
Keesokan harinya aku pun telah mempersiapkan barang barangku, aku masukkan pakaian pakaianku dan barang barang lain ke dalam tasku.Setelah itu aku pun menggendong tasku di pundakku, lalu berjalan menuju keluar kamar. Namun baru saja aku keluar Sandra pun menghampiriku yang ada di depan pintu kamar.
"Sayang, bonekanya jangan lupa di bawa yah." ucapnya dengan tersenyum.
"Taruh di tas kamu aja sayang, tas aku udah gak muat." ucapku.
"Oh yaudah, aku ambil dulu ya bonekanya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Sandra mengambil kedua boneka yang ada di kamarku itu dan setelah Sandra mengambil boneka itu,Sandra kembali ke arahku.
"Sayang kamu ganti kaos kapel yang kita beli waktu di mall ya." ucapnya.
"Iya, tapi mana kaosnya sayang?." tanyaku.
"Oh iya aku lupa, belum aku kasihkan ke kamu kaos nya." ucapnya dengan tersenyum.
"Cepat ambilkan sayang, aku gak sabar untuk memakainya." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Sandra menuju ke kamarnya, tak lama setelah mengambil kaos itu, Sandra kembali ke arahku dengan membawa kaos itu.
"Ini kaosnya sayang." ucap Sandra dengan memberikan kaos itu kepadaku.
"Terus kamu pakai juga sayang?." tanyaku.
"Iya dong sayang, masa sih gak." jawabnya dengan tersenyum.
"Oh yaudah." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah aku kembali ke kamar dulu sayang, mau make up sekalian ganti baju." ucapnya.
"Iya sayang, aku juga mau ganti baju dulu." ucapku.
Kemudian Sandra kembali ke kamarnya.
"Jangan lupa make up nya yang tebal sayang." ucapku.
"Iya sayang." ucapnya dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, kami berdua telah berada di teras, dengan telah membawa barang barang yang akan kami berdua bawa ke desa. Namun sebelum itu, aku berpamitan kepada tante Lina dan juga mbak Syifa yang ada di teras rumah.
"Mama kami pergi dulu ya." pamitnya.
"Iya sayang hati hati loh." ucap tante Lina.
"Mbak, temenin mama ya." ucapnya.
"Iya Sandra." ucap mbak Syifa.
Kemudian kami berdua pun bersaliman dan mencium tangan mbak Syifa. Setelah itu kami berdua langsung menghampiri motorku yang ada di halaman rumah.
"Sayang, seperti biasa ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya sayang." ucapku dengan tersenyum.
Aku menaruh tas yang aku gendong ke tangki motorku, kemudian aku langsung memakaikan helm ke kepala Sandra dan setelah itu aku memakai helm ke kepalaku, lalu kami berdua pun langsung naik ke motor.
"Da da mama." ucap Sandra dengan melambaikan tangan ke arah tante Lina dan mbak Syifa yang ada di teras.
Mereka berdua pun membalasnya dengan melambaikan tangan ke arah kami berdua.
Setelah itu aku pun langsung menjalankan motorku menuju ke arah desaku.
"Sayang, aku gak lagi mimpi kan sekarang?." tanyanya.
"Coba kamu cubit pipi kamu." ucapku dengan tersenyum.
"Gak bisa sayang kan pakai helm." ucapnya.
"Coba cubit tangan kamu." ucapku dengan tersenyum.
Setelah itu Sandra mencubit tangannya sendiri.
"Sakit sayang." ucapnya.
"Berarti kalau sakit." ucapku dengan tersenyum.
"Berarti kita gak lagi mimpi dong." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya sayang, ini nyata." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi kok, kek mimpi aja ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Terserah kamu aja deh sayang mau bilang apa, yang penting kita sekarang gak sedang mimpi." ucapku dengan tersenyum.
"Iya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Sandra memelukku, yang sedang mengendarai motor dan tangan kiriku memegang tanganya yang ada di perutku.
