Sisi

Sisi
TELPON


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada hari minggu. Aku pun hendak berangkat kerja seperti biasanya, aku menyiapkan motorku di halaman rumah lalu aku naik ke motorku dan menyalakan motorku untuk memanasi motorku sebentar.


Tak lama setelah itu aku pun mulai menjalankan motorku menuju ke rumah makan tempat kerjaku. Aku mengendarai motorku dengan sangat santai, karena masih terlalu pagi.


Namun tiba tiba handphoneku berbunyi, menandakan jika ada panggilan masuk. Setelah itu aku pun langsung menepi di samping jalan untuk menjawab telpon.Aku ambil handphoneku dari saku celanaku, ternyata itu adalah panggilan dari mbak Syifa, aku pun langsung mengangkat telpon dari mbak Syifa.


"Iya mbak ada apa?." tanyaku.


"Kamu kerja gak Syan?." tanyanya.


"Kerja mbak, ini aku udah di jalan." jawabku.


"Yaudah kalau begitu." ucapnya.


"Memang kenapa mbak?." tanyanya.


"Mbak Tya gak masuk soalnya, kurang enak badan." jawabnya.


"Oh gitu ya mbak." ucapku.


"Untung kamu kerja Syan, yaudah mbak matiin dulu ya telponnya." ucapnya.


"Iya mbak." ucapku.


Setelah itu mbak Syifa mematikan telponnya, sementara aku langsung memasukkan handphoneku ke saku celanaku lagi. Setelah itu aku langsung melanjutkan perjalananku menuju ke rumah makan milik mas Ricky.


Sekitar lima menit perjalanan, akhirnya aku pun sampai di rumah makan tempatku bekerja, setelah itu aku pun memarkirkan motorku di halaman rumah makan, kemudian aku pun turun dari motorku.


Aku perlahan berjalan menuju ke dalam rumah makan, ternyata di dalam sudah ada mbak Syifa dan Cindy sedang duduk di salah satu meja makan yang ada di dalam rumah makan, lalu aku langsung menghampiri mereka.


"Sudah lama mbak?." tanyaku.


"Baru sampai Syan." jawabnya.


"Kalau kamu Cin?." tanyaku.


"Baru sampai kok Syan." jawabnya dengan tersenyum.


"Sama siapa tadi kesininya?." tanyaku.


"Di anterin bapak aku." jawabnya.


"Oh." ucapku.


Kemudian aku pun duduk di hadapan mereka berdua yang duduk berdampingan.


"Ngomong ngomong mbak Tya sakit apa?." tanyaku.


"Sakit perut sama badanya panas katanya Syan." jawabnya.


"Oh." ucapku dengan tersenyum.


"Kita duduk di tempat kasir aja yuk, takutnya ada pelanggan nanti." ajak Cindy.


"Ayuk." ucapku dan mbak Syifa setuju.


Kemudian kami bertiga pun duduk di tempat kasir.


"Sepi mulu ya mbak minggu ini." ucapku.


"Iya Syan, kemarin malah gak ada sama sekali pelanggan yang datang kesini." ucap mbak Syifa.


"Iya mbak." ucapku dengan.


"Bisa tutup lama lama ini rumah makan." ucap Cindy.


"Itu yang mbak takutin." ucap mbak Syifa dengan wajah cemas.


"Iya mbak aku juga." ucap Cindy.


"Semoga aja gak ya mbak." ucapku.


"Tapi kemungkinan kecil Syan itu, soalnya kan gak ada pemasukan sama sekali." ucap mbak Syifa.


"Iya juga sih mbak." ucapku.


Setelah itu Cindy pun tiba tiba kebelet berak.


"Mbak gantiin aku dulu ya mbak,aku kebelet berak nih." ucap Cindy.


"Iya Cindy." ucap mbak Syifa.


Kemudian Cindy pun pergi meninggalkan kami berdua, untuk menuju ke toilet rumah makan yang ada di ruangan dapur.


"Ngomong ngomong kamu udah sarapan gak Syan?." tanya mbak Syifa.


"Belum mbak." jawabku.


"Makan sama mbak aja ya, tadi mbak bawa bekal banyak soalnya." ucap mbak Syifa.


Kemudian mbak Syifa masuk ke dalam ruangan dapur untuk mengambil bekalnya. Tak lama setelah itu, mbak Syifa pun kembali dengan membawa sebungkus nasi, lalu mbak Syifa duduk lagi di sampingku.


"Mbak, sengaja bawa banyak tadi Syan." ucap mbak Syifa.


