
Satu bulan kemudian, saat yang di tunggu tunggu pun tiba,kelas dua belas pun akhirnya telah lulus sekolah.Dan saat ini adalah acara kelulusan yang dilaksanakan di aula sekolah yang begitu besar.Kami seluruh kelas dua belas pun duduk di kursi yang di sediakan, di aula sekolahan, dengan memakai toga khas acara kelulusan.
Kami semua pun begitu bahagia karena tidak terasa tiba tiba kami telah lulus sekolah. Aku duduk di samping Andi teman sekelasku.
"Andi kita udah lulus aja ya." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Arsyan. " ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian ada chat masuk dari Safira yang menanyakan keberadaanku, namun aku biarkan saja.Setelah itu acara pun di mulai dan pembawa acara pun telah naik ke atas panggung aula. Seluruh wali murid kelas dua belas juga di undang, tapi mereka duduk di luar aula tepatnya di halaman sekolah karena di sana telah di sediakan tarop, dan juga kursi untuk wali murid.
Setelah beberapa saat akhirnya, acara kelulusan pun telah selesai. Dan kami semua pun keluar dari aula sekolah, aku langsung menemui ibuku yang datang ke sekolah sendiri karena ayahku sedang kerja.Setelah itu aku melihat ibuku yang sedang duduk dengan mamanya Safira.
"Ibu." panggilku.
"Eh Arsyan." ucap ibuku dengan tersenyum.
Seketika ibu pun langsung berdiri dan menghampiriku, lalu ibu langsung memelukku.
"Sayang kamu udah lulus." ucap ibu yang memelukku.
"Iya ibu." ucapku dengan begitu bahagia.
Kemudian ibu melepaskan pelukanya, sementara mama Safira menghampiri kami berdua.
"Safira mana Syan?." tanya mama Safira.
"Gak tau tante masih di dalam mungkin." jawabku.
Kemudian ada panggilan masuk dari Safira, lalu aku pun mengangkatnya.
"Syan, lo dimana?. " tanyanya.
"Di sini di halaman, sama ibu dan juga mama lo juga." jawabku.
"Iya gua juga di halaman ini, tapi lo di samping mana?. " tanyanya.
"Di samping pohon itu loh." jawabku.
"Yaudah gua kesana." ucapnya.
"Iya gua tunggu di sini." ucapku.
Kemudian Safira mematikan telponnya.
"Siapa Syan?." tanya mamanya Safira.
"Anak tante." jawabku.
"Di mana dia sekarang Syan?. " tanya mamanya Safira.
"katanya mau ke sini tante." jawabku.
Tak lama setelah Safira pun datang dengan memakai baju kebaya yang di lapisi toga di luarnya,memakai hijab dan juga make up tebal yang menghiasi wajahnya yang cantik itu.
"Mama." panggil Safira.
Kemudian Safira langsung memeluk mamanya.
"Anak mama udah lulus sma. " ucap mamanya Safira dengan tersenyum.
"Iya ma." ucap Safira dengan tersenyum.
kemudian Safira melepaskan pelukanya, lalu setelah itu Safira menoleh ke arahku.
"Lo di chat kok gak bales sih." ucap Safira.
"Gua males bales." ucapku dengan tersenyum.
"Arsyan gak boleh gitu, siapa tau penting kan." ucap Ibu.
"Iya itu tante. " ucap Safira dengan tersenyum.
Aku pun hanya tersenyum.
"Arsyan tolong fotoin gua sama mama ya." ucap Safira.
"mana handphone kamu." ucapku.
Kemudian Safira memberikan handphonenya kepadaku.
"Yang bagus loh." ucap Safira.
"Iya siap." ucapku.
Aku memfotokan Safira dan mamanya.
"satu dua tiga. " ucapku.
Setelah memfotokan mereka aku memberikan handphonenya Safira.
"Bagus gak?." tanyaku.
"Bagus Arsyan, makasih." jawab Safira.
"Sekarang aku fotoin sama ibuku ya, pakai handphone kamu aja, handphoneku kameranya jelek soalnya." ucapku.
"Iya." ucap Safira.
__ADS_1
Kemudian Safira memfotokan aku dan ibuku.
"satu dua tiga." ucap Safira.
Kemudian aku langsung menghampiri Safira.
"Bagus gak hasilnya Safira." ucapku.
"Gak tau, bagus gak menurutmu." ucap Safira dengan menunjukan fotonya padaku.
"Bagus itu Safira, nanti kirimin ke gua ya." ucapku dengan tersenyum.
"Oke siap." ucap Safira.
"Sekarang kita berdua foto yuk!." ajakku.
"Yuk Arsyan." ucapnya setuju.
"Bu tolong fotoin kami ya." ucapku.
"Iya sayang." ucap ibu.
Kemudian ibu memfotokan kami berdua, Safira memegang tanganku.
"Sudah sayang." ucap ibu.
Kemudian kami berdua menghampiri ibuku dan melihat hasil fotoan ibu.
"Bagus gak sayang." ucap ibu.
"Bagus bu, iya kan Safira." ucapku.
"Iya Syan." ucap Safira.
Kemudian aku pun ingin mengajak Safira untuk pergi ke kelas.
"Ke kelas yuk Safira!. " ajakku.
"Yuk." ucap Safira setuju.
"Ibu, Arsyan ke kelas dulu ya." pamit ku.
"Iya sayang." ucap ibu.
"Safira ke kelas dulu ya ma." pamit Safira.
"Iya sayang." ucap mamanya Safira.
