Sisi

Sisi
SANDRA


__ADS_3

Siangnya setelah sholat dzuhur,aku pun kembali berbaring di kasur kamarku, sementara Sandra duduk di kasur, di samping ku yang sedang berbaring, Sandra terus mengelus dahiku.


"Udah mendingan Syan?." tanyanya dengan terus mengelus dahiku.


"Lumayan sih Sandra, gak kek tadi sakitnya." jawabku.


"Syukurlah kalau begitu." ucapnya dengan tersenyum ke arahku dan terus mengelus dahiku.


"Iya Sandra." ucapku dengan tersenyum ke arahku.


"Oh iya setelah ini gua tinggal dulu ya Syan." ucapnya.


"Kemana?." tanyaku dengan penasaran.


"Beli makan, sekalian beliin lo juga." jawabnya.


"Oh." ucapku.


"Lo mau di belikan apa?." tanyanya.


"Terserah lo aja deh Sandra." jawabku dengan tersenyum.


"Kalau bakso mau gak?." tanyanya.


"Iya Sandra gak apa apa." jawabku.


"Tapi ada syaratnya." ucapnya dengan tersenyum.


"Apa syaratnya?." tanyaku.


"Pokoknya nanti harus habis, gak boleh sampai sisa." jawabnya.


"Iya deh Sandra." ucapku dengan tersenyum.


"Yaudah gua pergi dulu loh Arsyan." pamitnya.


Kemudian Sandra berdiri.


"Hati hati loh Sandra." ucapku.


"Iya Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah itu Sandra perlahan berjalan keluar kamarku untuk pergi membeli makan. Sementara aku sendirian di kamar itu sambil berbaring. Karena aku bosan, aku pun mengambil handphoneku yang ada di meja samping kasurku.


Aku pun hendak membuka game sepak bolaku, tapi baru saja hendak membuka game, tiba tiba ada video call dari tante Santi dan aku pun langsung menjawabnya. Terlihat tante Santi memakai baju chef berwarna putih.


"Tante." panggilku.


"Sayang, kamu kok gak kerja?." tanyanya.


"Arsyan sakit tante." jawabku.


"Sakit apa?." tanyanya dengan khawatir.


"Sakit perut sama badan panas, tapi sekarang udah lumayan sih tante." jawabku.


"Sejak kapan sayang sakitnya?." tanyanya lagi.


"Sejak kemarin tante." jawabku.


"Kenapa gak bilang sama tante?, kan bisa tante temenin sayang." ucapnya dengan khawatir.


"Tante kan kerja,takutnya ganggu." ucapku.


"Gak sayang, kan tante bisa izin." ucapnya.


"Gak apa apa tante." ucapku.


"Yaudah, besok tante kesana sayang." ucapnya.


"Tante gak kerja?." tanyaku.


"Izin nanti sayang." jawabnya.


"Kalau gak boleh tante?." tanyaku lagi.


"Biarin sayang, pokoknya tante akan tetap kesana." ucapnya.


"Kalau tante di pecat gimana?." tanyaku lagi.


"Biarin sayang, tante lebih baik di pecat dari pada biarin keponakan kesayangan tante sakit di sana sendirian." jawabnya.


"Yaudah tante." ucapku.


"Ibu sudah tau sayang?." tanyanya.


"Belum tante." jawabku.


"Kenapa gak bilang sama ibu, sayang?." tanyanya.


"Gak usah tante, takutnya ibu kepikiran lagi." jawabku.


"Tante bilangin sama ibu ya?." tanyanya.


"Jangan tante gak usah, cukup tante aja yang tau." ucapku.


"Yaudah kalau itu mau kamu, tante gak akan bilangin ke ibu tapi tante besok kesana." ucapnya.

__ADS_1


"Iya tante, ngomong ngomong tante lagi ngapain?." tanyaku dengan penasaran.


"Lagi duduk aja sih sayang." jawabnya dengan tersenyum.


"Gak kerja tante?." tanyaku.


"Istirahat bentar sayang." jawabnya dengan tersenyum.


