Sisi

Sisi
SUNNY : Terapi


__ADS_3

Mentari cerah menyinari Bumi. Sinarnya yang hangat menerpa wajahku dari balik kaca mobil.


Jumat. 09.45AM


Hari ini aku tidak datang kesekolah. Hari ini adalah jadwalku yang kesekian untuk bertemu dengan Dr. Joana. Gadis berdarah minang yang mendapat gelar M.Psi, Psikolog. Diusia muda dan izin praktek yang mudah. Tentu saja, karena ayahnya merupakan Direktur di Rumah sakit tempatku check up, sekaligus teman dekat dari Ketua HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia).


Dia baik dan cerdas. Dia merupakan orang pertama yang bisa memahamiku dan mau jadi temanku tanpa embel embel Kasihan.


Ka Joan, begitu biasa aku memanggilnya. Dia lebih tua 7 tahun dariku. Usianya saat ini menginjak 23 tahun dan ia sudah menjadi dokter psikolog. Sulit dipercaya memang. Namun, itu semua hasil dari kerja kerasnya. Menjadi Dokter Psikolog merupalan cita citanya sejak kecil. Tak ada hal lain yang ia suka selain belajar dan menolong sesama.


Dia sangat menyayangi anak kecil terutama anak anak yang tidak memiliki orang tua dan anak anak yang bernasib sepertiku. Dia orang yang menyenangkan dan Ke-Ibuan. Sosok seperti jelmaan malaikat menurutku. Ia seakan akan diberkahi dengan kebaikan yang berlimpah oleh Tuhan. Kekurangannya hanya satu. Ia tak tertarik menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis.


"Ma,nanti mama gausah nungguin aku. Cukup nganterin aja sampai depan." Ucapku pada Mama yang sedang duduk disebelah pengemudi.


"Kenapa cantik?" Tanya Papa seraya tetap fokus menyetir.


"Kayaknya aku bakal lama sama ka Joan."


"Why? Will you do something with Joan? Girls talk yeaahhh" Tanya mama menggodaku. Aku memutar bola mataku.


"What ever, Bolehkan?" Tanyaku pada mereka berdua.


"Well, selagi gak bahaya, gapapa Papa ijinin ko." Ucap papa.


Mobil papa sudah berhenti didepan pintu rumah sakit.


"Makasih Pa. Ma, sunny masuk dulu ya." Ucapku seraya keluar dari mobil.


"Take care Honey, Don't be late for dinner!" Ucap mama seraya melambaikan tangan dari dalam mobil.


Saat memasuki lobi rumah sakit secara kebetulan aku bertemu dengan Ka Joan. Wajahnya seketika sumringah saat menatapku. Ia bertanya pada resepsionis apa ada jadwal dengan pasien lain selain aku. Dan betapa beruntungnya aku, resepsionis menjawab tidak. Ia Sesegera menggandeng tanganku dan mengajaku memasuki ruangannya.


Alasan orang tuaku saat mengirimku ke Dokter Psikolog adalah sederhana. Sulitnya orang  sepertiku menjalani kehidupannya dengan cara yang spesial. Tak mudah untuk kami beradaptasi di masyarakat secara umum apalagi mendapatkan teman yang benar benar paham akan kondisi kami.


Hingga pada akhirnya orang tuaku mengenalkanku pada Ka Joan. Ketika itu dia masih kuliah. Ka Joan tertarik padaku sejak ia sering melihatku di kelas sosial saat ia KKN. Lantas, ia meminta bantuan Ayahnya untuk menghubungi Papa. Singkat cerita kami cocok satu sama lain. Dia bukan hanya dokter spesialis yang menangani mentalku namun ia juga seseorang yang selalu menjadi solusi saat aku memiliki masalah. Dia serimg memberi nasihat padaku selayaknya kaka pada adiknya.


Aku melangkah selangkah dibelakangnya. Ia mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu. Sebuah ruangan yang terletak di lantai 4 sebuah rumah sakit. Tempat yang nyaman dan jauh dari kata medis. Ruangan ini lebih terlihat seperti ruang tamu di sebuah penthouse. Bedanya hanya ada sebuah meja dan kursi kerja di pojok ruang. Suasana yang Hangat, dengan didominasi warna biru langit yang menyenangkan. Dengan dilengkapi kaca satu arah yang cukup besar di balik kursi kebesaran ka Joan. Yang dimana kita bisa melihat pemandangan kita yang Asri. Ruangan ini cocok untuk penderita phobia ketinggian. Kaca besar itu cocok untuk membantu penderita dalam menghilangkan rasa takutnya.


Aku duduk di sebuah sofa letter L berwarna Tosca.


"Teh? Susu? Kopi? Jus? Atau cokelat panas?" Tawar ka Joan.


"Cokelat panas, Please." Ucapku dengan wajah memelas.


"Ok that's your favorite." Ucapnya seraya mengambil 2 mug dan 2 sachet cokelat panas.


Setelah beberapa saat ia meletekan 2 mug diatas meja lantas duduk disebelahku.


"So, what do you think about school?" Ia membuka topik pembicaraan.


