
Seminggu kemudian tepatnya hari senin, aku pun bangun sekitar jam empat pagi.Setelah itu aku langsung berdiri dan perlahan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mandi dan bersih bersih diri.
Setelah beberapa saat aku pun telah selesai mandi dan melaksanakan sholat subuh, kemudian aku kembali berbaring di kasur kamarku,aku membuka handphoneku, ternyata ada kiriman pesan dari Sandra yang menanyakan lokasi rumahku saat ini berada. Setelah itu aku pun langsung mengirimkan lokasiku saat ini kepada Sandra.
Tak lama setelah itu Sandra video call aku, kemudian aku pun mengangkat video call dari Sandra.Terlihat di handphoneku, wajah cantik Sandra dengan hijab abu abunya.
"Pagi pagi udah cantik aja San." ucapku dengan tersenyum.
"Ye, gombal ya." ucapnya dengan tersenyum.
Aku tidak menyangka bisa seakrab ini dengan Sandra, padahal saat pertama kali aku bertemu dia, dia begitu cuek dan jutek padaku.Karena waktu itu aku tak sengaja menabraknya, namun hal wajar sih kalau dia marah padaku, soalnya dia juga malu di lihat oleh orang banyak.
"Kok lo ngelamun aja sih." ucapnya dengan tersenyum.
"Eh gak kok San." ucapku dengan tersenyum.
"Lagi mikirin apa sih?, cerita dong sama gua." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak ada apa apa kok San." jawabku.
"Ah masa." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Sandra." ucapku dengan tersenyum.
"Yaudah kalau begitu, ngomong ngomong gua kemarin malam habis beli makanan enak loh." ucapku dengan tersenyum.
"Makanan apa?." tanyaku dengan penasaran.
"Coklat." jawabnya.
"Oh coklat." ucapku dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong lo mau gak?." tanyanya.
"Boleh deh." jawabku.
"Yaudah nanti gua bawain." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi, lo gak takut gendut apa makan coklat?." tanyaku.
"Jarang jarang sih gua makan coklat." jawabnya dengan tersenyum.
"Ah masa." ucapku dengan tersenyum.
"Iya, yang sering itu makan pentol Syan." ucapnya dengan tersenyum.
"Ternyata kita sama ya, gua juga suka sekali sama pentol." ucapku dengan tersenyum.
"Iya, btw udah jam setengah enam nih, gua ke rumah lo ya." ucapnya.
"Pagi banget, emang lo sudah sarapan?." tanyaku.
"Nanti aja sarapan bareng lo." jawabnya dengan tersenyum.
"Oh yaudah gua tungguin di teras rumah ya." ucapku dengan tersenyum.
"Oke deh, gua langsung meluncur." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Sandra langsung mematikan video callnya,setelah itu aku langsung menuju ke teras, tak lupa aku membawa boneka pangeran yang di berikan Sisi pada waktu itu.
Sesampainya di teras aku pun langsung duduk di teras rumah untuk menunggu Sandra, sembari bermain boneka pangeran itu.
"Aku adalah pangeran akan aku jaga putriku." suara boneka pangeran itu.
Setelah mendengar suara itu, aku selalu teringat dengan Sisi,namun aku sekarang juga tidak yakin bisa ketemu sama Sisi lagi, karena pada saat hari pertama aku di Jakarta, telah seluruh orang yang ada di taman aku tanyai, namun, satu orang pun tidak ada yang mengenali tante Lina.
Hari hari ini aku juga telah sibuk bekerja, aku tidak ada waktu untuk mencari rumah tante Lina.Sehingga itu juga yang membuatku pesimis untuk mencari Sisi, karena aku juga gak yakin kalau Sisi adalah jodohku.
Tak lama setelah itu Sandra pun datang, dengan motor matic hitamnya,lalu dia pun memarkirkan motornya di halaman rumah. Setelah itu Sandra turun dari motornya, lalu dia langsung duduk di sampingku.
"Arsyan." panggilnya.
"Pagi banget lo." ucapku.
"Iya dong, kan gua anak rajin." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian tatapan Sandra mengarah ke boneka pangeran yang aku bawa.
"Lo cowok, kok main boneka sih Syan." ledek nya dengan tersenyum.