Dan beberapa saat kemudian aku pun telah sampai di depan rumah mbak Nadin di desa melati.
"Perasaan gak ini deh rumah kamu dulu." ucapnya dengan bingung.
"Emang gak." ucapku.
"Terus ini rumah siapa?." tanyanya.
"Ini rumahnya mbak Nadin, teman aku." jawabku.
"Oh." ucapku dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu mbak Nadin pun keluar dari dalam rumah dengan menggendong anak kesayangannya itu. Mbak Nadin terkejut, ketika melihatku dan Sandra yang sudah ada di depan rumahnya lalu dia pun langsung menghampiri kami berdua.
"Arsyan udah pulang aja,perasaan baru bulan lalu deh berangkat." ucapnya dengan tersenyum.
"Udah tutup tempat kerja aku mbak." ucapku.
"Oh, ngomong ngomong ini cewek kamu ya?." tanyanya.
"Iya dong mbak, kenalin namanya Sandra." ucapku dengan tersenyum.
"Hai mbak." ucap Sandra dengan melambaikan tangan.
"Hai Sandra." ucap mbak Nadin dengan melambaikan tangan.
"Ngomong ngomong mbak nikah kapan nih?." tanyaku.
"Bulan depan keknya Syan." jawab mbak Nadin dengan tersenyum.
"Udah siap si Andi itu mbak?." tanyaku lagi.
"Katanya sudah sih Syan, mbak kan tinggal ngikut aja." jawab mbak Nadin dengan tersenyum.
"Yang penting, jangan lupa undangannya gitu aja." ucapku dengan tersenyum.
"Iya deh Syan, tenang aja kamu mah." ucap mbak Nadin dengan tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah aku pulang dulu, udah kangen sama keluarga nih mbak." pamitku.
"Iya Syan, hati hati loh." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu aku pun menyalakan motorku dan langsung menjalankan motorku. Hingga akhirnya kami berdua pun sampai di depan rumah Safira.
"Safira cantik." panggilku.
Setelah itu Safira pun keluar dari dalam rumahnya,dengan daster yang biasa dia pakai.Seketika Sandra pun langsung turun dari motor dan menghampiri Safira yang ada di teras rumah. Sandra langsung memeluk Safira.
"Sisi akhirnya kita bertemu lagi." ucap Safira.
"Sandra , Safira." ucap Sandra.
"Oh iya gua lupa." ucap Safira.
Kemudian Sandra melepaskan pelukannya.
"Cie bajunya samaan." ucap Safira dengan bingung.
"Iya dong." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Kalian udah jadian ya?." tanya Safira.
"Udah dong Safira." jawab Sandra dengan tersenyum.
"Yah, udah gak bisa sayang sayangan lagi nih sama Arsyan." ucap Safira dengan tersenyum.
Kemudian Safira dan Sandra menghampiriku yang masih berada di motor.
"Lo makin ganteng aja deh perasaan." ucap Safira dengan tersenyum.
"Iya dong." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Sandra pun naik ke motorku.
"Yaudah gua balik dulu Safira, nanti kalau pengen ke rumah ke rumah aja ya." ucapku.
"Iya deh nanti gua kesana sama Shinta." ucap Syafira dengan tersenyum.
"Bye Safira." ucap Sandra dengan melambaikan tangan.
"Bye juga Sisi." ucap Safira.
"Sandra, Safira." ucap Sandra.
"Oh iya gua lupa lagi." ucap Safira dengan mengelus dahinya.
Aku pun langsung melanjutkan perjalanan ku menuju ke rumah dengan begitu santai, hingga akhirnya kami berdua pun telah sampai di rumah dan aku pun langsung mengarahkan motorku ke teras rumah. Setelah itu kami berdua pun turun dari motorku,tak lupa aku melepas helmku terlebih dahulu kemudian aku melepas helm di kepala Sandra.
Tak lama setelah itu ibu pun keluar dari dalam rumah dan menghampiri kami berdua yang ada di teras. Seketika aku pun langsung memeluk ibuku.
