
Malam itu aku pun duduk berdua dengan mas Bejo sambil bicara tentang mbak Nadin, yang sempat aku ceritakan pada mas Bejo.
"Gimana dia setuju gak?. " tanya mas Bejo.
"Udah punya calon suami yang baru mas,orangnya." jawabku.
"Yah, gak jadi dong?." tanya mas Bejo.
"Iya mas, gagal deh." jawabku.
"Kamu sih memang aneh aneh aja." ucap mas Bejo.
"Maaf ya mas." ucapku.
"Iya gak apa apa, berarti dia belum jodoh mas Bejo." ucapnya.
"Iya mas." ucapku.
"Tapi orang desa Melati siapa sih?. " tanyanya.
"Namanya mbak Nadin mas, rumahnya samping toko." jawabku.
"Oh." jawabnya.
"Loh mas tau?. " tanyaku.
"Gak." jawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Kirain tau. " ucapku dengan tersenyum.
"Oh iya, itu tadi adik ibu kamu yang sudah punya calon itu kan?. " tanyanya.
"Bukan, yang udah punya calon itu tante Santi, adik ibuku." jawabnya.
"Lah terus itu siapa?. " tanyanya.
"Itu tante Ifa, adiknya ayah." jawabku.
"Oh adiknya mas Toni, makanya ada mirip miripnya sama mas Toni. " ucap mas Bejo.
"Dia masih single loh, belum punya calon." ucapku dengan tersenyum.
"Masa sih." ucapnya.
"Iya." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian tante Ifa kembali ke teras menghampiri kami berdua yang sedang duduk, dengan memakai hoodie putih untuk menutupi bagian atas dasternya,serta memakai hijab hitam. Lalu tante Ifa duduk di sampingku.
"Ini siapa Syan?." tanya tante Ifa.
"Oh ini mas Bejo mbak orang sini juga." jawabku.
"Kenalin saya Bejo santoso." ucap mas Bejo dengan mengulurkan tangan.
Kemudian tante Ifa pun berjabat tangan dengan mas Bejo.
"Kenalin juga saya Latifatul fitriyah, panggil aja Ifa." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
Kemudian tante Ifa menoleh ke arahku.
"Arsyan jajanya kok di pegang aja, mas Bejo juga di kasih kali." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Oh iya Arsyan lupa tante. " ucapku.
Kemudian aku membuka salah satu jajan yang di berikan tante Ifa tadi, dan kami bertiga memakanya bersama sama.
"Oh iya mas, rumah mas jauh gak dari sini?. " tanya tante Ifa.
"Gak, dekat kok. " jawab mas Bejo.
"Oh." ucap tante Ifa dengan mengangguk.
"Biasa aja kali mas, kek baru pertama ketemu cewek cantik aja." ledek ku dengan tersenyum.
"Sudah biasa ini Syan." ucap mas Bejo.
"Kok kek gemeteran gitu badanya." ucapku dengan tersenyum.
"Biasa aja kali mas." ucap tante Ifa dengan tersenyum ke arah mas Bejo.
"Iya mbak." ucap mas Bejo.
"Gak usah panggil mbak kali, panggil Ifa aja." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Kamu juga gak usah panggil mas, panggil Bejo aja." ucap mas Bejo.
"Iya deh, tapi badanya gak usah gemetaran gitu dong." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Gak tau tiba tiba gemeteran gini Ifa." ucap mas Bejo.
"Masa aku secantik itu sih sampai buat kamu gemeteran, atau jangan jangan aku seperti hantu lagi. " ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Gak Ifa biasa aja." ucap mas Bejo dengan tersenyum.
Aku hanya tertawa melihat ekpresi mas Bejo yang tak seperti biasanya.
"Oh iya Syan, besok kamu libur sekolah kan?. " tanya tante Ifa.
"Iya, tante." jawabku.
"Mau gak anterin tante keliling desa, tante pengen banget lihat lihat desa ini." ucap tante Ifa.
"Tapi Arsyan besok ada janji sama teman, tante." ucapku.
__ADS_1
"Oh yaudah kapan kapan aja kali." ucap tante Ifa dengan mengangguk.
"Kalau sama mas Bejo aja, gimana tante?. " tanyaku.
"Emang Bejo mau?. " tanya tante Ifa balik.
"Mau dong masa gak mau." jawab mas Bejo.
"Yaudah kalau kamu mau, besok berangkat pagi pagi ya kesini. " ucap tante Ifa.