Lalu mbak Syifa membuka bungkus nasinya, dan ternyata bungkus nasinya memang begitu banyak.


"Banyak banget mbak." ucapku.


"Yah memang." ucap mbak Syifa.


"Mbak makan segini biasanya habis?." tanyaku.


"Iya gak lah Syan, palingan ya setengahnya, emang penampungan perut mbak cukup apa, perutnya aja kecil gini." jawab mbak Syifa dengan tersenyum.


"Barang kali mbak Syifa pengen gemuk." ledek ku dengan tersenyum.


"Ya gak lah Syan, segini aja udah cukup." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


Kemudian kami berdua pun memakan bekal milik mbak Syifa yang begitu banyak.


"Ini masakan mbak Syifa?." tanyaku.


"Iya Syan, enak gak." jawab mbak Syifa.


"Enak dong mbak." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.

__ADS_1


Mbak Syifa hanya tersenyum.


"Mbak masaknya jam berapa biasanya?. " tanyaku.


"Sebelum adzan subuh Syan." jawab mbak Syifa.


"Sendirian mbak masaknya?." tanyaku.


"Di bantu sama adik mbak dan anak mbak yang pertama." jawab mbak Syifa.


"Kalau orang tua mbak masih hidup?." tanyaku.


"Sudah lama meninggal Syan,ayah mbak meninggal saat adik mbak umur 1 tahun, kalau ibu mbak meninggal saat adik mbak kelas 3 sd." jawab mbak Syifa.


"Oh." ucapku dengan mengangguk.


Tiba tiba handphoneku pun berbunyi, menandakan ada telpon yang masuk. Setelah itu aku langsung mengambil handphoneku dari saku celanaku, ternyata itu adalah telpon dari Safira dan aku langsung mengangkat telpon darinya.


"Apa Safira cantik?." tanyaku.


"Sombong banget sekarang." jawabnya di ikuti tertawa kecil.


"Nanya doang di bilang sombong." ucapku dengan tersenyum.


"Lo lagi ngapain sayang?." tanyanya.


Kemudian mbak Syifa yang sedang makan di hadapanku langsung memandangku.


"Cie sayang sayangan nih." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


Aku menaruh jari telunjukku di depan mulut.


"Iya deh,mbak gak mau ganggu." ucap mbak Syifa dengan tersenyum dan terus melanjutkan makannya.


"Lagi makan sayang." ucapku dengan tersenyum.


"Gak kerja sayang?." tanyanya.


"Kerja dong, makannya itu di tempat kerja." jawabku.


"Oh, jadi gua ganggu dong sayang?." tanyanya.


"Gak juga." jawabku.


"Beneran sayang?. " tanyanya.


"Kek baru kenal gua aja lo." jawabku dengan tersenyum.


Safira pun tertawa.


"Gua mulai video call ya?." tanyanya.


Setelah itu Safira memulai video call, terlihat wajah Safira seperti baru bangun tidur.


"Lo baru bangun tidur?." tanyaku.


"Gak anjir, udah dari tadi." jawabnya.


"Lah kok gitu mukanya?." tanyaku.


"Ya gitu aja." jawabnya.


"Ga jelas deh lo." ucapnya dengan tersenyum.


"Udah jelas itu." ucapku dengan tersenyum.


"Emang gua belum mandi anjir, habis bantu mama masak, bersih bersih rumah dan nyiram tanaman juga." ucapnya.


"Capek gak?." tanyaku.


"Biasa aja." jawabnya.


"Baunya sampai sini tau." ucapku dengan tersenyum.


"Biarin." ucapnya dengan tersenyum.


"Mandi dulu gih." ucapku dengan tersenyum.


"Nanti aja, btw lo sama siapa Syan?." tanyanya.


"Lagi makan sama mbak Syifa." jawabku.


"Mbak Syifa itu siapa Syan?." tanyanya.


Kemudian aku mengarahkan handphoneku ke arah mbak Syifa.


"Hai." ucap mbak Syifa dengan melambaikan tangan.


"Hai juga mbak." ucapnya.


Kemudian aku mengarahkan kembali handphonenya ke arahku.


"Mbak Syifa teman kerja gua di sini." ucapku.


"Oh, masih lumayan muda ya Syan." ucapnya dengan tersenyum.


"Ngawur aja lo, udah tua tau, anaknya aja udah tiga." ucapku dengan tersenyum.


"Tapi kok kelihatan masih muda ya." ucapnya dengan tersenyum.