Kemudian aku dan Safira berjalan menuju ke kelas dengan bergandengan tangan.Hingga akhirnya kami berdua pun sampai ke kelas. Terlihat keadaan kelas yang terlihat sepi, tidak ada seorang pun di dalamnya. Setelah itu kami berdua pun duduk di tempat biasa kami duduk saat sekolah.
"Iya Safira." ucapku.
"Gak nyangka ya kita udah lulus sekarang." ucap Safira dengan tersenyum.
"Iya Safira, lo seneng gak." ucapku.
"Ada senengnya ada sedihnya." ucap Safira.
"Sedih karena kita mau berpisah kan Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Syan." ucap Safira dengan bersedih.
Kemudian Safira bersandar di bahuku.
"Lo langsung berangkat habis ini?. " tanya Safira.
"Masih minggu depan Safira." jawabku.
"Oh." ucap Safira.
"Kalau lo ke Bandung kapan?. " tanyaku.
"masih bulan depan Syan." jawab Safira.
"Masih lama." ucapku.
"Emang iya." ucap Safira.
"Btw, lo tumben pakai hijab Safira?. " tanyaku.
Kemudian Safira menegakkan kepalanya.
"Syan, mulai sekarang gua mau pakai hijab Syan." jawab Safira dengan tersenyum.
"Masa sih?. " tanyaku lagi.
"Iya Syan." jawabku.
"Tapi kenapa tiba tiba lo mau pakai hijab?." tanyaku lagi.
"Gak tau pengen aja Safira." ucap Safira dengan tersenyum.
"Bagus dong kalau begitu." ucapku dengan tersenyum.
"Mama gua aja pakai hijab, masa anaknya gak sih." ucapku Safira dengan tersenyum.
"Ibu gua juga pakai hijab sekarang kalau keluar rumah, semenjak ada tante Ifa kemarin." ucapku dengan tersenyum.
__ADS_1
"Memang aslinya seorang wanita wajib memakai hijab Arsyan, kalau agamanya islam." ucap Safira dengan tersenyum.
"Tapi kenapa dulu gak pernah pakai hijab?." tanyaku dengan tersenyum.
"Gak tau Syan, soalnya dulu di sekolah kan banyak yang gak pakai hijab." jawab Safira dengan tersenyum.
"Tapi bagus sih itu Safira." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Safira melepas jubah dan topi toganya.
"Kenapa lo lepas?. " tanya Safira.
"Gerah Arsyan gua gak kuat." jawab Safira.
Kemudian aku melakukan hal yang sama seperti Safira.
"Lo ikutan lepas juga?. " tanya Safira.
"Iya, Fir gerah banget." jawabku.
Kemudian Safira melipat jubah itu dan di taruh di meja.
"Mana gua lipatin jubah loh." ucap Safira.
Lalu Safira melipat jubahku.
"Btw, sekarang udah gak bisa lihat Safira pakai daster lagi dong." ucapku dengan tersenyum.
"Ya bisa lah Arsyan, tapi kalau gua di rumah aja." ucap Safira dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong lo cantik banget Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Ngeledek ya." ucap Safira dengan tersenyum.
"Nggak, emang cantik banget Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Dari dulu juga gua udah cantik Syan." ucap Safira dengan tersenyum.
"Iya sih, tapi kalau boleh tau itu make up nya lapis berapa ya, sama lipstiknya juga itu merah banget." ucapku dengan tersenyum.
"Gak tau lapis berapa, seratus mungkin. " ucap Safira dengan tersenyum.
"Bisa aja deh lo." ucapku dengan tersenyum.
"Btw, cantikan mana gua pakai hijab atau gak?. " tanya Safira.
"Cantikan pakai hijablah Safira." jawabku dengan tersenyum.
"Masa sih?. " tanya Safira dengan tersenyum.
"Iya Safira, semua cewek kalau pakai hijab itu kecantikannya nambah." jawabku.
"Masa sih?. " tanya Safira dengan tersenyum.
"Iya Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Lo juga ganteng kok Syan." ucap Safira dengan tersenyum.
"Iya dong,sampai sampai lo naksir sama gua." ucapku dengan tersenyum.
"Iya, btw, gua pakai kebaya gini cantik gak Syan?. " tanya Safira.
"Sudah di bilangin beberapa kali sih, lo itu cantik Safira." jawabku dengan tersenyum.
"Muji muji gua mulu deh dari tadi." ucap Safira dengan tersenyum.
"Kan lo tanya ya gua jawab dong." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Safira mengatakan sesuatu kepadaku.
"Syan, ada gak ya cowok yang baik, sepertimu lagi." ucap Safira.
"Ya banyak lah Safira." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Safira bersandar di bahuku.
"Gua gak yakin deh bisa nemuin cowok, sepertimu Syan." ucap Safira.
Kemudian aku memegang tangan Safira.
"Gua juga gak nyangka Safira, bisa seakrab ini sama lo, padahal dulu kita saat sd sampai smp kita jarang banget loh bicara." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Syan, gua juga." ucap Safira dengan tersenyum.
"Sebenarnya kalau boleh jujur, gua juga punya perasaan sama lo Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Kalau lo emang punya perasaan sama gua, kita kubur aja perasaan itu dalam dalam Syan, karena gua yakin Sisi juga pasti memiliki perasaan yang sama seperti lo." ucap Safira.
"Gua juga yakin Safira." ucapku dengan tersenyum.
"Jadi lo gak boleh nyerah, gua yakin lo pasti bisa nemuin Sisi." ucap Safira.
"Iya Safira, lo juga gak boleh nyerah." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku mencium tangan Safira yang sedari tadi aku pegang.
.......................... BERSAMBUNG............................
__ADS_1