Sisi

Sisi
TERSENYUM


__ADS_3

Setelah beberapa saat akhirnya pemilihan Osis pun selesai, dan seluruh murid di sekolahan pun telah memilih ketua dan wakil Osis pilihannya masing masing. Keadaan sekolah pun sudah sepi karena semua murid telah pulang.


Di kelasku pun hanya tinggal aku dan Safira yang masih ada di dalam kelas, karena aku mengajak Safira untuk tidak pulang terlebih dahulu, menunggu petugas Osis menempelkan ketua Osis yang baru di mading sekolahan dan papan pengumuman sekolah.


"Kita mau di sini sampai kapan anying? . " tanyanya.


"Sebentar lagi kita pulang Safira." jawabku.


"Lo chat aja Nia siapa yang jadi." ucap Safira.


"Gua gak punya nomernya Nia." ucapku.


"Chat Vina aja." ucapnya lagi.


"Gua masih malu sama Vina anying." ucapku.


"Yaudah kita cari Nia aja kalau gitu." ucapnya.


Kami berdua pun perlahan berjalan untuk mencari Nia ketua Osis yang mau turun jabatan.


"Lo ada yang aneh gak sama Andi?. " tanyanya.


"Kenapa?. " tanyaku.


"Tiba tiba aja dia gak jadi ngajak gua, dan tadi dia gak seperti biasanya, kek terburu buru gitu." ucapnya.


"Tunggu tunggu, lo kok khawatirin Andi sih." ucapku.


"Gak, cuma ngerasa aneh doang." ucapnya.


"Jangan jangan lo naksir lagi sama Andi." ucapku dengan tersenyum.


"Gak, gua gak naksir sama Andi." ucapnya.


"Jujur dong sayang." ucapku.


"Gak sayang, gua gak suka." ucapnya.


"Ah masa. " ucapku.


"Iya sayang. " ucapnya.


"Kok lo manggil gua sayang sih?. " tanyaku.


"Kan gua ikutin lo." jawabnya.


"Iya sayang." ucapku.


"Kita sayang sayangan sih jadinya." ucapku dengan tersenyum.


"Kan lo yang duluan manggil gua sayang." ucapku.


"Lo anying. " ucapnya.


Kemudian kami berdua berpapasan dengan Nia.


"Nia,pas banget ada lo. " ucapku.


"Apa Arsyan?. " tanyanya.


"Siapa yang jadi Nia?." tanyaku.


"Nomer urut satu." jawabnya.


"Yah, gak jadi deh pilihan kita sayang." ucapku.


"Iya sayang." ucap Safira.


"Loh, kalian berdua jadian lagi ya?. " tanya Nia dengan tersenyum.


"Gak Nia, orang ini aja yang manggil gua sayang. " jawabku.


"Lo anying yang duluan manggil gua sayang." ucap Safira.


"Romantis banget sih kalian, kenapa gak jadian beneran aja?. " tanyanya.


Seketika aku menoleh ke arah Safira.


"Kita jadian Safira." ucapku dengan tersenyum ke arah Safira.


"Gak mau ah, males gua sama nih orang. " ucap Safira.


"Kalau males kenapa kalian berdua terus Safira?. " tanya Nia dengan tersenyum.


"Kan males males , tapi sayang, iya kan Syan." jawab Safira.


"Iya dong sayang." ucapku.


"Ada ada aja deh kalian, yaudah aku pergi ke kantor dulu ya." ucap Nia.


"Iya Nia." ucapku.


Kemudian Nia pergi menuju ke kantor.


"Kita pulang habis ini Syan?." tanyanya.


"Iya dong, masa kita mau di sini aja." jawabku.


"Barang kali kita mau tidur di sini. " ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Bisa bisa perut lo jadi besar nanti." ucapku dengan tersenyum.


"Apa lo bilang?. " tanyanya.


"Gak, sampahnya nanti menjadi besar kalau kita tidur di sini." jawabku.


"Jangan bohong deh, lo tadi bilang apa?. " tanyanya.


"Sampahnya jadi besar sayang." ucapku.


"Kalau lo gak mau jawab, gua jawab sendiri." ucapnya.


"Udah tau nanya." ucapku


"Perut besar maksudnya hamil kan?." tanyanya lagi.


"Gak, perut besar karena banyak makan lah, malah hamil sih." jawabku.


"Terserah lo aja deh,kadang omongan sama lo emang gak jelas." ucapnya.


"Gak jelas gimananya sih sayang?." tanyaku.


"Udah diam. " jawabnya.


Kemudian kami berdua pun tiba tiba bertemu dengan Vina yang sedang duduk, dengan pandangan yang menghadap ke bawah seperti sangat kecewa.


"Syan itu Vina syan,kita hampirin ya." ucap Safira dengan berbisik.


Kemudian kami berdua menghampiri Vina yang sedang duduk.


"Gua boleh duduk kan?. " tanyaku.


"Boleh kok, duduk aja." jawabnya.


Kemudian aku duduk di samping kanan Vina, sementara Safira duduk di samping kiri Vina.


"Lagi sedih ya Vin?. " tanyaku.


"Iya Syan. " ucapnya.


"Kamu yang sabar ya, aku tau kok perasaan lo Vina." ucap Safira.


"Iya Safira." ucapnya dengan tersenyum.


"Sandaran gih di bahu aku Vin, mau nangis juga gak apa apa kok." ucap Safira.


Kemudian Vina bersandar di bahu Safira, lalu Safira menaruh tangannya di bahu Vina.


"Mulai sekarang kalau ada apa apa curhat aja sama aku gak apa apa kok."  ucap Safira.


