
Beberapa bulan setelah pernikahanku dan Sandra, aku pun masih begitu bahagia,aku setiap hari hidup dengan Sandra,tidur bersama dan melakukan apapun bersama Sandra. terlebih lagi Sandra telah menjadi seorang guru seperti yang dia impikan dulu, sementara aku bekerja di pabrik yang tak jauh dari desaku.
Hari ini karena aku libur kerja, aku pun berniat untuk pergi ke belakang rumah. Suasana rumahku begitu sepi, hanya ada aku sendirian di rumah, ayahku pergi bekerja, ibuku pergi mengantar Chelsy (adikku satu satunya) yang kini masih sekolah di taman kanak kanak, sementara istriku Sandra, sedang mengajar di sekolahan sd tempatku sekolah dulu.
Aku pun keluar dari rumahku, terlihat sekeliling rumah juga terlihat sangat sepi, rumah tante Rani juga pintunya tertutup, sementara rumah ibu Yanti juga tertutup, mungkin orangnya lagi keluar rumah.
Aku pun perlahan berjalan menuju ke belakang rumah, untuk menenangkan diriku yang begitu kesepian karena keluargaku tidak ada di rumah. Sesampainya di belakang rumah aku pun duduk di kursi kayu panjang yang ada di samping pohon itu. Setelah itu aku mengeluarkan handphoneku dari saku celanaku dan mencoba untuk video call dengan Ravi teman sd ku dulu, yang kini telah menjadi suaminya Safira. Safira dan Ravi baru menikah sebulan yang lalu.
Ravi pun mengangkat video call dariku, namun aku terkejut ketika yang mengangkat video call ku adalah istrinya, yaitu Safira.
"Kok lo sih yang ngangkat video callnya." ucapku dengan bingung.
"Mas Ravi sedang tidur, jadi gua yang memegang handphonenya." ucapnya dengan tersenyum.
"Oh gitu." ucapku dengan tersenyum.
"Btw, lo ngapain video call suami gua?." tanyanya.
"Ya pengen aja sih, gua kesepian tau gak, di rumah gak ada siapa siapa." jawabku dengan tersenyum.
"Istri lo mana?." tanyanya.
"Ngajar lah Safira." jawabku dengan tersenyum.
"Oh iya deh gua lupa, kalau Sandra itu guru." ucapnya dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong, lo di rumah sendirian?." tanyaku.
"Gak, di rumah ada banyak orang kok." jawabnya dengan tersenyum.
"Oh, yaudah." ucapku dengan tersenyum.
"Gitu doang." ucapnya dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong lo udah hamil atau belum Safira?." tanyaku.
"Belum lah anjing, baru juga sebulan menikah. " jawabnya dengan tersenyum.
"Kirain udah." ucapku dengan tersenyum.
"Masih dalam fase membuat Arsyan, do'ain aja aku agar bisa hamil lebih cepat." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya deh gua do'ain. " ucapku dengan tersenyum.
"Btw, istri lo gimana udah hamil?." tanyanya.
"Belum Safira, mungkin sebentar lagi." jawabku dengan tersenyum.
"Gua do'ain ya pokoknya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Safira, ngomong ngomong suami lo,gak bisa di bangunin?." tanyaku.
"Susah Arsyan, emang mau lo ajak kemana sih suami gua?." tanyanya.
"Mau gua ajak ngopi." jawabku.
"Oh ngopi, tapi udahan dulu ya video callnya, mau nonton drakor nih." ucapnya dengan tersenyum.
"Sudah jadi istri orang, masih aja suka nonton drakor." ucapku dengan tersenyum.
"Ga apa apa dong, btw nanti kalau suami gua udah bangun, gua kasih tau." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Safira." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Safira mematikan video callnya, setelah itu aku masukkan kembali handphoneku ke dalam saku celanaku. Aku memandang keindahan kebun yang ada di belakang rumah dan air sungai yang terus mengalir. Lalu aku mengambil satu batu dan melemparkan batu itu ke dalam sungai.
Tak lama setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki dari arah belakangku, seketika aku pun menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah Sandra istriku tercinta dengan memakai baju gurunya warna coklat serta dengan kerudung yang berwarna abu abu, yang berjalan ke arahku berada, lalu dia duduk di sampingku.
"Tumben udah pulang?." tanyaku.
"Iya mas, soalnya pulang pagi." jawabnya dengan tersenyum.
"Oh gitu ya." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Sandra tersenyum ke arahku.
"Ngapain senyum senyum gitu sayang?." tanyaku dengan bingung.
"Kita main kejar kejaran yuk." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu kan pakai rok sayang." ucapku.
"Gak apa apa sayang." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah deh ayo." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi kamu yang jadi ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya sayang." ucapku dengan tersenyum.
Lalu Sandra pun berlari dan aku pun mengejarnya dari belakang, hingga akhirnya aku pun berhasil menggapai Sandra dan aku pun langsung memeluk istriku yang paling aku cintai itu.
"Yah kena deh." ucapnya dengan tersenyum.
"Istriku kan larinya lambat, wajar dong kalau kena." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku melepaskan pelukanku.
"Sayang mandi sungai yuk!." ajaknya.
"Yuk sayang." ucapku setuju.
"Tapi aku gendong di punggung kamu ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Manja banget sih." ucapku dengan tersenyum.
"Gak apa apa dong, kan aku istri tercinta kamu." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian aku menggendong istriku tercinta, di punggungku, untuk menuju ke sungai yang tak jauh dari keberadaan kami.Sesampainya di sungai kami pun langsung masuk ke dalamnya.