"Well, aku udah ngebayangin dari jauh jauh hari sekolah itu bakal kayak gimana. But, aku gak nyangka apa yang aku rasain itu jauh melampaui ekspetasi." Ia terlihat menaikan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Melampaui ekspetasi?"


"Yup. By the way, aku ketemu seseorang yang banyak bantu aku. Sekaligus dia ngajarin aku beberapa hal tentang School life."


"A boy?" Tanyanya. Aku mengangguk. "Seriously?!" Pekiknya. Ia tampak antusias.


Geez, seharusnya psikolog tidak bereaksi berlebihan saat mendengarkan cerita pasiennya. Batinku menggerutu. Aku lupa dia juga temanku.


"Well, namanya Devon. Aku benci dia saat pertama kali kita ketemu. But, lama kelamaan Demian ngajarin aku banyak hal." Ia mengerutkan keningnya. Tak paham.


"Wait. Who's Demian? And who's Devon?" Aku menghela nafas. Lupa menjelaskan padanya.


"Mereka orang yang sama. Demian Ivon soedarno, temen temennya manggil dia Devon. Singkatan dari Demian dan Ivon. Ceria menyenangkan dan yang pasti dia itu andalan sekolah." Aku menghela nafas.


"Sebenernya, bukan karena dia anak yang baik atau taat aturan. Alasanya cukup menjengkelkan. Dia anak pak Ivon Soedarno kepala sekolah di sekolah kita." Aku jeda sejenak meneguk cokelat panas.


Aku melanjutkan."So, Bapaknya kepingin anaknya jadi teladan bagi para siswa lainnya. Dengan begitu, citra dia sebagai Ayah dan kepala sekolah jadi baik dimata orang orang." Ka Joan mengangguk paham.


"Well, tadi kamu sempet mantion, awalnya kamu gak suka sama Devon lama kelamaan kamu jadi suka sama dia. Itu kenapa?"


"Wait. What?!!." Aku memekik. "Aku gak bilang aku suka sama dia." Ucapku. Psikolog itu memicingkan matanya seraya menyeringai menggodaku.


Aku memutarkan kedua bola mataku. "No! Don't be missunderstanding ma'am, please. Aku sama Devon itu cuman temenan aja kok. Dia ngasih tahu aku beberapa hal khususnya tentang Daisy teman sebangkuku." Jelasku padanya.


"Daisy?" Ua mengerutkan kening.


"Eumm, ceritanya cukup panjang."


...*  *  *...


Setelah memarkirkan mobil. Mama bertanya pada Satpam letak ruang kepala sekolah. Lantas satpam itu meminta tolong pada salah seorang siswa untuk mengantar kami menuju Ruangan Kepala sekolah.


Kami berjalan melewati lapangan yang cukup luas. Aku melihat beberapa siswa yang lalu lalang. Mereka terlihat sibuk. Beberapa anak mengenakan seragam SMP terlihat kaku dan gugup. Didadanya nampak sebuah name tag besar yang terbuat dari kardus dengan tali Rapia bertuliskan Nama, Asal sekolah, dan nama gugus.


Akhirnya kami berada didepan ruang kepala sekolah. Kami diminta menunggu sesaat setelah seorang guru berkata kepada kami bahwa Kepala sekolah sedang berbicara dengan seseorang.


"NAAII!! Devok gak mau!!" Pekik seseorang dari dalam ruangan.


"..." samar tridak terlalu jelas lawan bicaranya mencoba menenangkan.


"Kenapa harus Devon sih Pihh?? Anak itu penyakitan bukan berarti Devon harus jadi pahlawan kesiangan kan!!" Dia memekik lagi.


Samar lawan bicaranya mencoba menenangkan kembali.


"AAARRRGGG!!" Orang itu menggeram kesal.


"Terserah anda Tuan menir!"


Tak lama setelah itu, pintu ruangan kepala sekolah terbuka secara paksa. Seseorang keluar dengan bersungut sungut wajahnya ditekuk masam. Lantas ia membanting pintu keras membuat aku dan mama terperanjat kaget. Ia terlihat mengenakan seragam SMA. Aku sempat membaca nametag-nya sekilas bertuliskan 'Demian Ivon. S'.


"Verdomme!!!(umpatan bahasa belanda)." Makinnya.

__ADS_1


"Aiiishh, mama harap kamu gak temenan sama dia. Gak punya tata krama sama sekali." Ucap mama saat Lelaki itu melintas didepan kami. I ignored what Mama said.


Aku dan Mama memasuki ruangan itu. Kami disambut hangat oleh kepala sekolah. Ia terlihat tenang dan ramah seolah tak terjadi apa apa. Aku menatapnya. Pria setengah baya dengan perawakan tinggi semampai rambut putihnya rapih disisir kebelakang. Wajahnya sangat kental khas eropa. Matanya indah berwarna Hazel dengan hidung yang begitu tinggi hingga bibir tipisnya yang seakan akan ikut tertarik oleh hidungnya yang tinggi.