Aku tak tega melihat kesedihan yang dialami Vina saat ini.


"Lo gak salah Arsyan,gak perlu minta maaf, cuman gua aja yang terlalu kepedean. " ucap Vina dengan air mata yang terus mengalir.


"Gua udah baca kok suratnya, dan gua juga udah makan coklatnya satu." ucapku.


Safira terus mengelus rambut Vina yang bersandar di bahunya, layaknya seorang kakak dan adik.


"Aku yakin nanti kamu pasti bisa mendapatkan cowok, yang lebih baik lagi dari Arsyan. " ucap Safira mencoba menyemangati Vina.


Kamudian Vina menegakkan kepalanya.


"Hoodie kamu basah Safira." ucap Vina.


"Gak apa apa Vina, basah air mata aja kok." ucap Safira.


Kemudian aku mengambil coklat yang di berikan Vina tadi dari dalam  tas. Kemudian aku membuka coklat itu lalu aku menyuapi Vina dengan coklat itu.


"Enak kan Vina." ucapku.


"Iya Syan. " ucapnya.


"Gua mau dong di suapin juga Arsyan."  ucap Safira.


"Lo cemburu ya gua suapin Vina." ucapku dengan tersenyum.


"Gak, ngapain gua cemburu." ucap Safira dengan tersenyum.


Kemudian aku pun menyuapi Safira coklat itu. Aku pun bahagia Vina bisa kembali tersenyum.


"Btw, kamu pulang sama siapa Vina?." tanya Safira.


"Sama kak Nia." jawabnya.


"Oh." ucap Safira.


Lalu aku dan Safira pun berpamitan dengan Vina.


"Vina,gua sama Safira balik dulu ya, udah mau dhuhur soalnya." pamitku.


"Iya, hati hati loh Syan." ucapnya.


"Iya Vina. " ucapku dengan tersenyum.


"Da da Vina. " ucap Safira dengan melambaikan tangan.


"Da da Safira." ucapnya dengan melambaikan tangan.


Kemudian kami berdua pun berjalan menuju parkiran sekolah, untuk mengambil motor.

__ADS_1


"Lo yang nyetir ya." ucapku.


"Gak mau, lo lah yang nyetir, kan gua tadi udah." ucapnya.


"Iya deh iya, tuan putri." ucapku.


Kemudian aku naik ke motor Safira.


"Ayo naik. " ucapku.


Kemudian dia pun naik dan duduk di belakangku, lalu aku langsung melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.


"Safira cantik." panggilku.


"Iya apa Arsyan?. " tanyanya.


"Kalau Andi udah punya pacar cemburu gak?." tanyaku.


"Gak sih, biasa aja." jawabnya.


"Oh iya mbak Nadin gimana kabarnya?. " tanyaku.


"Baik baik aja anjing, emang kenapa nanyain mbak Nadin?. " tanyanya.


"Sebenarnya lo bilang apa sih kemarin ke dia?. " tanyaku.


"Belum sempat bilang sih, dia udah cerita ke aku duluan." ucapnya.


"Oh." ucapku dengan mengangguk.


"Katanya calon suaminya lebih muda beberapa tahun darinya sih." ucapnya.


"Masa sih anying." ucapku.


"Iya anying, beneran anjing dia cerita ke gua sendiri." ucapnya.


"Ngapain kita bingung mikirin mbak Nadin ya kan." ucapku.


"Iya juga sih, tapi lo sih aneh anehan segala, ada acara perjodohan segala. " ucapnya dengan tersenyum.


"Kan gua pengen mas Bejo cepat cepat punya istri." ucapku.


"Tadi juga mas Bejo jalan sama tante lo kan?." tanyanya.


"Iya,  semoga aja mereka cocok." jawabku.


"Tante lo cantik banget ya." ucapnya.


"Tanteku yang mana?. " tanyaku.


"Dua duanya cantik kok. " jawabnya.


"Masa sih." ucapku dengan tersenyum.


"Iya Syan, apalagi tante Ifa." ucapnya dengan tersenyum.


"Cantikan mana sama lo?." tanyaku.


"Cantikan mereka lah Syan." jawabnya.


"Masa sih." ucapku.


"Iya Arsyan." ucapnya.


Tak lama setelah itu kami pun sampai di rumah, aku pun langsung turun dari motor.


"Gua pergi dulu ya Syan." ucapnya.


"Iya Fir,hati hati loh." ucapku.


"Iya." ucapnya.


Kemudian dia pun langsung pulang ke rumahnya, sementara aku langsung masuk ke dalam rumah. Aku melihat ibu sedang menyapu di ruang tamu.


"Eh anak ibu udah datang." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya dong." ucapku.


Kemudian aku menanyakan keberadaan dua tanteku pada ibu.


"Tante Santi udah pulang ya bu?. " tanyaku.


"Iya sayang, tadi pagi." jawabnya.


"Kalau tante Ifa kemana bu?. " tanyaku lagi.


"Keluar sama Bejo sayang." jawabnya.


"Tante Ifa jalan lagi sama mas Bejo?." tanyaku dengan tersenyum.


"Iya sayang, mudah mudahan mereka cocok ya sayang." jawabnya dengan tersenyum.


"Iya ibu." ucapku dengan  tersenyum.


"Mandi dulu gih, habis itu anterin ibu ke toko!." perintah ibu.


"Iya ibu." ucapku.


Kemudian, setelah itu aku pun mandi seperti yang di perintahkan oleh ibu.

__ADS_1


........................BERSAMBUNG.................


__ADS_2