
Keesokan harinya aku telah bersiap siap untuk pergi ke rumah makan milik mas Ricky. Setelah itu aku perlahan berjalan menuju keluar rumah, aku keluarkan motorku dari dalam rumah,lalu aku mempersiapkan motorku.
Tak lama setelah itu, tiba tiba ada kiriman lokasi dari mas Ricky, lalu aku pun langsung naik ke motorku dan langsung menjalankan motorku menuju ke rumah makan milik mas Ricky.
Aku begitu santai menikmati perjalananku, sembari menikmati lingkungan sekitar yang terlihat begitu indah. Hingga akhirnya aku pun sampai di rumah makan milik mas Ricky. Setelah itu aku langsung memarkirkan motorku di halaman rumah makan itu, lalu aku turun dari motorku.
Lalu perlahan aku pun masuk ke rumah makan yang tak terlalu besar itu, dengan perasaan yang lumayan malu. Di dalam rumah makan, sudah ada mas Ricky yang sedang duduk di salah satu meja makan yang ada di dalam rumah makan itu.Suasana di rumah makan itu begitu sepi tidak ada pelanggan sama sekali di sana.
"Sini duduk dulu Syan!." perintahya.
lalu aku pun duduk di hadapan mas Ricky.
"Sudah tau kan cara kerjanya?." tanyanya.
"Belum mas." jawabku.
"Jadi kamu di sini bekerja sebagai waiter." ucap mas Ricky.
"Oh Waiter." ucapku dengan tersenyum.
"Iya, kamu bisa kan Syan?." tanyanya.
"InsyaAllah mas." jawabku dengan tersenyum.
"Yaudah ayo ikut mas ke dapur dulu." ajaknya.
Kemudian aku dan mas Ricky pun pergi ke dapur rumah makan. Sesampainya di dalam terdapat empat orang, dua wanita dan dua pria yang memakai baju chef. Sementara terdapat dua orang wanita lagi yang memakai kaos hitam khas restoran ini, yang bekerja sebagai waitress.
"Semuanya kumpul dulu!." perintah mas Ricky.
Kemudian mereka berkumpul tepat di hadapanku dan mas Ricky.
"Maaf mas, apa yang kasir harus di panggil dulu?." tanya salah satu waitress.
"Gak usah. " jawab mas Ricky.
"Oh yaudah mas." ucap waitress itu.
Kemudian mas Ricky mulai mengumumkan.
"Jadi ini ada karyawan baru, keponakan calon istri saya, mbak Santi." ucap mas Ricky.
"Perkenalkan nama saya Arsyan." perkenalan ku.
"Yaudah gitu aja,bisa di lanjut lagi kerjanya." ucap mas Ricky.
Kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya masing masing.
"Mbak Syifa sini dulu deh." panggil mas Ricky.
Kemudian salah satu waitress yang di panggil mas Ricky pun menghampiri kami berdua.
"Iya mas." ucapnya dengan
"Tolong ajarin Arsyan cara kerjanya ya mbak." ucap mas Ricky.
"Iya mas." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian mas Ricky menoleh ke arahku.
"Iya Syan nanti ikutin apa yang di ajarkan mbak Syifa." ucap mas Ricky.
"Iya mas." ucapku dengan mengangguk.
"Yaudah mas Ricky pergi dulu, masih ada urusan di kantor." pamit mas Ricky.
"Iya mas hati hati." ucapku.
Kemudian mas Ricky pun pergi dari dapur rumah makan itu.
"Kenalin nama saya Syifa." ucap waitress itu dengan mengulurkan tangan.
Lalu kami berdua pun berjabat tangan.
"Iya mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong, kamu umurnya berapa?." tanya mbak Syifa.
"Baru lulus sma mbak." jawabku dengan tersenyum.
"Masih muda dong berarti." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya mbak." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian waitress yang satunya lagi pun datang menghampiriku dan mbak Syifa.
"Oh iya kenalin ini mbak Tya, lebih umurnya lebih muda dari mbak Syifa." ucapnya dengan tersenyum.
"Hai Arsyan." ucapnya dengan melambaikan tangannya.
"Hai juga mbak Tya." ucapku dengan tersenyum ramah.
"Kamu tau gak kira kira mbak umur berapa?." tanya mbak Syifa dengan tersenyum.
"Gak tau mbak, mungkin 25 tahun." jawabku dengan tersenyum.
"Kok muda banget sih, 25 tahun." ucapnya dengan tersenyum.
"Anak dia aja udah tiga Syan,masa 25 tahun." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Terus berapa mbak umurnya?." tanyaku dengan penasaran.
"35 tahun dong. " jawab mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kok kelihatan masih muda ya mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Masa sih mbak kelihatan masih muda." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya mbak beneran gak bohong." ucapku dengan tersenyum.
"Kamu bisa aja deh." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kalau saya umurnya masih 22 tahun Syan, masih muda, cocok kali jadi anaknya mbak Syifa." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
"Aku hamil umur berapa we, kalau punya anak seumuran kamu?." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"He he he, bercanda mbak." ucap mbak Tya dengan tersenyum.
Kemudian keempat tukang masak menghampiri kami bertiga yang sedang mengobrol.
"Ini namanya mas Anto." ucap mbak Syifa dengan menunjuk salah satu pria.
"Hai." ucap pria itu dengan melambaikan tangan.
