
Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya aku dan Safira sampai di rumahnya Safira.
"Fir besok gua jemput ya." ucapku.
"Iya Arsyan, gua tungguin di depan rumah." ucapnya.
"Oke." ucapku.
"Makasih udah mau nemenin gua jaga toko." ucapnya dengan tersenyum.
"Santai aja kali, yaudah gua pulang dulu ya." pamitku.
"Iya, hati hati loh." ucapnya.
Aku langsung menjalankan motorku menuju ke rumah karena hari sudah terlalu malam,namun di tengah perjalanan tiba tiba ada yang menelponku. Aku memberhentikan motorku,lalu aku ambil handphone ku yang ada di saku celana, kemudian langsung aku lihat handphoneku. Ternyata telpon dari nomer yang tak di kenal.Aku pun cukup ragu untuk menjawab telpon itu, namun dengan keberanianku aku mengangkat telpon itu perlahan.Terdengar suara laki laki yang tak asing di telingaku, laki laki itu adalah mas bejo.
"Syan." ucapnya.
"Mas Bejo ya." ucapku.
"Iya masa lupa sama gua." ucapnya.
"Ingat dong mas, ngomong ngomong kapan pulangnya?. " tanyaku.
"Baru aja kemarin Syan." jawabnya.
"Tapi ada apa nelpon gua mas?." tanyaku.
"Ayo ngopi!. " ajaknya.
"Gass." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah nanti gua jemput ya." ucapnya.
"Di mana tapi mas?. " tanyaku.
"Di desa sebelah desa mawar." jawabnya.
"Oh, gua tunggu di rumah ya." ucapku.
Kemudian mas Bejo mematikan telponnya. Aku pun langsung melanjutkan perjalananku menuju ke rumah.Setelah beberapa saat akhirnya aku pun sampai di rumah, aku lihat tante Indri yang sedang duduk di teras rumah. Aku memarkirkan motorku di teras rumah yang agak jauh dari arah tante Indri duduk.Kemudian turun dari motorku, lalu aku duduk di samping tante Indri.
"Tante Indri." panggilku dengan tersenyum.
"Dari mana Syan?. " tanyanya.
"Dari nemenin temen jaga toko tante." jawabku.
"Oh." ucapnya dengan tersenyum.
"Ibu sama ayah udah tidur ya?. " tanyaku.
"Sudah Arsyan dari tadi." jawabnya.
"Kalau Sania tante?. " tanyaku lagi.
"Tidur bareng Prisila di rumahnya tante Rani." jawabnya.
"Kalau tante Indri gak tidur ya?. " tanyaku lagi.
"Nanti aja Arsyan tante Indri belum ngantuk." jawabnya dengan tersenyum.
Kemudian aku menanyakan tante Indri tentang rumah tante Lina.
"Tante tau rumah tante Lina?. " tanyaku.
"Gak tau Arsyan." jawabnya.
"Kalau nomernya tante?. " tanyaku lagi.
"Gak punya Arsyan." jawabnya.
"Kalau fotonya tante?. " tanyaku.
"Punya sih tapi foto bersama saat sma, bareng ibu dan tante Rani juga." jawabnya.
"Oh yaudah tante." ucapku.
"Emang buat apa sih Syan nanyain rumah tante Lina?. " tanyanya.
"Aku mau cari rumah tante Lina,tante." jawabku.
"Kangen ya kamu sama tante Lina?. " tanyanya.
"Iya tante, sama kangen Sisi juga. Kalau tante kangen gak?. " tanyaku balik.
"Kangen dong Arsyan, tante Lina kan sahabatnya tante." jawabnya dengan tersenyum.
"Kenapa ya mereka gak pernah ke sini lagi tante?. " tanyaku.
"Mungkin suaminya tante Lina sibuk banget Arsyan, jadi gak bisa ke sini." jawabku.
"Tapi udah beberapa tahun tante." ucapku.
"Gak tau sih Arsyan." ucapnya.
"Tapi ngomong ngomong, tante Indri lebih akrab sama ibu atau tante Lina?." tanyaku.
"Sama ibumu Arsyan, ibu kamu teman tante dari sd sampai sma, kalau tante Lina itu teman sejak sma, sedangkan tante Rani teman sejak smp. " jelasnya.
"Oh." ucapku dengan mengangguk.
"Kalau bukan karena ibumu, mungkin tante,gak akan pernah akrab sama tante Lina." ucapnya dengan tersenyum.
"Kok bisa tante?. " tanyaku.
__ADS_1
"Soalnya ibumu yang paling mudah bergaul di antara kami berempat, sementara tante, paling pendiam." jawabnya.
"Masa sih tante pendiam?. " tanyaku.