"Oh."ucapku dengan tersenyum.


"Besok kalau tante ke sana minta di bawain tante apa sayang?." tanyanya.


"Sembarang deh tante, yang penting enak gitu aja." ucapku dengan tersenyum.


"Pokoknya tante akan bawain makanan yang enak banget, spesial untuk keponakan tante tercinta." ucapnya dengan tersenyum.


"Siap tante." ucapku dengan tersenyum.


"Udahan dulu ya sayang, tante mau lanjut kerja." ucapnya.


"Iya tante." ucapku dengan tersenyum. .


"Bye sayang, cepat sembuh ya." ucapnya.


"Iya tante sayang." ucapku dengan tersenyum.


Tante Santi pun mematikan video callnya, karena hendak melanjutkan pekerjaannya. Bersamaan dengan itu Sandra pun sudah datang dengan membawa bungkusan di tangan kanannya.


"Arsyan." ucapnya dengan melambaikan tangan.


"Kok cepat Sandra?." tanyaku.


"Kalau lama lama nanti gua lapar lagi." jawabnya dengan tersenyum.


Setelah itu Sandra menghampiriku, dan menaruh bungkusan itu di meja.


"Arsyan, punya mangkok gak?." tanyanya.


"Coba cari di dapur deh Sandra." jawabku.


Setelah itu Sandra langsung pergi menuju ke dapur untuk mengambil mangkok. Tak lama setelah itu Sandra pun kembali dengan membawa dua mangkok dan duduk di kasur sampingku berbaring.


Sandra mengambil satu bungkus bakso , lalu membuka bungkusan itu dan dia masukkan ke dalam mangkok.Setelah itu aku pun duduk.


"Syan tiduran aja gak apa apa kok." ucapnya.


"Gak apa apa Sandra, males gua tiduran mulu." ucapku dengan tersenyum.


"Yaudah." ucapnya dengan tersenyum ke arahku.


Kemudian Sandra hendak menyuapi ku bakso yang ada di tangannya itu.


"Suapin dong Sandra." jawabku dengan tersenyum.


"Manja banget ya." ucapnya dengan tersenyum.


"Gak apa apa dong." ucapku dengan tersenyum.


"Mau yang kecil dulu atau yang besar nih?." tanyanya.


"Kecil kecil dulu dong Sandra, kan yang besar terakhir aja aja." ucapku dengan tersenyum.


"Iya deh." ucapnya dengan tersenyum.


Sandra menyuapi satu pentol ke dalam mulutku dengan sendok.


"Enak gak Arsyan?." tanyanya.


"Enak dong apalagi yang suapin cewek cantik gini." ucapku dengan mengunyah makanan di dalam mulutku.


"Bisa aja deh lo." ucapnya dengan tersenyum.


"Mana baksonya gua pegang aja." ucapku.


Sandra memberikan semangkok bakso itu padaku.


"Udah gak minta di suapin lagi nih." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya dong kan gua udah gak manja." ucapku dengan tersenyum.


Setelah itu aku mengambil satu pentol di mangkok itu dan berniat menyuapkannya kepada Sandra.


"Buka mulut dong Sandra." ucapku.


"Gua punya sendiri gak usah di suapin Syan." ucapnya.


"Gak apa apa Sandra." ucapku dengan tersenyum.


"Yaudah deh." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah itu Sandra membuka mulutnya, lalu aku pun langsung menyuapkan pentol itu ke dalam mulutnya.


"Enak gak?." tanyaku.


"Enak dong, kan Arsyan yang nyuapin." jawabnya dengan tersenyum.


"Pasti dong itu." ucapku dengan tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita campur aja baksonya jadi satu mangkok, terus kita makan berdua?." ucapnya dengan tersenyum.


"Boleh tuh, tapi muat gak mangkoknya aja segini." ucapku.


"Gua minum dulu dong kuahnya Syan." ucapnya dengan tersenyum.


Sandra mengambil bakso miliknya, lalu Sandra membuka bungkus bakso itu dan langsung meminum kuah bakso itu, hingga tinggal tersisa pentolnya.