"Hai juga." balasku dengan tersenyum ramah.
"Hai semuanya." ucapku dengan tersenyum ramah sembari melambaikan tangan.
Mereka pun tersenyum ke arahku.
"Baru lulus tahun ini ya? " tanya mas Anto.
"Iya mas." jawabku dengan tersenyum.
"Oh." ucapnya dengan tersenyum.
Lalu tukang masak itu pun melanjutkan pekerjaanya di dapur,sementara mbak Syifa mengajakku pergi ke suatu ruangan yang ada di dapur rumah makan itu.
"Tya, kamu ke depan dulu ya, biar aku nganterin Arsyan ngambil kaos sebentar." ucap mbak Syifa.
"Siap mbak." ucapku mbak Tya.
Kemudian mbak Tya keluar dari ruang dapur, dan menuju ke pusat rumah makan. Sementara aku dan mbak Syifa berjalan menuju ke suatu ruangan yang ada di dapur. Setelah itu kami pun masuk ke ruangan itu, terdapat banyak sekali barang barang yang sudah rusak di dalamnya.
"Ini gudang kan mbak Syifa?." tanyaku dengan penasaran.
"Iya Arsyan." jawabnya.
Lalu mbak Syifa membuka lemari yang ada di gudang itu,ternyata isinya adalah kaos seragam rumah makan ini yang jumlahnya lumayan banyak masih terbungkus plastik. Setelah itu mbak Syifa mengambil kaos dan memberikannya kepadaku.
"Ini Syan kaosnya." ucapnya sembari memberikan kaos itu padaku.
"Makasih mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Nanti kamu langsung ganti di ruang ganti yang ada di sana ya." ucapnya.
"Iya mbak." ucapku dengan mengangguk.
Kemudian aku langsung pergi ke ruang ganti yang di perintahkan mbak Syifa, aku pun langsung mengganti kaos ku dengan kaos yang di berikan mbak Syifa. Tak lama setelah itu aku pun keluar, mbak Syifa menungguku sedari tadi di depan pintu.
"Sudah Syan?." tanyanya.
"Sudah mbak." jawabku dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kaos kamu tadi kamu taruh dalam?." tanyanya.
"Iya mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Oh yaudah." ucapnya dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong aku ganteng gak mbak?." tanyaku.
"Ganteng dong." jawabnya dengan tersenyum.
Kemudian kami berdua pun pergi ke depan, di pusat rumah makan, terlihat di sana ada mbak Tya yang sedang duduk di tempat kasir, bersama seorang kasir wanita yang duduk di tempat itu.
"Emang biasanya sepi gini mbak?." tanyaku.
"Iya Syan,ya gini lah suasananya." jawabnya dengan tersenyum.
"Tapi gaji mbak masih tetap kan?. " tanyaku.
"Di kurangin sedikit sih Syan, tapi mau gimana lagi keluarga mbak juga butuh makan. " jawabnya dengan tersenyum.
Kemudian kami berdua duduk di salah satu meja makan di rumah makan ini dengan saling berhadapan.
"Emang suami mbak gak kerja?." tanyaku.
"Kerja sih , tapi gak cukup kalau suami mbak doang yang kerja Syan,anak mbak juga udah tiga, biaya sekolah mereka kan juga lumayan, di tambah adik mbak juga masih sekolah Syan." jawabnya.
"Emang anak anak mbak umur berapa sih?." tanyaku.
"Anak pertama mbak kelas 2 smp,kalau anak kedua dan ketiga mbak masih kelas 4 sd." jelasnya.
"Kok bisa samaan gitu mbak kelasnya,anak kedua sama ketiga?." tanyaku.
"Anak mbak kembar syan jadi ya sama dong." jawabnya.
"Oh kembar ya mbak." ucapku dengan mengangguk.
"Iya Syan." ucapnya dengan tersenyum.
"Kalau adik mbak umurnya berapa?." tanyaku.
"Kelas 2 sma. " jawabnya dengan tersenyum.
"Oh berarti adik kelas aku setahun." ucapku dengan mengangguk.
"Iya Syan." ucapku dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong kerjanya sampai jam berapa mbak?." tanyaku.
"jam sepuluh malam Syan aslinya,tapi kalau sepi terus kek gini ya jam delapan aja udah tutup Syan." jelasnya.
"Oh, kalau liburnya mbak?." tanyaku.
"Hari Senin Syan." jawabnya.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
"Ada yang mbak takutin Syan aslinya." ucapnya.
"Apa mbak?. " tanyaku.
"Takutnya nanti tiba tiba rumah makan ini tutup,terus mbak gak tau mau kerja kemana lagi." jawabnya dengan muka datar.
"Mudah mudahan gak tutup ya mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Syan mudah mudahan aja." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya mbak, tapi mbak kerja di sini dari kapan?." tanyaku.
"Dari rumah makan ini baru buka." jawabku.
"Lama ya mbak?." tanyaku.
"Gak juga sih Syan, baru juga dua tahun." jawabnya.
"Oh, kalau mbak Tya?." tanyaku.
"Baru setahun kerja di sini, kalau yang kasir itu baru dua bulan yang lalu." jawabnya.
"Kalau yang tukang masak?." tanyaku.
"Sama seperti mbak Syan." jawabnya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
.............................BERSAMBUNG..........................