"Iya Arsyan, kalau mungkin ibumu gak mengajak kenalan tante, mungkin tante gak se akrab sekarang sama ibumu." jawabnya.
"Tante Indri jutek gak sih dulu?. " tanyaku.
"Iya Arsyan jutek banget,tapi kalau udah kenal ya biasa aja Syan." jawabnya dengan tersenyum.
Aku hanya tersenyum mendengar cerita tante Indri.
"Kalau ibumu beda, ibumu walaupun gak kenal dia tetap ramah. " ucapnya.
"Sok asik gitu ya tante." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Arsyan, sok asik."ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian tiba tiba ibu datang dari dalam rumah, dan menghampiri kami berdua yang sedang duduk di teras.
"Lagi ngomongin ibu ya." ucap ibu dengan tersenyum.
"Iya dong ngomongin siapa lagi kalau gak ngomongin ibu." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian ibu duduk di sampingku.
"Indri kamu kok belum tidur tidur." ucap ibuku.
"Santai aja kali ndah, kamu kenapa bangun lagi?. " tanya tante Indri.
"Gak tau tiba tiba bangun Indri." jawabku.
"Nenek sama kakek udah pada tau kalau ibu hamil?. " tanyaku.
"Sudah sayang, tadi ibu nelpon tante Santi." jawab ibuku.
"Oh yaudah kalau begitu." ucapku dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu mas Bejo pun datang ke rumahku, dengan motor matic merah miliknya.
"Kamu mau ke mana sayang sama Bejo?. " tanya ibu.
"Mau ngopi bu." jawabku.
"Besok kan sekolah, kok ngopi sih." ucap ibu.
"Gak apa apa bu." ucapku.
Kemudian mas Bejo menghampiri kami yang sedang duduk.
"Mbak Indah sama mbak Indri. " Ucap mas Bejo dengan tersenyum.
"Kok mas makin ganteng aja ya." ledekku.
"Ya harus dong. " ucapnya dengan tersenyum.
"Santai dulu gak sih." ucap mas Bejo dengan tersenyum.
Kemudian mas Bejo duduk di samping tante Indri.
"Ngomong ngomong kamu udah punya calon belum?. " tanya tante Indri dengan tersenyum.
"Pacar aja belum apalagi calon." jawab mas Bejo.
"Sama adik aku yang kedua aja Bejo, masih perawan, seumuran sama kamu." ucap ibu dengan tersenyum.
"Emang adik mbak mau sama aku?. " tanya mas Bejo.
"Udah punya calon sih tapi." jawab ibu dengan tersenyum.
"Gitu kok di tawarin ke saya, mbak Indah meledek saya apa gimana?. " ucap mas Bejo dengan tersenyum.
"Bercanda jo." ucap Ibu dengan tersenyum.
"Yaudah ayo berangkat mas, keburu pagi nanti!. " ajakku.
"Ayo." ucap mas Bejo.
"Awas nanti kamu gak bisa bangun, ibu siram pakai air." ucap ibu.
"Siram aja bu gak apa apa." ucapku dengan tersenyum.
"Kami berangkat dulu mbak Indah, mbak Indri." pamit mas Bejo.
"Hati hati loh." ucap ibu.
"Siap." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian kami berdua naik ke motor matic warna merah milik mas Bejo, kemudian kami pun langsung berangkat menuju ke warung kopi yang ada di desa mawar.
"Mas mau cari istri ya?. " tanyaku.
"Bisa di bilang gitu sih." jawabnya.
"Mas udah ada biayanya untuk nikah?. " tanyaku.
"Kamu ngeledek saya, ya jelas udah dong, tabungan mas Bejo gak banyak sih,tapi ya lumayan." jawabnya.
"Hasil merantau ya mas?. " tanyaku.
"Iya Syan." jawabnya.
"Tapi habis ini mas mau balik lagi?. " tanyaku.
"Sudah gak,mas Bejo mau kerja di kota aja Syan." jawabnya.
__ADS_1
"Emang udah dapat mas?. " tanyaku.
"Udah, besok senin udah mulai kerja." jawabnya.
"Kerja apa itu mas?." tanyaku.
"Pabrik sepatu. " jawabnya.
"Oh, kalau di sana kerja apa?. " tanyaku.
"Pabrik makanan. " jawabnya.
"Oh, ngomong ngomong aku punya rekomendasi nih." ucapku dengan tersenyum.
"Rekomendasi apa?. " tanyanya dengan penasaran.
"Istri lah. " jawabku.
"Ku kira rekomendasi pekerjaan, ternyata rekomendasi istri, aneh aneh aja kamu." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi mas Bejo mau gak?. " tanyaku.