"Kamu sudah bisa berenang gak sayang sekarang?." tanyaku.
"Udah dong sayang." jawabnya dengan tersenyum.
"Coba berenang." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi gaya batu sayang." ucapnya dengan tersenyum.
"Itu namannya gak bisa sayang." ucapku dengan tersenyum.
Dia pun hanya tersenyum.
"Baju kamu besok gak di pakai lagi?." tanyaku.
"Oh yaudah." ucapku dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu kami berdua pun telah basah kuyup karena mandi di sungai itu. Setelah itu kami berdua pun kembali duduk di kursi kayu itu berdampingan.
"Andai aja muridnya tau kalau ibu gurunya kelakuannya kek gini." ucapku dengan tersenyum.
"Kek gini gimana sayang?." tanyanya dengan tersenyum.
"Kek anak kecil, sukanya main terus." jawabku dengan tersenyum.
"Kan kalau sama kamu, aku jadi anak kecil lagi, pengen di manja terus soalnya." ucapnya dengan tersenyum.
"Kalau sama murid?." tanyaku dengan tersenyum.
"Ya jadi seorang guru yang baik hati dong, yang tak kenal lelah untuk mengajar murid muridnya, agar mereka bisa menjadi anak anak yang baik dan pintar." jawabnya dengan tersenyum.
"Masa sih gitu." ucapku dengan tersenyum.
"Iya sayang, masa sih gak percaya sama istrinya sendiri." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya deh percaya." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian setelah itu Sandra bersandar di bahuku dan memegang tanganku.
"Sayang, habis ini kita mandi bareng ya." ucapnya.
"Iya sayang." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku mengelus pipi Sandra.
"Sayang." panggilku.
"Iya sayang." balasnya dengan tersenyum.
"Boleh gak aku cium pipi kamu yang lembut ini." ucapku dengan tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Sandra menegakkan kepalanya dan menoleh ke arahku.
"Kek gak pernah cium pipi aku aja." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi boleh kan sayang." ucapku dengan tersenyum.
"Ya boleh dong sayang, masa sih aku nolak sama suami aku sendiri." ucapnya dengan tersenyum.
"Aku cium ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian aku mencium pipi Sandra, tercium bau wangi bedak, di pipi lembut,milik istriku tercinta.
"Udah ciumnya." ucapnya.
"Udah dong sayang." ucapku dengan tersenyum.
"Wangi kan pipi aku." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya dong, istri siapa dulu" ucapku dengan tersenyum.
"Arsyan lah siapa lagi." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian secara mengejutkan tiba tiba Sandra mual mual.
"Kenapa sayang?." tanyaku.
"Gak tau tiba tiba mual." jawabku dengan tersenyum.
Aku memandangnya dengan tersenyum.
"Kok senyum senyum sih sayang, kan aku lagi mual mual nih." ucapnya dengan memegang perutnya.
"Kalau mual gitu, berarti pertanda?." tanyaku dengan tersenyum.
"Pertanda apa sayang?." tanyanya balik.
"Masa sih gak tau." ucapku dengan tersenyum.
"Oh iya, berarti sekarang aku hamil dong." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya sayang, nanti kita ke dokter kandungan ya." ucapku dengan tersenyum.
"Iya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian aku langsung menggendong istriku tercinta itu, dan membawanya memutari kebun ayahku dengan perasaan yang sangat bahagia. Setelah itu ibu dan Chelsy pun datang, lalu kami berdua pun menghampiri mereka dan menurunkan Sandra dari gendonganku.
"Habis mandi sungai ya?." tanya ibu.
"Iya ibu." jawabku dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong, ada kabar baik buat ibu loh." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Kabar baik apa sayang?." tanya ibu dengan penasaran.
"Sandra hamil bu." jawab Sandra dengan tersenyum.
"Beneran sayang?." tanya ibu dengan tersenyum.
"Iya ibu." jawab Sandra dengan tersenyum.
"Udah kamu cek ke dokter?." tanya ibu.
"Belum sih bu, tapi Sandra udah merasa ada yang aneh sama Sandra, dan tadi baru saja Sandra mual mual." jawab Sandra dengan tersenyum.
"Ibu sebentar lagi punya cucu dong." ucap ibu dengan raut wajah yang bahagia.
"Iya ibu." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Asik, mbak Sandra dan mas Arsyan habis ini mau punya anak." ucap Chelsy dengan raut wajah yang begitu bahagia.
"Iya sayang." ucap Sandra dengan tersenyum dan mengelus rambut Chelsy.
"Yaudah, sekarang ayo kita makan bersama sama dulu, nanti setelah makan kamu ajak Sandra ke dokter kandungan." ucap ibu.
"Iya ibu." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian kami berempat pun berjalan menuju ke rumah,untuk makan bersama sama, aku dan Sandra pun terus bergandengan dengan perasaan yang begitu bahagia.
__ADS_1
Aku pun menyadari jika jodoh tidak akan pergi kemana mana, walaupun aku dan Sisi/Sandra sempat berpisah beberapa tahun, tapi tetap saja kita di pertemukan kembali, karena kita sudah ditakdirkan untuk berjodoh dan aku sangat bahagia sekali memiliki istri sepertinya. Istri yang begitu spesial bagiku, aku beruntung sekali, bisa di pertemukan dengannya dulu dan aku harus banyak banyak bersyukur sekarang.
............................... SELESAI.................................