"Jam berapa Ifa?. " tanyaku.
"Pokoknya pagi aja Bejo, biar gak panas panas gitu." ucap tante Ifa.
"Aku minta nomer kamu aja, besok kalau hubungin biar mudah." ucap mas Bejo.
"Mana handphone kamu!. " Pinta tante Ifa.
Kemudian mas Bejo memberikan handphonenya pada tante Ifa.
"Ini sudah Bejo." ucap tante Ifa dengan mengembalikan handphone mas Bejo.
"Oke makasih, yaudah kalau gitu aku balik dulu ya. " pamit mas Bejo.
"Ini jajannya bawa satu kali,buat cemilan." ucap tante ifa.
"Gak usah Ifa. " ucap mas Bejo.
"Pokoknya ini Bejo buat cemilan di rumah, kan lumayan." ucap tante Ifa..
Kemudian mas Bejo menerima jajan pemberian mbak Ifa.
"Yaudah maksih ya Ifa." ucap mas Bejo dengan tersenyum.
"Iya sama sama Bejo." ucap tante Ifa dengan tersenyum ke mas Bejo.
"Aku pergi dulu ya." pamit mas Bejo.
"Iya, jangan lupa besok. " ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Siap." ucap mas Bejo.
Kemudian mas Bejo menaiki motornya,dan langsung pergi meninggalkan rumahku.
"Mau ngapain Syan besok?. " tanya tante Ifa.
"Jujur ya tante, sebenarnya besok Arsyan gak mau kemana mana sih." ucapku dengan tersenyum.
"Lah,kenapa kamu bohongin tante?. " tanya tante Ifa.
"Aku pengen mas Bejo boncengin tante." jawabku.
"Kok tante yang jadi sasaran sih." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Emang tante gak pengen punya suami?. " tanyaku dengan tersenyum.
"Siapa tau sama mas Bejo cocok." ucapku dengan tersenyum.
"Oh kamu mau pengen jodohin tante sama mas Bejo gitu." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Bisa jadi gitu." ucapku dengan tersenyum.
"Kamu ada ada aja deh." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Tapi gak apa apa kan tante?." tanyaku.
"Gak apa apa, mungkin kamu barang kali juga benar sayang, sama Bejo mungkin tante cocok." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Tapi aku boleh nanya gak tante?. " tanyaku.
"Nanya apa Arsyan sayang?. " tanya balik tante Ifa.
"Tante pernah pacaran gak?." tanyaku.
"Pernah Arsyan, dua kali malahan, tapi ya sekarang udah putus sayang." jawabnya.
"Kenapa kok bisa putus tante?. " tanyaku.
"Tante di selingkuhin sama pacar pertama tante,sayang." jawab tante Ifa.
"Kok bisa sih, tante aku yang cantik ini di selingkuhin." ucapku dengan tersenyum.
"Wajar sih sayang, soalnya pacar barunya lebih cantik dari tante." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Terus yang ke dua tante?. " tanyaku dengan penasaran.
Seketika air mata tante Ifa menetes.
"Tante kok nangis sih?. " tanyaku dengan bingung.
"Tante gak kuat menceritakannya Arsyan." ucap tante Ifa dengan sedih.
"Emang hati tante sakit banget ya, di sakitin pacar kedua tante?. " tanyaku.
"Kalau di sakitin hati tante, tante gak akan sesedih ini sayang." jawab tante Ifa dengan air mata yang terus mengalir.
"Lah terus tante?. " tanyaku lagi.
"Pacar kedua tante, meninggal karena kecelakaan maut sayang." jawab tante Ifa dengan menangis.
"Ya ampun tante." ucapku dengan kaget.
"Puncak kesedihan tante, ketika tante datang ke tkp,melihat pacar tante yang sudah tak bernyawa lagi dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya."
__ADS_1
Tante Ifa memberhentikan sebentar ceritanya, karena tak kuat menahan tangis.
"Tante sangat merasa kehilangan sayang, semenjak saat itu tante sudah tak pernah lagi tertarik sama pria manapun sayang, tante belum bisa melupakan pacar tante hanya kesedihan yang menyelimuti tante kala itu."
"Tapi tante terus mencoba untuk bangkit, dan ingin hidup lebih bahagia lagi seperti sebelum kenal pacar tante." cerita tante Ifa dengan sedih.