Kemudian kami pun sampai di warung kopi, terlihat suasana warung kopi, terlihat begitu ramai hingga kami berdua pun kesusahan mencari tempat kosong. Hingga akhirnya ada dua orang yang hendak pulang,aku pun langsung menempati tempat itu, sementara mas Bejo sedang memesan kopinya.Tak lama setelah itu mas Bejo menghampiriku dan duduk di sampingku.
"Mas Bejo mau gak?. " tanyaku.
"Kalau saya sih mau, kalau orangnya belum tentu mau kan." jawabnya.
"Tenang aja mas aku ada agen." ucapku dengan tersenyum.
"Buset kek pemain bola aja." ucapnya dengan tersenyum.
"Orangnya cantik mas, mudahan dia lagi sama mas Bejo, tapi ada minusnya sih." ucapku.
"Apa minusnya?. " tanyanya.
"Janda anak satu." jawabku dengan tersenyum.
"Itu mah bukan minus." ucapnya dengan tersenyum.
"Berarti mas Bejo mau?. " tanyaku.
"Ya maulah kalau dianya mau." jawabku.
"Sip, besok aku akan mulai bicara dengan sang agen." ucapku dengan tersenyum.
"Kek pemain bola aja aku." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian tak lama setelah itu kopi kami pun datang, penjual itu menaruh dua kopi di atas meja.
"Mas paswordnya apa ya?. " tanyaku.
"Kopi hitam mas, kecil semua." jawab penjual itu.
"Oh siap mas." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku menyambungkan handphoneku dengan wifi yang ada di warung kopi.
"Beneran cantik orangnya?. " tanyanya.
"Beneran mas Bejo cantik banget." jawabku.
"Orang desa kita ya?. " tanyanya.
"Orang desa Melati sih." jawabku.
"Oh." ucapnya.
Kemudian aku meminum kopiku, dengan mengambil rokok yang ada di saku bajuku, dan menyalakan rokok itu dengan korek api. Lalu aku pun menghisap rokok itu dengan begitu santai.
"Satu dong rokoknya, lupa tadi gua gak beli rokok." ucapnya.
"Nih mas." ucapku sembari memberikan satu batang rokok pada mas Bejo.
Setelah itu aku menyalakan handphoneku, dan mencoba membuka instagram,tanpa di sengaja,tiba tiba aku menemukan akun Sandra, yang bernama Sandra Alexandra, tapi sayang akun itu privat. Aku mencoba memfollownya untuk tau lebih lanjut tentang dirinya.
"Kamu besok sekolah?. " tanyanya.
"Iya mas." jawabku.
"Kalau besok kamu bangun kesiangan gimana?. " tanyanya.
"Gak apa apa kali mas." jawabku dengan santai.
"Yaudah kalau gak apa apa." ucapnya
Setelah beberapa saat, setelah kopi kami berdua habis, kami berdua pun berniat untuk pulang karena sudah jam satu pagi. Mas Bejo membayar kopinya sementara aku menunggu di motornya. Setelah membayar kopinya, kami berdua pun langsung naik ke motor dan pergi meninggalkan warung kopi itu, untuk menuju ke rumah. Terlihat di samping kiri dan kanan pun terlihat sangat sepi, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang di sekitar kami, melainkan hanya motor kami yang ada di jalan.
Hingga akhirnya, kami berdua pun sampai di rumah. Lalu aku pun turun dari motornya mas Bejo.
"Makasih mas." ucapku.
"Iya, aku balik dulu ya. " pamitnya.
"Hati hati mas." ucapku.
Kemudian mas Bejo pergi meninggalkan rumahku, sementara aku berjalan menuju ke rumah dan masuk ke dalam rumah.Karena aku yang begitu ke capekan aku pun memutuskan untuk istirahat ke kamar, tapi ketika hendak ke kamar aku melihat ibu dan tante Indri yang sedang tidur di depan televisi, tanpa selimut. Aku yang takut mereka masuk angin pun, mengambil selimut di almari, kemudian aku selimuti mereka berdua. Setelah menyelimuti mereka berdua, aku pun langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan badanku di kasur karena aku telah begitu lelah.
Aku mengambil boneka pangeran yang di berikan Sisi pada waktu itu, dan aku memencet tombolnya.
"Aku adalah pangeran, akan ku jaga putriku." suara boneka itu.
Boneka itu selalu mengingatkanku dengan Sisi setiap kali aku menatapnya. Ini adalah boneka yang diberikan Sisi kepadaku saat hari terakhir dia di sini, sebelum dia berangkat ke Jakarta dan belum kembali sampai saat ini juga.
Setelah itu aku memeluk boneka itu, sembari memejamkan mataku, dan hendak memulai tidurku, berharap aku bisa bermimpi tentang Sisi.
__ADS_1
.......................... BERSAMBUNG.....................