"Iya dong." ucapku dengan tersenyum.
"Btw, ada yang spesial gak dengan boneka itu?." tanyanya.
Kemudian aku menunjukkan tulisan di bagian belakang baju boneka itu, yang tertulis namaku dan Sisi. Tiba tiba tatapan Sandra begitu aneh ke arah boneka itu.
"Biasa aja ngelihatnya Sandra, kek gak pernah lihat boneka aja." ucapku dengan tersenyum.
"Eh iya,btw, bonekanya bagus banget loh, ganteng ganteng gimana gitu." ucapnya dengan tersenyum.
"Masa sih." ucapku dengan tersenyum.
"Iya Syan, pasti spesial banget kan boneka itu." ucapnya dengan tersenyum.
"Ini pemberian dari teman gua dulu di kampung waktu kelas 5 sd, sebagai kenang kenangan." ucapku dengan tersenyum.
__ADS_1
"Lah kenapa kok kenang kenangan?." tanyanya.
"Soalnya, dia memberikan boneka ini padaku sebelum dia kembali ke Jakarta." jawabku dengan tersenyum.
"Oh." ucapnya dengan mengangguk.
"Namanya Sisi, selama dua bulan aku dan dia selalu bersama kala itu, entah sekolah, main atau apapun lah pokoknya aku selalu denganya." ceritaku.
"Dia tinggal di kampung selama dua bulan doang ya Syan?." tanyanya.
"Iya Sandra,karena waktu itu papanya pergi keluar negri." jawabku dengan tersenyum.
"Oh gitu ya." ucapnya dengan mengangguk.
"Coba deh lo pencet tombolnya." ucapku.
Kemudian Sandra memencet tombol itu.
"Aku adalah pangeran, akan ku jaga putriku." bunyi boneka itu.
"Bisa bunyi Syan." ucapnya dengan tersenyum.
"Memang San." ucapku dengan tersenyum.
Lalu setelah itu Sandra mengajakku langsung pergi untuk jalan jalan.
"Syan pergi yuk sekarang!." ajaknya.
"Ayuk, tapi tunggu sini dulu ya aku kembaliin boneka ini di kamar sebentar." ucapku.
"Iya Syan." ucapnya.
Aku pun masuk ke dalam rumah untuk mengembalikan boneka ke kamar, sementara Sandra tetap menungguku di teras rumah. Tak lama setelah itu aku pun keluar dari rumah.
"Yang nyetir lo atau gua?." tanyaku.
"Yah lo lah, masa cewek boncengin cowok sih, kan gak pantas." ucapnya dengan tersenyum.
"Mana kunci lo." ucapku.
Lalu dia memberikan kunci motornya padaku.
"Yaudah ayo berangkat!." ajakku.
"Lo gak tutup pintu lo itu." ucapnya.
"Oh iya gua lupa, tolong tutupin ya Sandra." ucapku dengan tersenyum.
"Ye, masih muda udah pikun." ucapnya dengan tersenyum.
"Ini kunci rumah lo." ucapnya.
"Lo bawa aja ya!." perintahku.
"Lama lama gua jadi pembantu lo nih." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak apa apa juga lo jadi pembantu gua." ucapku dengan tersenyum.
"Ye, enak aja." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian aku langsung menjalankan motornya menuju ke taman.
"Btw, lo lapar gak Syan?." tanyanya.
"Biasa aja sih." jawabku.
"Gua lapar nih Syan, kita mampir ke warung makan itu yuk." ucpnya dengan menunjuk warung makan terdekat.
"Yuk." ucapku setuju.
Kemudian aku mengarahkan motorku menuju ke depan rumah makan itu.
"Lo di sini aja ya biar gua yang beli." ucapnya.
"Iya, ini uang aku." ucapku sambil memberikan uangku padanya.
"Gak usah Syan, gua beliin aja." tolaknya.
"Tapi Sandra." ucapku.
"Gak apa apa Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Sandra langsung pergi menuju ke rumah makan itu untuk membeli nasi itu , sementara aku tetap menunggunya di motor. Setelah beberapa saat akhirnya Sandra pun telah selesai membeli nasi itu.
"Udah Sandra?." tanyaku.