"Sedih banget sih tante, tante harus kuat ya." ucapku mencoba menyemangati tante Ifa.
"Iya sayang, tante sekarang udah kuat kok." ucapku tante Ifa dengan tersenyum.
"Tante di sini satu bulan kan?." tanyaku.
"Iya sayang kalau jadi." jawab tante Ifa.
"Oh." ucapku.
Tiba tiba tante Ifa menanyai ku sama seperti yang aku tanyakan padanya.
"Arsyan udah punya pacar gak?. " tanyanya.
"Belum sih tante, tapi Arsyan punya sahabat cewek, yang kemana mana sama Arsyan terus." jawabku
"Tapi Arsyan suka kan sama cewek itu sayang?." tanyanya lagi.
"Cewek itu sebenarnya pernah mengungkapkan perasaannya pada Arsyan tante, tapi Arsyan gak bisa menerimanya." ucapku dengan tersenyum.
"Lah kenapa gak kamu terima sayang?. " tanyanya
"Karena Arsyan sudah punya perasaan sama cewek lain, sebelum Arsyan akrab sama dia tante." jawabku.
"Oh." ucapnya dengan mengangguk.
"Dia adalah cewek yang pertama kali akrab denganku tante,entah kenapa aku selalu saja memikirkannya tante,sekarang dia ada di Jakarta dan belum pernah bertemu denganku lagi sampai sekarang." ucapku dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu tante Santi dan ibu menghampiri kami berdua yang sedang duduk.
"Asik banget nih ceritanya." ucap ibuku.
"Eh mbak Indah." ucap tante Ifa.
Kemudian mereka berdua pun duduk.
Seketika ibu menatap wajah tante Ifa yang habis menangis.
"Kamu habis nangis Ifa?. " tanya ibu.
"Gak mbak, cuma kemasukan debu aja tadi. " jawab tante Ifa mencoba menutupi kesedihanya.
"Oh yaudah, kirain habis nangis." ucap Ibu.
"Yaudah Ifa masuk dulu ya mau copot hijab sama hodie. " ucap tante Ifa.
"Iya Ifa." ucap Ibu dengan tersenyum.
Kemudian tante Ifa pun masuk ke dalam rumah.
"Tadi ada mas Bejo ya?. " tanya ibu.
"Iya." jawabku.
"Ngapain?. " tanya ibu.
"Lagi ngobrol aja,sama kenalan juga sama tante Ifa, siapa tau mereka berdua cocok." ucapku dengan tersenyum.
"Iya juga sih, biar gak jadi perawan tua dia." ucap ibu dengan tersenyum.
Kemudian tante Ifa kembali lagi ke teras.
"Hayo lagi ngomongin aku kan." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
"Gak kok tante,ibu yang ngomongin tante." ucapku dengan tersenyum.
Kemudian tante Ifa duduk kembali di kursi.
"Kamu kapan sih nikahnya Ifa?." tanya ibu.
"Gak tau mbak, belum punya calon." jawab tante Ifa dengan tersenyum.
"Santi aja tahun depan udah mau nikah. " ucap ibu dengan tersenyum.
"Iya, jadi perawan tua kamu nanti." ledek tante Santi dengan tersenyum.
"Gak apa apa kali jadi perawan tua." ucap tante Ifa dengan tersenyum.
Kemudian aku pun tiba tiba mengantuk dan aku berniat untuk masuk ke dalam kamar.
"Arsyan mau tidur dulu udah ngantuk." pamitku.
"Iya sayang, yang nyenyak tidurnya. " ucap ibuku dengan tersenyum.
"Iya ibu." ucapku.
Kemudian perlahan aku berjalan menuju ke kamarku,dengan rasa ngantuk yang tiba tiba menyerang. Setelah sesampainya aku di kamar, aku langsung membaringkan badanku di kasur . Tiba tiba rasa ngantukku pun hilang, dan aku mengambil boneka pangeranku yang tak jauh dari tempatku. Aku memeluk boneka itu, dan terus memikirkan tentang Sisi.
"Sisi apa kamu suka sama aku?. "
"Apa kita bisa bertemu lagi Sisi?."
"Apa kamu juga selalu memikirkanku juga Sisi, sama seperti aku memikirkanmu?. "
"Aku mencintaimu Sisi.
"Aku ingin kita bisa bertemu lagi Sisi."
__ADS_1
"Semoga pertanyaanku ini bisa terjawab nantinya Si."
....................BERSAMBUNG...............