Sisi

Sisi
DAISY : Kebiasaan


__ADS_3

-


-


Capriccio no.24. Niccolo Paganini.


Notasi baloknya menari dihadapanku. Walaupun saat ini tidak terdengar apapun selain kegiatan teman teman sekelasku namun, Alunan musik milik paganini ini terus terngiang ngiang di telingaku. Seperti cacing telinga.


Drrrt.


Handphoneku bergetar sekilas.  Menandakan ada sebuah pesan masuk.


Aku menatap sekitar. Guru B. Indonesia sedang duduk santai di kursinya. Lantas Aku melihat kesamping sepertinya teman sebangkuku itu telah hanyut kedalam buku yang dia baca. Ia sedang membaca buku. Novel? Biografi? entahlah aku tak peduli.


Aku mentap ke bangku paling depan dan tak melihat 'si londo' duduk disana.


Ddrrrtt,


Ddrrrrt,


Drrrtt,


Ddrrrt.


Pesan masuk lagi berkali kali. Sial! Aku tak bisa membacanya.


Akhirnya aku meminta izin pada guru untuk keluar. Dengan alasan membuang sampah


Aku melangkah keluar pura pura membawa kertas bekas lantas membuangnya. Saat ini aku berdiri di balkon kelas. Lantas mengawasi sekitar hingga dirasa sudah aman aku memakai kacamataku dan membuka pesan yang masuk itu.


Londo(Demian):


Oyy!! Kesini dong☹, Gua butuh bantuan


Londo(Demian):


Kesiniiiii plliiisssseeeuu🥺🥺 aku lagi kesusahan😭😭


Londo(Demian):


Kamu mau bantuin aku ga???☹


Londo(Demian):


Pllliiiiiiiisssss🥺


Londo(Demian):


Cepet kesini😭😭😭


Aku menghela nafas panjang kalau bukan karena hubungan kami sudah kuhabisi dia setiap dia membombardirku dengan pesan menjijikannya.


Aku menekan nada panggil pada si londo itu. Setelah beberapa detik akhirnya tersambung...


"Dimana?" Ucapku to the point.


"Di perpus huhu,kesini daku sedang butuh bantuan dirimu huhuhu sekalian bawain tas punya daku sama Romi." Ucapnya disambungan telpon.


"NAJIS!!Emang gua babu lo!!?? Bel pulang juga belum kedenger." Pekiku.


"Gapapa 10 menit lagi ko. Udah ini kita langsung ke Ruang musik gimana?. Demi Tuhan! Gua butuh bantuan lo urgent nih!,nanti gua beliin biografinya Bach deh." Ia mencoba membujuku.


"Janji?? Lu bisa ****** kalo bohong." Ucapku mengancamnya.


"Janji, tapi bawain tas gua sama romi."


"Ya ya ya,gua kesana."


"Sekalian beresin bukunya."


"Iya."


"Terus masukin tas."


"Iya."


"Jangan lupa punya Romi juga."


"IYA ANJ*NG!! Gua ga budek ya!!." Pekiku seraya mematikan panggilan.


Aku melepaskan kacamataku dan kembali masuk kelas. Bersamaan dengan aku masuk Guru B.Indonesia yang tadi mengejar dikelas terlihat buru buru membereskan barang barangnya. Ia pamit keluar karena ada urusan mendadak.

__ADS_1


Baiklah! Ini kesempatan berharga. Aku membereskan buku Demian dan Romi membawa tasnya. Tak lupa juga tasku yang terletak dibelakang lantas keluar tanpa babibu.


Aku bisa merasakan beberapa pasang mata menatapku keheranan atas apa yang aku lakukan. But, I don't bother with them.


Aku sedikit kesusahan membawa 3 tas sekaligus.


Bel pulang berbunyi. Sesaat aku akan masuk ke perpustakaan.


Saat aku memasuki perpustakaan serasa sepi sekali. Bukannya perpusatakaan itu memang selalu sepi?.


Maksudku, tak ada seorang pun yang duduk di meja baca yang biasanya ada siswa kelas XII yang sedang mengerjakan tugas. Bahkan, penjaga perpustakaannya pun tidak terlihat batang hidungnya.


"Woyyy londo! Dimana lo?." Tanyakue mencari keberadaannya.


"Aku disini sedang kesusahan." Ia membalas. Suaranya terdengar dari salah satu sudut ruangan. Aku tahu letaknya.


Aku memakai kacamataku dan manatap dua orang keparat yang sedang berjongkok dengan memasang wajah seperti pengemis yang tidak makan 7 hari.


Aku mensengus kesal.  Mereka benar benar ingin menguji kesabaranku.


"Bantu aku🥺 aku gak tahu rak KBBI yang mana." Ucap pemilik mata hazel yang selalu bersinar cerah. Jujur, aku iri dengan matanya.


BUGGG!!! Aku melempar tas mereka tepat  mengenai wajah mereka satu persatu.


"Sorry." Ucap romi lirih seraya meringis seraya menyentuh wajah menyebalkannya.


"Kamu bisa gak sih, lembut sedikit sama aku." Demian menggerutu seperti anak kecil yang semakin membuatku jengkel mendengarnya.


"Berhenti ngomong kayak gitu sebelum gua murka!!!!!" Ucapku seraya melayangkan tendangan di hadapan wajah mereka. Sayangnya tubuh mereka reflek menghindar.


"Eee-ee iya,iya, ya maaf." Demian terkekeh kecil melihat wajah kesalku.


"Habisnya Guru Hobi banget nyusahin  aku." He said while pouted his fvcking lips, and made me feel like wanna kill him. Luckily, I love him. So I can't.


"Demian." Ucapku datar.


"Iyaaa." Jawabnya ceria.


"Lo punya berapa jantung?" Tanyaku dia mengerutkan keningnya.