"Udah dong." jawabnya dengan tersenyum.
"Nasi apa emang San?." tanyaku.
"Nasi pecel, lauknya ayam sama telur dadar." jawabnya.
"Oh." ucapku.
"Lo suka kan?." tanyanya.
__ADS_1
"Suka kok." jawabku dengan tersenyum.
"Yaudah kalau begitu." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu Sandra langsung naik ke motor, dan aku langsung melanjutkan perjalanan menuju ke taman, dengan begitu santai. Hingga akhirnya kami berdua pun sampai di parkiran taman, kemudian aku langsung memarkirkan motor milik Sandra dan kami berdua pun turun dari motor.
"Yuk Syan!." ajaknya.
"Ayuk." ucapku setuju.
Kami berdua pun berjalan menuju ke pusat taman, keadaan taman begitu sepi, hanya ada beberapa orang saja di sana.
"Kok sepi banget Sandra?." tanyaku.
"Emang sepi sih, tapi gua lebih suka sepi dari pada rame." jawabnya.
"Iya juga sih, masih enakan sepi dari pada rame seperti kemarin." ucapku.
"Maka dari itu Syan." ucapnya.
"Yaudah kita duduk di sana yuk!." ajakku.
"Ayuk." ucapnya setuju.
Kemudian kami berdua duduk di salah satu kursi yang ada di taman.
"Arsyan gua makan dulu ya, udah lapar soalnya." ucapnya.
"Iya, gua juga mau makan." ucapku.
Kemudian kami berdua pun membuka bungkus makanan kami masing masing, untuk langsung memakanya. Aku menikmati makanan yang di belikan Sandra itu, dengan begitu bahagia.
"Enak gak Syan?." tanyanya.
"Enak banget Sandra, btw makasih udah beliin gua." jawabku dengan mengunyah makanan di dalam mulutku.
"Iya Arsyan." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami berdua telah menghabiskan makanan kami masing masing.Setelah itu aku langsung membuang bungkus makanan itu ke tempat sampah, dan setelah itu aku duduk kembali di samping Sandra.
"Kenyang gak Syan." ucapnya.
"Iya kenyang banget." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian Sandra memberikan coklat yang di janjikannya tadi pagi kepadaku.
"Ini Arsyan coklatnya." ucapnya dengan memberikan coklat itu padaku.
Seketika ketika melihat coklat itu, aku teringat dengan tante Lina yang pernah memberikan coklat yang sama persis yang di berikan Sandra, namun bungkusnya agak sedikit berbeda.
"Btw, gua pengen banget buka usaha sendiri." ucap Sandra.
"Usaha apa San?." tanyaku sembari memakan coklat yang ada di tanganku.
"Warung bakso, mie ayam atau apa gitu." ucapnya.
"Lo kan orang kaya Sandra?." tanyaku.
"Gua gak kaya Arsyan, orang tua gua yang kaya." jawabnya.
"Sama aja." ucapku dengan tersenyum.
"Tapi lo kok tau sih Syan?." tanyanya.
"Ya tau dong, kan gua aja ngikutin akun instagram lo, story lo aja habis keluar negri ." jawabku.
"He he he Iya." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi beneran gak sih lo mau buka usaha?." tanyaku.
"InsyaAllah, tapi lo mau bantu gak kalau beneran terjadi?." tanyanya dengan tersenyum.
"Ya mau aja sih Sandra, kalau ada waktu luang." jawabku.
"Tapi gua masih mikir mikir sih Syan." ucapnya.
"Kalau emang belum siap, mendingan jangan dulu deh Sandra." ucapku.
"Iya sih." ucapnya.
Kemudian dia bersandar di bahuku.
"Gak apa apa kan gua sandaran gini Syan?." tanyanya.
"Gak apa apa Sandra, santai aja." jawabku.
"Kalau boleh tau se istimewa apa sih wanita yang lo cari itu Syan?." tanyanya.
"Dia orangnya istimewa banget bagiku Sandra." jawabku.
Kemudian Sandra memegang tanganku.
"Gua yakin lo pasti bisa nemuin wanita itu Syan." ucapnya.
"Iya Sandra." ucapku dengan tersenyum.
__ADS_1
.......................... BERSAMBUNG...........................