
Aku dan Sandra pun sedang duduk berdua di ruang tamu, rumahnya mbak Syifa.
"Arsyan." panggilnya dengan tersenyum.
"Apa Sandra?." tanyaku.
"Ke mall yuk Syan habis ini!." ajaknya.
"Ke mall mana Sandra?." tanyaku.
"Mall terdekatlah, Taman anggrek." jawabnya.
"Mau ngapain ke sana?." tanyaku lagi.
"Jalan jalan doang sih." jawabnya dengan tersenyum.
"Masa jalan jalan doang, gak beli apa apa." ucapku dengan tersenyum.
"Ya beli juga dong." ucapnya dengan tersenyum.
"Beli apa?." tanyaku.
"Banyak nanya ih." jawabnya dengan raut wajah kesal.
"Jangan ngambek gitu dong, kan gua cuma mau memastiin, biar benar benar pasti." ucapku dengan tersenyum.
"Beli apa ya tapi?." tanyanya dengan mengelus dagunya
"Lah kok malah nanya gua sih San." ucapku dengan tersenyum.
"Bingung gua Arsyan." ucapnya.
"Tapi lo bawa duit?." tanyaku.
"Lo ngeledek ya." jawabnya dengan tersenyum.
"Oh iya deh gua lupa, kan lo anak orang kaya ya." ucapku dengan tersenyum.
"Jangan gitu kali Syan, malu gua." ucapnya dengan tersenyum malu.
Tak lama setelah itu mbak Syifa pun datang dengan membawa dua piring makanan untuk aku dan Sandra.
"Ini makanannya." ucap mbak Syifa dengan menaruh makanan itu di hadapanku dan Sandra.
"Yaelah jadi ngerepotin." ucapku dengan tersenyum.
"Gak apa apa kali." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
Mbak Syifa duduk di hadapan kami berdua, lalu kami berdua langsung memakan makanan yang di hidangkan oleh mbak Syifa.
"Yang lahap ya makannya." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
Aku menatap raut wajah mbak Syifa yang terlihat begitu sangat bahagia.
"Mbak lagi bahagia banget ya." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Syan,mbak senang banget lihat kalian,jadi keinget masa muda mbak." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Mbak, Silvi masih sekolah ya?." tanya Sandra.
"Iya masih sekolah, katanya lagi ujian sekarang." jawab mbak Syifa dengan tersenyum.
"Lo tau gak San?." tanyaku.
"Tau apa Syan?." tanya Sandra dengan penasaran.
"Mbak Syifa dulu pemain bola loh." jawabku.
"Masa sih mbak." ucap Sandra dengan kaget.
"Iya Sandra." ucap mbak Syifa dengan mengangguk.
"Keren banget mbak." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Pernah ikut seleksi Persija juga loh San." ucapku dengan tersenyum.
"Persija wanita." ucap Sandra.
"Iyalah masa mbak Syifa ikut Persija laki laki." ucapku dengan tersenyum.
"Gak gitu maksudnya, tapi Persija beneran?." tanya Sandra.
"Iya Sandra." ucapku dengan tersenyum.
"Kalau lo yang ngomong gua agak gak percaya sih." ucap Sandra dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya memang bener yang di katakan Arsyan Sandra." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Masa sih mbak?." tanya Sandra dengan ragu ragu.
"Di bilangin juga." jawabku dengan tersenyum.
"Keren banget ya." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Iya jelas dong, kan mbak Syifa." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi sekarang masih bisa main bola mbak?." tanya Sandra.
"Udah gak bisa, lari sebentar aja udah capek, maklumlah mbak sekarang udah tua." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kalau dulu aku pernah coba sih mbak main bola,tapi gak bisa,padahal aku suka banget nonton sepakbola." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Berarti kamu gak ahlinya di sepakbola Sandra." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya kali ya mbak." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Tapi dia pintar di organisasi mbak." ucapku.
"Biasa aja Syan." ucap Sandra.
"Lo kan sekertaris Osis." ucapku.
"Iya sih." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Berarti kamu berani ngomong di depan umum ya Sandra?." tanya mbak Syifa.
"Berani dong mbak." ucap Sandra.
"Gak grogi kamu?." tanya mbak Syifa lagi.
"Gak sih mbak, biasa aja." jawab Sandra.
"Kalau mbak sih grogi banget Sandra." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kalau aku sih biasa aja,karena dulu aku jadi ketua geng di sekolah soalnya." ucapku dengan tersenyum.
"Ketua geng?." tanya mbak Syifa dengan kaget.
"Gak usah kaget gitu kali mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Jadi kamu sering tawuran Syan?." tanya Sandra.
"Tapi masukin orang ke rumah sakit pernah?." tanya mbak Syifa.
"Sering, bahkan sampai orangnya mau meninggal juga pernah." ucapku.
"Sma mbak dulu juga sering ada tawuran." ucap mbak Syifa.
"Berarti mbak juga dulu ikut tawuran?." tanyaku.
"Ya gak lah Syan, temen temen mbak cowok yang tawuran." ucap mbak Syifa.
"Siapa tau mbak ikutan kan." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi kalau dengar tawuran mbak trauma Syan, soalnya teman mbak dulu juga ada yang meninggal gara gara tawuran." ucap mbak Syifa.