"Masa sih, mbak kelihatan masih muda." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Gak tau dia yang bilang mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Yaudah gua matiin dulu ya Syan, gak tahan gua sama bau ketiak gua sendiri." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya,gua juga gak tahan." ucapku dengan tersenyum.


"Bye Arsyan ganteng." ucapnya dengan melambaikan tangan.


"Bye Safira cantik." balasku dengan melambaikan tangan.


Lalu Safira mematikan video callnya, aku memasukkan kembali handphoneku ke saku celana.


"Pacar kamu ya Syan?." tanyanya.

__ADS_1


"Gak, cuma teman kok mbak." jawabku.


"Masa sih cuma teman?." tanyanya dengan tersenyum.


"Iya mbak, tapi ya gitu teman akrab." jawabku.


"Tapi kok sayang sayangan gitu." ucapnya dengan tersenyum.


"Biasa mbak itu mah." ucapku.


"Tapi kok mbak gak percaya deh." ucapnya dengan tersenyum.


"Terserah mbak aja deh mau percaya atau gak." ucapku dengan tersenyum.


Tiba tiba handphoneku kembali berbunyi menandakan ada telpon yang masuk, lalu aku mengambil handphoneku di saku celanaku dan ternyata itu adalah video call dari Vina. Setelah itu aku langsung mengangkatnya, terlihat Vina yang sedang berbaring di kasur kamarnya.


"Arsyan." panggilnya dengan tersenyum.


"Hai Vina, tumben video call gua?." tanyaku.


"Pengen aja sih." jawabnya dengan tersenyum.


"Lo kangen ya sama gua?." tanyaku.


"Kalau bilang iya boleh gak?." tanyanya dengan tersenyum.


Mbak Syifa yang ada di depanku pun hanya tersenyum senyum kearahku.


"Gak apa apa." jawabku.


"Iya gua kangen sama lo Syan." ucapnya dengan tersenyum.


"Gua juga kangen sama lo Vin." ucapku dengan tersenyum.


"Gua sering sering nelpon ke lo, gak apa apa kan?." tanyanya.


"Gak apa apa." jawabku dengan tersenyum.


"Beneran lo gak ke ganggu." ucapnya.


"Gak apa apa, mau curhat ke gua juga gak apa apa." ucapku dengan tersenyum.


"Btw, lo lagi ngapain Syan?." tanyanya.


"Lagi makan, tapi makannya di tempat kerja." jawabku.


"Berarti lo lagi kerja sekarang?." tanyanya.


"Memang." jawabku.


"Jadi gua ganggu dong." ucapnya.


"Gak kok." ucapku dengan tersenyum.


"Beneran?." tanyanya.


"Iya Vin." jawabku dengan tersenyum.


"Yaudah kalau begitu." ucapnya dengan tersenyum.


"Lo lagi ngapain?." tanyaku.


"Rebahan aja sih Syan gak ada kerjaan." jawabnya.


"Gak masak?." tanyaku.


"Udah tadi, sama ibu dan kakak." jawabnya.


"Sudah makan?." tanyaku lagi.


"Sudah juga sih." jawabnya.


"Yaudah, kalau gitu." ucapku dengan tersenyum.


"Tapi sehat kan lo di sana?." tanyanya.


"Alhamdulillah sehat kok." jawabku.


"Alhamdulillah." ucapnya.


"Nia gimana sehat?." tanyaku.


"Sudah ke Jogja orangnya Syan." jawabnya.


"Masa sih?." tanyaku.


"Iya Syan, dari seminggu lalu." jawabnya.


"Oh." ucapku dengan mengangguk.


Kemudian ada suara ibunya dari luar kamarnya, yang memanggilnya.


"Udahan dulu ya Syan, ibu gua manggil." ucapnya.


"Iya Vina." ucapku.


"Bye Arsyan." ucapnya dengan melambaikan tangan.


"Bye Vina." ucapku dengan ikut melambaikan tangan.


Kemudian Vina mematikan video callnya, lalu aku masukkan kembali handphoneku ke dalam saku celana.


"Pacar kamu banyak banget sih Syan." ledek mbak Syifa dengan tersenyum.


"Adik kelas itu mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Adik kelas apa adik kelas." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Beneran mbak adik kelas." ucapku dengan tersenyum.


"Jangan jangan itu pacar simpenan kamu lagi." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.


"Gua laki laki apaan dah kalau kelakuan gua kek gitu mbak." ucapku dengan tersenyum.


"Kan bisa aja Syan." ucap mbak Syifa dengan tersenyum.

__ADS_1


......................... BERSAMBUNG...........................


__ADS_2