
Aku duduk berdua dengan Sandra di kursi yang ada di taman itu.
"Berapa putaran San jogingnya?. " tanyaku.
"Satu putaran doang sih." jawabnya dengan tersenyum.
"Kok cuma satu?. " tanyaku dengan tersenyum.
"Ya emang pengennya cuman satu." jawabnya dengan tersenyum.
"Udah pengen jajan aja kali." ucapku dengan tersenyum.
"Iya dong." ucapnya dengan tersenyum.
Ternyata perkiraan ku selama ini salah, ternyata Sandra tak se jutek yang aku bayangkan, justru dia begitu ramah.
"Lo kok gak jutek sih sama gua?." tanyaku dengan tersenyum.
"Memang gua gak jutek Arsyan."jawabnya dengan tersenyum.
"Maaf ya gua udah salah sangka sama lo." ucapku.
"Santai aja Syan, tapi lo jangan terlalu cepat menilai seseorang Arsyan dan jangan juga terlalu mudah percaya sama seseorang." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Sandra. " ucapku dengan tersenyum.
"Btw, lo ngekost di sini?." tanyanya.
"Gak, tinggal di rumah calon suami tante gua." jawabku.
"Oh,gua kirain ngekost." ucapnya.
"Kalau rumah lo jauh gak dari sini?." tanyaku.
"Lumayan sih." jawabnya.
"Btw teman cewek lo mana?." tanyaku.
"Siapa Syan?." tanyanya.
"Yang waktu itu, rambut lurus." jawabku.
"Oh Fariska, di rumahnya lah." ucapnya.
"Cantik banget ya dia." ucapku dengan tersenyum.
"Lo naksir ya Syan." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak, cuma muji doang sih, lagian juga dia udah punya pacar." ucapku.
"Udah putus." ucapnya dengan tersenyum.
"Masa sih." ucapku.
"Iya Syan, tapi lo kok tau kalau dia udah punya pacar?." tanyanya.
"Di kasih tau Satria sih." jawabku.
"Oh Satria." ucapnya.
"Katanya, lo pernah di tembak sama Satria ya?. " tanyaku.
"Iya, tapi gua tolak." jawabnya dengan tersenyum.
"Kok lo tolak sih?." tanyaku.
"Gua gak suka sama Satria,sama di hati gua juga udah ada cowok yang sangat spesial." jawabnya dengan tersenyum.
"Lo udah punya pacar berarti?. " tanyaku.
"Belum sih Syan, tapi di hati gua cuma ada satu cowok, cowok pertama yang akrab sekali sama gua." jawabnya dengan tersenyum.
"Gua juga sebenarnya ada satu cewek di hati gua, walaupun gua gak pernah lihat wajahnya sekarang, tapi dia lah cewek pertama yang sangat akrab denganku." ucapku dengan tersenyum.
"Kok kita sama ya Syan." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya ya." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Sandra melihat wajahku dengan tersenyum.
"Kenapa lo senyum senyum gitu Sandra?." tanyaku dengan bingung.
"Gak cuma bahagia doang Syan." jawabnya dengan tersenyum.
"Oh, ngomong ngomong lo mau kuliah di mana?. " tanyaku.
"Deket sini aja sih Syan di Jakarta." jawabnya dengan tersenyum.
Kemudian Sandra memberikan handphonenya padaku.
"Gua minta nomer lo boleh kan?." tanyaku.
"Boleh kok Sandra." jawabku.
Kemudian aku mengambil handphone Sandra, lalu ku ketik nomerku di handphonenya Sandra.
"Udah Sandra." ucapku sembari memberikan kembali handphonenya.
"Makasih Syan." ucapnya dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong lo kok jadi akrab gini sama gua San?. " tanyaku dengan tersenyum.
"Gak boleh ya?." tanyanya.
"Gak gitu sih, tapi lo percaya kan sama gua." jawabku dengan tersenyum.
"Emang lo orang jahat ya?." tanyanya.
"Gak sih, gua gak orang jahat." jawabku.
__ADS_1
"Maka dari itu." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi kata lo tadi jangan mudah percaya sama orang lain?." tanyaku.
"Emang, tapi ada alasan lain." jawabnya.
"Alasan apa?. " tanyaku.
"Ada deh." jawabnya dengan tersenyum.
"Kok lo gak kasih tau gua sih." ucapku dengan tersenyum.
"Kapan kapan gua kasih tau alasanya." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah deh, gak penting juga gua tau, iya kan." ucapku dengan tersenyum.
"Penting banget dong aslinya." ucapnya dengan tersenyum.
"Kok gua jadi penasaran sih." ucapku dengan tersenyum. .
"Alasanya, karena gua merasa bersalah sama lo, karena sifat gua pada waktu itu." ucapnya dengan tersenyum.
"Kan wajar aja sih kalau lo marah Sandra, lo juga pasti malu." ucapku dengan tersenyum.
Dia hanya tersenyum ke arahku.
Karena hari telah sore aku pun memutuskan untuk pulang.
"Gua pulang dulu Sandra." ucapku dengan tersenyum.
"Iya gua juga mau pulang." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian kami berdua pun berdiri.
"Lo bawa motor Syan?." tanyanya.
"Iya dong San." jawabku.
"Gua juga bawa motor." ucapnya dengan tersenyum.
Lalu kami berdua berjalan bersama menuju ke parkiran taman, dengan menikmati indahnya taman.
"Lo setiap hari joging ke sini?." tanyaku.
"Gak, cuma setiap hari senin aja." jawabnya.
"Berarti seminggu sekali ya?. " tanyaku.
"Iya Syan." jawabnya.
Kemudian kami berdua pun sampai di parkiran taman.
"Motor lo yang mana San?." tanyaku.