"Kita ke bawah aja yuk Sandra." ajakku.


"Yaudah yuk." ucapnya setuju.


Setelah itu kami berdua pun duduk di lantai kamar, lalu Sandra langsung mencampur pentolnya di mangkokku.


"Arsyan gua suapin lagi ya." ucapnya dengan tersenyum.


"Boleh." ucapku dengan tersenyum.


Sandra menyuapiku lagi dengan raut wajah bahagia.


"Sekarang gantian." ucapku dengan tersenyum.


"Boleh deh, tapi yang besar ya." ucapnya dengan tersenyum.


"Langsung semua atau di potong?." tanyaku dengan tersenyum.


"Ya di potong dulu lah Arsyan, masa muat sih mulut gua segitu." ucapnya dengan tersenyum.


"Mungkin aja muat." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian aku memotong pentol itu sedikit , dan aku menyuapkannya ke dalam mulut Sandra. Raut wajah Sandra pun terlihat sangat bahagia dengan senyuman manis yang terpancar dari wajah cantiknya itu.


"Enak banget Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.


"Ya, iya dong." ucapku dengan tersenyum.


"Sekarang, kita makan sendiri sendiri ya." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya Sandra." ucapku dengan tersenyum.


Setelah beberapa saat akhirnya bakso kami berdua pun telah habis, setelah itu Sandra mengambil obat yang ada di meja dan kemudian memberikan obat itu kepadaku.


"Ini Arsyan obatnya." ucapnya dengan memberikan obat itu padaku.


"Iya Sandra." ucapku.


Setelah itu dia duduk di sampingku, sementara aku langsung meminum obatnya.


"Masih panas gak Syan badan lo?." tanyanya.


"Udah gak kok." jawabku dengan tersenyum ke arahnya.


"Beneran?." tanyanya dengan tersenyum ke arahku.


"Coba deh, pegang." ucapku dengan tersenyum.


Kemudian Sandra memegang dahiku.


"Iya, udah gak panas Syan." ucapnya dengan tersenyum ke arahku.


"Bener kan." ucapku dengan tersenyum.


"Iya, tapi perut lo?." tanyanya.


"Udah mendingan juga." jawabku dengan tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya Sandra." ucapku dengan tersenyum.


Setelah itu Sandra menatap wajahku.


"Arsyan." panggilnya.


"Iya Sandra." ucapku dengan tersenyum.


"Boleh gak gua sandaran di bahu lo?." tanyanya.


"Boleh, Sandaran aja Sandra." jawabku.


Kemudian Sandra bersandar di bahu kananku, setelah itu dia memegang tanganku.


"Arsyan makasih ya, udah membuat gua bahagia." ucapnya dengan tersenyum.


"Seharusnya yang berterima kasih itu gua Sandra, bukan lo." ucapku dengan tersenyum.


"Saat dengan lo gua nyaman banget Syan, gua gak pernah senyaman ini sama cowok sebelumnya." ucapnya.


Aku pun hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Sandra itu.


"Maafin gua,yang marahin lo waktu itu ya Syan." ucapnya.


"Kok di ingat ingat lagi sih Sandra,gua udah maafin kok." ucapku dengan tersenyum.


"Makasih Syan." ucapnya dengan tersenyum.


Beberapa jam kemudian, tepatnya jam 12 malam tiba tiba aku terbangun, karena kebelet kencing. Setelah aku duduk, aku melihat Sandra yang sedang tertidur di lantai. Dia terlihat begitu lelah, keringat yang membasahi wajahnya pun tidak bisa berbohong jika dia begitu lelah. Aku merasa gak enak telah merepotkannya sehari ini, tapi aku sangat bahagia ketika dia ada di dekatku.

__ADS_1


Setelah itu aku pun mengambil selimut di kasurku, kemudian aku selimutan ke badan Sandra. Setelah itu aku pun langsung keluar, karena sudah tidak tahan, menahan kencing ku.


............................ BERSAMBUNG.........................


__ADS_2