aku terperanjat mendengar ucapan Romi otomatis Rafa yang tidur dipangkuanku pun ikut tergeser.


"Pulang? Kapan? Ko gua ga tau?" Tanyaku. Rafa dan Romi menatapku bingung.


"Ahh iya! Gua inget kemarin Sunny bilang hari ini dia gak akan sekolah. Katanya mau nemuin temennya yang Psikolog sekaligus Terapi atau entah apalah itu. Mungkin Devon kesana." Ucapku teringat omongan Sunny kemarin.


"Di jam sekolah? Terapi? Psikolog? Bukannya Devon hyung benci ya sama Terapis jiwa dan sejenisnya." Rafa bertanya bingung. Kami saling tatap. Benar, Saudaraku benci psikolog dan sejenisnya.


"Atau..." Romi menahan kalimatnya. Kami saling bertatapan terkejut. Saat menyadari sesuatu.


Aku terperanjat sesegera mengambil ponsel dan kacamataku yang kusimpan diatas partitur. Sesegera mungkin aku memakainya dan menekan panggil pada nomor Devon. Romi dan Rafa sama sama panik.


Tidak diangkat.


Masih tidak diangkat.


"Aarrgghh!!" Geramku kesal.


"Nunna, Coba lagi siapa tau kali ini diangkat." Rafa mendorongku untuk menghubungi Devon sekali lagi.


Aku meklik ikon bergambar gagang telepone berwarna hijau,lagi. Pada nomor Devon.


Tersambung...


"Londo! Dimana lo!?" Tanyaku panik.


"Baisnslzhsndixndi" suaranya bergemuruh tak jelas. Sepertinyabia sedang dijalan.


"Hah!?"


"Lo kemana Demian? Jangan jangan lo...."


"Sorry." Ucapnya samar.


"LONDO!!!" Pekikku saat tahu maksud dari saudaraku berkata 'sorry'.


"Sorry. But, kayanya dia udah tahu kabar gua punya pacar disekolah." Demian berkata lirih ditengah gemuruh suara jalanan.


"Londo!!! KENAPA GAK BILANG SAMA GUA DULU SIH!!?" Aku geram dengan sikapnya yang selalu seenaknya.


"Sorry. Lo gak akan kasih izin kalau gua bilang dulu. Udah ya Bye."


"Londo!!! Udah cukup Sunny aja! Putusin hubungan lo sama orang Sinting itu!"


"Londo!??"


"Hallo?"


"Londo!??"


"Demian!!??"


"ANJ*NG!!!" Aku mengumpat begitu keras. Kesal saat kembaranku itu memutuskan panggilannya.


Aku memghela nafas kasar seraya terduduk dikursi Grandpiano.


-


-


-


"Nunna." Rafa berkata lirih.


"Hyung ketempat orang itu lagi ya?" Ia bertanya dan aku menangguk pasrah.


"Emang keterlaluan itu si Londo!! Udah tau gak bener masih aja dilakuin!" Romi mendengus kesal.


"Yang gua khawatirkan itu Sunny. Lo tahu kan anak kayak dia itu rawan. Gimana perasaannyabkalau tahu Demian yang sebenernya." Aku memjiat keningku. Saudaraku itu benar benar...


Bel masuk berbunyi


"Kalian masuk kelas aja." Ucapku pada mereka.


"Nunna." Rafa berkata lirih. Ia tak mau meninggalkanku. Romi memegang pundak Rafa meyakinkan Rafa untuk paham bahwa aku sedang ingin sendirian.


"Lo gak akan masuk?" Tanya Romi. Aku menggeleng.


"Concert gua 2 minggu lagi. Udah izin sama kepala sekolah."


Romi mengangguk paham. " kita masuk dulu ya." Ia pamit padaku seraya menarik Rafa yang terlihat enggan meninggalkanku.


Pikiranku dipenuhi hal hal yang kemungkinan akan terjadi. Sebenarnya, Melihat ketertarikan saudaraku pada gadis itu membuatku itu Dilema. Disatu sisi aku bahagia setidaknya saudaraku sudah mencoba untuk bersikap 'normal'. Disisi lain aku khawatir. Bukan pada saudaraku yang akan mengencani gadis yang tengah sekarat. Melainkan pada gadis yang tengah berjuang untuk hidup itu. Aku takut Demian akan menyakitinya seiring berjalannya hubungan mereka.


Sial aku tidak akan fokus untuk latihan.


-


-


-


-


To Be Continue~~~

__ADS_1


...Sorry kalo banyak typo, see you☘...


^^^Dairos⚘🌼^^^


__ADS_2