"Itu Syan, warna hitam." jawabnya dengan menunjuk motor matic yang berwarna hitam yang ada di samping motorku.
"Motor kita sebelahan loh." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Sandra." jawabku dengan tersenyum.
Kemudian kami berdua langsung menghampiri tukang parkir yang ada di sana.
"Berapa pak?. " tanya Sandra.
"Tiga ribu neng." jawab tukang parkir itu.
"Ini sekalian sama dia ya pak." ucap Sandra dengan memberikan uang itu pada tukang parkir itu.
"Iya neng makasih." ucap tukang parkir itu.
"Sama sama pak." ucap Sandra dengan tersenyum.
Kami berdua pun langsung menghampiri motor kami masing masing.
"Kok lo bayarin gua sih San?." tanyaku.
"Gak apa apa Syan." jawabnya dengan tersenyum.
Kemudian kami berdua naik ke motor kami masing masing.
"Sandra gua balik dulu ya." pamitku.
"Iya Arsyan hati hati di jalan." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian aku langsung pergi meninggalkan Sandra, untuk menuju ke rumah. Aku mengendarai motorku dengan begitu pelan, sembari menikmati suasana kota Jakarta dengan begitu santai. Hingga tak terasa aku pun telah sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung memasukkan motorku ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahku dari dalam.
Setelah itu aku pun langsung pergi ke kamar, lalu berbaring di kasur yang ada di kamar.
"Huh capek banget sih." ucapku.
Setelah itu aku teringat dengan Safira, sehingga aku langsung mengambil handphoneku yang ada di saku celana, lalu aku nyalakan handphoneku, untuk langsung menelpon Safira dan Safira pun mengangkat telpon dariku.
"Woi." ucapku.
"Gua mulai video callnya ya sayang." ucapnya.
"Iya sayang." ucapku.
Kemudian Safira memulai Video callnya.
"Dimana lo sayang?." tanyaku.
"Masa sih gak tau gua ada di mana?." tanyanya balik.
"Di kamar." ucapku dengan tersenyum.
"Iya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
"Lagi ngapain lo?." tanyaku dengan tersenyum.
__ADS_1
"Lagi nonton drakor sih aslinya." jawabnya dengan tersenyum.
"Gak heran lagi sih gua, sama kebiasaan lo." ucapku dengan tersenyum.
"He he he iya dong." ucapnya dengan tersenyum.
"Btw lo gak kerja?." tanyaku.
"Gak, lagi libur sih Syan." jawabnya dengan tersenyum.
"Kok gak sayang sih manggilnya." ucapku dengan tersenyum.
"Bodoh amat anjir, gua gak pacar lo." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya deh Safira cantik." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Arsyan ganteng." ucapnya dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong lo cantik banget Fir." ucapku dengan tersenyum.
"Baru tau lo." ucapnya dengan tersenyum.
"Emang baru tau." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah kalau baru tau." ucapnya dengan tersenyum.
"Btw, lo nelpon gua, karena lo kangen sama gua kan." ucapku dengan tersenyum.
"Gua gak kangen sama lo." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi kangen banget kan." ucapku dengan tersenyum.
"Gak juga." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah gua matikan aja video callnya." ucapku dengan tersenyum.
"Jangan dong Syan." ucapnya dengan tersenyum.
"Jujur aja kalau lo itu kangen sama gua." ucapku dengan tersenyum.
"Iya deh gua jujur, kalau gua kangen sama lo." ucapnya dengan tersenyum.
"Gitu kan enak jujur." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi btw lo lagi ngapain Syan?." tanyanya.
"Berbaring di kasur, sambil video call sama lo." jawabnya.
"Oh yaudah." ucapnya dengan tersenyum.
"Gitu doang." ucapku dengan tersenyum.
"Iya." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Safira menunjukkan sesuatu bungkusan kepadaku.
"Apa itu Fir?." tanyaku.
"Burger gua beli tadi." jawabnya.
"Kok loh gak ngasih gua." ucapku dengan tersenyum.
"Lo di mana anjir?." tanyanya dengan tersenyum.
Aku pun hanya tersenyum.
"Coba makan deh." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Safira membuka bungkus burger itu, lalu Safira langsung memakanya perlahan.
"Anjir ngiler gua." ucapku dengan tersenyum.
"Cocok gak gua bikin konten mukbang." ucapnya dengan tersenyum.
"Cocok banget anjir, tapi lo gemuk nanti anjir bikin konten mukbang." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak apa apa dong gua gemuk." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak bisa bayangin deh gua, kalau lo gemuk." ucapku dengan tersenyum.
"Bisa bisa kaget lagi nanti teman teman kalau gua gemuk." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya pasti dong." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi gua masih cantik gak sih kalau gemuk?." tanyanya.
"Ya masih dong kan Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Bisa aja deh lo." ucapnya dengan tersenyum.
Aku pun hanya tersenyum mendengar omongan Safira. Tak lama setelah itu adzan maghrib pun berkumandang.
"Udahan dulu ya Safira video callnya, udah adzan maghrib nih." ucapku.
"Iya Syan, nanti gua video call lagi ya." ucapnya.
"Iya Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Bye Arsyan." ucapnya.
"Bye Safira jangan lupa sholat loh." ucapku.
"Tapi gua lagi datang bulan Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
"Oh, yaudah tidur aja langsung." ucapku dengan tersenyum.
"Oke Arsyan ganteng, bye." ucapnya dengan melambaikan tangan.
"Bye Safira cantik." ucapku dengan ikut melambaikan tangan.
__ADS_1
Kemudian aku mematikan video callnya, lalu setelah itu aku langsung berjalan menuju ke kamar mandi untuk berwudhu, dan hendak melaksanakan sholat maghrib.
....................... BERSAMBUNG...............................