"Kenapa kalau pulang gak telpon ibu dulu sih sayang?." tanya ibuku.
Kemudian aku pun melepaskan pelukanku.
"Kan kejutan, ibu gimana sih." jawabku dengan tersenyum. "
"Iya deh ibu percaya kalau kejutan." ucap ibuku dengan tersenyum.
Setelah itu ibu pun menoleh ke arah Sandra.
"Ini siapa sayang, bajunya kok samaan sama kamu?." tanya ibu.
"Masa sih ibu lupa." jawabku dengan tersenyum.
"Anak teman ibu sendiri." jawabku.
"Oh, Sisi." ucap Ibu.
Seketika Sandra memeluk ibuku.
"Mama sehat kan sayang?." tanya ibuku.
"Iya tante, sehat kok." jawab ibuku.
Kemudian Sandra melepaskan pelukannya.
"Udah gede dan cantik ya sekarang." ucap ibuku dengan tersenyum.
"Tante bisa aja deh." ucap Sandra tersenyum malu.
"Ibu belum di telpon tante Lina?." tanyaku.
"Belum sayang." jawab ibu.
"Padahal kan tadi tante Lina , udah Arsyan kasih nomer ibu." ucapku.
"Belum sayang, coba deh sekarang ibu kasih nomernya tante Lina,biar ibu telpon." ucap Ibuku.
"Iya deh bu." ucapku.
Kemudian aku mengirimkan nomer tante Lina kepada ibu.
"Sudah masuk ibu?." tanyaku.
"Udah sayang." jawab ibuku.
Kemudian aku ingin memberitahukan hubunganku dengan Sandra, kepada ibu.
"Bu, Arsyan mau ngomong sesuatu deh sama ibu." ucapku.
"Ngomong apa sayang, ngomong aja sama ibu?." tanya ibuku.
"Ibu restuin gak hubungan aku sama Sandra?." tanyaku.
"Sandra siapa sayang?." tanya ibu.
"Jadi nama Sisi sekarang udah ganti jadi Sandra tante." jawab Sandra.
"Oh gitu." ucap ibuku dengan tersenyum.
"Jadi gimana bu di restuin gak?." tanyaku.
"Iya ibu restuin kok, Ibu juga gak bisa ngelarang kok kalau memang kalian saling suka." jawab ibu dengan tersenyum.
"Kalau ayah bu, bolehin gak?." tanyaku.
"Kalau ibu boleh, ayah pasti boleh kok sayang." jawab ibu dengan tersenyum.
"Makasih ibu." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi, jangan buat aneh aneh loh sebelum nikah, jangan niru kek ibu sama ayah dulu sayang." ucap ibuku.
"Siap ibu." ucapku dengan tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah ayo masuk dulu!." ajak ibuku.
"Aku mau ke belakang rumah dulu bu sama Sandra, mau nostalgia." ucapku dengan tersenyum.
"Oh yaudah, nanti masuk aja kalau udah selesai." ucap ibuku dengan tersenyum.
"Siap ibu." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku memegang bahu Sandra, dan kemudian berlari.
"Sandra kena." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Sandra mengejarku.
"Awas kamu." ucapnya dengan tersenyum.
Ibu yang melihat kami berbahagia pun ikut bahagia. Setelah itu aku pun berlari menuju ke belakang rumah dan Sandra terus mengejarku, aku berlari memutari perkebunan milik ayahku.
"Lari kamu itu memang lambat Sisi." ucapku dengan tersenyum.
"Awas aja kamu kalau kena Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
Kemi pun bermain kejar kejaran, memutari perkebunan milik ayahku. Hingga akhirnya aku pun lelah dan aku pun berhenti.
"Sudah Sisi aku capek." ucapku dengan tersenyum.
"Awas aja kalau kamu curang." ucapnya dengan tersenyum.
"Beneran Sisi, aku udah gak kek dulu lagi." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah kita duduk di kursi itu yuk." ajaknya.