"Satu, dan itu untuk kamu." Ucapnya dengan wajah ceria.


"Sini gua cungkil pake pulpen. Terus, gua injek sampai lembek. Gua kasih makan anjing gua sama itu. Biar lu tau rasa." Demian meneguk ludahnya ia menatapku tak percaya.


"Ampun madam." Ucap demian seraya merapatkan kedua tangannya.


"Bantuin gua nyari rak-nya ini." Lanjutnya seraya menunjukan KBBI.


"Rak KBBI di pojok kanan disebelah Rak partitur partitur musik." Ucapku.


Setelah tahu letak yang kumaksud mereka segera menyimpan buku buku berat itu dengan rapih.


Demian menghela nafas saat melihat buku buku itu sudah tersusun rapih tiba tiba ia menarik tanganku.


"Rom gua duluan ya.." Demian pamit pada Romi.Kami berlarian kecil hingga sampai di ruang musik.


Demian memeriksa sekitar sebelum menutup pintu Ruang musik dengan rapat.


Ia menyeringai menatapku. "Dibawa,kan?"tanyanya.


Aku memutar bola mataku. "Lain kali lo yang beli!! masa dari gua terus."


Demian hanya tersenyum seraya mengangkat kedua bahunya "Maaf." Ucapnya.


Aku mengeluarkan barang yang Demian maksud. Membukanya dan memberikannya pada Demian.


Aku suka Ruang musik selain tempatku mencurahkan semua perasaanku. Ruang musik yang sedikit kedap suara adalah tempat yang cocok untuk kami melakukan kebiasaan kami.


...*   *   *...


SUNNY POV.


Bel pulang sekolah berbunyi.


Aku menutup buku yang kubaca lantas berbenah.


Saat aku akan memasukan peralatan tulisku dan Novel yang baru saja kubaca kedalam tas, aku melihat seragam Demian yang sudah terlipat rapih. Aku lupa bahwa hari ini aku akan mengembalikannya. Seraya bertanya alasan kebaikannya kepadaku. Apakah yang dikatakan Sarah benar? Devon menyukaiku?.


Memikirkannya saja membuatku tersenyum senyum sendiri.


Aku menatap kedepan melihat meja Demian sudah kosong meja Romi teman sebangkunya pun sudah kosong. Aku menoleh kesamping kulihat meja teman sebangkuku juga sudah kosong. Kebetulan sekali,Kemana mereka pergi? Apa daisy sedang bersama Devon?

__ADS_1


Ahh iya, aku ingat. Demian dan Romi disuruh Guru B.Indonesia untuk mengembalikan KBBI ke perpustakaan? Mungkin saja mereka langsung pulang.Oh no!


Aku segera bergegas mencari Demian. Mungkin saja dia masih di perpustakaan.


Aku mencari Devon di perpustakaan. Tidak ada. Aku melihat KBBI juga sudah rapih. Aku mencarinya keluar dan bertemu dengan Romi.


Aku bertanya kepada Romi dimana Devon. Saat romi berkata "Ruang musik." Sesegera mungkin aku menuju ke tempat yang dimaksud tanpa menghiraukan kalimat yang romi ucapkan selanjutnya.


Jantungku mulai terasa sakit. Turun dari lantai tiga menuju perpustakaan, lantas berlari kecil menuju ruang musik bukan perkara yang mudah untuk seseorang pengidap Gagal jantung sepertiku.


'Akhirnya sampai'. Batinku berkata saat melihat pintu Ruang musik yang tertutup rapat.


Aku menarik nafas mengatur irama nafasku agar tenang.


Tenang.


Tenang.


Tenang.


DEG!!


Jantungku seakan akan berhenti  tiba tiba sesaat setelah melihat apa yang dilakukan Devon dan Daisy didalam.


Daisy sedang duduk membelakangiku. Ia duduk di kursi khusus disamping Grandpiano. Sedangkan Devon berdiri dihadapam gadis itu seraya kepalanya tertunduk menyejajarkan wajah Daisy.


"Kalian." Ucapku lirih.


-


-


-


-


Ujung mata devon menangkap sosoku yang berdiri mematung didepan pintu.


Asap mengepul dari hidung Devon seiring dengan ia mendongakan kepalanya. Sebuah rokok terselip dibibirnya.


Devon menatapku tak seperti biasanya. Ia menatapku jengkel.


"Apa? Belum pernah ngeliat orang ngerokok pake seragam?" Ia bertanya asap lagi lagi mengepul.


What the...


Aku kira mereka...


SUNNY POV END.


...*   *   *...


"Apa? belum pernah ngeliat orang ngeroko pake seragam?" Tanya Demian pada seseorang dibelakangnku.


Aku menoleh."Ohh shit!!" Aku mengumpat seraya menginjak rokoku saat melihat siapa yang ditatap Devon.


"Matiin roko lo ****!! Nanti dia ga bisa nafas." Ucapku.


"Anu-,eumm-- Demian Anuu--. Maaf gua kira kalian..." ucap Sunny ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu apa yang dia maksud.


"Lo kira apa? Gua mau berbuat hal mesum sama kembaran gua sendiri? Demian berkata sinis.


-


-


-


-


To Be Continue⚘🌼


...Ps: Untuk yang bingung ini POV (sudut pandang) siapa tinggal lihat aja dari nama yang ada di judul. Kaya contoh chapter ini judulnya DAISY : Kebiasaan berart ini POV nya Daisy begitu juga untuk chapter selanjutnya....


...Thank you for coming🙏...


...Sorry kalo banyak typo...


...Silahkan beri komentar dibawah ya......


...I hope y'all enjoy my story🤗🤗...

__ADS_1


...See youu......


^^^Dairos⚘🌼^^^


__ADS_2