"Maka dari itu mbak, tapi sekarang sma ku sama stm sebelah udah damai kok." ucapku dengan tersenyum.
"Syukurlah kalau gitu, tapi gak pernah ada yang meninggal kan?." tanya mbak Syifa.
"Gak, mbak." jawabku.
"Yaudah kalau begitu, tapi jangan tawuran lagi loh Syan." ucap mbak Syifa.
"Iya mbak." ucapku dengan tersenyum.
"Udahan dulu ceritanya, gak habis habis lagi nanti makanannya." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya, lupa kalau lagi makan." ucapku dengan tersenyum.
Setelah itu kami berdua langsung memakan makanan itu hingga akhirnya makanannya habis. Beberapa saat kemudian, kami berdua pun berniat untuk pulang.
"Yaudah mbak kita pulang dulu ya, udah mau jam 10 soalnya." pamitku.
"Iya Syan, hati hati loh." ucapku.
Kemudian aku terlebih dahulu berjabat tangan dengan mbak Syifa, lalu setelah itu kami berdua pun keluar dari rumah mbak Syifa, setelah itu aku langsung naik ke motor di ikuti dengan Sandra yang duduk di belakangku.
"Lain kali ke sini lagi ya Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Iya kalau ada waktu mbak." ucapku dengan tersenyum.
__ADS_1
"Mbak, titip salam buat Silvi ya." ucap Sandra.
"Iya Sandra." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.
"Kami pergi dulu mbak." pamitku.
"Hati hati loh." ucap mbak Syifa.
"Da da mbak Syifa." ucap Sandra dengan melambaikan tangan.
Mbak Syifa pun membalas dengan melambaikan tangan. Setelah itu aku menjalankan motor milik Sandra menuju ke rumah.
"Nanti siang aja ya ke mall nya?." tanyaku.
"Iya Arsyan." jawabnya.
"Gak apa apa beneran kan?." tanyaku.
"Iya Arsyan gak apa apa." jawabku.
"Soalnya gua capek mau tidur dulu sebentar." ucapku.
"Tapi di rumah lo ada mukena gak?." tanyanya.
"Gak tau sih, nanti aku cariin siapa tau ada." jawabku.
"Oh yaudah." ucapnya.
"Kalau habis ini lo mau tidur, tidur aja di kamar yang lain masih ada kamar kosong kok." ucapku.
"Iya Arsyan." ucapnya.
Tak lama setelah itu kami berdua pun sampai di rumah. Sandra setelah itu turun terlebih dahulu, lalu di ikuti denganku setelahnya.
"Gua penasaran deh sama dalamnya rumah lo." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah ayo masuk biar gak penasaran Sandra!." ajakku.
Kami berdua pun berjalan perlahan menuju ke dalam rumah. Setelah itu perlahan aku membuka pintu, lalu aku langsung masuk kedalam rumah dengan di ikuti oleh Sandra yang berjalan di belakangku.
"Lo tinggal di sini sendirian kan?." tanyanya.
"Iya." jawabku.
"Gak takut apa?." tanyanya lagi.
"Gak, ketua geng kok takut." jawabku dengan tersenyum.
"Bisa aja deh lo." ucapnya dengan tersenyum.
"Cari sendiri ya mukena nya di ruang mushola di sebelah sana." ucapku dengan menunjuk suatu ruangan.
"Katanya tadi mau cariin." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Gua udah ngantuk Sandra, lihat mata gua aja udah merah." ucapku.
"Iya deh iya." ucapnya dengan tersenyum.
"Nanti gua bangunin ya Sandra kalau udah adzan dzuhur." ucapku.
"Iya Arsyan." ucapnya.
Setelah itu aku pun langsung masuk ke kamarku untuk tidur. Aku langsung berbaring di kasur dengan badan yang sudah terasa capek. Namun sebelum tidur aku memutar lagu kesukaanku untuk menemaniku tidurku dan tak lupa juga aku mengambil boneka pangeran yang ada di meja, lalu aku taruh di sampingku. Aku menikmati berbaring ku dengan begitu santai dan rasa yang bahagia.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamarku dari luar,yang tak lain adalah Sandra yang sedang mencariku.Setelah itu aku berdiri, lalu berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarku.
"Arsyan kunci motor gua mana?." tanyanya dengan tersenyum.
"Oh iya gua lupa Sandra." ucapku.
Kemudian aku mengambil kunci motor milik Sandra, di saku celanaku.
"Nih Sandra." ucapku dengan memberikan kunci motornya.
"Makasih Arsyan." ucapnya.
"Mau kemana sih lo?." tanyaku.
"Mau ngambil tas,di jok motor." jawabnya.
"Kirain mau kemana." ucapku.
"Yaudah Arsyan, lanjutin aja tidurnya, maaf ya tadi ganggu." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya gak apa apa kok San." ucapku dengan tersenyum.
__ADS_1
Sandra pergi menuju ke halaman rumah, sementara aku langsung menutup pintu kamarku, lalu kembali berbaring di kasurku dan setelah itu akupun langsung tertidur.
........................... BERSAMBUNG...........................