Kepada kepala sekolah Mama menjelaskan hal hal yang tidak bisa kulakukan selama menjadi siswa disekolah ini. Kepala sekolah itu mengerti dan memaklumi ia berkata bahwa, "Nanti akan ada siswa namanya Demian atau teman temannya suka panggil dia Devon. Dia anak yang baik. Nanti dia yang akan bantu kamu." Aku mengerutkan kening. Anak yang marah tadi?


"Mohon maaf, Apa dia putra Bapak?" Tanya Mama. Mama terlihat kurang setuju.


Kepala sekolah tersenyum bangga dan berkata." Iya Dia putra saya." Aku paham sekarang. Aku tak suka situasi seperti ini. Jadi 'anak penyakitan' yang mereka bicarakan tadi itu aku?.


Pembicaraan pun berlanjut. Entahlah, aku tak terlalu mendengarkan obrolan mereka.


-


-


Hari berlanjut. Pada hari pertama sekolah kamu sudah tahu apa yang terjadi bukan? Saat itu hari pertama seorang lelaki dengan tinggi sekitar 178-180 dengan mata Hazel yang berkilauan dan Rambut lurus menutup sebelah matanya menyapaku. Dia mirip dengan kepala sekolah hanya saja matanya lebih tajam dan rahang yang tegas dengan kulit tan yang rata.I guess He is The Face of our school or mostly called a Coverboy. And someday my guessed its true.Ha!


Ia tahu namaku dan menawariku bantuan. Aku melihat nametag-nya 'Demian Ivon S' lelaki yang marah marah kemarin.


Aku menatap wajahnya yang tersenyum cerah pemuh kepalsuan. Aku menolak tawarannya karena aku tahu pasti bahwa dia jelas jelas enggan menolongku. Specious!!.


Kejadian berlanjut pada saat Bu Hera tak sengaja membentaku Demian datang menolongku. Karena dia tahu apa yang harus dilakukannya untuk ayahnya. Bukan karena tulus ingin menolongku.


Hari terus berlanjut dan Devon terus saja menjadi sosok 'pahlawan kesiangan' di kehidupan sekolahku. Namun kepalsuannya tidak bertahan lama hingga pada hari itu aku membentaknya 'Munafik' didepan semua orang. Ia tak berkata sedikit pun. Wajahnya terlihat puas. Samar aku mendengar 'si hazel' begitu aku mengejeknya. Ia terkekeh. Aku tak mengerti lagi apa yang ada didalam otaknya.


Aku meninggalkan kerumunan itu dengan perasaan kesal setengah mati. Bajuku kotor dan kini mereka akan membicarakanku karena memaki 'siswa teladan' putra kebanggan kepala sekolah secara terang terangan.


Aku berjalan tak tentu arah. Orang orang yang berpapasan denganku mereka melihatku dengan tatapan aneh. Sebagian lagi ada yang menahan tawa dan menutup hidung. Aku tahu saat ini kondisiku pantas disebut 'gadis cumi asam manis'. Sucks!


Aku memutuskan untuk ke kamar mandi. Seketika seseorang menarik lenganku dan membawaku kesebuah pojok didekat kamar mandi.


Aku menatapnya dan dia adalah... Demian?


Kami berdiri berhadapan. Ia menatapku tanpa ekspresi. Mata hazelnya yang selalu berkilauan itu menatapku tajam. Aku bisa melihat wajahnya dengan intens dan aku akui dia itu, Tampan. Khususnya matanya yang selalu membuatku Iri sekaligus kagum. Di tambah tubuhnya yang proposional seperti atlet tak lupa kulit tannya yang.... you know what i mean. Bagaimana tidak ia merupakan wujud dari keberhasilan pernikahan campuran antara ras Yunan dan Kaukasoid.


Aku dengar dari Sarah dia merupakam anggota band sekolah dan Calon ketua MPK. Kepopulerannya sudah diakui seluruh penghuni sekolah. Dari murid sampai Guru mengagumi sosoknya. Terkecuali aku, daisy teman sebangkuku yang tidak pernah peduli apapun selain dirinya dan Bu Hera Kesiswaan dan kepala BK hanya kami dari kaum hawa yang tidak ikut ikutan memuja si hazel ini.


"Maaf." Itulah kata yang terucap dari bibirnya. "Gua paham lo gak suka dengan apa yang gua lakuin sama lo." Lanjutnya


"Thanks karena udah nyebut gua munafik didepan banyak orang, gua ga marah karena itu emang kenyataanya." Ia masih tak berekspresi. Excuse me, what did he say? Thanks?


"Sebagai permintaan maaf gua..." Ucapannya terhenti. Jarinya meraih kancing bajunya dan melepaskannya satu persatu. Hold on hold on, What will he do?


Aku menatap sekitar disini sepi sekali. Dia menatapku intens. Jarak diantara kami dekat sekali. Aku meneguk ludah seraya mundur satu langkah. Jantungku berdetak tidak normal. Jamku berkedip seperti biasa saat sesuatu terjadi pada jantungku. Ohh God!! Is he will topless?!.


-


-


-

__ADS_1


-


To be Continue...


__ADS_2