"Yuk." ucapku setuju.
Kemudian setelah itu, kami berdua pun duduk di kursi kayu panjang, tempat biasa kami dulu duduk berdua.
"Sayang gak pengen mandi sungai." ucapku dengan tersenyum.
"Gak usah sayang, kapan kapan aja." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku menunjukkan Sandra, ukiran nama kami berdua yang ada di pohon itu.
"Lihat deh sayang ukiran itu,ukiran kita berdua dulu." ucapku dengan menunjuk ke ukiran di pohon itu.
"Iya sayang,masih bagus banget ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Kamu tau gak, aku sampek cium loh ukiran nama kamu itu." ucapku dengan tersenyum.
"Segitunya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya sayang, karena aku kangen banget sama kamu." ucapku dengan tersenyum.
"Ah romantis banget deh." ucapnya dengan mencubit pipiku pelan.
Kemudian Sandra bersandar di bahuku.
"Sayang kita nikah kapan?." tanyanya.
"Nunggu kamu lulus kuliah sayang." jawabku dengan tersenyum.
"Kalau aku gak jadi kuliah, kamu mau nikahin aku secepatnya?." tanyanya.
"Ya kamu harus kuliah dong, katanya mau jadi guru." ucapku dengan tersenyum.
"Iya sih, tapi kamu harus tungguin aku loh jangan sampai cari perempuan lain." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya sayang, aku juga mau cari kerja kok kalau gak gitu kuliah." ucapku dengan tersenyum.
"Kalau kamu mau kuliah, kuliah bareng aku aja ya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya sayang kalau jadi kuliah." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian secara mengejutkan tiba terdengar suara Safira dari belakang.
"Cie romantis banget sih kak." ucap Safira dengan tersenyum.
Seketika Sandra pun menegakkan kepalanya dan kami berdua pun menoleh ke belakang ke arah Safira dan Shinta.
"Kalian ganggu aja orang lagi pacaran." ucap Sandra.
"Sisi makin cantik aja sekarang." ucap Shinta dengan tersenyum.
"Sandra sekarang namanya, bukan Sisi lagi." ucap Safira dengan tersenyum.
"Oh iya deh." ucap Shinta dengan tersenyum.
"Sini duduk samping aku kalian berdua." ucap Sandra.
Kemudian Sandra menoleh ke arahku.
"Kamu agak geseran dikit ya sayang." ucapnya.
"Iya sayang." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian aku pun geser sedikit ke kanan, kemudian Safira dan Shinta duduk di samping kami berdua.
"Sombong banget ya sekarang, mentang mentang udah punya pacar." ledek Safira dengan tersenyum.
"Iya nih sombong banget." saut Shinta dengan tersenyum.
"Harus dong ." ucap Sandra dengan tersenyum.
Kemudian Sandra kembali bersandar di bahuku.
"Kan sekarang cowok ganteng ini udah jadi milik aku." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Iya deh iya percaya." ucap Safira dengan tersenyum.
"Bikin kita iri aja." ucap Shinta dengan tersenyum.
"Kalian harus iri dong,iya kan sayang." ucap Sandra dengan tersenyum.
"Iya sayang, apasih yang gak buat kamu." ucapku dengan tersenyum.
"Gua ikutan salting anjir." ucap Shinta dengan tersenyum.
"Ngapain gua salting, gua juga pernah di gituin sama Arsyan, iya kan Syan." ucap Safira dengan tersenyum.
"Beneran sayang yang di ucapin Safira?." tanya Safira dengan tersenyum.
"Iya sayang tapi cuma pura pura dulu, waktu sma." jawabku dengan tersenyum.
Aku pun begitu bahagia bisa bermain lagi di belakang rumah bersama Sisi atau yang sekarang sudah menjadi Sandra, setelah beberapa tahun kami tidak bersama lagi dan kini dia telah menjadi pacarku.
__ADS_1
............................ BERSAMBUNG.... .....................